
Selang beberapa menit Amanda keluar dengan membawa tas kerja milik suaminya.
Wanita itu berjalan menghampiri sang suami yang tengah menunggunya di teras depan, Marcel tersenyum saat melihat sang istri tengah berjalan menghampirinya.
Entah kenapa sekarang Marcel sering tersenyum saat melihat istrinya berjalan. Terkadang pria itu suka membayangkan jika nanti perut Amanda sudah membuncit. Pasti akan terlihat lucu saat berjalan, sekarang badannya mulai berisi, pipinya juga mulai chubby.
Ah, sungguh tidak bisa dibayangkan. Dulu badannya bisa dibilang kurus, terlebih setelah keguguran. Tapi sekarang, badannya mulai berisi, pipinya yang tirus pun mulai tembem, kayak bakpao. Jika setiap hari, berat badannya naik, bisa-bisa saat melahirkan badannya sudah bulat, kayak bola.
"Ini, Mas." Amanda menyerahkan tas kerja milik suaminya itu.
"Terima kasih ya, Sayang," ucap Marcel menerima tas tersebut.
"Udah dibayar 'kan, Mas seblaknya?" tanya Amanda.
"Sudah, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum." Marcel mencium kening Amanda.
"Wa'alaikumsalam." Amanda mencium punggung tangan suaminya itu.
Setelah itu Marcel melangkahkan kakinya menuju ke mobil, pria itu segera masuk ke dalam, dan bergegas melaju meninggalkan halaman rumahnya. Sementara Amanda masih berdiri di teras rumah sembari menunggu pesanan seblaknya jadi. Wanita itu terus tersenyum, saat mengingat setiap apa yang terjadi antara dirinya dengan sang suami.
***
Mobil Marcel kini sudah berhenti di pelataran kantor, pria itu bergegas turun dari mobilnya. Dengan sedikit terburu-buru Marcel berjalan masuk ke dalam, setibanya di dalam setiap karyawan yang melihatnya, langsung menyapa dan memberinya hormat, sementara Marcel hanya tersenyum dan mengangguk.
Pria itu terus berjalan untuk bisa menuju ke ruangannya. Setibanya di ruangan Marcel segera menjatuhkan bobotnya di kursi kebesarannya. Sebelum Marcel memulai pekerjaannya, pria itu akan memeriksa beberapa email yang masuk terlebih dahulu. Ia juga akan memeriksa, ada kabar atau tidak tentang Pak Hilman, yang tak lain adalah Ayah mertuanya.
Marcel menyunggingkan senyumnya saat mendapat kabar jika perusahaan yang Hilman kelola benar-benar diambang kebangkrutan. Itu artinya, dengan mudah Marcel bisa mengambil alih perusahaan tersebut, perusahaan yang seharusnya menjadi hak Amanda, istrinya. Karena Marcel sudah berjanji akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik sang istri.
"Sayang, sebentar lagi hakmu akan kembali," ucap Marcel dengan tersenyum. Rasanya sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran Hilman, dan juga istrinya.
Setelah itu, Marcel kembali menyuruh orang-orangnya untuk terus memantau pergerakan Hilman. Ia tidak mau kecolongan, jika sampai lengah sedikit saja, orang licik itu pasti akan berbuat apa saja untuk bisa mencapai keinginannya, tanpa memperdulikan orang lain. Seperti saat dia merampas hak saudaranya, tanpa peduli dengan nasib keponakannya sendiri.
Hilman Natawijaya, pria yang telah tega menghancurkan saudaranya sendiri demi memenuhi ambisinya. Hidup dalam kesederhanaan membuat Hilman gelap mata, terlebih sang istri yang selalu menuntut materi. Hingga pada akhirnya, keduanya tega merencanakan hal buruk demi mencapai tujuannya, tanpa memperdulikan orang lain.
Sekarang tugas Marcel adalah mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak istrinya itu. Meski kebahagiaan Amanda sudah tidak lengkap lagi, tapi setidaknya haknya harus kembali. Karena semua itu adalah hasil dari jeri payah almarhum kedua orang tuanya. Di mana mreka bangkit dari titik terendah hingga mencapai kesuksesan yang luar biasa.
Saat ini Marcel tengah disibukkan oleh tumpukan berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga. Menjadi bos bukan berarti bisa santai dalam bekerja, bahkan ia harus giat dalam bekerja, untuk menjadi contoh para karyawannya. Tanggung jawabnya juga begitu besar, Karena jika terjadi masalah, maka seorang bos harus bisa menyelesaikannya.
Mata Marcel kini tengah fokus pada berkas yang ada di halaman, tapi tiba-tiba suara handphonenya membuat konsentrasi pria itu buyar. Takut ada yang penting, Marcel segera meraih benda pipih itu, terlihat satu pesan telah diterima, dan terdapat nama Amanda, istrinya. Dengan segera Marcel membukanya dan membacanya.
@Amanda
[ Mas, nanti pulangnya beliin martabak telor kesukaan aku ya ]
@Marcel
[ Iya, Sayang ]
@Maecel
[ Mau berapa porsi ]
@Amanda
__ADS_1
[ Satu aja, Mas ]
@Marcel
[ Ok, Sayang ]
Setelah itu Marcel meletakkan handphonenya kembali, pria itu tersenyum lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebelum makan siang berkas itu harus selesai, karena setelah makan siang Marcel akan ada meeting penting dengan salah satu kliennya yang berasal dari luar negeri. Semangat, itu yang harus Marcel lakukan.
Pekerjaan yang menumpuk sangat menguras tenaga Marcel, selain raganya bekerja, otaknya pun demikian. Terlebih dia harus mencari cara untuk bisa merebut hak istrinya yang telah diambil oleh Ayah mertuanya sendiri. Ah, pria serakah seperti dia tidak pantas disebut sebagai Ayah. Terlebih perbuatannya sangat tidak patut untuk ditiru.
***
Waktu berjalan begitu cepat berlalu, matahari pun telah bergulir ke ufuk barat sana bahkan senja telah menghiasi langit.
Burung-burung berterbangan, kicauannya menghiasi suasana sore hari, serta semilir angin yang mengalun, membelai pepohonan, dan dedaunan kering yang berserakan.
Pukul lima sore Marcel sudah tiba di rumah, mobilnya telah terparkir di halaman rumahnya yang luas itu, bak lapangan sepak bola. Dengan senyum yang mengembang Marcel keluar dari persembunyiannya. Eh, maksudnya dari mobilnya, pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Setibanya di dalam, mata elangnya segera mencari sosok wanita yang sudah membuat jantungnya serasa mau copot, saat tengah berduaan. Ah, Marcel seperti anak ABG yang sedang cinta, bahkan ini lebih dari jatuh cinta. Tapi kira-kira apa ya, kalau bukan jatuh cinta, hanya Marcel yang tau.
"Sayang, suami tampanmu ini sudah pulang ... where are you, dear." Marcel melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
Dan benar saja, wanitanya itu tengah duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Sayang, ini pesanan kamu." Marcel meletakkan satu kotak berukuran sedang di atas meja.
Setelah itu Marcel menjatuhkan bobotnya di samping sang istri. Pria itu meletakkan jasnya yang sudah terlepas dari badannya, lalu perlahan Marcel mengendurkan dasinya, dan melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Ia juga menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit rumah, sembari melepas penatnya.
"Makasih ya, Mas." Amanda mencium pipi suaminya itu, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
Selang beberapa menit, Amanda kembali sembari membawa secangkir kopi susu kesukaan suaminya. Wanita itu tersenyum lalu menaruh kopi tersebut di atas meja. Setelah itu Amanda kembali duduk di samping Marcel, sementara pria itu masih memegangi dadanya, ia mencoba menormalkan detak jantungnya.
"Mas, kenapa? Mas sakit, ya?" tanya Amanda, raut wajah wanita itu terlihat panik.
"Ah, enggak." Marcel meraih gagang cangkir itu, lalu mulai menyeruput kopi yang sang istri suguhkan.
"Manis, seperti yang buat," puji Marcel, Amanda hanya tersenyum, dan senyumannya itu membuat Marcel mati kutu.
Amanda mengambil potongan martabak tersebut, dan mulai memakannya. Wanita itu sangat menikmatinya, bahkan sampai lupa untuk menawari suaminya. Marcel hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu lahap menikmati martabak tersebut. Setelah itu Marcel memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali di sofa.
Hanya butuh lima belas menit, satu kotak martabak telor sudah tandas, habis. Setelah itu Amanda bangku dari duduknya dan membawa kotak kosong itu ke belakang, tak lupa Amanda juga mengambil air minum. Setelah itu Amanda kembali ke ruang tengah, terlihat jika sang suami masih pada posisinya, bahkan pria itu sudah memejamkan matanya.
Amanda berjalan mendekati sang suami, wanita itu kini sudah berdiri di samping Marcel. Kini Amanda tengah memperhatikan wajah suaminya yang tengah terpejam itu, senyum terukir di bibirnya, entah apa yang ada dalam benak Amanda sekarang. Mungkinkah Amanda terpesona dengan wajah tampan Marcel, atau ... hanya Amanda yang tau.
Amanda terdiam sejenak, setelah itu tanpa diduga Amanda berteriak jika ada seekor tikus di atas dada Marcel. Sontak pria itu terlonjak kaget, bahkan Marcel bangkit dari tidurnya dan naik ke atas sofa dengan berteriak ketakutan. Tawa Amanda pecah, saat melihat ekspresi wajah suaminya yang ketakutan seperti itu. Sungguh lucu, bagaimana tidak lucu. Seorang Marcel takut sama tikus.
Melihat Amanda tertawa seperti itu, seketika Marcel diam dan menatap tajam ke arah wanitanya itu. Bukannya takut, justru Amanda semakin menggoda Marcel, wanita itu tertawa
tanpa memperdulikan tatapan tajam suaminya. Sementara Marcel semakin heran, dan juga geram dengan tingkah istrinya yang seperti itu.
"Haha, Mas lucu banget, haha, Mas mukanya haha." Amanda terus tertawa dengan menunjuk ke arah wajah suaminya itu.
"Amanda, diam." Bukannya diam, wanita itu terus saja tertawa.
__ADS_1
"Haha, Mas lucu tau nggak. Masa sama tikus aja takut, haha ... nggak malu apa sama badan, haha." Amanda terus saja tertawa, dan hal itu membuat Marcel harus lebih bersabar.
Marcel terdiam sejenak, setelah itu ia berjalan mendekati sang istri, sementara tangan kanannya sibuk membuka kancing kemejanya. Amanda yang melihat itu, seketika menghentikan tawanya, wanita itu memundurkan langkahnya, tapi sialnya badannya sudah mentok di dinding. Amanda tidak bisa berkutik lagi.
Marcel terus menatap Amanda dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, tapi dari gelagatnya Amanda sudah paham. Mata Amanda melotot saat Marcel melepas kemejanya dan melemparkannya begitu saja. Wanita itu langsung menutup matanya saat suaminya mulai melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya.
Marcel tersenyum melihat istrinya yang ketakutan seperti itu, tanpa pikir panjang Marcel mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya. Seketika Amanda membuka matanya, sementara Marcel hanya tersenyum, dengan membisikkan sesuatu di telinga sang istri.
"Kamu harus bertanggung jawab, Sayang," bisik Marcel. Mendengar bisikan itu, Amanda memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Marcel terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar, setibanya di kamar Marcel merebahkan tubuh Amanda di atas ranjang. Pria itu tersenyum dengan terus mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, sementara Amanda memilih memejamkan matanya. Wanita itu bisa merasakan deru nafas Marcel yang memburu.
"Mas, mau ngapain?" tanya Amanda.
"Mau menghukummu, karena kamu sudah berani .... " ucapan Marcel terpotong saat Amanda mendorong tubuh Marcel, lalu bangkit dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Namun sial, saat mau menutup pintunya, dengan cepat Marcel ikut masuk ke dalam. Alhasil, Amanda hanya bisa pasrah, sementara Marcel semakin mendekati sang istri, tentunya dengan senyum yang menggoda. Dan, setelah itu apa yang akan terjadi, hanya Marcel dan Amanda yang tau.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, saat ini Amanda sudah selesai menyiapkan makan malam untuk dirinya juga sang suami. Selang beberapa menit Marcel turun, dan berjalan menghampiri sang istri, yang kini tengah berada di ruang makan. Pria itu segera menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya.
Dengan sigap Amanda mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. Setelah itu Amanda menaruhnya di hadapan suaminya, Marcel tersenyum dan segera menyantap makanan yang sudah sang istri sajikan. Begitu juga dengan Amanda, wanita itu juga segera mengambil nasi dan juga lauknya.
Selama ritual makan malam berlangsung, suasana nampak hening. Tidak ada sepatah kata yang terucap, memang Marcel sendiri tidak suka jika sedang makan sambil berbicara. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.
Setelah selesai Amanda segera membereskan meja makan. Piring dan gelas yang kotor, Amanda bawa ke belakang. Wanita itu segera mencucinya, sementara Marcel beranjak dari meja makan. Pria itu memilih duduk di ruang tengah sembari menonton televisi.
Selang beberapa menit Amanda datang dengan membawa secangkir kopi susu kesukaan suaminya. Wanita itu menaruhnya di atas meja, lalu Amanda duduk di sebelah sang suami. Marcel tersenyum lalu mengambil cangkir tersebut dan menyeruput kopinya.
"Makasih ya, Sayang," ujar Marcel dengan tersenyum.
"Sama-sama, Mas." Amanda menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Hal itu membuat Marcel merasa heran.
"Mas." Amanda mengapit lengan kekar Marcel, dan menyenderkan kembali kepalanya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Marcel.
"Kalau misalnya nanti pas Manda ngelahirin ... nggak bisa melihat anak kita, Mas jangan sedih ya. Dan satu lagi, jangan menikah lagi. Kalau ketahuan nikah lagi, nanti Manda hantuin." Marcel terdiam mendengar ucapan istrinya. Pria itu merasa heran dengan ucapan Amanda, apa yang sedang wanitanya itu maksud.
"Kalau begitu, aku akan ikut denganmu," ucap Marcel.
"Ish, kok begitu sih, Mas. Nanti anak kita sama siapa," sahut Amanda yang merasa kesal.
"Sama mama," balas Marcel dengan enteng.
"Ish, kalau begitu, Mas nggak kasihan dong sama anak kita." Amanda memanyunkan bibirnya.
"Makanya, kalau ngomong itu jangan sembarang. Ingat, ucapan itu adalah .... " ucapan Marcel terpotong saat mendengar bel rumahnya berbunyi.
"Manda aja yang buka, Mas." Amanda bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.
Setibanya di depan pintu utama, Amanda segera membuka kenop pintunya. Kosong, wanita itu tidak melihat apa-apa di depan pintu. Penasaran, Amanda melangkah keluar, ia juga mengedarkan pandangannya melihat keseliling. Tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat sebuah kotak di atas lantai.
__ADS_1
Amanda jongkok dan mengambil kotak tersebut. Merasa penasaran ia pun membukanya, setelah terbuka hanya ada satu kertas yang terlipat. Amanda mengambil kertas itu dan membukanya, seketika Amanda menjerit saat membaca isi dalam kertas tersebut.