
BAB 7
TININIT! TININIT!
Keesokan harinya, Randi terbangun oleh alarmnya tepat pada pukul lima pagi “Hmmm” walau masih dilanda rasa kantuk tapi dia memaksakan dirinya untuk segera bangun. “Hoooaaaammm, di mana ini?” ia kemudian bangun terduduk di kasurnya sembari mengucek matanya dan menggaruk rambutnya yang berantakan itu.
Oh iya, sekarang saya di rumah.
Untuk kesekian kalinya, dia teringat kembali akan kejadian yang telah menimpanya. Karena rasa sakit itu masih terus terbayang di benaknya dan mungkin sulit untuk melupakannya.
“Yosh” sambil menepuk kedua pipinya, dia berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri dan mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan hal itu. Randi pun berdiri dari kasurnya untuk melakukan kegiatan olahraga rutinnya.
Kemudian dia menyalakan lampu kamarnya dan melakukan gerakan pemanasan terlebih dahulu. Awalnya terasa biasa saja, akan tetapi, betapa terkejutnya dia setelah ia melirik ke arah cermin dan melihat bahwa seluruh tubuhnya telah berotot.
Heh?
“AAAAAAAAAA!”
“Apa-apaan ini? Sejak kapan tubuhku berotot gini? Perasaan kemarin gak gini”
Tidak sampai di situ, Randi langsung melepas bajunya dan terlihatlah cetakan-cetakan otot yang cukup kekar dimulai dari leher hingga ke kaki, walaupun tidak besar dan tidak kecil namun otot tersebut benar-benar membuat Randi kebingungan.
“Bagaimana bisa otot ini tumbuh dalam semalam? Mustahil, ini tidak mungkin”
Dikarenakan masih belum percaya, Randi pun nekat untuk menampar dan memukul pipinya dan hasilnya terasa sakit, yang juga menandakan bahwa dia memang tidak sedang bermimpi.
Glek
Perubahan tubuhnya itu membuat Randi menelan ludah sendiri, di samping itu tubuhnya juga mulai gemetaran karena rasa terkejut.
Saya harus menanyakan ini pada dokter sekarang. Ada kemungkinan, vitamin yang disuntikkan kemarin ialah penyebabnya.
Sebelum menemui dokter, Randi juga ingin mencoba sesuatu, saat ini dia ingin melakukan gerakan push up, shit up dan pull up sebanyak lima puluh kali. Mulailah dia untuk mengambil posisi push up terlebih dahulu.
__ADS_1
Saya penasaran.
Kemudian Randi akhirnya mencoba gerakan push up sebanyak lima kali dan hasilnya sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ketika ia melakukan gerakan pertama hingga ke lima itu rasanya sangatlah ringan, seolah-olah tidak ada beban pada tubuhnya tersebut.
Setelah kelima kalinya melakukan push up, dia memilih untuk berhenti sebentar untuk mengambil ponselnya dan menyetel waktu untuk menghitung seberapa cepat dia melakukan push up.
Setelah itu, Randi pun mulai melakukan push up dari awal lagi sebanyak lima puluh kali dan hasil yang didapat selama itu ialah dia mampu melakukan lima puluh kali push up selama delapan detik lebih sedikit yang mana bisa dikatakan bahwa Randi melakukan enam kali push up dalam satu detik.
“Gila, saya benar-benar bingung, bagaimana ini?” ucapnya sembari memandang telapak tangannya.
Selanjutnya, hasil yang dia capai setelah melakukan shit up sebanyak lima puluh kali juga tidak jauh berbeda, yaitu sekitar delapan detik.
Tinggal pull up.
Biasanya dia melakukan pull up dengan cara jongkok terlebih dahulu kemudian melompat ke atas sebanyak lima kali. Namun sesuatu yang tidak diduga terjadi, ketika Randi melompat tiba-tiba saja lompatannya terlalu keras dan tinggi sehingga kepalanya menabrak atap rumah dan berakhir tersangkut di sana, alhasil Randi harus menghacurkan beberapa langit-langit rumahnya agar dirinya bisa keluar dari sana.
“Astaga”
Ah, masih jam enam kurang, nanti saja deh.
Dua jam kemudian setelah membersihkan diri dan sarapan, tiba saatnya bagi Randi untuk mengunjungi rumah sakit tempat ia dirawat inap sebelumnya. Dengan memakai kaos putih polos dengan lengan pendek, celana taktis dan sepatu gunung yang biasa ia pakai membuat kepercayaan dirinya semakin meningkat apalagi sekarang dia memiliki otot yang entah datang dari mana namun mampu menambah kualitas parasnya.
Sip, tampan rupawan, hari ini saya punya waktu hingga besok, terus lusa kerja lagi. Eh tunggu dulu.
Seketika saja ia tersadar akan sesuatu, dia membuka ponselnya terus melihat tanggal hari ini.
"Lusa kan sabtu, sabtu minggu libur kerja, berarti saya libur empat hari termasuk cuti ini. Wow, banyak waktu luang" ucapnya sembari bercermin.
Setelah mengunci rumahnya ia langsung menaiki motor dan tancap gas menuju rumah sakit.
NGIUNG NGIUNG NGIUNG!
Beberapa menit kemudian saat di perjalanan Randi mendengar suara sirine yang lebih dari satu, rupanya suara tersebut berada di belakangnya, sontak Randi pun melambatkan lajunya dan menempel pada sisi jalan untuk memberi jalur.
__ADS_1
Hah, dua pemadam satu ambulance, apa yang terjadi?
Walau penasaran, tapi ia menghiraukan hal tersebut dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. Sekitar lima menit kemudian akhirnya Randi telah tiba di rumah sakit tempat di mana ia dirawat sebelumnya, setelah memarkirkan motornya ia kemudian berjalan ke arah bagian informasi dan menanyakan keberadaan dokter Dedi.
Kebetulan pak Dedi sedang bekerja hari ini dan kebetulan juga jadwalnya sedang kosong hingga mudah ditemui dan berbicara dengannya.
*
Setelah bertemu dengan pak Dedi, Randi pun langsung menceritakan kejadian-kejadian yang dia alami pagi itu.
Terlihat bahwa raut muka pak Dedi menunjukan bahwa dia cukup terkejut dan terkesan dengan cerita itu.
“Begitu yah, untuk membuktikannya bagaimana jika kita lakukan medical checkup keseluruhan. Jujur saja saya cukup tidak yakin jika vitamin itu menjadi penyebabnya” tutur pak Dedi.
*
Randi sangat setuju untuk melakukan medical checkup hingga pada akhirnya ia diantar oleh pak Dedi menuju suatu ruangan, ruangan itu merupakan ruang segala test medical checkup, banyak sekali alat-alat yang ada di sana sehingga membuat Randi kebingungan.
“Mulai dari pemanasan dulu kemudian yang itu…” ucap pak Dedi
Menuruti perintah pak Dedi, setelah melakukan pemanasan kemudian ia disuruh untuk berlari pada treadmill dibantu oleh dokter lain yang membantu mengawasi kondisi tubuhnya. Selain itu dia juga di test untuk melakukan shit up hingga diperiksa jantungnya dan keseluruhan tubuhnya. Satu setengah jam pun telah berlalu, saat ini Randi tinggal menunggu hasilnya keluar.
“Yaaahh, tadi itu benar-benar mengejutkan saya” ucap Dedi.
Ketika pengetesan berlangsung, pak Dedi beserta dokter-dokter yang ada di sana sangat dikejutkan dengan kemampuan Randi yang sangat kuat, mereka semua takjub padanya sekaligus merasa heran karena manusia biasa mustahil melakukan itu semua.
“Jadi untuk hasil testnya keluar sore ini, anda bisa pulang dulu atau melakukan aktivitas lain sebelum kembali ke sini” ucap Dedi lebih lanjut.
“Terima kasih banyak pak, saya pamit dulu” jawab Randi.
Pak Dedi membalasnya dengan senyuman hangat. Begitu Randi keluar dari ruangan pak Dedi, tidak lama datanglah seorang dokter muda yang juga ikut mengawasi Randi saat melakukan medical checkup.
“Pak…” ucap dokter muda tersebut sembari memberikan sebuah lembaran yang berisi grafik “Dari sini saja saya yakin dia orangnya pak”. Keadaan hening seketika dan pak Dedi sangat serius membaca lembaran tersebut, “Kupikir juga begitu, okelah saya tunggu laporan lengkapnya saja” sahut pak Dedi setelah membaca keseluruhan lembar tersebut.
__ADS_1