
"Maksudku, kenapa harus aku dari semua orang di dunia ini? Apakah aku punya kesalahan sebesar itu hingga dihukum seperti itu?! Hei, kak Kanata, tolong katakan padaku!!" nada suara Minori kini terdengar memaksa.
Suara desiran angin, hanya itu yang muncul. Sementara Minori masih menunggu jawaban Kei dengan penuh harap.
Setelah menyingkirkan wajah bermasalahnya, Kei akhirnya buka suara.
"Kau... Kau tidak salah. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu benar benar luar biasa." ucap Kei pelan, sambil tertunduk.
Minori hanya diam, tersenyum menghadap Kei. Sepertinya, dia sudah terbiasa untuk tersenyum saat ada kesulitan.
Tapi berkebalikan dengan itu, senyum itu membuat hati Kei sakit.
"Aku bisa mengatakannya lagi. Kau benar benar luar biasa. Kamu bisa bertahan di lingkungan itu sampai saat ini. Bahkan kau bisa unggul dibanding orang orang yang tinggal di lingkungan biasa."
"Kamu benar benar luar biasa. Aku tidak bisa mengatakan apapu selain itu. Jika kau bertanya apa salahmu, salahmu hanya satu." ucap Kei.
"Satu?"
"Kau tidak mencari dan menemukan sosok yang bisa kamu ceritakan seperti sekarang. Untuk apa? Coba lihat dirimu sekarang. Sepertinya senyum sudah bukanlah sesuatu yang digunakan untuk menggambarkan perasaan lagi." jawab Kei.
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Minori.
"Yahh, bagaimana mengatakannya.... Kamu terus tersenyum selama menceritakan semua itu. Tampaknya sudah tertanam dalam dirimu, bahwa dalam keadaan apapun kau harus tetap tersenyum. Tapi terkadang, menangis juga merupakan hal yang baik, kau tahu?" jelas Kei seraya menarik pipinya, membentuk senyum.
Minori terkejut, tidak menduga jawaban itu. Dia meraba wajahnya sendiri, tampak merasakan seperti apa wajahnya sekarang.
Sementara keduanya diam, Kek hanya bisa menatap langit, sedikit mengutuk dirinya yang hanya bisa menjadi pendengar, seorang penonton dan tidak bisa melakukan apapun. Karena dia sadar satu hal.
Dan Minori, dia masih tertegun dengan jawaban Kei.
("Mencari teman untuk cerita? Apakah itu bisa? Apakah mereka tidak akan menjauhiku? Selain itu, semua masalahku hanya akan menambah beban mereka!!") teriak Minori dalam hatinya, berusaha mengelak.
Tapi akhirnya Minori memahaminya, dan menarik nafas panjang.
("*Tidak. Ini memang kesalahan ku. Tidak penting apakah mereka akan terbebani atau tidak, Aku hanya harus mengeluarkan unek unek yang aku miliki. Itu saja.")
("Aku terlalu sombong untuk mengira bahwa aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Dengan kata lain, aku butuh seseorang yang aku percaya sekarang*....") pikiran Minori mendapat ketenangannya, dan berhasil menyimpulkan.
Terlalu lama terdiam, Kei mulai gelisah. Takut kalau kalau dia mengatakan hal yang salah kepada Minori.
"K-kalau begitu, habis dari sini kau mau kemana?" tanya Kei.
Minori tidak menjawab, hanya menengok ke arah pagar pembatas.
"Sebenarnya setelah ini aku betniat untuk mengakhiri semuanya dengan melompat dari sini.... Tapi kak Kanata datang dan menyelamatkan ku. Jujur saja, sekarang aku tidak punya rencana apapun." jawab Minori enteng.
__ADS_1
Dia sepertinya sudah pasrah, menerima apapun. Itu mungkin karena perasaan nya yang kuat, atau mungkin malah kehilangan harapan.
"Bagaimana dengan tetangga mu? Apa yang terjadi?" tanya Kei.
"Yahh, seperti yang aku bilang tadi, tetangga ku itu sering dilabrak ibuku, dan sekarang sudah pindah. Aku tidak tahu alasan kenapa dia pindah, tapi dia sempat meminta maaf padaku saat sesaat sebelum berangkat." Minori menunduk.
"Astaga... Tidak perlu meminta maaf juga... Tidak. Aku yang harusnya... Aku yang harusnya berterima kasih... Aku harus berterima kasih karena telah bisa hidup sampai sekarang." isak tangis Minori mulai bocor.
Mungkin Minori adalah orang yang kuat, tapi ada beberapa sisi lemahnya yang mampu membuatnya menangis.
Kei tidak tahu harus berbuat apa. Dia secara tidak sengaja ikut campur ke dalam masalah yang benar benar serius sekarang.
Semuanya tidak bisa selesai hanya dengan menyelamatkan nyawa Minori saja. Kei sering membaca sebuah cerita, yang mana banyak Protagonis yang suka menyelamatkan orang lain, dan dipuji karenanya. Dan Kei sempat berpikir demikian.
Tapi kenyataannya, ada banyak orang yang tidak meminta untuk diselamatkan. Mereka meminta untuk diselamatkan dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengakhiri penderitaan mereka.
"Aku yang asal ikut campur dan tidak dapat membantu, justru menambah masalah. Sudah kuduga aku terlalu sombong untuk merasa menjadi seorang protagonis." bisik Kei sambil menunduk, kesal.
Kei ingin bertanggung jawab pada Minori. Pikirnya, dia yang memaksa Minori untuk kembali ke kehidupan yang berat ini. Setidaknya dia harus bisa membuat Minori tidak menyesal untuk bisa tetap hidup.
Itu yang Kei pikirkan.
Tapi Kei sadar, dia hanyalah anak SMA biasa. Dia tidak mampu mendukung orang yang seumuran dengannya. Kebutuhan keluarga nya saja sudah cukup membebani, tapi untuk menopang orang lain sendrian, Kei yakin dia tidak akan mampu.
Kei tahu, dia tidak akan bisa menjadi seorang protagonis. Tapi, dia tidak ingin meninggalkan Minori. Tindakannya murni tindakan yang didorong oleh keinginan nya sendiri.
"Uhun... Bagaimana kalau kau tinggal sementara di rumahku? Yahh, aku bilang begitu, tapi ada ibu dan juga adikku. Kau bisa tinggal di sana sejenak sampai kau memiliki rencana selanjutnya." kata Kei sedikit memalingkan wajahnya.
Minori tertegun sesaat, tapi kenudian dia menunjukkan wajah sulit.
"Apa kamu mengundang seorang wanita untuk bermalam di rumahmu, kak Kanata? Bukanlah itu agak tidak sopan?" tanya Minori dengan nada merendahkan.
Kei tahu, Minori tidak serius, jadi dia hanya tertawa ringan.
"Yahh, aku tidak punya cara lain, tahu? Kau tahu, aku tidak akan mengatakan bahwa aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu. Setidaknya, menjaga adik kelasku ini adalah kewajiban yang harus aku lakukan setelah mengetahui itu semua." sambung Kei.
Minori terdiam sesaat, melihat Kei dengan tatapan penuh harap.
("Apakah aku bisa, mempercayai orang ini? Apakah aku bisa bergantung padanya? Tidak. Aku sepertinya harus berusaha untuk membuka diri. Ini bukan waktunya pilih pilih, kan?") hati Minori berbisik.
"Tapi, sepertinya ada beberapa hal yang menjadi beban di hatimu jika kau hanya tinggal di rumahku. Jadi, kau akan membantu ku ketika aku meminta beberapa hal. Bagaimana aku mengatakannya.... Aku akan meminta beberapa hal, dan kamu yang melakukannya." lanjut Kei.
Dan dengan segera, pandangan Minori menjadi dingin, menusuk ke arah Kei.
"Kak Kanata, kau juga sama saja, bukan? Hanya saja, kau benar benar terang terangan sekarang." jawab Minori datar, sambil memeluk tubuhnya, tampak melindungi tubuhnya sendiri dari Kei.
__ADS_1
Kei terkejut, memahami arti kata kata yang dia ucapkan barusan, dan segera mengangkat tangan serata menggelengkan kepala.
"Tidak tidak tidak! Bukan itu maksudku!! Aku tidak akan meminta hal aneh!!! Agh... Aku hanya-"
"Aku mengerti."
"Eh?" Minori tiba tiba menyela kata kata Kei, membuat Kei memiringkan kepalanya.
"Aku akan mematuhi mu. Setidaknya, aku bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga. Dan soal permintaan, sepertinya kak Kanata akan meminta untuk merahasiakan hal ini, bukan?" jawab Minori, dengan mata mengarah ke Shiori yang masih tidak sadar juga.
Kei mengangka alisnya sebentar, tapi tahu bahwa itu bukanlah tawaran yang buruk.
"Dan juga... Bagaimana mengatakannya... Aku tidak membencinya. Kamu mengatakan semuanya dengan lugas. Yahh, itu bagus. Aku tidak ingin ada intrik tersembunyi, walau aku mengakui bahwa aku sering melakukannya." kata Minori, tetap dengan senyum.
Tapi berbeda dengan sebelumnya, kini senyum Minori terlihat lebih ringan, terlihat tak ada paksaan di dalamnya.
"Baiklah. Apakah kita sepakat?" Kei mengulurkan tangan.
"Oke. Dimengerti." jawab Minori menyambut tangan yang diulurkan kepadanya.
("Yahh, semua berjalan cukup baik, bukan? Aku akan berusaha menjelaskan semuanya nanti kepada ibu dan Yuna. Itu akan mudah ketika Minori mau menceritakan sedikit masalahnya.") pikiran Kei penuh dengan rencana yang berbunga bunga.
Sampai tina tiba datang sebuah pengumuman dari System muncul di kepala Kei.
...Kepercayaan kepada Player sudah meningkat. Tingkat afinitas sudah cukup untuk tingkat selanjutnya....
...Perjanjian telah dibuat oleh individu "Sakahara Minori" dengan Player "Kanata Kei"....
...Individu "Sakahara Minori" mulai sekarang akan menjadi [Subordinate] Player "Kanata Kei". Level afinitas, {1}...
("Heh? Apa ini?! Tunggu tunggu tunggu! Apa apaan tadi itu?!! Tidak, aku tidak bisa mempercayai nya!!") teriak Kei histeris dalam hatinya.
"Kak Kanata?" tanya Minori bingung. Tampaknya, serangan mental tadi sampai keluar ke wajah Kei.
"Tidak ada, maaf sebentar. Aku barusan menemukan masalah baru." jawab Kei sambil mengangkat telunjuknya, menahan Minori untuk diam dan tidak menanyakan apapun.
Minori juga sepertinya memahami itu, dan tidak melanjutkan.
Sementara itu, Kei membuka layar transparan dari System, dan melihat ke bagian menu, dan memilih log catatan. Disini, aktifitas terbaru yang dilakukan selalu tercatat, dan Kei ingin melihat apa yang terakhir dia dapatkan.
("Baiklah, mana ku lihat.... Apa ini...") hati Kei bertanya-tanya ketika melihat tulisan yang berbaris di bagian bawah log aktifitas itu.
Tulisannya tidak berubah, masih 3 kalimat yang muncul barusan.
("Apa ini apa ini apa ini apa ini?!!!!")
__ADS_1
("Aku mengerti... Memang aku dan Minori membuat perjanjian. Dan setelah semua ini, aku juga yakin penilaian nya kepadaku juga meningkat. Aku tahu itu...")
"Tapi aku tak tahu bahwa dia akan menjadi bawahan ku."