
Krieetttt....
Suara pintu terbuka secara perlahan, membuat Kei menahan nafas sesaat.
Di depan pintu yang sekarang terbuka secara sempurna, berdiri sosok yang selama ini Kei tunggu. Tidak, bukan kata kata kiasan, tapi Kei benar benar menunggu sosok itu, Shiori.
Kei hanya diam, membiarkan angin menerbangkan rambut Shiori, yang terlihat serius disana.
("Baiklah. Aku akan mulai dari sini.") pikir Kei.
"Cukup lama aku menunggu. Aku kira kau tidak akan datang. Yahh, aku sendiri tidak terlalu berharap. Tapi melihat kau sekarang ada di sini, itu berarti jelas kau menanggapi dengan serius apa yang terjadi tadi." kata Kei menyambut Shiori dengan senyum.
Shiori sendiri tidak menjawab, tapi hanya berjalan pelan, mendekati Kei.
"Tidak juga. Tapi aku adalah orang yang menempati janji, jadi aku akan datang kemari apapun yang terjadi." jawab Shiori dengan nada rendah.
("Sejak awal, kau yang mengajak ku kemari, kan? Jangan bilang dia lupa!") Kei mendengar itu ekspresi nya sedikit berubah, tapi dia berusaha tetap menjaga itu. Walau begitu, Shiori tetap berjalan, dan berhenti di hadapan Kei sekarang.
Terlihat jelas sekali lagi, sosok yang selama ini dikagumi oleh masyarakat sekolah. Sosok yang membuat para laki laki memuja muja, dan perempuan mendekatinya.
Dengan rambut panjang yang indah sesekali ditiup angin, dan kulit putih yang bersih bagaikan tanpa noda, Shiori berdiri di hadapan Kei, sambil mengambil kertas catatan dan bolpoin, terlihat akan menulis sesuatu.
Wajahnya yang merupakan kelas atas sekolah ini terlihat sedikit memerah, mungkin karena malu atau karena cahaya matahari yang mulai meredup. Mata bulat yang indahnya juga menatap Kei, terlihat memiliki harapan yang tinggi padanya.
Tentu, ini adalah pemandangan yang sangat luar biasa bagi Kei. Shiori bagaikan putri yang dilukis oleh artist yang luar biasa, dengan bingkai alam yang mengelilingi nya.
Dan keadaan itu sekarang berada di hadapan Kei, mengalihkan pandangan dari Kei sambil mengangkat tangan kirinya setinggi perut, terlihat khawatir.
Jelas, tidak mungkin Kei yang seorang jomblo ngenes yang dicampakkan pacarnya tidak terpengaruh dengan ini.
Kei sedikit mengalihkan wajahnya, yang memerah melihat Shiori. Apalagi mengingat kejadian tadi saat Shiori mendekatinya, dan mendapat pengakuan darinya. Kei hanya bisa membuang muka.
("Sial! Setelah semua yang terjadi, aku tidak bisa menatap Shiori!!") pikir Kei.
Berbalik melihat Shiori, dia terlihat tenang. Walaupun sedikit kegelisahan terpancar di wajahnya. Pipinya sedikit merah, sambil sedikit demi sedikit mengintip ke arah Kei.
Shiori mengambil kertas itu dengan pen yang dia bawa, menutup mulutnya sambil menatap lurus ke arah Kei.
"Kei Kanata. Aku ingin sedikit bertanya padamu." tanya Shiori dengan pandangan lurus, menatap Kei dengan mata tidak bermain main.
"Ya!!" segera, rasa gugup Kei memuncak. Itu membuat semua rencana yang tadinya ada di dalam pikiran Kei buyar, dan Kei menjawab dengan punggungnya yang lurus seperti mengambil sikap tegak.
__ADS_1
"Kenapa..." Shiori bertanya lirih.
"Kenapa kau sampai sebegitunya padaku?" tanya Shiori pelan.
"U-uhm, apa maksudmu, Shiori?" tanya Kei
"Kita seharusnya tidak terlibat sangat dekat, bukan? Tapi saat ini, kau terlihat sangat ingin tahu tentang ku. Padahal ada beberapa hal yang seharusnya bukan urusanmu, itu agak membuatku penasaran." jelas Shiori.
"..." Kei tidak mampu berkata kata.
Tidak mungkin Kei menjawab jika Shiori terlibat dengan sesuatu seperti sistem. Itu hanya akan menambah masalah yang akan terlihat dengannya.
"A-apakah itu mengganggu mu?" tanya Kei sedikit tergagap.
"Ahh, itu tidak.... Baiklah. Aku sedikit terganggu dengan itu. Tapi..." Shiori memalingkan mukanya yang memerah.
"Tapi???"
"Memikirkan bahwa kau benar benar memperhatikanku membuatku lebih..... Bagaimana mengatakannya... Aku jadi merasa senang. Aku berpikir apakah kau menyukaiku, atau kau memperhatikan ku sampai seperti itu. Itu membuatku lebih bahagia!!" ucap Shiori dengan wajah cerah dan mata yang berbunga bunga.
Kei terdiam, menatap makhluk yang ada di hadapannya. Dia benar benar menyilaukan bagi Kei yang hidup di dalam kegelapan.
Melihat Shiori yang mengatakan ini, jelas merupakan mimpi hampir semua pria yanga ada di sekolahnya. Tidak terkecuali Kei. Tapi, ekspresi Kei justru terlihat gelap dengan pernyataan Shiori. Dan bersamaan dengan itu....
"Heh?"
"Kau terlihat terlalu bersinar untukku. Ya. Bahkan untuk Shiori!!" jawab Kei dengan penekanan. Ada perasaan marah yang kuat dalam setiap kata katanya.
"A-apa yang kau katakan, Kei? A-aku mungkin orang yang ceria. Tapi kenapa aku bisa terlalu cerah untukmu? Dan juga, untuk diriku sendiri?" tanya Shiori kebingungan.
"Bisa bisanya kau berkata begitu dalam bentuk Shiori..." Kei berbisik pelan, menahan amarah.
"Aku tidak bisa mendengar nya! Ada apa?" sosok "Shiori" disana masih memandang Kei dengan ekspresi wajah khawatir.
"Baiklah. Biar aku katakan dengan jelas. Kau bukanlah Shiori!!" teriak Kei.
Shiori terlihat mengendur dan terkejut sesaat, tapi itu hanya sepersekian detik. Dia dengan cepat mengembalikan ekspresi nya yang berubah dengan mudah.
"A-apa yang kau katakan! Berhenti mengatakan hal hal aneh! Bahkan aku bisa marah, loh!" teriak "Shiori" menggembungkan pipi, terlihat kesal. Tidak hanya itu, semua ekspresi nya menggambarkan kemarahan, tapi masih mengandung keimutan yang luar biasa.
"Aku kira untuk menolakku saja sudah cukup jahat. Tapi kau sampai menuduhku yang tidak tidak. Kamu sangat kejam, Kei! Apa salahku?! Apakah salah aku mencintaimu?!!" lanjut Shiori berteriak marah.
__ADS_1
"Shiori" tidak bergerak lebih jauh, hanya menutup wajahnya dengan kertas dan bolpoin, sambil menunduk, menghindari tatapan Kei. Air matanya mengalir pelan dari balik kertas itu, menetes ke beton tempat mereka berdua berdiri.
Dan tentu, Kei sedikit goyah melihat itu semua. Kei juga sedikit menganggap bahwa itu bukanlah akting biasa, tapi dia tahu, dia tidak bisa mengendurkan serangannya disini.
"Ti-tidak. Kau mungkin bisa membodohi orang lain, tapi kau tidak bisa membodohi ku. Aku sudah mengamati ekspresi semua orang, setiap kau berkata kata, setiap gerakan, bahkan cara berjalan mu!!!" teriak Kei dengan yakin.
"Heh? Apa apaan itu? Menjijikkan...." jawab Shiori dengan cepat.
Ekspresi wajahnya berubah cepat. Matanya melihat Kei dengan tatapan seperti melihat sampah. Dia juga bergeser pelan, berusaha menjauh dari Kei.
"B-bukan itu maksud ku! Sialaann!!!! Baiklah baiklah aku hanya bercanda!! Aku hanya bercanda!!" jerit Kei tampak kewalahan, melihat tingkah Shiori yang memandanganya seperti seorang stalker yang menjijikkan.
"Uhm! Biar aku luruskan!!" Kei terbatuk sekali.
"Setiap orang memiliki kebiasaan yang tidak dilakukan oleh orang lain. Contohnya saja, gerakan menyatukan dua tangan. Seperti aku, Shiori memiliki kebiasaan untuk menaruh ibu jari yang kanan saat menyatukan jari. Dan beberapa saat yang lalu, aku lebih sering menemukan Shiori menggunakan ibu jari bagian kiri."
"Ini adalah kebiasaan yang sulit untuk diubah, dan orang yang melakukannya dengan sengaja akan tidak nyaman. Dan kau melakukan itu tanpa sengaja. Dari situ aku bisa menemukan bahwa kau adalah orang yang berbeda." jelas Kei panjang lebar.
Sosok "Shiori" disana hanya terdiam mendengarkan penjelasan Kei, sambil beberapa kali tersentak dengan wajahnya yang menghadap bawah. Tidak jelas ekspresi apa yang dia buat, tapi Kei tidak bisa melepaskan kesempatan ini.
("Aku mendapat kembali kendali atas diriku karena sedikit terbawa emosi disana, tapi itu adalah hal yang bagus. Aku tinggal harus sedikit menekan dia, dia jelas akan menunjukkan wajah aslinya.")
Kei tersenyum sedikit, dan segera melanjutkan kata katanya.
"Bukan hanya itu. Aku juga memiliki sangat banyak bukti lain untuk mengatakan bahwa kau adalah sosok lain yang berada di dalam tubuh Shiori. Kenapa? Apa kau takut bahwa rahasia mu terungkap? Tidak. Aku yang punya kebutuhan denganmu." gumam Kei di akhir.
Sudut matanya menyipit, melihat Shiori dengan tatapan tajam penuh pertanyaan dan paksaan.
"Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu dengan tubuh Shiori? Bagaimana kau melakukannya? Mengapa kau melakukan ini.... Ahhh!!! Kalau aku memikirkannya kembali, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu!!" kata Kei sambil sedikit cemberut, mengacak acak rambutnya.
Shiori disana hanya menunduk diam, tidak melakukan apa apa sedari tadi. Mulutnya datar, matanya terlhat dingin. Suasana menjadi berat. Tidak ada suara apapun, sekarang, bahkan angin tidak behembus sama sekali.
Walau tidak melihatnya secara langsung, Kei tahu bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan datang.
"Itu...." Shiori mulai sedikit berbicara ditengah keheningan itu.
"Humm? Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Lebih cepat untuk jujur padaku?" tanya Kei sedikit tersenyum.
"Bisakah kau...." suara Shiori tidak menunjukkan perubahan, tetap ramah seperti biasanya.
"Bisakah aku?" Kei memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Shiori tetap diam, menatap bawah. Tapi, dia perlahan menggerakkan kepalanya, menatap Kei. Ekspresi nya kosong, tidak menggambarkan apapun. Sampai muncul senyum mengerikan bersamaan dengan sebuah kata kata yang dia teriakkan.
"MATI!!!"