
WARNING 17+
BAB INI MENGANDUNG CERITA YANG BERBAHAYA.
BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI NOVEL INI.
Terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca!
BAB 12
Gedung Sate, Kota Bandung
Di siang hari yang indah nan sejuk, di mana burung-burung saling beterbangan dan berkicauan, orang-orang saling beraktivitas ke sana ke mari bahkan terdapat taman yang bisa menyejukkan hati, salah satunya taman Gedung Sate.
Hmmm…
Pada kursi taman itu, Randi duduk santai seorang diri memikirkan sesuatu sembari memandang keindahan taman. Setelah pertemuan BPP selesai, banyak pimpinan BPP daerah yang memilih untuk pulang dan mengerjakan tugasnya masing-masing yang telah diberikan ketika pertemuan berlangsung, tapi Randi, dia lebih memilih untuk mengunjungi taman terlebih dahulu.
Tidak lama kemudian ketika ia sedang santai memandang taman, datanglah salah satu pimpinan BPP Lembang yang bernama Budiyono, biasanya Randi memanggil beliau dengan sebutan pak Yono.
“Randi? Belum pulang?” tanya pak Yono.
“Hm?” Randi pun melihat ke samping “Ah, pak Yono, iya nih pak, lihat taman dulu” sahut Randi dengan senyum. Pak Yono datang menghampiri Randi dan ikut memandangi taman namun beliau tidak ikut duduk di sampingnya, melainkan hanya berdiri saja di dekatnya sembari memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
“Bagaimana menurutmu? Tentang pertemuan tadi” tanya pak Yono.
“Hmm, ya saya setuju sama pimpinan, kita tidak boleh terlalu gegabah dalam mengambil keputusan jika data-datanya masih belum valid dan tidak akurat tapi kita juga harus tetap terjaga dan jangan lengah walaupun data-data itu belum valid” jawab Randi.
Mendengar jawabannya, pak Yono hanya menganggukan kepalanya saja ke atas dan ke bawah seakan ia setuju dengan perkataannya. Kemudian setelah itu situasi pun hening seketika, hanya terdengar kicauan burung dan kendaraan yang melintas.
*
“Tapi pak, pernah kepikiran gak sih kalau getaran itu buatan manusia? Contohnya kaya ada kelompok tertentu yang masang bom di bawah tanah buat mengubur kawasan Gedung Sate?” tanya Randi.
“Maka dari itu, pemerintah mengirim Polisi juga buat nyelidiki” jawab pak Yono, sebetulnya pak Yono juga sempat memikirkan hal itu namun dia lebih memilih menunggu hasil penyelidikan untuk memastikannya. “Jadi intinya, kita harus menunggu laporan dari rekan-rekan kita yang ada di lapangan dan sudah tugas mu lah untuk menyatukan laporan mereka itu menjadi satu kan?” ucap pak Yono lebih lanjut.
“Iya, begitulah” jawab Randi.
Setelah dirasa sudah cukup berbincangnya, pak Yono pun lantas pamit untuk pulang duluan, beliau juga mengatakan bahwa Randi bebas pergi ke mana saja saat ini karena agenda pertemuannya pun telah selesai dan juga belum waktunya bagi Randi untuk mengerjakan tugasnya.
“Kalau mau main ke alun-alun ya silahkan, asal hati-hati aja, saya pergi dulu” ucap pak Yono.
“Siap pak, hati-hati juga” sahut Randi.
Ke alun-alun ya? Boleh juga.
__ADS_1
*
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Randi telah tiba di alun-alun kota Bandung. Rupanya dia cukup terkesan karena ada beberapa dekorasi baru yang menambah kesan alun-alun menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Selain itu Randi juga terlihat senang ketika melihat banyak keluarga yang sedang bermain, anak-anak saling berlarian dan makan di samping taman dan masih banyak lagi, benar-benar menunjukkan kesan damai dan tentram.
“Wahahaha, ramai juga ternyata, banyak cosplayer baru yang bermunculan” ucap Randi dengan senang.
Mulai dari kawasan Museum Asia-Afrika hingga ke alun-alun kota telah dipenuhi oleh para cosplayer dan pengunjung serta turis asing yang ingin berfoto dengan mereka, walaupun cukup ramai namun mereka masih mematuhi peraturan dan tidak menghalangi kendaraan yang sedang melaju.
“Waha, itu Kamen Rider kan? Eh tunggu, tunggu tunggu tunggu…” Dari seluruh cosplayer yang berjejer di sana, sekilas Randi melihat cosplayer yang mengingatkannya akan kejadian kemarin, cosplayer tersebut tepat berada di antara cosplayer Iron Man dan Kamen Rider. Kebetulan dia sedang melayani pengunjung yang ada di sana.
Tapi Randi sendiri masih ragu-ragu apakah dugaannya benar atau tidak, maka dari itu ia memilih untuk mendekatinya.
Di, dia kan!
Ternyata dugaan Randi benar, cosplayer yang mengenakan kostum militer modern itu memiliki desain yang sama seperti yang dia lawan kemarin, apalagi nama di bagian dadanya sangat dikenali.
*
"Alex?" ucap Randi
Alex yang saat itu tengah menyapa pengunjung tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran Randi yang menyapanya. “HAA!” secara reflek ia langsung berteriak cukup keras karena menyadarinya, bahkan dirinya mulai melangkah ke belakang mendekati tembok.
“Ba, bagaimana kau bisa tahu? Da, dasar penguntit!” ucap Alex sambil menunjuk pada Randi. Setelah mendengar ucapannya itu, Randi pun tak terima disebut penguntit dan dia mulai membalas perkataannya “Terus siapa yang nguntit kemarin udah gitu nyerang hah!?” balas Randi dengan senyuman yang mengerikan.
“Lagian kau pake baju itu ya jelas saya tahu, sebenarnya siapa kau ini?” tutur Randi lebih lanjut.
“Ya, kau benar juga. Ta, tapi tolong kita gencatan senjata dulu oke? Di sini tempat umum” sahut Alex.
Ketika Randi ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Museum Asia-Afrika yang tidak jauh darinya meledak begitu saja.
BOOOOMMMM!
Apa!?
“Hah!” guman Alex.
Ledakan besar itu terjadi tepat di pintu masuk Museum, membuat banyak orang di sana panik dan mulai berlarian.
“AAAAAAAAAAA! TOLONG!!!” teriak warga.
Mobil-mobil yang terkena ledakan itu sedikit terpental dan akhirnya menghalangi mobil-mobil di belakangnya sehingga terjadi kemacetan sekaligus menambah kepanikan warga yang ada di sana. “Aduh!” tidak sedikit orang-orang yang mendorong Randi hanya untuk kabur bahkan ada juga anak sampai remaja yang terjatuh dan terinjak.
Gawat, ada apa ini?
Di waktu yang bersamaan, Alex memegang tangan Randi dan menyuruhnya untuk mundur lalu bersembunyi, Randi pun setuju dan mereka berdua lantas bersembunyi di balik gedung lain sembari melirik ke arah Museum.
Setelah ledakan terjadi, ia dan Alex melihat empat orang bersenjata dengan pakaian tempur yang cukup lengkap, kemudian keempat orang bersenjata tersebut langsung menembaki orang-orang disekitarnya termasuk anak kecil secara membabi buta dan sangat keji.
TRATATATATATATA!!!
__ADS_1
“AAAAAAAAAAA!”
“PAPAH!”
“TOLOOOONGGG”
“TERORIIIIIIISSS!!”
Melihat mereka yang ditembaki tanpa ampun membuat Randi sedih sekaligus geram, tetapi ia terpaksa memalingkan wajahnya untuk bersembunyi agar tidak terkena tembakan.
SIALAN, apa yang harus kulakukan? Mereka tidak berhenti.
“Randi…RANDI!” teriak Alex.
“Hah?” sahut Randi.
Dikarenakan suara tembakan yang keras, Alex pun terpaksa sedikit berteriak untuk memanggil Randi, rupanya ia menawarkan diri untuk bekerja sama dengannya sekaligus melumpuhkan ******* itu bersamaan.
TRATATATA!!!
Tidak lama kemudian tembakan tersebut berhenti seketika, Randi dan Alex cukup penasaran apa yang telah terjadi dan mereka mengintip bersamaan .
Me, mereka!
Mereka berdua melihat banyak tubuh bergeletakan di sekitaran Museum hingga ke alun-alun, jalanan pun dibanjiri oleh darah merah, tak sedikit jasad-jasad itu kehilangan anggota tubuhnya yang lain. Hal ini membuat Randi sangat emosi, ia lantas mengeluarkan hawa mengerikannya itu sehingga mencetak urat-urat kepalanya.
“Randi, dinginkan pikiranmu, jangan mengamuk, tolong” Alex berusaha memberitahu Randi agar dirinya tidak mengamuk seperti sebelumnya karena bisa menyebabkan kerusakan fatal dan tentunya identitas Randi akan diketahui banyak orang.
“Kenapa kau bisa bersikap seperti itu?” tanya Randi.
“Percayalah, saya sudah mengalami yang lebih dari ini, ah intinya jika kau mengamuk maka identitas mu bakal diketahui publik dan itu sangat merepotkan. Pokoknya tolong jangan mengamuk, kumohon” ujar Alex.
*
Dia ada benarnya juga.
Randi pun mengindahkan perkataannya, ia menghebuskan nafasnya perlahan agar emosinya tetap stabil. Setelah itu, mereka berdua mendengar bunyi sirine yang sangat banyak, kemungkinan Polisi telah bergerak.
“Terus sekarang apa?” tanya Randi.
“Kita tunggu Polisi datang dan membuat barikade, terus kita bergerak. Tapi pertama-tama copot dulu semua atributmu itu” jawab Alex.
Untungnya atribut BPP yang terpasang pada baju dinas Randi menggunakan sebuah perekat alias tidak dijahit, jadinya Randi bisa dengan mudah melepaskannya. Tapi Randi masih kebingungan dengan Alex.
“Sebenarnya siapa kau ini?” tanya Randi lagi.
“Em, ceritanya panjang tapi saya yakin kau pasti akan tahu, namun sekarang kita fokus ke ini dulu saja” sahut Alex.
“Yuna, kau di sana? Bagaimana situasinya?” Alex rupanya benar-benar menggunakan seragam tempurnya yang modern itu untuk ber-cosplay, tapi karena itulah di situasi genting ini dia bisa terhubung dengan rekannya cukup mudah dan cepat.
Dia berbicara pada seseorang? Siapa dia? Kemarin saya gak lihat yang bernama Yuna.
__ADS_1
“Oke Randi, kita tunggu dulu partner ku yang bakal ngirim informasi sekaligus nunggu Polisi datang, setelah itu, kita bisa baku hantam dengan mereka” ucap Alex.
“Oke” sahut Randi sambil mengangguk.