
Raiya keluar dari gumpalan asap debu, asap itu muncul keluar dari ledakan serangan Bardt, lalu Raiya menembakan serangan sihir cahaya kearah Bardt.
Serangan itu sangat kuat dan cepat, tetapi Bardt masih bisa menghindari serangan itu dengan bergerak kesamping.
Raiya langsung bergerak kearah Bardt, kemudian memberikan serangan berupa tebasan cahaya kearah Bardt, serangan itu sangat dekat sehingga Bardt tidak dapat menghindari serangan itu.
Bardt terkena serangan itu, tangan kiri nya terputus dan Bardt terjatuh sambil menahan rasa sakit yang cukup hebat.
"Aghgg."
"Hahaha, sayang sekali tangan mu telah putus."
"Aghgg, kurang ajar kau!" ucap Bardt dengan tubuh nya yang bergetar karena kesakitan
Kemudian Bardt ditendang wajahnya oleh Raiya hingga tersungkur dan tidak berdaya, Bardt hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit.
Kemudian Raiya mulai mengeluarkan bola cahaya dari telapak tangannya dan mengangkat bola cahaya itu keatas sambil tersenyum licik.
"Aku akan mengakhiri ini."
"Sial kau Raiya!"
***
Di sisi lain, Karui yang kewalahan melawan Aigo, tiba-tiba saja ia melihat sebuah cahaya muncul di tempat Bardt bertarung.
Begitu juga dengan Aigo, ia juga melihat sebuah cahaya yang nampaknya itu milik Raiya.
__ADS_1
"Akhirnya, orang itu akan berakhir."
"Apa kata mu?"
Mengetahui hal itu Karui hendak berlari kearah cahaya itu, namun Aigo menghalangi Karui untuk pergi, Aigo menciptakan sebuah ruang kubus itu seperti penghalang.
Karui menabrak sebuah penghalang yang di buat oleh Aigo, Karui pun sontak mengalihkan pandangannya kearah Aigo sambil menggertakkan giginya.
"Brengsek kau!"
"Kau tidak boleh lari dari pertarungan atau jangan menggangu pertarungan mereka, lebih baik kita menonton saja."
"Bisa-bisanya kau bilang begitu, Bardt adalah teman ku, aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja."
***
Bardt hanya bisa terdiam dan pasrah, ia pun menutup matanya sambil tersenyum, Raiya merasa bingung kenapa Bardt tersenyum di saat detik-detik akhir khayatnya.
"Kenapa kau tersenyum dasar bodoh?"
"Aku hanya senang, jika saja ini kematian ku, aku hanya ingin mati tersenyum."
"Cih...menyedihkan, baiklah kalau begitu."
Raiya mulai melepaskan serangan itu kearah Bardt yang sudah berbaring tidak berdaya, Bardt hanya bisa tersenyum dengan tenang.
"Ah... sepertinya ini akhir dari hidup ku."
__ADS_1
Pada saat bola cahaya itu hendak mengenai Bardt, tiba-tiba saja bola cahaya itu terbelah oleh sebuah tebasan sihir kegelapan.
Tebasan itu berasal dari seorang wanita memakai katana, dengan rambut nya yang terurai panjang dan berwarna hitam.
Wanita itu sangat cantik dengan baju zirah yang sangat kuat, ksatria sihir tingkat Ryu telah datang membantu Bardt, dia adalah Fumika.
"Fumika" gumam Bardt
"Haa...siapa lagi wanita ini?"
"Perkenalkan aku adalah Fumika Yami, ksatria sihir tingkat Ryu!" teriak Fumika sambil membusungkan dadanya
"Fumika?, Ohh...aku pernah dengar tentang mu dari bos ku."
"Bos mu?, siapa bos mu itu sampai tahu tentang diriku?"
"Bos ku adalah Azel, kau pasti mengenal orang itu kan?"
Mendengar ucapan Raiya, Fumika seketika terdiam dengan bibirnya yang terbuka sedikit, dia terkejut bahwa selama ini bukan Edward yang berkhianat akan tetapi Azel yang berkhianat.
"Itu berarti, orang yang tewas di kerajaan adalah Edward?"
"Edward?, aku tidak tahu dia siapa, tapi bos ku bilang dia sudah membunuh satu orang yang kuat di kerajaan matahari, ya mungkin saja dia."
Fumika pun menjadi marah dan mengeluarkan aura yang sangat kuat dan menyeramkan, sehingga membuat Bardt dan Raiya bergetar sekujur tubuhnya.
"Aku akan membunuh mu Azel!" teriak Fumika sambil menghunus katana nya.
__ADS_1
...Chapter 51 Selesai....