
WARNING 17+
BAB INI MENGANDUNG CERITA YANG BERBAHAYA.
BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI NOVEL INI.
Terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca!
BAB 13
Beberapa saat kemudian, akhirnya pasukan Polisi anti-teror telah tiba di lokasi, mereka dengan cepat membuat barikade pertahanan sejauh 80meter dari tempat kejadian dan menodongkan seluruh senjata mereka pada keempat ******* itu.
******* itu berlindung di balik reruntuhan Museum.
Selain Polisi, rupanya di belakang barikade Polisi tersebut sudah terdapat tim medis yang menangani korban selamat lalu kemudian para jurnalis yang sudah berkumpul memberitakan kejadian ini secara langsung.
“Alex, mereka sudah berkumpul” ucap Randi.
Kala itu Alex sedang memantau dan memahami peta hologram yang ditunjukan Yuna padanya “Tunggu sebentar, saya sedang membaca situasi” sahut Alex.
*
Di saat yang bersamaan ketika Randi tengah melirik ke arah *******, seketika ia melihat ada sesuatu yang bergerak di tengah jalan, diantara jasad-jasad yang tewas tertembak itu.
Heh, apa itu? Saya gak salah lihat kan?
Jasad-jasad itu seakan bergerak dan berusaha untuk hidup kembali, namun beberapa saat kemudian, Randi dikejutkan dengan sesosok gadis kecil yang muncul di antara jasad-jasad tersebut.
Ternyata, sedari tadi gadis kecil itu selamat dari tembakan ******* karena terlindung oleh dua jasad yang menutupi tubuhnya, ada kemungkinan dua jasad itu merupakan kedua orang tuanya yang berusaha melindunginya.
Rambutnya, blonde.
Yang paling mengejutkan lagi ialah gadis itu memiliki rambut berwarna blonde dan seluruh tubuhnya mencirikan bahwa dia adalah warga negara asing, memakai dress berwarna merah dan seluruh tubuhnya hampir dipenuhi darah.
Tatapan matanya begitu kosong dan polos setelah ia melihat banyak tubuh yang tergeletak di sepanjang jalan itu seakan bertanya apa yang sedang terjadi. Mengetahui hal ini, Randi melihat bahwa para Polisi dan juga jurnalis pun turut khawatir akan nasib gadis tersebut.
*
*
“Ada enam sandera di sana, dua di luar dan empat di dalam Museum, lalu ada sepuluh *******, empat di luar sisanya di dalam” ucap Alex.
Randi pun memberitahu kepada Alex bahwa ada seorang gadis kecil yang selamat namun posisinya berada di tengah jalan dan tidak menguntungkan. “Sepertinya dia memang warga asing” ucap Randi. “Apa!?” Alex pun terkejut mendengarnya sehingga ia ikut melirik.
“Si, sialan. Randi pakai google mask ini, jika keadaan semakin parah, kau harus bergerak menyelamatkan gadis itu, pokoknya jangan sampai identitasmu ketahuan” ucap Alex sembari memberikan sebuah google mask pada Randi. Google mask merupakan kacamata google yang telah menyatu dengan masker, biasanya dipakai oleh para pengendara motor namun menurut Alex google mask tersebut telah tahan terhadap peluru.
“Terima kasih” balas Randi sembari memakainya.
__ADS_1
“Polisi saat ini sedang melakukan negosiasi dengan pihak ******* namun sepertinya tidak akan berjalan lancar, jika begitu kita ubah rencananya, jika keadaan semakin gawat saya akan memberi bom asap ke depan sana dan maju melumpuhkan mereka” ujar Alex.
Namun saat ini, Randi memang beranggapan bahwa negosiasi para Polisi sudah tidak berjalan baik lagi karena dilihat dari sikap ******* yang mulai memukul sandera bahkan ada juga yang memandangi gadis kecil tersebut.
Dia memandangi gadis itu. Hah, sepertinya dia memberitahu temannya.
Ada seorang ******* yang sebelumnya memandangi gadis itu, namun tiba-tiba dia berbalik dan berbicara kepada temannya atau mungkin pimpinannya. Kemudian entah kenapa keempat ******* itu tiba-tiba membungkuk seperti sedang berlindung.
Aneh sekali, perasaan ku tidak enak begini.
“Lex, kau sedang apa?” ucap Randi.
“Menyiapkan senjata” sahut Alex.
Randi pun menyuruh Alex agar mempercepat urusannya dan dia khawatir jika mereka berdua harus menyerang dari depan.
“Kenapa kau hanya menekan-nekan layar di tanganmu? Mana senjatamu?” tanya Randi.
“Tenanglah, senjata ku ada di sini” balas Alex.
“Pokoknya jika saya ke sana langsung, kau harus lempar bom asap” pinta Randi karena perasaannya semakin tidak enak.
“Oke” jawab Alex.
Astaga, negosiasinya pasti tidak berjalan lancar, gadis itu akan dibunuh!
*
*
*
*
*
*
“TEMBAK!” teriak salah satu *******.
HAH!
******* itu muncul kembali dari reruntuhan dan mereka langsung mengarahkan senjatanya pada gadis yang sedang bingung tersebut. Rupanya dugaan Randi selama ini benar bahwa para ******* itu memang berniat untuk membunuh gadis kecil tersebut sebagai ancaman terhadap pihak kepolisian.
Tapi sebelum itu terjadi, Randi telah menyiapkan segalanya, tekad dan kekuatannya demi menyelamatkan orang lain.
ZZZRRTTTT!!
Dalam sekejap mata ia langsung melompat ke depan sebelum peluru-peluru tajam itu mengenai sang gadis, kemudian Randi memeluknya dari belakang dan membiarkan punggungnya sendiri menjadi sasaran tembak.
__ADS_1
TRATATATTAATA!!!
*
“BERHENTI!”
Setelah mengeluarkan hampir seluruh pelurunya pada satu magazine, keempat ******* tersebut langsung menghentikkan tembakannya yang membabi buta itu dan mereka sangat terkejut ketika melihat seseorang yang tiba-tiba saja muncul dan melindungi sang gadis bahkan pelurunya itu tidak mampu menembusnya.
Hah…hah…saya tidak percaya, saya, anti peluru. Jantungku sudah berdebar begini.
Tak hanya *******, Polisi dan orang-orang disekitarnya termasuk jurnalis dan tim medis pun sama-sama dikejutkan oleh kemunculan sesosok pria misterius yang berhasil melindungi seorang gadis kecil.
“Fiuh, wah, itu menegangkan, sekali” ucap Randi.
Randi kemudian melirik ke belakang dan melihat bahwa peluru-peluru yang mengenai punggungnya itu telah penyok seperti sebuah minuman kaleng yang diinjak.
*
*
POP! WOOOSHHHH!
Tak lama kemudian, Alex langsung menjalankan rencananya, ia melempar sebuah bom asap yang langsung menyebar luas dan menutupi pandangan antara ******* dan Randi, kemudian Alex berlari ke arah Museum sebelum asap itu hilang.
“BAWA GADIS ITU!” teriak Alex pada Randi.
ZZZRRRTTTT!
Kemudian setelah itu, Randi pun melompat lagi ke arah Polisi dalam sekejap mata dan menyerahkan gadis tersebut ke tempat aman. Orang-orang yang melihatnya sontak menjadi heboh setelah melihat Randi tiba-tiba saja berada di hadapan mereka.
“Tuan bertopeng, siapa anda?” ucap salah satu wartawan.
Randi hanya melambaikan tangan saja, setelah sang gadis di bawa oleh pihak kepolisian, ia langsung kembali lagi menembus asap demi membantu Alex melawan *******.
Tunggu saya, Alex.
ZZRRRTTTT!
Setelah tiba di sana ia melihat bahwa keempat ******* itu telah dilumpuhkan dan dua sandera yang ada di sana baik-baik saja. Namun Randi melihat Alex yang hanya berdiam diri sembari memandang bagian dalam Museum.
“Mereka pasukan black wings” ucap Alex.
“Siapa?” tanya Randi.
“Awalnya mereka hanya tentara bayaran, tapi sekarang menjadi bawahan Mictorius” ucap Alex.
Mictorius? Siapa itu?
Ketika Randi melihat ke dalam, dia melihat enam ******* yang memiliki tato berbentuk seperti naga bersayap pada leher dan memanjang di sekujur lengannya. Tak hanya itu, mereka juga menodongkan senjata mereka kepada para sandera yang ada di sana seraya mengancam akan menembaknya jika Randi dan Alex bergerak.
__ADS_1
Hal yang paling mengejutkan lagi ialah Randi melihat bahwa keempat sandera tersebut telah dipasangi bom.
Cih, sebenarnya apa mau mereka?