
Keesokan harinya, seperti biasa. Setelah shalat subuh, Amanda akan memulai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, bersih-bersih, nyuci baju, dan masih banyak lagi.
Amanda beruntung, meski tengah hamil muda. Tetapi rasa mual yang Manda alami tidak terlalu parah. Sehingga Amanda bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada alasan juga untuk manja dan bermalas-malasan.
Pukul 6 Amanda segera naik ke atas dan menuju ke kamar Marcel. Sebelum Amanda mendapat teriakan, wanita itu akan lebih dahulu melakukan apa yang sering Marcel suruhkan. Yaitu menyiapkan air untuk mandi dan juga pakaian kerjanya.
Setelah semuanya siap, Amanda buru-buru keluar dari kamar itu. Sebelum si singa bangun dan memangsanya. Amanda akan kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Alhamdulillah, masakannya sudah selesai," ucap Amanda. Wanita itu berjalan menuju ke dapur untuk mencuci peralatan dapur yang kotor.
Selang beberapa menit Marcel turun. Penampilannya sudah rapi, pria itu berjalan ke meja makan dan menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi. Amanda segera menghampirinya untuk meladeni sang suami.
Setelah itu Amanda memilih untuk kembali ke dapur. Wanita itu takut mengganggu mod suaminya itu. Sementara Marcel sama sekali tidak memperdulikan Amanda. Pria kejam itu asyik menyantap makanan yang Amanda sajikan.
"Wanita bodoh itu berguna juga. Aku tidak perlu mencari pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah ini." Marcel tersenyum sinis memandangi Amanda yang berjalan ke dapur.
Selesai sarapan, Marcel bergegas bangkit dari duduknya. Pria itu akan segera pergi ke kantor. Amanda yang melihat Marcel sudah selesai dengan sarapannya. Dengan cepat wanita itu berjalan menuju meja makan untuk membereskannya.
Sementara Marcel sudah dalam perjalananenuju ke kantor. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil Marcel membelah jalanan yang ramai akan kendaraan yang berlalu-lalang di pagi hari ini.
***
Marcel tiba di kantornya, pria itu segera berjalan menuju ke ruangannya. Setibanya di sana Marcel dikejutkan oleh kedatangan Angelina. Perempuan itu ternyata sudah lama menunggu Marcel.
"Sayang." Panggil Marcel. Pria itu berjalan menghampiri Angelina yang tengah duduk di sofa.
"Lama banget sih kamu datangnya. Jangan-jangan kamu habis berduaan sama istri kamu itu." Angelina memanyunkan bibirnya. Perempuan itu merasa jengkel dengan kekasihnya itu, Marcel.
Marcel yang paham dengan mod kekasihnya itu, dengan segera pria itu mengambil sebuah kotak kecil di saku jasnya. Marcel membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya di hadapan Angelina.
Seketika mata Angelina berbinar melihat berlian yang begitu indah. Senyum pun tak lepas dari bibir merah Angelina. Marcel mengambil berlian itu dan langsung memakainya di leher kekasihnya itu.
"Aku minta maaf ya, aku lama karena mengambil pesanan ini." Marcel mencium singkat bibir merah Angelina.
Angelina begitu bahagia mendapat hadiah dari Marcel. Seketika perempuan itu melingkarkan tangannya di leher Marcel. Bibir merahnya sangat menggoda, serta penampilannya yang begitu seksi membuat hasrat Marcel selalu meronta.
"Makasih ya Sayang, kamu memang pria yang pengertian." Angelina mencium bibir Marcel dengan sangat lembut.
Seketika Marcel melempas tangan Angelina yang melingkar di lehernya. "Sudah ya Sayang, aku tidak mau kita melakukan lebih dari ini."
Seketika bibir merah Angelina mengerucut. "Kenapa Sayang, kita kan saling mencintai. Sebentar lagi kita juga akan menikah."
"Iya Sayang aku tau. Tapi malam pertama kita enggak akan istimewa kalau mahkota kamu sudah terlepas." Marcel mencolek hidung Angelina, lalu membawanya dalam dekapannya.
Angelina semakin cinta terhadap Marcel. "Lalu kapan kita akan menikah."
"Kamu sabar dulu ya, secepatnya kita akan menikah," ujar Marcel.
"Makasih ya Sayang," sahut Angelina dengan senyum bahagia.
Marcel semakin erat mendekap tubuh kekasihnya itu. Ingin rasanya Marcel cepat-cepat menikahi perempuan yang selama ini ia cintai. Pria itu sama sekali tidak memikirkan perasaan Amanda.
***
Di rumah Amanda sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya. Dan siang ini Amanda berniat ingin mengantar makan siang ke kantor Marcel. Awalnya dia ragu, tapi semua itu Manda lakukan atas saran dari ibu mertuanya.
Makanan kesukaan Marcel sudah Manda siapkan. Setelah semua beres, wanita itu berjalan keluar dan menghampiri mang Agus untuk mengantarkannya ke kantor suaminya.
"Mang, tolong anterin Manda ke kantor mas Marcel ya," pinta Amanda dengan sopan.
"Baik Non. Mari." Mang Agus berjalan menuju garasi untuk mengambil mobil.
Setelah Amanda masuk, mobil itu perlahan berjalan keluar. Mobil berjalan membelah jalanan ibu kota yang ramai akan kendaraan. Amanda memilih melihat ke luar jendela. Senyum tak lepas dari bibirnya, meski ia tidak tau apa yang akan terjadi di kantor nanti.
__ADS_1
Mobil berhenti di pelataran kantor. Dengan cepat mang Agus membukakan pintu untuk Amanda. Setelah Amanda keluar, wanita itu berjalan masuk ke dalam kantor. Awalnya Amanda merasa canggung, tapi dengan percaya diri Amanda terus melangkahkan kakinya.
Karena merasa bingung, akhirnya Amanda bertanya kepada petugas resepsionis. "Maaf Mbak, ruangan pak Marcel di mana ya."
"Ada perlu ada ibu mencari pak Marcel," ujarnya.
Amanda terdiam sejenak. "Saya istrinya Mbak."
Sinta selaku petugas resepsionis itu segera menelepon Marcel. Setelah mendapat persetujuan dari Marcel. Sinta segera menunjukkan di mana ruangan Marcel.
"Mari Bu, saya antar ke ruangan pak Marcel." Sinta berjalan terlebih dahulu. Sementara Amanda mengikutinya dari belakang.
Selang beberapa menit, mereka tiba di depan ruangan Marcel. Sinta menunjuk ke pintu ruangan Marcel pada Amanda.
"Ini ruangan pak Marcel Bu," ucap Sinta.
"Baik Mbak, terima kasih." Amanda mengangguk dan tersenyum.
Setelah Sinta pergi. Dengan rasa ragu Amanda mengetuk pintu ruangan Marcel. Setelah beberapa menit tersebut suara dari dalam sana. Perlahan Amanda membuka pintu ruangan tersebut. Amanda melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Terlihat Marcel tengah duduk di kursi dengan menatap layar leptopnya. Jarinya masih berkutat di atas papan keyboard. Mendengar Amanda masuk, sekilas Marcel meliriknya.
Dengan pelan Amanda berjalan menghampiri Marcel.
"Ada apa?" tanya Marcel tanpa meliriknya.
"Manda bawain makan siang Mas," jawab Amanda.
Marcel menutup leptopnya dan berdiri menghampiri Amanda. Pria itu berjalan mengitari Amanda. Sementara Amanda hanya diam, tidak tau apa yang akan Marcel perbuat.
"Tadi kamu bicara apa saja di luar," ujar Marcel datar.
Amanda terdiam sejenak. "Maksud mas Marcel apa."
Marcel mendorong tubuh Amanda hingga jatuh ke lantai. Mata Amanda sudah berkaca-kaca, tapi wanita itu mencoba untuk tegar. Amanda sudah terbiasa dengan sikap kasar suaminya itu. Meski baru menikah beberapa hari, tapi hati Amanda seperti sudah keras.
Amanda bangkit dan menatap tajam ke arah Marcel. "Aku memang istri kamu Mas, kita menikah sah secara agama dan negara."
Amarah Marcel semakin memuncak, pria itu sangat tidak suka bila ada yang berani melawannya. Tanpa rasa kasihan Marcel menampar pipi Amanda hingga sudut bibirnya berdarah.
"Aku tidak suka jika mereka tau kamu itu istri aku. Asal kamu tau, aku menikahimu karena terpaksa, mengerti!" Bentak Marcel. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Amanda.
"Aku tau Mas, tapi bukan berarti Mas bisa mengelak kalau aku itu istri kamu," ujar Amanda.
"Aku ke sini cuma mau nganterin makan siang buat kamu." Amanda meletakkan rantang susun di atas meja. Setelah itu ia memilih untuk pergi. Percuma Amanda berlama-lama, yang ada nanti dia akan menjadi pelampiasan kemarahan Marcel lagi.
Marcel hanya menatap kepergian Amanda. Setelah itu Marcel membuka rantang yang Amanda letakkan di atas meja. Setelah di buka, senyum tersungging di bibir pria itu.
"Dari mana dia tau, kalau ini makanan kesukaan aku," gumam Marcel dalam hati.
Sementara itu, Amanda menyeka air matanya, dan mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Amanda berjalan keluar, wanita itu memilih untuk segera pulang. Hati dan fisiknya sudah terasa lelah.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah," batin Amanda.
Wanita itu terus melangkahkan kakinya keluar dari gedung tersebut. Setibanya di luar Amanda segera masuk ke dalam mobil. Setelah itu mobil pun segera melaju meninggalkan pelataran kantor.
***
Waktu terasa cepat berlalu, siang telah berganti menjadi malam. Pukul 8 malam Marcel sudah pulang dari kantor. Tapi pria itu tidak pulang ke rumah, melainkan pulang ke rumah orang tuanya.
Tujuan Marcel untuk membicarakan rencana pernikahannya dengan Angelina. Marcel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hanya 40 menit mobil Marcel sudah berhenti di halaman rumah orang tuanya.
Dengan segera Marcel keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Di dalam suasana nampak sepi. Pria itu terus masuk ke dalam, Marsel mengedarkan pandangannya. Di ruang tengah Marcel melihat ayah dan ibunya tengah duduk santai di sana.
__ADS_1
Marcel berjalan mendekati mereka. "Malam ma, pa."
"Marcel, kamu ke sini enggak bilang-bilang." Regina bangkit dan menghampiri putranya itu.
Marcel mencium punggung tangan ibunya itu. "Iya ma, soalnya Marcel dari kantor langsung ke sini."
Tak lupa Marcel juga mencium punggung tangan ayahnya. Setelah itu mereka pun duduk di sofa. Regina dan Gunawan merasa heran, kenapa tiba-tiba Marcel datang.
"Sepertinya ada yang penting, sampai sudah malam begini kamu bela-belain datang ke sini," ujar Gunawan.
Marcel hanya tersenyum. "Papa tau aja. Memang ada yang penting, yang harus Marcel bicarakan dengan mama dan papa."
"Kamu mau bicara apa," timpal Regina.
Marcel terdiam sejenak. "Marcel berniat untuk menikah dengan Angelina ma, pa."
Seketika Regina dan Gunawan terlonjak kaget mendengar ucapan putranya itu. Keduanya tidak habis pikir kenapa Marcel begitu kekeh untuk menikah lagi. Padahal dia sudah menikah.
"Marcel, apa kamu sudah memikirkan itu semua. Kamu sudah menikah Nak." Regina mencoba untuk bersikap tenang.
"Ma, sebelumnya Marcel kan sudah bilang. Marcel setuju menikahi Amanda, tapi dengan syarat. Marcel akan menikah lagi dengan perempuan yang Marcel cintai," jelas Marcel.
"Papa tidak setuju," sergah Gunawan.
"Mama juga tidak setuju," timpal Regina.
Marcel terdiam sejenak. "Terserah, Marcel tidak peduli. Marcel hanya ingin memberitahu kalian saja."
"Marcel, kamu itu sudah menikah. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Amanda, kalau kamu sampai menikah lagi," seru Gunawan.
"Marcel tidak peduli pa, yang jelas Marcel tetap akan menikah lagi," kekeh Marcel.
Gunawan mendesah. Anaknya itu memang keras kepala. Kalau sudah menjadi keinginannya, itu harus terpenuhi. Tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Regina bangkit dari duduknya. "Ingat Marcel, suatu saat nanti kamu akan menyesal dengan keputusan kamu itu."
Regina melangkah pergi meninggalkan Marcel dan juga suaminya. Wanita itu benar-benar kecewa dengan keputusan putranya itu. Sementara Marcel bergegas bangkit dan pergi.
"Marcel pulang pa." Marcel berjalan keluar dari rumah orang tuanya.
Dalam perjalanan pulang, Marcel terus kepikiran ucapan orang tuanya yang tidak menyetujui keputusan yang telah ia buat. Tapi seorang Marcel, tidak akan menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.
***
Selang beberapa menit mobil Marcel berhenti di halaman rumahnya. Marcel bergegas turun dan segera masuk ke dalam. Setibanya di dalam pria itu segera mencari sosok Amanda.
"Amanda." Teriak Marcel.
Amanda yang mendengarnya segera bergegas turun dan menghampiri sang suami. "Mas Marcel sudah pulang."
"Aku mau bicara sama kamu." Marcel berjalan menuju sofa dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sana.
Amanda pun berjalan menghampiri Marcel dan duduk berseberangan dengan Marcel. Marcel menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Sejujurnya dalam hati Marcel sangat berat untuk mengatakan hal itu.
Namun egonya terlalu besar. Saat ini Marcel hanya ingin menyenangkan hatinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.
"Mas mau bicara apa?" tanya Amanda. Hal itu mampu membuat Marcel tersadar dari lamunannya.
"Aku dan Angelina akan segera menikah," ungkap Marcel.
Jleb. Bagai di tusuk seribu belati tajam. Hati Amanda benar-benar hancur mendengar ungkapan suaminya itu. Amanda tidak dapat menahan air matanya lagi. Tapi Amanda sadar diri, Marcel menikahinya hanya karena terpaksa. Jadi jika Marcel akan menikah lagi, Amanda tidak ada hak untuk melarangnya.
Amanda menyeka air matanya. "Itu terserah mas Marcel saja, aku enggak ada hak untuk melarangnya. Aku sadar diri kok mas, mas Marcel menikahiku karena terpaksa. Aku bahagia kalau Mas bahagia."
__ADS_1
Amanda bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ke kamar. Marcel masih terdiam, setelah mendengar pertanyaan yang Amanda katakan. Ada guratan kecewa dalam diri Marcel, tapi lagi-lagi egonya yang tinggi telah mengalahkannya.