
BAB 4
Beruntungnya, wajahnya terlindungi oleh masker oksigen yang membuatnya tidak terluka ketika membentur batu. Hanya saja, karena benturan yang cukup keras, masker oksigen yang dipakainya itu pun langsung rusak dan hampir setengahnya telah patah. Gempa berlangsung tidak lama, setelah Randi terjatuh gempa pun berhenti seketika.
Ah, pusing sekali. Hm? BAU INI!
Matanya langsung terbuka lebar setelah mencium bau busuk dari mayat-mayat itu, Randi kemudian langsung bangun terduduk dan secara refleks menutupi hidungnya dengan tangan kiri walaupun kepalanya masih terasa sangat pusing.
“Astaga, maskernya patah ternyata, aaahh sudah tidak bisa dipakai lagi”
Tabungnya?
Randi cukup khawatir dengan kondisi tabungnya karena itu adalah salah satu petunjuk penting baginya, namun sungguh betapa senangnya dia sekaligus lega ketika mengetahui bahwa tabung yang dia pegang itu baik-baik saja.
*
*
*
KRAK!
“Hm?”
KRAK KRAAKKK!
Sesaat setelah gempa berhenti, tiba-tiba saja Randi mendengar sesuatu seperti suara yang tak asing baginya. Suara tersebut terdengar seperti suatu benda yang mulai patah.
Astaga, saya mulai tidak tahan dengan bau ini.
Semakin lama suara retakan tersebut semakin menghilang, Randi yang masih tidak tahu sumber suaranya walau telah melirik ke segala arah mulai mengabaikannya dan kembali fokus kepada jasad tentara misterius dan tabung yang ia temukan.
Namun, Randi sungguh tidak menyadari bahwa suara itu berasal dari bebatuan yang ada di langit-langit gua dan sepertinya batu-batu itu akan saling berjatuhan karena guncangan gempa sebelumnya.
Tidak lama kemudian, benar saja salah satu batu tersebut mulai jatuh dan akan menimpa kepalanya dengan sangat keras, Randi yang saat itu masih mengamati tabung putih belum tersadar juga bahwa ada satu batu yang akan menimpa padanya.
BRAK!
__ADS_1
Alhasil, batu pun jatuh menghantam kepalanya, walaupun sudah mengenakan pelindung kepala sekalipun namun rasa sakitnya tetap ada. Karena hantaman batu yang keras itu, seketika Randi pun langsung terjatuh untuk yang kedua kalinya bersamaan dengan tabung yang ia pegang.
TRANG!
Ah, sa… sakit sekali. Sialan, saya lengah dan ceroboh.
Dalam keadaan terbaring, Randi merasakan kesakitan di kepalanya sekaligus badannya mulai terasa lemas. Dia mencoba untuk bangkit kembali walaupun sekujur tubuhnya terasa lemah dan berat.
“Haahhh, haahhh, hahh”
Pernafasannya mulai tidak teratur, seluruh tangannya gemetaran hingga keringat dingin pun mulai keluar di sekujur tubuhnya.
Ah, tabung, di mana tabungnya? Astaga, penglihatanku samar-samar.
Setelah melihat ke arah samping, Randi pun tersadar dan cukup terkejut bahwa tabung yang ia pegang itu telah pecah membentur bebatuan di dekatnya, namun bukan sebuah cairan yang keluar dari tabung tersebut melainkan sebuah asap berwarna hijau.
Asap? Apakah sebenarnya tabung itu adalah bom asap? Tapi kok, ada yang aneh.
Sambil merangkak, Randi mencoba untuk mendekati asap hijau tersebut secara perlahan. Akan tetapi dirinya merasa aneh karena asap itu tidak seperti bom asap pada umumnya, namun asap yang dihasilkan tabung tersebut hanya mengudara di sekitar tabung.
*
Apa-apaan ini? Seharusnya asap menyebar ke seluruh wilayah, tapi ini, apa ini zat kimia baru?
*
Ini, ini, ini seperti rasa mint.
Asap yang terhirup olehnya itu memiliki aroma seperti sebuah permen dengan rasa mint yang sejuk dan segar. Selain itu, asap itu juga membuat Randi sangat tenang sehingga ia kembali terbaring menghadap langit-langit gua, secara perlahan ia pun mulai memejamkan matanya selagi terus menghirup asap tersebut.
Namun, Randi tidak tahu bahwa ada satu hal yang akan berubah ketika dia menghisap habis asap itu.
*
DEG DEG! DEG DEG!
“A…a…aa…a” ucapnya terbata-bata.
Tiba-tiba saja jantungnya terasa sangat sakit, seluruh tubuhnya gemetaran dan dengan cepat mengeluarkan banyak keringat dingin, Karena rasa sakitnya, membuatnya langsung membuka mata dan membalikkan badannya, kedua tangan serta lutunya bertumpu pada bebatuan di bawahnya.
__ADS_1
UHUK! UGH!
Disaat yang bersamaan, Dirinya mengalami batuk berdarah serta matanya juga terlihat sangat tajam sehingga urat-urat yang ada di kepalanya pun tercetak dengan sangat jelas.
Setelah semua urat pada tubuhnya terlihat jelas, kemudian secara perlahan terdapat cairan merah misterius yang mulai mengalir dan berusaha untuk menutupi seluruh kedua matanya, hingga akhirnya beberapa saat kemudian kedua mata Randi berubah total menjadi berwarna merah darah sepenuhnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAA! aa, aaa, aa, aa!” teriak Randi.
*
Karena merasakan rasa sakit yang luar biasa, Randi pun mulai kehilangan suaranya secara perlahan karena efek berteriak yang sangat keras dan cukup lama, dia pun terus menerus membuka mulutnya lebar-lebar sembari melihat ke langit-langit gua dengan matanya yang berwarna merah darah itu.
Lalu setelah itu, Randi mulai mengangkat kedua tangannya dan mensejajarkan dengan dadanya, tiba-tiba saja semua kuku tangannya memanjang sekitar tiga sentimeter lalu ujung kukunya pun menajam drastis layaknya hewan buas.
Selain pada mata dan kukunya, perubahannya pun terjadi pada seluruh tubuhnya. Hanya dalam waktu yang singkat saja, tubuhnya berubah menjadi tubuh yang berotot serta kekar walau tidak terlalu besar. Kemudian selain itu, Randi juga mengeluarkan asap putih dari ubun-ubun kepalanya hingga ke betis kakinya.
Semakin lama, Penglihatan Randi pun mulai kabur. Sedikit demi sedikit, kegelapan pun mulai menyelimuti pandangannya sehingga Randi hanya melihat ruangan yang gelap gulita sebelum akhirnya dia jatuh pingsan.
“Randi, Randi…” suara seorang wanita dewasa.
“Randi…” suara seorang lelaki dewasa.
“Kak Randi…” suara kedua anak kecil.
Walaupun pandangannya gelap, namun Randi masih bisa mendengar, dan saat ini dia kebingungan siapa yang berbicara dan dari mana datangnya.
“Dia masih ada di sekitar wilayah ini, seharusnya kekuatannya sudah melemah, jadi cepat cari dan tangkap dia hidup-hidup!”
Siapa itu?
“Sungguh ironis, seluruh keluarga ini…”
“Untuk saat ini, kita akan melaporkannya ke pimpinan Xpand, setelah lima tahun lamanya…”
Suara ini, sepertinya, saya pernah mendengarnya, entah di mana.
Randi mendengar suara-suara yang aneh dan misterius namun dirinya sangat merasa tidak asing dengan suara tersebut. Seolah-olah suara itu merupakan kilas balik dari yang pernah ia dengar di masa lampau. Suara orangtuanya, anak kecil, bahkan tetangganya, semuanya ada di sana.
Ketika itu, Randi merasa bahwa dirinya telah mati dan saat ini dia berpikir bahwa dirinya sedang berada di alam baka dengan ruangan yang sangat gelap, sunyi dan kesepian, hanya mendengar suara yang pernah ia dengar di masa lalu. Namun, suara tersebut tidak berlangsung selamanya, semakin lama secara perlahan suaranya semakin meredup sehingga Randi berada dalam kesunyian dan kegelapan total.
__ADS_1
*
Beberapa saat kemudian, Randi akhirnya terbangun dan menyadari bahwa dia sudah berada di tempat yang berbeda.