
Author note:
Uwahh, ga kerasa Author udah mati sebulan.... Sebelumnya maaf untuk ga pernah update selama ini, karena ada banyak masalah (curhat!!!) Yahh, apapun itu, silakan bab baru nya!!
.
.
.
("Siapa sih, wanita ini?!!") pikir Kei dalam hatinya.
Dia menatap perempuan itu, yang sekarang terduduk, sedikit menangis dengan kakinya yang masih sedikit bergetar. Gadis itu hanya terdiam, mungkin efek diayunkan oleh Kei sekuat tenaga tadi.
Kei juga tidak mengatakan apapun, hanya mengamati gadis itu dari atas pagar pembatas.
Pakaiannya rapi, terlihat seperti seorang anak teladan. Rambutnya hitam panjang, yang awalnya rapi kini tampak sedikit kusut karena kejadian barusan. Wajahnya yang cantik terlihat kuyu, dengan air mata yang mengalir di pipinya. Matanya juga terlihat layu, mungkin terlalu banyak menangis.
Setidaknya, dari penampilan, gadis itu terlihat sangat terawat, dan bukan siswi biasa. Walau sedikit berantakan, tapi Kei sudah bisa menebak bahwa dia adalah murid yang berbakat.
Kei melompat turun, sedikit merapikan pakaiannya. Kei sedikit mengingat ingat, bahwa dia benar benar sudah melakukan hal yang gila.
Dia sadar, bahwa di saat saat terakhir, kekuatan yang ada dalam tubuhnya meningkat. Kei juga tidak tahu apa yang terjadi.Tapi, ketika dia merasa kesal karena tidak bisa menyelamatkan gadis ini, Kei merasa sesuatu dalam hatinya meledak, membuat kecepatan Kei meningkat.
Kei curiga ada hubungannya dengan skill yang dia miliki, jadi dia mencoba mengeceknya.
Status:
Nama: Kei Kanata
Job: Player
Class: -
Level: 13
Division Player: 1
HP: 5000
MP: 2000
Attack Point: 230
Deff. Point: 150
Stamina: 200
Life Point: 1630%
Life Skills: [Banyak]
__ADS_1
Skills: [Soul Eater], [Absolute Shield], [Life Point Absorb], [Little Armor]
Peralatan: Katana, AWM, Glock 19, Pisau, Besi tua.
"Humm. Tidak ada yang berubah kecuali levelku yang sudah naik, kah? Apakah level 13 terlalu sedikit? Selain itu, ada beberapa penambahan disini. Ini menarik." bisik Kei sambil tersenyum senang.
Ada penambahan di status Kei. Pertama, muncul Class, dan Division Player. Kei tidak mengerti apa artinya itu, tapi mungkin dia akan menanyakannya pada Yuki nanti.
Tidak hanya beberapa penambahan itu, Kei juga menemukan bahwa beberapa statistik miliknya juga meningkat. Tak heran kemampuan dia yang sekarang sudah melampaui manusia biasa.
"Ahh, gawat gawat. Aku membuka status bukan untuk melihat ini..." kata Kei sambil menggelengkan kepalanya.
Dia mengamati bagian Life Point. Itu naik banyak pasca pertandingan melawan Sato. Itu karena Kei menyerap semua armor Sato. Semua armor Sato ternyata dihitung sebagai Life Point, membuat Kei kini memiliki sangat banyak Life Point.
Dan setelah Kei melihat statusnya dia menyadari bahwa Life Point miliknya berkurang sedikit. Itu berarti Life Point barusan dikonversi ke peningkatan kekuatan tubuh.
"Berarti kemampuan tadi mengkonsumsi Life Point yang ada, lantas dikonversi ke peningkatan kekuatan tubuh. Humm... Ini bisa aku jadikan senjata saat bertarung nanti..." bisik Kei pelan, memikirkan kemampuan yang dia miliki.
Hiks....
Suara tangisan pelan masih didengar Kei, berasal dari seorang gadis di hadapannya.
("Ahh, aku sedikit melupakannya.") pikir Kei.
"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan padamu??" tanya Kei pada gadis yang sedang terduduk itu.
Segera, gadis itu tertegun sesaat, sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Kei, sedikit gemetar. Dia juga sefikit mundur, sambil sedikit mengambil rok nya, terlihat ketakutan.
"A-apa y-yang a-akan kau lakukan p-padaku?!!" tanya gadis itu sambil bergetar ketakutan.
"Huh! Melihat kau bergetar seperti itu sangat tidak cocok dengan sosokmu yang ingin melompat tadi. Kenapa sangat berkebalikan?" tanya Kei sambil tertawa mengejek.
Wanita yang sedang terduduk itu tersentak sesaat, dan dia hanya menatap Kei dengan cemberut.
"I-ini karena kamu! Jika kamu tidak tiba tiba muncul dan menarikku ke atas! Jika kamu tidak ada! JIKA KAMU TIDAK ADA! Aku pasti sudah lepas dari semua ini!! Aku pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini... Aku sudah lelah... Tolong...." teriak wanita itu, mulai menangis.
"Tolong... Aku sudah tidak kuat lagi.... Biarkan aku beristirahat, oke?" katanya. Kei yang melihat itu terkejut, dan hanya bisa terdiam.
Kei melihat lagi wajah gadis itu. Tatapan matanya kosong, tampak tidak tertarik pada apa pun. Dia juga sudah tampak menyerah, tidak lagi terlihat cahaya dalam tatapan matanya.
Hanya sekali lihat, Kei tahu. Dalam hatinya sudah penuh dengan kegelapan. Dia sudah tidak bisa melihat apa apa lagi, dan akhirnya dia memilih untuk mengakhiri semuanya.
Kei entah kenapa paham perasaan itu.
("Wajah nya. Tatapannya.... Itu semua mirip seperti hari itu...") pikir Kei tidak bisa berkata kata.
("Apakah, jika aku membiarkannya, semua akan terjadi seperti dulu? Apakah dia akan mati lagi seperti dia? Apakah itu akan terjadi?") tanya Kei sambil mengepalkan tangannya.
Kei mengingat sesuatu di masa lalu, yang seharusnya tidak dia ingat lagi. Tidak, bukan tidak dia ingat. Dia hanya tidak ingin mengingat semuanya.
"Aku tidak pernah menyalahkan mu, Kei."
__ADS_1
?!!
Sebuah bisikan pelan terdengar di belakang Kei, segera membuat Kei mendelik, berbalik hanya untuk menyadari tidak ada apapun disana.
Ekspresi Kei menggelap, hanya menunduk dengan tatapan sedih.
"Aku mengerti." bisik Kei pelan, sambil berjongkok, menghadap gadis itu.
"Apa yang kau maksud mengerti? APA?!! Kau tidak akan pernah bisa MENGERTI!! Dasar sok tahu! Kau tahu apa tentang ku?!! Kamu-" teriakan gadis itu tiba tiba berhenti, karena Kei yang bergerak.
"Sudah. Semua baik baik saja. Kau sudah melakukan yang terbaik, bukan?" Kei yang sudah berjongkok, maju untuk memeluk gadis itu.
Gadis itu terkejut sesaat, berusaha melepaskan pelukan Kei. Tapi Kei sendiri tidak mengendurkan pelukannya, hanya lebih memeluknya erat.
"A-apa yang kau la-lakukan?! Lepaskan aku!!"
"Lepaskan saja. Ini melelahkan, bukan? Ini menyakitkan, kan? Kau ingin teman untuk bercerita, untuk mengeluarkan semua unek-unek mu, dan teman untuk mendengarkan semua keluh kesahmu, kan?" bisik Kei dengan lembut.
"A-apa ma-maksudmu? A-aku..."
"Tidak apa. Kau bisa menceritakan semuanya padaku. Aku bisa menjadi temanmu. Kau ingin seorang teman, yang bisa mengerti dirimu. Maka katakanlah. Semua yang ingin kau ceritakan kepadaku. Aku akan menanggungnya sebanyak apapun itu." lanjut Kei sambil terus memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku... Aku....." suaranya semakin lama semakin menghilang, terganti oleh isak tangis.
Kei hanya diam, mengelus rambutnya, sambil tersenyum pelan.
("Ahh, semua perasaan ini, terasa nostalgia....") pikir Kei. Dia hanya diam, tapi ada dalam pikirannya memikirkan Yuna yang entah kenapa pernah melakukan hal yang mirip seperti ini.
("Tapi akan menjadi masalah jika dia terus disini saat aku sedang berbicara dengan Shiori, jadi sepertinya aku harus menghentikannya disini.") pikir Kei.
"Maafkan aku, tapi kau harus tertidur sebentar." bisik Kei.
"He?!!" Dengan demikian, Kei sedikit memukul tengkuk gadis itu, dan dalam hitungan detik, gadis itu kehilangan kesadaran, dan pingsan di pundak Kei.
Itu adalah salah satu dari beberapa alasan Kei memilih atap untuk tempat bertemu mereka.
Tempat ini sepi setelah pulang sekolah. Ini sangat cocok karena Kei idak ingin melibatkan siapapun untuk masalah ini. Dan juga, tidak ada CCTV di sekitar atap. Jadi, jika sesuatu terjadi, tidak ada saksi atau barang bukti yang akan memperkuatnya.
"Hufft.... Cara pikir ku sudah mulai seperti penjahat, bukan!?" tanya Kei sambil membopong gadis yang dia buat pingsan tadi.
Kei menggendongnya, dan menidurkan gadis itu di temapt dekat pipa besar, dimana dia tidur tadi. Setidaknya, itu adalah tempat yang dia kira paling aman dan tersembunyi dari sisi manapun.
Sementara itu, Kei menyusun rencana untuk menyambut Shiori. Bukan. Maksudnya, menyambut orang yang mengambil alih tubuh Shiori. Karena bagaimanapun, Kei tidak bisa melukai tubuh Shiori. Kalau kalau orang itu menggunakan tubuh Shiori untuk sandera, Kei tahu dia tidak bisa apa apa.
Waktu sudah cukup panjang sejak Kei membuat gadis tadi pingsan. Sedangkan Kei, dia hanya diam sambil menajamkan indra nya.
Tap tap tap....
"Dia sudah datang, kah?" bisik Kei pelan. Dia berdiri, menatap langit dari pinggir pagar pembatas yang terbuat dari besi.
"Dari sini adalah penentuan. Bisa atau tidaknya aku mendapat informasi dan memanfaatkan Shiori, atau justru aku yang dimanfaatkan olehnya." lanjut Kei, memutar tubuhnya untuk menghadap pintu.
__ADS_1
Kriieeettt....
Dan pintu pun terbuka.