
Di suatu ruangan yang sangat sunyi dan di ruangan itu ada sebuah meja panjang dan kursi sekitar 9 kursi dan kursi itu telah diduduki oleh para penyihir yang sangat kuat.
Namun hanya ada beberapa kursi yang diduduki oleh para penyihir tersebut, 2 dari kursi itu telah kosong ya mereka ada Monty dan Tokira yang sudah tewas dalam pertarungan.
Lalu salah seorang mulai berbicara dengan ekspresi yang sangat serius.
"Apakah semuanya sudah berkumpul?" tanya orang itu
"Tentu saja sudah kakak." ucap Azeir
"Baiklah kalau begitu mari kita mulai rapatnya."
Mereka semua berekspresi sangat serius dan mereka siap mendengarkan apa yang orang itu katakan di rapatnya ini.
"Kita sudah mengumpulkan 8 buah Shinjakum dan menurut aku ini sudah cukup untuk menyerang kerajaan matahari."
Semua orang terdiam dengan tatapan yang sangat serius.
"Kita harus memikirkan jadwal yang tepat untuk menyerbu kerajaan bodoh itu." ucap Azel lalu berhenti sejenak "Jadi bagaimana menurut kalian?, apakah kalian sudah siap?"
Semua orang yang duduk di kursi itu mengangguk sambil memejamkan mata mereka dan sepertinya mereka telah siap untuk menyerang langsung.
"Baiklah, mari kita diskusikan rencananya."
...****************...
Di sebuah kerajaan yang sangat makmur dan banyak orang yang tertawa akan kebahagiaan raja dan kaisar sihir mereka. para bangsawan yang tinggal disebuah ibu kota kerajaan sangat lah bahagia.
Antara dari mereka sedang menjemur pakaian mereka dan anak-anak yang sedang bermain sebuah air mancur, dan ada juga yang sedang membersihkan jalan dari dedaunan yang sudah gugur.
Pada saat itu Yakuza sedang berjalan-jalan disebuah pasar yang terletak tidak jauh dari ibu kota kerajaan matahari, bersama Naura yang sedang melihat-lihat sebuah barang bagus diantaranya adalah item magic.
"Hey lihat ini Yakuza, bukan kah ini cocok di jariku?" ucap Naura sambil menunjukan cincin yang sudah terpasang dijari tengahnya
"Iya itu sangat cocok, tapi sepertinya itu mahal."
"Tidak masalah, karena gaji aku cukup untuk membeli ini."
"Ya itu terserah kau saja."
"Yakuza apakah kau tidak ingin membeli sesuatu?"
"Hm?, bagaimana ya aku agak bingung sih mau beli apa."
Pada saat Yakuza melihat-lihat disekelilingnya, tiba-tiba mata Yakuza terpaku pada sebuah toko besi yang dimana mereka menjual sebuah senjata dan armor.
Kemudian Yakuza berlari kearah toko itu dan pada saat ia memasuki toko itu, mata Yakuza berkaca karena ia melihat senjata dan perisai pertempuran yang sangat bagus.
"Waah!"
"Ya selamat datang, tuan dan nyonya, apaka ada yang bisa kami bantu?"
Seorang pria dan wanita berjalan kearah Yakuza dan Naura, sepertinya mereka adalah sepasang suami istri yang sedang menjaga toko ini.
Kemudian Yakuza melihat-lihat disekitar dinding yang mana senjata telah dipajang disana, pada saat Yakuza melihat-lihat pada saat itu Yakuza mengambil sebuah katana.
"Ini berapa harganya?"
"Eh...itu kan katana, kenapa kau memilih ini Yakuza?"
"Aku menyukainya!"
__ADS_1
"Yang ini harganya cukup murah saja, katana ini seharga 50 koin emas kerajaan matahari atau bisa dibilang setara 500.000 Jen."
"Eh...itu mahal sekali!" ucap Naura
"Hm?, apakah itu benar-benar mahal Naura?"
"Tentu saja, lebih baik kau beli yang lain saja dari pada katana ini!"
"Tapi aku ingin beli katana ini, tenang saja aku tidak menyuruhmu untuk bayar."
"Tapi Yakuza, gaji kita saja 100 koin emas dan kalau kau beli katana itu akan rugi 50 koin emas!"
"Tapi kan 50 koin emas saja sudah cukup bagiku, jika ditukarkan menjadi Jen maka itu sangat cukup."
"Tapi..."
"Baiklah aku akan beli ini dan ini dia 50 koin emasnya!" ucap Yakuza menyerahkan 50 koin emas kearah pemilik toko itu
Setelah itu Yakuza dan Naura pergi kesuatu tempat yaitu tempat makan dan pada saat itu juga Naura terus mengoceh kepada Yakuza untuk tidak terlalu boros dengan uangnya.
"Baiklah...baiklah!" ucap Yakuza
"Astaga kau ini, memang sangat terobsesi oleh katana itu!" ucap Naura dengan wajah cemberutnya
Setelah mereka berdua mampir di rumah makan, kini mereka memberi sebuah obat ramuan untuk hal darurat dalam misi mereka, tanpa sengaja Yakuza melihat seorang pria yang sangat banyak membawa barang di tasnya, Yakuza menggaruk kepalanya karena kebingungan.
"Ada apa Yakuza?"
"Kenapa orang itu banyak sekali bawa barang?, apakah dia orang pindahan?"
"Oh...itu ada seorang petualang."
"Petualangan?, jadi ada juga?"
"Eh...sepertinya itu menyenangkan!"
"Ya memang, tapi itu sangat melelahkan dan tidak ada orang yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu!"
"Tapi itu juga bisa melatih mental kitakan?"
"Ya itu benar, tapi aku tidak mau menjadi petualangan!"
"Begitu ya, tapi aku ingin sekali mencobanya!"
"Ya sebaiknya jangan, karena itu sangat melelahkan, ayo kita pulang!"
Kemudian mereka berdua pun kembali ke kastil kerajaan, untuk beristirahat dan mempersiapkan misi mereka yang akan datang.
...****************...
Matahari telah terbenam dan langit sudah mulai gelap, namun keramaian di ibu kota kerajaan matahari tetapi ada, tetapi hanya orang dewasa saja yang lewat di jalan.
Namun ada seseorang di atap rumah warga, orang itu memakai jubah warna hitam dan wajahnya kurang jelas untuk dilihat, kemudian orang itu mengatakan sesuatu sambil tersenyum.
"Summon."
Kemudian tiba-tiba saja sebuah lingkaran sihir muncul disebuah jalan dan orang-orang yang melihat itu semuanya terdiam dengan mulut ternganga.
Pada saat itu muncul sekumpulan orang berjubah hitam diatas lingkaran sihir itu. Seketika para warga berlari ketakutan dan menjauh dari mereka.
Kemudian salah satu dari orang berjubah hitam itu menghancurkan sebuah bangunan milik warga dengan sihir api miliknya, dia adalah Gine.
__ADS_1
Orang-orang berlari ketakutan dan berteriak minta tolong.
Disisi lain Junies mendapatkan sebuah laporan dari perajurit yang sedang berpatroli di ibu kota kerajaan matahari.
"Tuan kaisar sihir...kita diserang!" teriak perajurit itu
Kemudian Junies bergegas menuju singgah sana Raja kerajaan matahari dan melaporkan hal tersebut, pada saat itu sangat raja tengah duduk di singgah sananya sambil memakan buah anggur dan melihat wanita menari.
Pada saat itu sang Raja terkejut ketika Junies langsung mendobrak pintunya.
"Ada apa Junies!"
"Yang mulia maafkan aku telah menganggu anda!" Junies berlari pelan kearah sang Raja, kemudian ia berlutut "Yang mulia sebanarnya aku datang kemari hanya memberitahu anda!"
"Tentang apa?"
"Kita sedang diserang!"
Mendengar itu sang Raja langsung menepis piring yang ada disamping singgah sananya, dan piring itu jatuh berantakan beserta buahnya.
"Apa katamu?, kita diserang?!"
"Ya...Yang mulia!"
"Bagaimana bisa, apakah kau tidak memperketat penjagaan dipintu gerbang dan perbatasan kerajaan hah?!" ucap sang Raja dengan tatapan yang sangat menyeramkan
"Kami sudah memperketat semuanya, tapi kami tidak tahu bagaimana bisa itu terjadi."
"Dasar bodoh kau Junies!"
Kemudian sang Raja berdiri dan berjalan kehadapan Junies yang sedang berlutut, dan pada saat itu sang Raja ingin memukul Junies. Namun, semua itu telah ditahan oleh seorang wanita yang sangat cantik.
Wanita itu adalah istri dari sang Raja, ia menahan tangan sang Raja yang sudah siap memukul Junies.
"Hentikan, sayang apakah kau mau melakukan hal itu kepadanya?, padahal dia sudah berbuat pekerjaan yang sangat baik untuk anda!" ucap wanita itu kemudian berhenti sejenak "Dia adalah kaisar sihir kita, tidak seharusnya kau memukul orang terhormat ini!"
Kemudian datang lagi seorang wanita dari arah kanan dan memanggil sang Raja dengan sebutan "ayah", dia adalah putri dari kerajaan matahari yang bernama Gabriel Sun Gracia.
"Hentikan itu ayah, kenapa kau bertindak seenaknya?"
"Oh...aku minta maaf!"
"Tuan Junies silahkan berdiri!" ucap istri sang Raja
"Baik!"
Kemudian Ia pun berdiri tega dan menatap sang Raja.
"Maafkan aku Junies, karena aku sedang terbawa emosi!"
"Itu tidak apa-apa Yang mulia!"
"Jadi kerajaan kita sedang diserang, apakah kau sudah mengirim pasukan untuk mencegah para penyerang itu?" ucap sang Raja sambil berjalan kembali kearah singgah sananya
"Iya Yang mulia, tapi aku khawatir semua itu akan dihabisi dengan mudah!"
"Kalau begitu..." ucap sang Raja sambil duduk kembali di singgah sananya "Kirim semua kstaria sihir untuk menangani mereka!"
"Biak Yang mulia!"
Dengan tegas Junies pun kembali keluar dari ruangan sang Raja.
__ADS_1
...Chapter 40 Selesai....