
BAB 6
Sesampainya di tempat parkir, mereka berdua kemudian menaiki mobil dinas BPP berwarna oranye yang gagah tersebut sebelum akhirnya melaju untuk mengantar Randi pulang.
Mungkin ini waktu yang tepat ya.
“Anu, Erik. Apa yang terjadi pada saya waktu itu?” tanya Randi tanpa ragu.
“Jam setengah tujuh malam, kami berhasil membuka jalan dengan peralatan seadanya tapi kau tidak ada di sana. Lalu setelah kami telusuri, kau ditemukan tergeletak dengan kondisi tubuh yang sangat lemah. Menurut hasil analisa, sepertinya terkena bebatuan yang jatuh dan sedikitnya ruang udara di sana. Laporan selesai, pak” jawab Erik sembari menyetir mobil.
“Ah, tidak usah formal begitu lah” sahut Randi.
Jam setengah tujuh malam ya.
Sambil memegang erat kedua tangannya dan membungkukkan kepalanya ke bawah, Randi bertanya lagi kepada Erik mengenai sesuatu yang ia temukan. “Nemu sesuatu tidak? Di sana”.
Erik cukup kebingungan ketika Randi menanyakan sesuatu yang aneh padanya, kemudian Erik pun menanyakan balik apa yang dimaksud dengan menemukan itu. “Mayat” sontak Randi berkata demikian agar mempersingkat waktu dan tidak ingin basa basi lagi.
“HAH!? DI MANA!?” karena kaget Erik pun sontak saja melontarkan ucapan yang keras dan membuat Randi cukup terkejut juga. Kemudian setelah itu Randi melanjutkan perkataannya bahwa seharusnya Erik melihat mayat di sampingnya jika dia benar-benar menemukan Randi yang tergeletak waktu itu.
“Jadi kurasa ada yang ditutupi pemerintah atau sekelompok tertentu” ucap Randi lebih lanjut.
Setelah diberitahu lebih lengkap pun Erik tetap bersikeras bahwa dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Ouuhhhh saya baru ingat, dokter pernah bilang kalo manusia bisa mengalami halusinasi karena faktor lingkungan dan terbawa perasaan, karena yah saya juga merasakan hawa aneh sebelum memasuki gua itu jadi bisa saja karena faktor itu” sahut Erik.
Hah?
Ketika mendengar ucapannya, seketika Randi teringat kembali dengan masa lalunya yang memalukan.
MARKAS POLISI SEKTOR LEMBANG
Pada saat itu sekitar tiga tahun yang lalu, Randi mendatangi Markas Polisi Sektor Lembang bersama Erik untuk mengerjakan suatu urusan, dengan memakai seragam BPP mereka berdua lantas menjadi sorotan banyak masyarakat umum yang kebetulan sedang berada di sana untuk menyelesaikan kepentingannya masing-masing. Erik dengan percaya diri menganggap bahwa mereka tertarik pada parasnya sedangkan Randi tidak terlalu mempedulikan hal itu.
__ADS_1
*
*
Sesampainya mereka berdua di ruang konferensi pers, Erik pun meminta kepada Randi untuk menunggu di sana terlebih dahulu sedangkan ia akan membereskan sisanya. Berdiam dirilah Randi seorang di ruangan itu.
Biasanya ruangan ini dipenuhi wartawan, tapi jika terjadi apa-apa sepi juga, ruangannya serasa lebih luas.
Melihat ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah kemudian menggerakkan kepalanya ke samping kanan dan kiri, secara tidak sengaja dia melihat serbuk-serbuk putih pada meja konferensi di dekatnya.
“Apaan nih?” serbuk itu berada di ujung meja dan sedikit darinya berserakan di lantai. Lalu, Randi mencolek serbuk tersebut “garam?” setelah itu ia mencoba mencium baunya namun tanpa sepengetahuannya serbuk-serbuk tersebut ikut terhirup olehnya, selain mencium baunya Randi juga mencoba mencicipinya dengan lidah.
“Apaan nih? Gak berasa”
*
*
*
Kemudian setelah itu Erik meraba serbuk tersebut dan memerhatikannya “apaan nih?” di waktu yang bersamaan juga sontak terdengar suara banyak warga yang sepertinya berkerumun di depan markas, karena perasaannya tidak enak lantas ia berlari keluar kantor.
Dari dalam kantor Erik melihat banyak warga dan beberapa staff kepolisian berkerumun bahkan ada yang mengeluarkan kamera.
“Ada apa? Artis kah? Buronan? Jumpa pers?”
Setelah Erik keluar, ia dikejutkan dengan sosok Randi yang berada di atap mobil lalu gerak-geriknya seolah sedang memegang senapan mesin yang ditembakan ke arah langit seraya berteriak.
“ALIEN! BERSEMBUNYILAH!” teriak Randi.
“Astaga naga” sahut Erik.
Keadaan di sana sangatlah heboh, banyak dari warga yang kebetulan berada di sekitar markas langsung mengeluarkan ponselnya masing-masing lalu merekamnya, sebagian juga menyuruh Randi untuk turun dari mobil.
__ADS_1
Erik dibantu oleh pihak kepolisian untuk menenangkan Randi yang saat itu sedang berhalusinasi hingga dua jam kemudian Randi pun kembali sadar.
Rupanya serbuk putih yang berada di meja konferensi pers merupakan sebuah barang bukti dari narkoba jenis baru yang membuat penggunanya berhalusinasi berat, serbuk itu berjatuhan dan tertinggal di ruangan tersebut tanpa disadari oleh pihak yang bertanggung jawab setelah jumpa pers selesai diadakan.
Rekaman mengenai Randi yang menaiki mobil dinas sembari berteriak alien tersebut telah terlanjur disebarkan di media sosial dan menjadi viral, untung saja pihak kepolisian di Polsek Lembang kala itu melakukan gerakan cepat, mereka langsung membuat klarifikasi berupa video yang menerangkan bahwa itu merupakan kelalaian dari pihaknya sehingga nama BPP tidak ternoda dan Randi tidak tercoreng dari keanggotaan BPP.
*
Kembali ke masa kini, Randi yang mengingat masa suramnya itu tiba-tiba merasa jijik dan sedikit mual namun karena itulah dia bisa membedakan mana rasa halusinasi dan kenyataan.
Yah, kalau mengingat masa itu, saya yakin apa yang saya alami di gua itu merupakan hal yang nyata. Tapi akibatnya, masih ada rekan-rekan yang menyebut saya itu alien, hiks.
“Gak bohong kan?” tanya Randi karena masih penasaran.
“Gak lah! Sejak kapan coba saya bohong?” sahut Erik dengan nada yang mengeras.
Seketika Randi langsung melirik dengan sinis kepada Erik “gak pernah bohong? Terus siapa yang ngasih somay yang ternyata adalah tisu?” ucapnya dengan nada mencekam. “Pfftt, maaf maaf” balas Erik sembari menahan tawa.
“Oke begini saja, kalau saya melihat sesuatu yang ditutupi pemerintah pastinya mereka akan memberi uang atau pesangon lain sebagai tutup mulut kan? Jika begitu maka saya termasuk kamu pasti akan di kasih, tapi ternyata tidak kan?” ucap Erik lebih lanjut.
Hah, kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Dia benar juga. Jika begitu seharusnya setelah saya sadar pasti ada orang berjas hitam menghampiri lalu memberi uangtiba-tiba.
“Hmm, benar juga yah. Ok deh, saya percaya” ucap Randi sembari menghela nafas.
“Nice” balas Erik.
Tak terasa mereka berdua telah sampai di tujuan, Randi pun langsung turun dari mobil dan membawa barang-barangnya, ia juga tak lupa berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada Erik karena masalah tadi.
“Oh ya, kau diberi cuti selama dua hari, jadi sampai ketemu dua hari kedepan” ucap Erik.
Setelah pamit Erik pun pergi dengan mobil dinasnya.
Dua hari yah, ngapain yah? Nanti aja deh, sekarang tidur dulu.
__ADS_1