
Marcel yang mendengar teriakkan istrinya, dengan cepat pria itu berlari menghampiri Amanda. Setibanya di depan, terlihat sang istri yang tengah berteriak ketakutan. Kepalanya menunduk, mata terpejam, dan kedua tangannya menutupi telinganya. Melihat itu dengan cepat Marcel mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
Tangis Amanda pecah, tubuhnya pun bergetar hebat. Sementara Marcel semakin mempererat pelukannya. Saat ini pria itu memilih untuk diam, sampai keadaan istrinya tenang. Marcel mengelus lembut rambut panjang istrinya itu, pria itu mencoba memberinya kenyamanan, agar wanitanya merasa tenang.
Setelah merasa tenang, Marcel melepas pelukannya. Kedua tangan pria itu terangkat dan menghapus air mata sang istri. Marcel bisa melihat jika istrinya itu sangat ketakutan, sama seperti saat mimpi buruk itu hadir dalam tidur wanitanya itu.
"Kamu tenang, ya. Sekarang cerita, ada apa?" tanya Marcel dengan lembut. Matanya menatap lekat wajah sang istri.
Amanda masih diam, wanita itu kembali menetes air matanya. Bahkan Amanda menghambur ke pelukan sang suami, hal itu membuat Marcel semakin bingung. Tubuh Amanda kembali bergetar, itu tandanya wanitanya kembali menangis.
"Manda takut, Mas." Suara Amanda terdengar bergetar. Ia juga semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Jangan takut, ada aku di sini." Marcel mengelus lembut rambut istrinya, lalu mencium pucuk kepala Amanda.
Tiba-tiba saja, Marcel melihat kertas yang berada di bawah. Merasa penasaran, Marcel melepas pelukannya dan mengambil kertas tersebut. Marcel melirik ke arah Amanda, sementara wanita itu kembali memeluk tubuh kekar suaminya. Perlahan Marcel membuka kertas itu, dan mulai membacanya.
Seketika mata Marcel membulat sempurna, rahangnya mengeras, serta tangannya mengepal dan meremas kertas tersebut lalu membuangnya. Pantas saja Amanda menangis, ternyata itu penyebabnya. Marcel berjanji akan mencari orang yang sudah berani mengusik ketenangan wanitanya itu.
Satu tetes air mata istrinya yang jatuh, maka sama dengan satu tetes darah dari orang yang sudah berani bermain-main dengannya. Sampai ke ujung dunia sekalipun, Marcel akan mencarinya. Air mata Amanda sangat berharga, jika ada yang berani membuatnya menangis, maka orang itu harus mendapat balasan yang setimpal.
"Kamu tenang saja, Sayang. Secepatnya aku akan menemukan orang itu," ujar Marcel, pria itu semakin mempererat pelukannya.
"Sekarang kita ke dalam, ya. Sudah malam." Marcel menuntun Amanda masuk ke dalam.
Kini Marcel dan Amanda sudah berada di kamar. Wanita itu sudah berbaring di atas ranjang, sementara Marcel duduk di sebelahnya. Amanda terus menggenggam tangan suaminya, raut wajahnya masih terlihatĀ sangat ketakutan. Marcel dapat merasakan apa yang istrinya rasakan.
"Aku ke bawah dulu, ya," ucap Marcel. Tapi dengan cepat Amanda menggelengkan kepalanya.
"Manda takut, Mas. Mas jangan pergi," cegah Amanda. Wanita itu menarik lengan kekar suaminya, dan memeluknya erat.
Marcel hanya menghela nafasnya, pria itu mengelus lembut kepala sang istri. Setelah itu Marcel putuskan untuk menemani Amanda. Ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri, lalu membawanya dalam dekapan hangatnya. Membelai lembut rambut Amanda, agar wanitanya itu bisa tertidur dengan nyaman.
Hampir satu jam Marcel berbaring dengan posisi dipeluk oleh Amanda. Wanita itu begitu nyaman tidur dengan memeluk tubuh suaminya. Bahkan saat Marcel ingin merubah posisinya, dengan cepat Amanda menarik tubuh Marcel, dan memeluknya dengan erat, serta menenggelamkan wajahnya di dada bidang Marcel.
"Kalau begini caranya, gimana aku bisa bangun," batin Marcel. Alhasil ia pun pasrah.
__ADS_1
Marcel mengambil handphonenya yang berada di atas nakas. Pria itu segera mengetik pesan untuk orang kepercayaannya, agar secepatnya mereka mencari pelaku teror tersebut. Marcel tidak ingin Amanda terganggu dengan teror yang orang itu kirim, terlebih Amanda tengah hamil.
Setelah pesan terkirim, Marcel meletakkan benda pipih itu di atas nakas. Lalu pria itu mencari kenyamanan dalam berbaring. Marcel akan menyusul istrinya ke alam bawah sadar, rasa kantuknya tidak bisa ia tahan lagi. Meski benaknya masih memikirkan masalah teror itu, tapi matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.
***
Adzan subuh berkumandang, Amanda yang mendengarnya bergegas bangkit dari tidurnya. Terlihat sang suami masih terlelap dalam alam mimpinya. Sebelum membangunkan Marcel, Amanda memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Setelah itu baru ia akan membangunkan suaminya, untuk shalat subuh.
Amanda menyibak selimutnya, lalu turun dari ranjang. Wanita itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Tapi setibanya di dalam, matanya terbelalak, dan detik itu juga Amanda berteriak sekeras mungkin. Teriakkan Amanda mampu membangunkan Marcel dari tidurnya, dan seketika Marcel bangkit lalu berlari menuju sumber suara tersebut.
Marcel terkejut melihat apa yang terjadi dengan sang istri. Dengan cepat Marcel memeluk Amanda, tubuhnya kembali berguncang. Tangisannya pecah, dan hal itu membuat Marcel semakin geram. Sudah dua kali wanitanya menangis, dan itu terjadi karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Marcel bersumpah akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.
Marcel membawa Amanda keluar dari kamar mandi, pria itu tidak mau melihat wanitanya terus menangis karena ketakutan. Semalam teror itu datang lewat sebuah paket. Lalu pagi ini sebuah tulisan dengan darah terdapat di kaca kamar mandi. Sungguh tidak pernah terduga, orang itu benar-benar mencari mati. Karena berani masuk ke dalam rumah Marcel, dan berbuat ulah.
"Sekarang kamu tenang, ya. Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini." Marcel terus menenangkan sang istri. Pria itu takut kalau semua itu akan berpengaruh terhadap kehamilan Amanda.
Marcel semakin mempererat pelukannya, memberi kenyamanan dan rasa tenang terhadap sang istri. Pria itu tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan Amanda dan juga bayi yang masih dalam kandungan. Marcel akan menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menjaga rumahnya, dan segera mencari pelakunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Marcel sudah selesai mandi, sementara Amanda masih duduk termenung di atas ranjang. Pandangannya kosong, entah apa yang ada dalam benak Amanda. Marcel yang melihat itu bergegas menghampirinya. Pria itu duduk di sebelah Amanda.
Hening, tak ada jawaban dari sang istri. Amanda sama sekali tidak merespon ucapan Marcel. Wanita itu terus menatap lurus ke depan, dengan tatapan yang kosong. Marcel menjadi tidak tega jika harus meninggalkan Amanda ke kantor. Meski rumah sudah dijaga dengan ketat, tapi hati Marcel tidak akan tenang.
Setelah itu, Marcel memutuskan untuk memakai pakaian terlebih dahulu. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju almari. Setelah selesai Marcel mengambil benda pipih miliknya, untuk menelpon sekretarisnya, jika hari ini ia tidak bisa pergi ke kantor. Marcel lebih mengkhawatirkan kondisi Amanda, dari pada kantornya.
"Mas." Suara Amanda mampu mengejutkan Marcel. Pria itu menoleh dan berjalan menghampiri sang istri.
"Iya, Sayang, ada apa?" tanya Marcel, kini pria itu duduk di sebelah sang istri.
"Mas mau nggak, temenin Manda ke makam ayah sama ibu," ujar Amanda dengan penuh harap. Mata sendunya menatap mata elang suaminya.
"Tentu, Sayang. Lebih baik sekarang kamu mandi, setelah ini sarapan, lalu kita pergi." Marcel mengusap lembut wajah ayu istrinya.
Amanda hanya tersenyum, setelah itu ia bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu Marcel akan menunggu wanitanya itu, sembari mencari cara agar pelakunya cepat ketemu. Marcel tidak mau melihat istrinya ketakutan, karena itu bisa berpengaruh buruk untuk kehamilannya.
Hanya butuh dua puluh menit, kini Marcel dan Amanda sudah berada di meja makan. Saat Amanda hendak meladeni sang suami, tiba-tiba Marcel mencegahnya. Pria itu menyuruh agar Amanda tetap duduk, dan pagi ini Marcel akan menggantikan posisi sang istri. Malas berdebat, Amanda memilih untuk diam dan menurut apa kata suami.
__ADS_1
Pertama, Marcel akan menyiapkan susu khusus untuk ibu hamil. Setelah itu Marcel juga akan menyiapkan sarapan untuk sang istri. Amanda tersenyum melihat sikap Marcel yang seperti itu. Marcel yang sekarang jauh lebih baik, dari Marcel yang dulu. Sikap kasarnya, telah tergantikan oleh sikap lemah lembutnya.
"Kamu minum dulu susunya, ya. Nanti baru sarapan." Marcel meletus segelas susu untuk istrinya itu. Amanda hanya tersenyum, dan segera meminum susu tersebut.
Setelah itu, Marcel mengambil piring lalu diisi dengan nasi dan juga lauknya. Marcel meletakkan piring tersebut di hadapan sang istri. Setelah itu Marcel juga mengambil piring untuk dirinya sendiri. Tak lupa diisi dengan nasi dan juga lauk. Keduanya sama-sama menikmati sarapan pagi dengan suasana yang cukup tenang.
Selesai sarapan, Marcel dan Amanda bersiap-siap untuk pergi ke makam kedua orang tua Amanda. Semenjak menikah, baru kali ini Amanda datang ke makam kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Marcel, pria itu juga baru pertama ini pergi ke makam mertuanya. Kini mereka sudah dalam perjalanan.
***
Kini Marcel dan Amanda sudah berada di pemakaman. Amanda jongkok di depan makam kedua orang tuanya, sementara Marcel jongkok di sebelah sang istri. Saat ini Amanda tengah menaburkan bunga di atas makam kedua orang tuanya. Tak terasa air matanya menetes, sudah hampir 15 tahun kedua orang tuanya berpulang.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu. Maafin Manda, ya, Manda baru bisa datang. Manda rindu sama kalian." Amanda tidak bisa menahan air matanya. Marcel yang melihat itu, dengan lembut mengusap punggung sang istri.
"Ayah, Ibu, kenalin dia Mas Marcel, suami Manda." Amanda tidak sanggup untuk berucap lagi. Wanita itu menyenderkan kepalanya di bahu sang suami, tangisnya pecah.
Marcel dapat merasakan tubuh Amanda yang bergetar, karena menangis. Pria itu membiarkan istrinya untuk meluapkan kesedihannya. Tak lupa tangannya mengelus lembut bahu istrinya, dan mencium pucuk kepala Amanda, agar wanitanya itu bisa merasa lebih tenang.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu. Perkenalkan, saya Marcel, suami putri kalian, Amanda. Kami menikah sudah lama, saya sangat mencintai Amanda, dan saya berjanji akan menjaganya, seperti saya menjaga nyawa saya sendiri." Marcel mencium kening Amanda. Sementara Amanda hanya diam, kini tangisannya sudah mulai reda.
Marcel kembali mencium kening istrinya dengan sangat lembut. Tiba-tiba handphone Marcel berdering, hal itu sukses membuat pria itu sedikit terkesiap. Takut ada yang penting, dengan terpaksa Marcel akan menerima telepon itu terlebih dahulu. Marcel berharap, semoga orang suruhannya yang meneleponnya.
"Sayang, aku angkat telepon dulu ya," ujar Marcel, dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.
Marcel bangkit, dan berjalan sedikit menjauh dari Amanda. Sementara itu Amanda masih jongkok di depan makam kedua orang tuanya. Wanita itu nampak masih sedih, sambil menunggu suaminya, Amanda mencabuti rumput liar yang berada di sekitar makam orang tuanya.
[ Bagaimana, ada kabar apa ]
[ Baik, saya tunggu kabar selanjutnya. Awas, jangan sampai gagal ]
Setelah itu panggilan telepon ditutup, Marcel nampak gelisah, lantaran orang suruhannya belum berhasil menangkap orang yang sudah meneror istrinya. Tiba-tiba saja Marcel merasa ada yang aneh, pria itu merasa jika ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya dan juga sang istri.
Tanpa sengaja Marcel melihat orang yang tengah sembunyi di balik pohon. Pakaiannya serba hitam, dan yang membuat Marcel terkejut adalah. Orang itu mengarahkan pistol kepada Amanda, bahkan orang itu sudah bersiap-siap untuk melepas peluru tersebut. Melihat itu, dengan cepat Marcel menyambar tubuh istrinya, agar dapat terhindar.
Dor, suara itu berhasil mengejutkan Amanda, wanita itu juga terkejut saat Marcel menyambar tubuhku dengan secepat kilat. Kini keduanya sama-sama terjatuh ke tanah, dengan posisi Marcel berada di bawah, semenjak Amanda berada di atas. Wanita itu benar-benar merasa takut, ia takut jika peluru itu mengenai tubuh suaminya.
__ADS_1