
BAB 1
Awalnya, kupikir bencana ini hanyalah bencana biasa. Namun, disaat saya melihatnya dan berhadapan dengan sumber dari segala bencana yang terjadi saat ini. Saya sadar, bahwa saya ditakdirkan untuk membunuh orang ini.
Lembang, November 2020
“SATU, DUA, TIGA!” teriak orang-orang berseragam oranye yang sedang mengangkat sebuah bongkahan bangunan besar. Karena curah hujan yang tinggi, mengakibatkan puluhan rumah warga tertimpa longsor. Randi, seorang ketua tim dari Badan Pencarian dan Penyelamatan atau disingkat BPP tengah berusaha menyelamatkan seorang korban yang tertimpa reruntuhan tanah dan bangunan.
Dirinya beserta rekan-rekan yang lain masih terus mencari dan menyelamatkan para korban walaupun hujan deras masih berlangsung dan tidak menutup kemungkinan jika disana akan terjadi longsor susulan. Sadar akan risikonya, BPP hanya bisa berdo’a dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan para korban secepatnya.
“Fiuh, tak kusangka longsornya separah ini. Lebih parah dari yang dilaporkan warga” ucap Erik.
“Ya, kita istirahat dulu saja, serahkan ke tim yang baru tiba, tolong beritahukan ke tim yang lebih dulu datang dan suruh mereka istirahat, saya mau ke tenda membuat laporan” ucap Randi.
“Siap pak” balas Erik.
*
Randi pun berjalan ke area evakuasi dimana tim medis menangani para korban selamat dan ia memasuki sebuah tenda tim operasional BPP yang besar.
“Semuanya, sekarang pukul setengah empat sore, mari kita satukan laporan kita”
Beberapa staff BPP pun langsung berkumpul mengelilingi meja persegi yang berada di tengah tenda. Tujuan Randi mengumpulkan rekanan BPP itu ialah untuk menyatukan semua laporan yang telah dicatat oleh rekan-rekan BPP sebelumnya, setelah itu ia akan mengirimkan data yang telah disatukan tersebut kepada BPP pusat dan media.
__ADS_1
Menurut hasil laporan, BPP telah menemukan sedikitnya sepuluh korban jiwa dan lima belas orang luka-luka. Randi mengetahui bahwa sampai saat ini selalu saja ditemukan korban-korban longsor lainnya. Maka dari itu dia akan merekap laporan lagi sejam kemudian, untuk saat ini ia akan mengirimkan data yang telah ia dapat tersebut kepada BPP pusat secepatnya.
“Baik, terima kasih atas kerja samanya”
Tidak lama kemudian datanglah seorang anggota BPP dengan pakaian yang sudah sangat kotor dan basah kuyup karena membantu proses pencarian korban longsor. Dia datang ke tenda tim operasional hanya untuk menemui Randi.
“Ada apa?” tanya Randi sembari membaca laporan, orang itu mengatakan bahwa dirinya dan beberapa relawan menemukan sebuah gua yang tidak ada di peta. Mendengar perkataannya membuat Randi secara reflek menggerakkan alis kirinya ke atas karena terkejut, kemudian matanya secara otomatis tertuju pada orang itu.
“Tunggu dulu, siapa namamu? Tag namamu tertutup noda” tanya Randi.
“Ah maaf, nama saya Opick” balas Opick.
Setelah itu Randi mempersilahkan kepada Opick agar melanjutkan laporannya, Opick pun menunjukan lokasi gua tersebut pada peta yang terpasang di tengah meja, gua itu terletak di wilayah bagian timur yang terkena longsor.
Bagian timur? Hmm, saya belum mengecek bagian itu tadi, longsornya memang luas.
Setelah dilihat, Randi memang tidak melihat adanya simbol gua pada petanya akan tetapi setelah Opick memperlihatkan sebuah foto gua yang ia potret sebelumnya, Randi mulai berpikir bahwa bisa saja itu merupakan gua purbakala yang belum pernah ditemukan para peneliti karena tertutup tanah sampai saat ini.
“Tapi, bagaimana jika itu peninggalan perang dunia dua?” tanya Opick karena khawatir.
Randi memahami kekhawatiran Opick karena memang biasanya gua-gua peninggalan perang dunia masih menyimpan jebakan berupa bom ranjau dan senjata rahasia lainnya.
“Menurut laporan, sampai satu setengah abad yang lalu wilayah ini belum pernah tertimpa bencana longsor, jadi saya yakin gua itu bukanlah gua peninggalan perang dunia” ucap Randi menjelaskan situasi wilayah.
“Be, begitu yah” balas Opick.
Setelah itu Randi dengan cepat mengambil radio HT dan meminta agar keempat rekannya untuk segera berkumpul di tenda operasional BPP secepatnya.
Setelah laporannya terkirim ke pusat Randi pun berniat untuk bergerak kembali demi mengecek gua tersebut, dia beserta timnya yang telah tiba segera mempersiapkan segala macam alat keselamatan dan penerangan karena mereka akan memasuki sebuah wilayah yang belum terpetakan.
*
ZZZTTTT DUAAAARRRRR!
Hujan sudah mulai mereda, akan tetapi kilatan-kilatan petir serta suara guntur masih terus bermunculan. Disaat yang sama, Randi beserta keempat rekannya yang telah mengenakan alat keselamatan lengkap telah siap untuk berangkat dan akan dipandu oleh Opick menuju lokasi gua.
Wow.
Randi cukup terkejut ketika dirinya telah sampai di lokasi gua, dia merasa bahwa gua itu memiliki tampang atau gerbang masuk yang cukup menakutkan.
__ADS_1
Hm, banyak yang berdatangan ke sini. Gua ini langsung menarik perhatian warga yah.
*
Setelah berjalan mendekati pintu masuk gua, tiba-tiba saja Randi dan rekan-rekannya merasakan sebuah hawa yang sangat tidak mengenakan yang membuat mereka semua kompak untuk berhenti.
*
“Pak, apa anda merasakannya?” tanya Opick.
“Perasaan apa ini?” balas Randi dengan raut muka cukup gelisah.
“Kami tidak tahu, setelah kami menemukan gua ini tiba-tiba saja kami mengalami perasaan yang sama, seolah-olah kami tidak diizinkan masuk ke gua ini” ucap Opick lebih lanjut.
*
Sudah banyak gua yang saya kunjungi, tapi baru kali ini saya merasakan hal yang seaneh ini, apa ini gua keramat? Tidak tidak, saya tidak percaya yang begituan.
Salah satu rekan Opick yang sedari tadi mengawasi gua mengatakan bahwa dia mendengar suara teriakan dari dalam sana, bukan hanya dia tapi seluruh warga pun yang mengamati mendengar teriakan tersebut.
“Teriakan manusia?” tanya Opick.
“Ya, seperti manusia” balas warga.
“Apa ada yang masuk gua ini sebelumnya?” tanya Randi.
“Selama kami disini belum ada orang-orang yang berani masuk pak” balas warga.
Ok, keanehan bertambah satu lagi.
*
“Ok, mari kita coba masuk, tapi ingat, jangan terlalu dalam” ucap Randi.
Randi mulai memberanikan diri untuk memasuki gua aneh itu, saat ini dia sedang berada tepat di depan jalur masuk gua. Baru dari depannya saja, Randi langsung merasakan sesuatu yang membuatnya seolah-olah sedang berhadapan dengan monster raksasa.
Setelah berhenti di depan gua untuk mengamati, akhirnya Randi dan keempat rekannya mulai memasuki gua secara perlahan dengan dibantu oleh penerangan senter. Awalnya perjalanan memasuki gua sangatlah mulus tanpa halangan. Namun, setelah berjalan cukup dalam, tiba-tiba saja sesuatu yang sangat tidak disangka terjadi di sana.
Baru beberapa langkah saja, Randi merasakan bahwa tanah yang dipijaknya telah bergoyang, selain itu ia juga mendengar suara gemuruh yang berasal dari dalam gua.
Gempa?
“GEMPAAA! Pak Randi, keluarlah dari gua!” teriak Opick.
__ADS_1