
BAB 17
Dini hari, semua orang benar-benar tidak menyadari bahwa bencana sedang menghampiri mereka. Guncangan tersebut masih berlangsung setelah satu menit.
“TOLOOONNNGGG!”
“AAAAAHHHHH!”
Diiringi suara teriakan dari orang-orang yang terjebak entah itu dari reruntuhan bangunan maupun tenggelam dalam kepanikannya sendiri. “Astaga, ini sudah lebih dari lima SR, sampai kapan ini selesai?” Randi pun mulai kewalahan saat sedang berlangsungnya gempa.
Mendengar seseorang yang meminta pertolongan membuat hatinya dilanda kesedihan karena ia tidak tahu harus berbuat apa dan terpaksa dirinya hanya bisa merangkap di tengah jalan bersama yang lain karena guncangan yang sangat hebat itu.
Karena telah tenggelam oleh kepanikannya sendiri membuat ia melupakan satu hal yang sangat penting, selang beberapa menit kemudian Randi pun baru menyadari bahwa ia memiliki kekuatan super yang bisa membantu banyak orang.
Bodohnya saya, saya kan punya kekuatan super, sialan kau Randi.
Itulah yang terjadi ketika manusia sedang dilanda rasa panik, mereka akan mudah melupakan banyak hal dan mengabaikan sekitarnya demi keegoisannya sendiri. Kesalahan besarnya ini ia jadikan sebagai sebuah pelajaran agar tidak terulang lagi di masa mendatang.
Sebaiknya saya berlatih agar tidak mudah panik.
Gempa akhirnya berhenti bersamaan dengan ingatnya Randi akan kekuatan supernya itu “Hah…berhenti?” ucapnya ketika menyadari bahwa tubuhnya tidak merasakan guncangan lagi.
Perlahan ia pun berdiri walau kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat guncangan tersebut, tapi yang pasti ia sudah tidak merasakan guncangan lagi. Rasa syukur kemudian dirasakan oleh seluruh warga pasca gempa besar tersebut.
Namun itu semua belum berakhir, mereka termasuk Randi masih memiliki tugas lain untuk menolong orang yang terjebak sebelumnya, banyak dari warga yang kembali ke rumanya demi mengambil sebuah senter entah itu senter dari handphone mereka maupun sebuah senter batangan.
Begitu juga dengan Randi yang kembali ke kamarnya untuk mengambil handphonenya “Waduh, dapur saya runtuh, tapi untungnya semua barang berharga ada di kamar” ucapnya seraya berjalan ke arah kamar.
Dampaknya terlalu besar, banyak rumah runtuh dan sepertinya banyak juga yang tertimpa bangunan.
Setelah mengambil handphonenya lantas ia langsung menyalakan senter pada handphonenya tersebut dan berlari menuju rumah tetangganya yang meminta pertolongan, hal itu juga dilakukan oleh seluruh warga yang berusaha untuk saling tolong menolong satu sama lain ketika terjadi musibah.
Dua orang tertimpa atap rumah, tapi kelihatannya mudah diselamatkan.
*
Akan tetapi, sesaat sebelum Randi menyelamatkan kedua orang itu tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. “Pak Randi?” ucap pak RT, setelah berbalik rupanya itu adalah ketua RT setempat yang sepertinya berusaha untuk meminta bantuan pada Randi. “Eh, pak RT, ada apa pak?” sahut Randi.
__ADS_1
“Bapak kan BPP, mending bapak panggil bantuan BPP aja sementara di sini kami yang evakuasi, tolong” ucap pak RT. Rupanya pak RT dan beberapa warga meminta tolong kepada Randi agar menghubungi dan meminta bantuan BPP kota Lembang sementara mereka yang akan melakukan evakuasi terhadap orang-orang yang terjebak.
“Baiklah, kalau begitu saya hubungi sekarang” jawab Randi.
“Terima kasih” balas pak RT.
“Permisi…” ucap Randi.
Randi pun langsung keluar dari rumah tetangganya itu dan berusaha untuk menghubungi Erik karena kebetulan Erik sedang lembur.
Semoga dia masih di kantor.
*
Niiiitt niiiitt niiiitt
Kenapa tidak diangkat?
Mencoba berkali-kali pun tetap tidak diangkat, Randi malah tambah khawatir jika kantor BPP terkena dampaknya juga “Ah” setelah melihat layar handphonenya ia baru menyadari bahwa ternyata tidak ada sinyal seluler untuk berkomunikasi.
Tidak lama kemudian Randi berlari memasuki kamarnya, mengganti pakaiannya dengan seragam BPP berwarna oranye “Atributnya belum terpasang, biarlah” ucapnya ketika sedang mengenakan seragamnya. Ia juga tak lupa untuk mengenakan google mask yang diberikan oleh Alex padanya. Setelah semua selesai, Randi berlari lagi menuju halaman belakang rumahnya.
Seluruh warga terfokus pada evakuasi dan sekarang lumayan gelap gulita jadi sepertinya tidak masalah.
Tanpa pikir panjang lagi Randi langsung melompat jauh cukup keras tanpa diketahui orang lain.
BOOOOMMM WOOOOSSSSHHH!
Rupanya dia berniat untuk menuju kantor BPP seorang diri dengan cara melompat setinggi-tingginya dan mendarat di dekat kantornya.
Kuharap satu lompatan ini cukup untuk ke sana.
Sebelum melompat, dia sudah memprediksi dulu lokasi kantor BPP dari rumahnya, kemudian ia mengatur pernafasannya dan mencoba untuk mengatur ketinggiannya juga. Saat ini, Randi sudah berada di atas sekitar 40meter dari tanah dan ia sekarang tengah menuju kantor BPP Lembang.
Akhirnya, rupanya cukup sekali lompatan, lebih cepat daripada naik motor.
Ia kemudian mendarat dengan sempurna tanpa merusak tanah di sekitar hehutanan yang berada di samping kantornya, setelah itu Randi tinggal berlari saja menuju kantornya.
__ADS_1
Drap drap drap drap
HAH!
Betapa terkejutnya dia setelah melihat sebagian kantornya telah rata dengan tanah, sebagian juga telah terbakar dan menyisakan puing-puing yang masih menimbulkan asap. Tapi di samping itu semua Randi sungguh tidak menyangka bahwa sudah banyak anggota BPP yang hadir di sana secara mandiri.
Ia pun melepaskan google masknya dan menggantungkannya pada sabuknya sebelum ia ikut membantu memadamkan api yang masih menyala.
“RANDI? Kau kah itu?”
Siapa?
Setelah berbalik ke belakang ia melihat Erik yang berlari menghampirinya “Erik? Syukurlah kau baik-baik saja” ucap Randi ketika bertemu dengannya. Erik tidak menyangka bahwa Randi akan mendatangi kantor dengan sendirinya.
“Omong-omong Rik, apa mereka semua diperintah ke sini?” tanya Randi.
“Gak, komunikasi terputus, kita gak bisa menghubungi satu sama lain dan mereka semua datang kemari dengan sendirinya. Lagi pula kamu dicari pak Yono tuh, rapat dadakan kayanya” balas Erik.
“Oh ok, terima kasih” jawab Randi.
Setelah mengetahuinya ia langsung pergi menuju sebuah ruangan di mana para ketua bidang telah berkumpul untuk membahas tentang guncangan besar tersebut. Pertemuan itu berlangsung selama setengah jam dan membicarakan mengenai kondisi kota Lembang serta penanganan terhadap para korban bencana, sementara tugas Randi sendiri ialah menyusun laporan mengenai jumlah korban jiwa, luka-luka, bangunan yang runtuh dan banyak lagi.
Sebagian tim sudah diluncurkan ke berbagai daerah, berarti saya tinggal mengunjungi satu per satu daerah dan meminta informasi dari mereka yang sudah berada di sana.
Sebetulnya bukan hanya Randi seorang yang ditugaskan untuk menyusun laporan melainkan ada beberapa orang lagi yang ditugaskan dengan tugas yang sama, hanya saja wilayah penugasan mereka berbeda-beda, hal itu dilakukan untuk mempersingkat waktu.
Seperti biasa ya, pembuat laporan. Tapi ada untungnya sih, saya bisa memeriksa satu hal.
Sebelum melaksanakan tugasnya, terdapat satu hal yang ingin ia pastikan terlebih dahulu, karena dugaannya selama ini benar bahwa akan terjadi gempa di Lembang membuat kecurigaannya menjadi tidak keliru.
Randi pun kembali berlari ke area hehutanan tanpa sepengetahuan orang-orang dan setelah itu ia kembali memakai google masknya.
Ah, atributnya.
“Ouh iya saya kan gak pasang atribut tadi” ucap Randi.
Setelah persiapan selesai ia lantas melompat tinggi lagi dengan kencang dan menuju ke suatu tempat yang penuh dengan kecurigaannya selama ini.
__ADS_1