
("Tampaknya, ada berkas sihir atau Skill pada Shiori.") bisik Kei dalam hatinya.
Setelah kejadian Sato barusan, semua saraf yang ada pada tubuh Kei meningkat. Dia bahkan bisa merasakan adanya skill yang dirapalkan, bahkan merasakan sebuah kekuatan sihir yang ada.
Refleks yang dia punya sekarang juga jauh lebih baik. Kei saja yang tidak menyadari itu semua.
(Itu benar, Master. Anda sangat luar biasa bisa menyadari itu dengan cepat.) segera Yuki menjawab itu.
("Berarti kau tahu apa artinya kan?") tanya Kei sambil menghela nafas lelah.
(Yahh, mungkin Master sendiri juga tahu, dan ini pasti bukan sesuatu yang Master senangi, bukan?) tanya Yuki.
("Benar. Itu berarti ada Player di sekitar sini, dan kemungkinan terburuk adalah, Shiori merupakan seorang Player. Aku jujur mulai lelah dengan ini, dan ini bahkan tidak memberiku istirahat.") kata hati Kei mengeluh.
(Setidaknya Master tidak lagi menangis seperti biasanya. Itu menandakan Master ada perkembangan. Jadi begini kah perasaan ibu yang membesarkan anaknya? Hiks hiks.) ucap Yuki sambil sedikit bermain dengan Kei, dengan nada suara kagum.
("Jangan menggoda ku! Yahh, begitulah. Aku sedikit terkejut, tapi sepertinya benar. Kemampuan tubuhku juga sedikit meningkat.") pikir Kei lagi.
(Kau bilang itu sedikit, Master?) tanya Yuki pelan, hampir tidak terdengar.
("Kau bilang apa, Yuki?") tanya Kei sedikit mendengarnya.
(Tidak tidak. Tidak ada. Acuhkan saja itu. Itu Fino sedari tadi Master abaikan!) Yuki segera mengalihkan perhatian. Kei sedikit terkejut, namun benar. Dia sudah mengabaikan Fino.
"Ahh, bagaimana Fino? Apa yang kau katakan tadi?" tanya Kei segera kembali ke dunia nyata.
Fino yang mendengar itu sedikit mendengus, kesal. Dia cemberut karena sejak tadi dia bercerita, dan Kei tidak mendengarkan dia.
"Kubilang, ini tentang Myan." kata Fino sedikit kesal.
"Yahh, aku memang sedih, tapi aku sudah putus dengan Myan kemarin. Ahh, mengingatnya lagi membuatku sakit..." bisik Kei seraya menundik ke bawah. Wajahnya muram, mengingat bagaimana dia diputuskan secara sepihak oleh Myan.
"Begitu? Kalau begitu ini tidak ada hubungannya. Myan sudah berkencan dengan pria lain hari Sabtu kemarin. Dan beberapa orang melihat mereka berdua berjalan ke Love hotel..." cerita Fino dengan berbisik pada Kei.
Kei yang mendengar itu terhenti seketika. Myan, yang merupakan mantan pacarnya dulu berjalan bersama pria lain? Sabtu kemarin?!!
Kei sedikit tidak percaya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan sosok yang dia sukai melakukan hal seperti itu.
"Kau jangan bercanda, Fino. Dan kalaupun kau bercanda, ini sudah keterlaluan, kau tahu!" teriak Kei tidak terima.
"Tidak tidak tidak. Aku tidak sampai sebegitunya kejam hingga ingin menghasut orang. Kau lihat kemari, aku memiliki foto Myan dan orang tersebut. Bagaimana?" jawab Fino tenang, seraya mengambil Smartphone miliknya dan menunjukkan sebuah foto.
Di dalam foto tersebut, tidak lain adalah foto seorang pria tampan yang berjalan tenang dengan wanita di sebelahnya. Dan yang mengejutkan Kei, wanita itu jelas adalah Myan, mantan pacarnya.
Keii terdiam, tidak bisa berkata kata.
Sabtu. Itu adalah hari dimana Myan dan Kei berjanji akan pergi bersama. Saat itu, Myan tidak dapat pergi karena ada urusan keluarga, katanya. Jelas, itu adalah hari yang tidak terlupakan bagi Kei.
__ADS_1
Bagaimanapun, semuanya. Sistem, dan lain lainnya dimulai dari hari itu. Ketika dia kecelakaan, dan tidak sengaja mendapatkan Sistem. Semua berawal dari sana.
"Ahh...." Kei menarik nafas, hanya menutup mata, kesal.
"Mau bagaimana lagi. Mungkin aku hanya bahan mainan untuknya. Itu baik, bagaimana aku tidak dimanfaatkan lebih jauh olehnya." kata Kei setelah menghela nafas.
Walau apa yang dia katakan terdengar tegar, tapi hatinya sakit. Padahal Myan merupakan sosok yang sudah memberikan harapan padanya. Ugghh.... Ini adalah saat ketika Kei mengetahui bahwa pacarnya mengkhianatinya.
Sakit, sangat menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka akan dikhianati seperti ini.
Tapi sekali lagi, mungkin ini kesalahanku. Kesalahanku karena terlalu percaya. Kesalahanku karena terlalu berharap pada seseorang. Ya. Ini kesalahanku. Kesalahanku karena terlalu bodoh.
(Hei hei hei! Ini Kei atau Author?!) teriak Yuki dalam hati Kei, yang segera menyadarkan Kei.
("Ahh, maafkan aku. Aku kelewat batas.") bisik Kei. Memang, dalam hatinya dia merasa panas, dan jujur dia memiliki rasa dendam dalam hatinya.
Mungkin karena Death Game ini, akal sehat Kei sedikit bergeser. Itu membuat Kei ingin membalas Myan untuk apa yang dia lakukan pada dirinya. Tapi sepertinya dia agak menahan diri, karena dirinya sendiri menahan keinginan itu.
"Yahh, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku berdoa yang terbaik untukmu, teman!!" kata Fino seraya menepuk punggung Kei, berusaha menghiburnya.
Kei tersenyum dan mulai berjalan pelan.
"Benar. Aku punya banyak hal yang lebih penting." kata Kei sambil tersenyum. Dengan begitu, mereka berdua berpisah sesaat. Fino akan berganti baju menjadi baju olahraga, sedangkan Kei yang sudah berganti langsung pergi ke lapangan.
Tidak ada orang di lapangan sekarang, dan hanya ada angin yang menari bersama debu yang ada di udara siang ini. Melihat sekeliling, Kei kembali menghubungi Yuki.
(Master. Saya sudah menganalisanya. Itu tidak sebuah skill kuat yang bisa membahayakan nyawa Shiori untuk sekarang.) jawab Yuki dengan nada agak tidak yakin. Selain itu, dia juga memiliki kekhawatiran dalam nada suaranya.
"Kau bilang untuk sekarang, bukan? Itu berarti akan ada masalah di kemudian hari."
(Benar, Master. Itu adalah sebuah skill yang dapat mempengaruhi pikiran lawan. Dengan kata lain, Player yang menggunakan skill ini sudah mengendalikan pikiran Shiori selama ini. Dan nanti suatu saat nanti, pikiran Shiori akan hancur karena skill ini.) jelas Yuki.
Disanalah Kei menghela nafas, mendengar hal hal yang mengerikan seperti itu.
"Kalau begitu, kau sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan, Yuki?" tanya Kei telah memutuskan.
(Yahh, saya mengerti bahwa Master ingin menyelamatkan semua orang. Bagaimanapun, saya mengerti Anda bahkan lebih dari Anda sendiri. Tapi, jika saya melakukan sesuatu lebih dari ini, maka keberadaan saya akan terdeteksi.) jelas Yuki.
"Aku mengerti...." bisik Kei.
("Kalau begitu, tidak perlu. Kau sudah memastikan bahwa Shiori benar benar terpengaruh dalam skill atau sihir. Itu saja sudah cukup. Mulai dari sini, biar aku yang bergerak sendiri.") kata Kei dalam pikirannya.
(Tapi Master!!) Yuki menyangkal pemikiran Kei.
Menurut Yuki, itu terlalu berbahaya untuk Kei tanpa adanya kehadiran Yuki di sisinya. Dan Kei juga tahu, arti dari memutuskan jaringan dengan Yuki adalah menonaktifkan kemampuan dari Yuki sendiri.
Dengan kata lain, Kei tidak akan mampu berkomunikasi dengan Yuki sampai masalah ini selesai.
__ADS_1
Selama ini, Kei banyak mengandalkan Yuki dalam beberapa aspek dan pertarungan. Seperti saat pertarungan melawan Sato, dia terlalu mengandalkan Yuki dalam membuat rencana.
Dan sekarang Kei akan menghadapi lawan yang tidak diketahui dan dapat mengendalikan musuh? Yuki sebagai sosok terdekat Kei saat ini tidak bisa membiarkannya.
"Tenanglah, Yuki...." kata Kei sambil tersenyum.
Angin kembali berhembus kencang, menerbangkan debu debu dan dedaunan yang berserakan tak beraturan. Tapi apa pun yang terjadi, itu tidak akan menggoyahkan niat Kei.
"Sebelum menjadi Master mu, aku adalah orang yang berhasil melewati berbagai macam untuk bisa mendapatkan mu. Aku tidak akan bisa mati semudah itu." kata Kei seraya mengangguk yakin.
Tidak ada jawaban dalam pikiran Kei, mungkin Yuki sedang menimbang nimbang. Kei juga tidak mendesak Yuki untuk segera membeti jawabannya. Dan setelah lama terjadi jeda diam, akhirnya Yuki angkat suara.
(Baiklah.) bisik Yuki pelan. Segera, wajah Kei menjadi cerah mendengar itu.
"Kalau begitu!"
(Tapi!!) segera, Yuki memotong kata kata Kei.
(Jangan terlalu memaksakan diri, Kei. Kalau kalau ada sesuatu yang darurat, segera panggil aku. Aku akan segera membantumu...) bisik Yuki.
"Tenang saja. Aku akan berjanji, setidaknya aku tidak akan mati." ucap Kei sedikit bercanda.
"Karena itu, selamat tinggal untuk sementara ini, Yuki." lanjutnya.
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Mungkin Yuki sendiri sedikit tidak terima dengan keputusan Kei. Tapi Kei masih menunggu Yuki, dan belum memutuskan hubungannya dengan Sistemnya.
(Baiklah baiklah! Selamat tinggal, Master! Jangan sampai kau mati, karena jika Kei mati, Yuki juga mati!!) kata Yuki tetap dengan nada marah. Dan setelah itu, dia memutuskan koneksinya secara sepihak.
Ini mirip seperti sebuah telepon, jika ada satu pihak memutus hubungannya, maka tidak akan terhubung jika tidak ada pihak yang menelpon. Dan disini, pihak yang harus menelpon adalah Kei.
"Yahh, aku juga harus berusaha mandiri." kata Kei sambil berjalan perlahan.
Dan dari balik tempat pintu, ada seseorang yang memperhatikan Kei dengan mata curiga....
.
.
.
*Author note: (Curhat) Maaf atas keterlambatan bab nya!! Author update satu satu, tapi kena seleksi ama Noveltoon terus... Padahal ga ada hal hal yang melanggar seperti hal hal dewasa, dan yang terlalu sadis. Paling paling ya cuma kata kata kasar.... Dan ga cuma novel ini saja, hampir semua novel kena seleksi terus.....
Jujur Author jadi agak males update :v
Pov Author now*....
__ADS_1