Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Pernikahan_Amanda_Marcel_1


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, di mana nasib buruk yang menimpa Amanda. Kini dirinya pasrah dengan segala keputusan yang orang tuanya ambil. Amanda tau jika pria yang akan menikahinya sangat terpaksa. Tapi semua keputusan ada pada kedua orang tua mereka.


Setelah pertemuan seminggu yang lalu, kini hari pernikahan Amanda dan Marcel telah tiba.


Amanda sudah siap dengan baju pengantinnya. Begitu juga dengan Marcel, pria itu terlihat gagah dan tampan dengan setelan jas berwarna hitam.


Amanda dan Marcel sudah duduk menghadap penghulu. Perlahan penghulu itu menjabat tangan Marcel. Setelah itu ijab kabul pun terucap, hati Amanda terasa sedikit sakit saat mendengar kata SAH. Karena gadis itu tau, jika Marcel menikahinya lantaran terpaksa.


Setelah acara ijab kabul selesai, kini keduanya tengah berdiri di atas pelaminan. Keduanya berdiri berjejer sembari menyalami para tamu undangan yang datang. Amanda tersenyum dengan terpaksa, begitu juga dengan Marcel.


"Jangan terlalu senang dengan pernikahan ini, karena ini adalah awal dari penderitaan kamu," bisik Marcel tepat di telinga Amanda.


Amanda tersenyum getir, ia tidak tau apa maksud dari perkataan Marcel.


Saat Amanda dan Marcel tengah sibuk dengan tamu yang memberinya selamat. Tiba-tiba Amanda di kejutkan dengan datangnya seorang perempuan dengan baju seksinya.


Perempuan itu berjalan menghampiri Marcel dan tersenyum ke arahnya. Begitu juga Marcel yang tersenyum ke arah perempuan itu. Batin Amanda bertanya-tanya, tentang siapa perempuan cantik dan seksi itu.


Tiba-tiba hal tak terduga terjadi. Tanpa ada rasa malu perempuan seksi itu mencium bibir Marcel. Sementara yang dicium hanya diam, bahkan menyunggingkan senyum termanisnya.


Sakit yang Amanda rasakan. Ia tau jika mereka menikah karena terpaksa.


Namun bagaimanapun juga mereka menikah saja secara agama dan negara. Istri mana yang tidak sakit melihat suaminya bercumbu dengan perempuan lain. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Amanda, justru hari itu menjadi hari terburuk baginya.


"Sayang, kapan kamu akan menikahinya?" tanya perempuan itu.


"Secepatnya. Secepatnya aku akan menikahimu Sayang," ujar Marcel. Perempuan itu tersenyum lalu mencium kedua pipi Marcel.


Lagi-lagi Amanda dibuat panas oleh sepasang kekasih itu. Setelah puas bermesraan, perempuan itu berjalan ke arah Amanda. Dengan senyum sinisnya, perempuan itu menjabat tangan Amanda.


"Selamat ya, atas pernikahannya," ujarnya dengan sorot mata yang tajam.


Amanda hanya tersenyum, setelah itu perempuan tersebut pergi meninggalkan resepsi pernikahan Amanda dengan Marcel.


Marcel seperti tidak ada rasa bersalahnya dengan Amanda. Pria itu terus tersenyum memandangi punggung kekasihnya yang mulai menghilang.


***


Acara resepsi telah selesai, kini Amanda dan Marcel sudah berada di dalam kamar.


Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Amanda memilih duduk di depan meja rias untuk membersihkan sisa make-up yang menempel di wajahnya.


Selang beberapa menit, Marcel keluar dengan bertelanjang dada. Hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Tangan kanannya sibuk menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Setelah cukup kering, Marcel melempar handuk kecil itu ke arah Amanda.


Amanda hanya bisa beristighfar, sementara Marcel melenggang pergi menuju ke ruang ganti untuk memakai pakaian.


Setelah selesai Marcel pun keluar dan segera naik ke atas ranjang. Badannya terasa begitu lelah, pria itu ingin segera merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


Namun sebelum ia tidur, Marcel melempar selimut dan bantal ke arah Amanda.


Wanita itu sedikit tersentak, dengan perasaan bingung Amanda mengambil selimut dan bantal tersebut.


"Jangan tidur di ranjangku, terserah kamu mau tidur di lantai atau di sofa," kata Marcel. Pria itu segera merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Amanda hanya tersenyum getir. "Baik Mas."


Sebelum tidur, Amanda akan mandi terlebih dahulu. Badannya sudah sangat lengket, wanita itu pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai, Amanda bersiap-siap untuk tidur.


"Setidaknya ini lebih baik, dari pada aku harus tidur seranjang dengan pria itu," gumam Amanda dalam hati.

__ADS_1


Setelah itu, Amanda segera merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tak lupa wanita itu memakai selimutnya. Setelah itu Amanda mulai memejamkan matanya.


***


Adzan subuh berkumandang, Amanda yang mendengarnya bergegas bangun dari tidurnya. Wanita itu segera beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah bersuci Amanda segera melaksanakan dua raka'at terlebih dahulu.


Setelah selesai, Amanda kembali melipat sajadah dan mukenah tersebut. Amanda berdiri mendekati ranjang, ingin sekali ia membangunkan Marcel untuk shalat subuh. Tapi niatnya diurungkan, Amanda takut jika mengusiknya, Marcel akan memarahinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Amanda bergegas keluar dari kamar dan turun ke bawah. Tujuan utamanya adalah dapur, setibanya di dapur wanita itu berniat ingin membantu asisten rumah tangga mertuanya itu untuk memasak.


"Selamat pagi Bi," sapa Amanda pada bi Mira.


"Pagi Nyonya," sahut bi Mira dengan tersenyum.


Wanita paruh baya itu sedang berkutat dengan alat-alat dapur. Meski usianya sudah terbilang tua, tapi tenaganya masih seperti orang muda. Bi Mira sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Gunawan. Bahkan sebelum Marcel di lahirkan.


"Manda bantu ya Bi," tawar Amanda. Tangannya mulai memegang beberapa bahan masakan.


"Tidak usah Nyonya, ini sudah menjadi tugas Bibi," tolak bi Mira dengan sopan.


"Tidak apa-apa Bi, lagi pula Amanda kan enggak ngapa-ngapain," sahut Amanda.


"Lebih baik Nyonya mengantarkan kopi ini dulu ke kamar Tuan. Biasanya tuan Marcel selalu minum kopi sebelum sarapan," saran bi Mira sembari menyodorkan kopi yang baru dibuatnya.


"Ya sudah Bi, sini." Amanda mengambil alih kopi tersebut, dan berjalan menuju ke lantai atas.


Setibanya di kamar, terlihat Marcel sudah siap dengan baju kerjanya. Pria itu tengah berdiri di depan cermin, tangannya tengah berkutat memasang dasi di lehernya. Amanda berjalan mendekatinya.


"Ini kopinya Mas," ujar Amanda.


"Taruh saja di meja," sahut Marcel tanpa menolehnya.


"Oya Mas, sarapannya sudah siap," ucap Amanda mengingatkan.


Marcel hanya berdehem untuk menanggapi ucapan Amanda. Sementara Amanda hanya tersenyum, setelah itu Amanda bergegas keluar dari kamar dan kembali turun ke bawah.


Di meja makan, orang tua Marcel sudah menunggu menantu dan putranya untuk sarapan bersama.


Selang 10 menit, Marcel turun dan bergegas menuju ke meja makan. Dengan sigap Amanda menarik kursi untuk di duduki oleh suaminya itu.


Bahkan Amanda segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk. Kedua orang tua Marcel tersenyum melihat Amanda yang begitu memperhatikan sang suami.


"Mas mau makan pake lauk apa?" tanya Amanda.


Marcel menunjuk lauk yang ia sukai. Pria itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Amanda tetap tersenyum meski Marcel bersikap seperti itu. Setelah itu Amanda menaruh piring tersebut di hadapan suaminya itu.


"Ini Mas," ucap Amanda.


"Marcel, apa tidak sebaiknya kamu libur dulu. Kalian kan baru saja menikah," ujar Regina.


"Tidak perlu ma, Marcel banyak kerjaan di kantor," jawab Marcel.


"Nanti sore Marcel juga akan kembali ke rumah Marcel ma, biar jarak ke kantor lebih dekat," sambung Marcel.


"Ya sudah terserah kamu saja," balas Regina.


"Amanda, nanti kamu siapkan barang-barang kamu ya. Biar nanti sore kamu bisa langsung ikut suami kamu ke rumahnya," kata Regina. Dan dibalas anggukan oleh menantunya itu.


Selesai sarapan, Marcel bergegas berangkat ke kantor. Dengan sigap Amanda mengambil tas kerja milik Marcel dan menyerahkannya. Marcel menerima tas tersebut dengan wajah yang datar. Saat Marcel hendak pergi, tiba-tiba Amanda menarik tangannya dan mencium punggung tangan pria itu.


Amanda tersenyum, sementara Marcel hanya diam. Pria itu segera pergi meninggalkan Amanda yang masih berdiri di tempatnya. Setelah mobil yang Marcel tumpangi meninggalkan halaman rumah, Amanda bergegas masuk ke dalam.

__ADS_1


***


Waktu terasa begitu cepat, pukul 5 sore Marcel sudah tiba di rumah. Pria itu segera menghampiri Amanda dan mengajaknya untuk pindah ke rumah Marcel sendiri.


Sebelum itu Marcel berpamitan dengan kedua orang tuanya.


"Ma, pa, kami pergi sekarang ya," pamit Marcel pada kedua orang tuanya.


"Iya, hati-hati di jalan ya. Jaga istri kamu baik-baik," sahut Regina.


Setelah itu, Amanda pun berpamitan dengan kedua mertua. Selesai berpamitan, Marcel dan Amanda segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi perlahan berjalan meninggalkan halaman rumah mewah itu.


Hanya ada keheningan dalam perjalanan menuju ke rumah Marcel. Amanda memilih melihat ke luar jendela. Sementara Marcel sibuk dengan ponselnya. Pria itu fokus dengan layar handphonenya, terkadang senyum terukir di bibir pria itu.


Selang beberapa menit, mobil Marcel berhenti di depan rumah yang begitu mewah. Marcel segera turun dan diikuti oleh Amanda. Keduanya masuk ke dalam, hanya ada satpam dan supir di rumah itu. Setibanya di dalam, Amanda mengedarkan pandangannya, begitu luas rumah suaminya itu.


"Di sini tidak ada pembantu, jadi semuanya kamu kerjakan sendiri," ucap Marcel dan melangkah pergi.


"Iya Mas," sahut Amanda.


Amanda berjalan mengikuti langkah Marcel, tangan kanannya menarik koper miliknya. Setibanya di atas Marcel membawa Amanda ke kamar yang akan Amanda tempati. Tentunya bukan kamar Marcel.


"Ini kamar kamu," tunjuk marcel.


"Iya Mas. Em kamar mas Marcel di mana?" tanya Amanda ragu-ragu.


"Itu kamarku," tunjuk Marcel pada kamarnya sendiri.


Setelah itu Marcel segera masuk ke dalam kamarnya sendiri. Begitu juga dengan Amanda. Wanita itu bisa bernafas lega, lantaran ia tidak sekamar dengan suaminya itu. Di kamar Amanda segera menata bajunya di almari.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Amanda bergegas turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam. Amanda membuka kulkas, tidak ada sayuran ataupun yang lainnya. Alhasil Amanda hanya masak seadanya.


"Rumah besar kayak gini kok kulkas sampai kosong," batin Amanda. Tangannya tengah berkutat membuat nasi goreng dan omelette.


Setelah selesai, Amanda segera menyiapkan makanan tersebut di atas meja. Tiba-tiba Amanda melihat Marcel turun, dengan segera wanita itu memanggil suaminya untuk makan malam.


"Mas, makan dulu," ujar Amanda.


Marcel pun berjalan menuju meja makan, dan menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi. Dengan cekatan Amanda meladeni suaminya itu.


Marcel mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, belum sempat Marcel mengunyahnya, tiba-tiba pria itu menyemburkan semua yang masuk ke mulut.


"Makanan apa ini, hah!" Bentak Marcel, seraya melempar piring tersebut.


Amanda terkejut dengan ulah suaminya itu. Padahal sebelumnya Amanda sudah mencicipinya, dan rasanya tidak aneh. Tapi kenapa Marcel membuangnya.


"Maaf Mas, apa mas Marcel tidak suka dengan makanan yang Manda buat," ujar Amanda. Nada bicaranya sedikit gemetar.


Tanpa menjawab pertanyaan Amanda, Marcel bangkit dari duduknya, dan segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumah. Amanda bergegas mengejarnya.


"Mas mau kemana?" tanya Amanda.


"Bukan urusanmu," sahut Marcel dengan suara datar.


"Tapi ini sudah malam Mas," balas Amanda yang mencoba mengingatkan sang suami.


Marcel membalikkan badannya menghadap Amanda. Tatapan matanya yang tajam mengarah pada wanita yang berdiri di hadapannya itu. Tidak segan-segan Marcel mencengangkan rahang Amanda dengan cukup keras.


"Jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku, urus saja urusan kamu sendiri, mengerti!" Bentak Marcel, lalu mendorong tubuh Amanda hingga jatuh tersungkur.


Setelah itu Marcel pergi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kemana pria itu akan pergi. Amanda hanya bisa menangis mendapat perlakuan kasar dari suaminya itu. Tak pernah ia bayangkan, jika dirinya akan mendapat suami yang seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2