
BAB 5
HAH! I, ini, di mana!?
Setelah melewati masa kritis, Randi pun akhirnya terbangun. Namun, di tempat yang berbeda. Ketika membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah atap ruangan berwarna putih cerah, padahal dia ingat betul bahwa sebelumnya dia sedang berada di dalam gua.
Ini, infus?
Randi melihat bahwa lengan kanannya telah dimasuki selang kecil yang terhubung pada cairan infus di samping kanannya, dari situ ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
“Ah, anda sudah bangun. Saya akan panggilkan dokter, jangan banyak bergerak dulu ya”
“Eh?” Tiba-tiba saja Randi dikagetkan dengan kehadiran suster yang rupanya sudah sedari tadi berada di samping kirinya, sebelumnya suster tersebut sedang mencatat laporan mengenai perkembangan kondisi Randi. Namun, setelah mengetahui bahwa Randi telah sadar, ia pun bergegas keluar untuk memanggil dokter.
Setelah sekian menit, pandangan Randi pun mulai normal kembali, berawal dari samar-samar hingga kini dia bisa melihat dengan sangat jelas seperti biasanya.
Tv? Lemari? Heh, apa ini betul rumah sakit?
Ia terheran-heran karena ruangan tempat dia dirawat itu cukup besar, terdapat sebuah televisi, dinding bercorak kemewahan lalu ada fasilitas-fasilitas yang cukup mewah baginya.
Benar juga, saya pernah dengar bahwa kamar rawat inap di rumah sakit itu terbagi menjadi beberapa kelas. Berarti kamar ini adalah kamar vip?
“Selamat siang”
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dokter pun tiba bersama dengan suster yang tadi.
“Siang” sahut Randi sambil mengangguk.
Dokter tersebut kemudian duduk di samping kiri Randi sembari membawa buku yang sepertinya merupakan catatan pemeriksaan pasien, sementara suster berdiri di samping kiri si dokter.
“Perkenalkan, nama saya Dedi Setiawan, dokter yang merawat anda hingga pulih. Sebelumnya, anda ditemukan pingsan oleh teman-teman anda kemudian BPP memindahkan anda ke rumah sakit ini. Lalu, menurut teman-teman anda, kemungkinan anda pingsan karena terbentur sesuatu ketika gempa besar sedang berlangsung, tapi beruntungnya tidak ada cedera satupun di dalam maupun di luar tubuh anda terutama bagian kepala anda. Dengan kata lain, anda baik-baik saja. Anda sudah boleh pulang malam ini setelah suster memberikan vitamin terakhir” ucap dokter dengan senyum lebar dan lemah lembut.
“Maaf, dok, berapa lama saya pingsan?” tanya Randi.
“Tiga hari” balas dokter.
Ti, tiga hari?
__ADS_1
*
Setelah itu Randi berterima kasih kepada dokter dan suster karena telah merawatnya. Kemudian, sang dokter pun pamit meninggalkan ruangan untuk mengecek kondisi pasien lainnya, sedangkan suster akan mempersiapkan suntikan yang berisi vitamin.
Syukurlah saya baik-baik saja. Eh, tunggu dulu, bagaimana dengan gua dan mayat-mayat itu.
“Ah!” ucap Randi sembari memegang dadanya.
Saya juga ingat rasa sakit waktu itu. Apa benar-benar tidak terjadi apa-apa padaku?
*
“Em maaf mbak, mau tanya. Gimana kondisi gua yang baru ditemuin?”
Karena penasaran, Randi akhirnya bertanya kepada suster tersebut mengenai kondisi gua yang baru saja ditemukan oleh BPP, karena dia telah tertidur selama tiga hari penuh sudah pasti dia ketinggalan banyak berita.
Suster tersebut kemudian menjawab bahwa gua yang ditemukan oleh BPP kemarin telah diperiksa oleh banyak peneliti. Gua tersebut merupakan salah satu gua purbakala yang selalu tertutup oleh tanah hingga bebatuan sampai saat ini. Dan kini gua itu telah menjadi tempat wisata populer di kota Lembang yang mendatangkan banyak wisatawan dari luar kota bahkan ada juga turis dan peneliti asing yang berdatangan karena sangat penasaran pada gua tersebut.
“Begitulah kira-kira” jawab sang suster sembari memeriksa jarum suntikan.
“La, lalu bagaimana dengan mayat-mayatnya?” tanpa keraguan Randi pun bertanya mengenai mayat-mayat yang dia temukan di dalam gua tersebut. Namun, jawaban suster sangat mengejutkan bahkan di luar ekspetasinya.
Apa? Tidak ditemukan?
“Terus apa yang saya lihat waktu itu?” tanya Randi lagi.
“Hm, mungkin anda berhalusinasi karena kondisi gua. Maka dari itu vitamin ini sangat dibutuhkan tubuh anda” jawab suster sembari menyuntikan vitamin tersebut.
“Be, begitu yah” ucap Randi dengan gelisah.
Tidak mungkin, apa pemerintah menutupinya? Jika itu halusinasi, bagaimana mungkin saya merasakan kesakitan yang luar biasa sampai saya sendiri mengingatnya hingga saat ini. Dan juga mayat-mayat itu sungguh terlihat nyata apalagi saya bisa merasakannya dan memindahkannya.
*
__ADS_1
Benar juga, jika saya ditemukan oleh rekan-rekan yang lain, seharusnya mereka juga melihat mayat tentara misterius yang ada di sampingku waktu itu. Jika hal ini sengaja tidak diperlihatkan ke publik, berarti Erik dan yang lainnya dipaksa untuk tutup mulut.
Fiuh, itulah pikiran yang paling logis untuk saat ini. Saya akan tanyakan padanya setelah keluar dari rumah sakit ini.
“Baiklah, semua sudah selesai. Tenangkan dirimu dulu di sini, setelah itu anda boleh pulang malam ini” ucap suster.
“Eh, terima kasih banyak, mbak” balas Randi.
Pulang malam yah.
Pagi menjelang siang itu, Randi benar-benar merasakan hal yang aneh. Untuk menjawab semua rasa penasaran yang ada di benaknya, ia langsung menyalakan televisi yang ada di kamarnya lalu kemudian ia melihat seluruh berita yang menayangkan gua tersebut.
Kebetulan, gua itu menjadi perbincangan hangat di seluruh Indonesia bahkan dunia, makanya Andi dengan mudahnya menemukan berita-berita yang menayangkan gua tersebut.
*Gawat,*dia benar.
Ternyata perkataan suster itu memang benar adanya, tidak ada satupun berita yang menayangkan adanya tumpukan mayat di gua itu. Belum puas sampai di situ, Randi pun mencari lagi berita yang lain, dia terus menerus mengganti siaran televisinya berharap menemukan berita yang dicarinya.
Akan tetapi hingga sore hari dirinya masih belum menemukannya, semua media di internet maupun di televisi secara kompak menayangkan hal yang sama, yaitu kepopuleran gua yang baru ditemukan.
Randi telah mencoba mencari berita tentang gua tersebut yang dipublikasikan tiga hari yang lalu pada ponsel pintarnya namun tetap saja ia tidak menemukan apapun selain yang dia lihat seperti sekarang ini.
Sudah kuduga, ada yang menutupi hal ini.
Dengan raut muka yang gelisah dan hati yang kecewa, akhirnya Randi menyerah dan mematikan televisinya lalu menyimpan ponsel pintarnya. Satu-satunya cara yang tersisa ialah mengatakannya pada Erik.
Waktu pun berlalu hingga malam tiba. “Yo, akhirnya sadar juga” Randi yang sedang mengganti bajunya tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Erik “Eh, kok kesini? Baru aja mau pulang” sahut Randi.
Rupanya kedatangan Erik ke rumah sakit ialah untuk mengantar Randi pulang, ia telah menerima konfirmasi dari dokter bahwa Randi akan pulang malam ini, maka dari itu Erik bergegas menuju rumah sakit.
“Gimana kabarmu?” tanya Erik.
“Kata dokter cuman butuh vitamin, gak ada luka besar” jawab Randi.
*
*
__ADS_1
*
Sekeluarnya dari rumah sakit, hati dan pikirannya sudah tidak sabar untuk menanyakan tentang hal yang dia temukan di dalam gua. Namun, Randi mengurungkan niatnya itu dan menunggu waktu yang tepat.