
Penyesalan memang selalu datang terlambat, setelah semuanya terjadi dan tidak sesuai dengan keinginan kita, di situ kita baru merasa bersalah. Rasa sesal pun akhirnya datang, seperti yang Marcel rasakan sekarang, andai saja ia tidak terbawa emosi, tidak mungkin Marcel meninggalkan Amanda.
Namun semua telah terjadi, menyesal pun sudah tidak ada gunakan lagi. Setelah Marcel menanda tangani surat persetujuan, kini Amanda tengah menjalani operasi, pria itu tidak henti-hentinya berdo'a, agar operasinya berjalan dengan lancar tidak ada kendala apapun. Marcel terus saja mondar-mandir tidak jelas, pikirannya benar-benar kacau.
Regina bisa merasakan apa yang sedang putranya rasakan sekarang. Perempuan paruh baya itu hanya bisa berdo'a, semoga operasi berjalan dengan lancar, dan semoga setelah kejadian ini, putranya benar-benar berubah. Marcel mau menerima Amanda sebagai istrinya, dan bisa mencintai serta menyayangi wanita itu.
Hampir dua jam, Marcel menunggu di depan ruang operasi. Pria itu sudah kehabisan posisi, duduk, berdiri, berjalan mondar-mandir tak jelas. Pikirannya juga kacau, yang ada dalam benaknya saat ini adalah Amanda. Selang beberapa menit pintu ruangan operasi terbuka, seorang Dokter keluar lengkap dengan baju operasi.
Senyum menghiasi wajah tampan Marcel, dengan segera pria itu berjalan menghampiri Dokter tersebut. Begitu juga dengan Regina dan juga Indra, rasa senang, dan juga bercampur dengan debaran jantung yang entah. Perasaannya mereka campur aduk.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya. Operasinya berjalan dengan lancar, 'kan." Marcel benar-benar tidak sabar ingin mengetahui keadaan Amanda.
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Tapi untuk saat ini kondisi istri Bapak masih lemah, terlebih bukan hanya pendarahan saja yang ibu Amanda alami. Dalam paru-parunya terdapat air, lalu luka lebam di sebagian tubuhnya. Sepertinya ibu Amanda bukan hanya jatuh dari tangga, tapi dia juga mengalami tindak kekerasan," jelas sang Dokter.
Persendian Marcel terasa lemas, perasaan bersalah semakin menghantuinya. Tak terasa tangannya mengepal, rahangnya pun mengeras. Marcel tau, siapa yang sudah membuat Amanda seperti itu, ia berjanji akan memberi pelajaran yang setimpal, pada orang yang sudah membuat Amanda merasakan sakit seperti itu.
"Dok, saya ingin menemui istri saya," pinta Marcel.
"Bisa, tapi nanti ya. Setelah ibu Amanda dipindahkan ke ruang perawatan," ucap sang Dokter. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah itu Dokter pun berlalu pergi, Regina mengusap punggung putranya itu, untuk memberinya kekuatan. Sementara Indra memilih duduk di kursi tunggu, pria itu berharap semoga putranya bisa berubah setelah kejadian ini. Indra merasa kurang becus dalam mendidik anak, bukan seperti ini yang dia inginkan.
30 menit telah berlalu, kini Amanda sudah dipindahkan ke ruang rawat. Regina dan Indra membiarkan putranya terlebih dahulu untuk masuk. Karena bagaimanapun juga Marcel adalah suaminya, perlahan pria itu berjalan mendekati brangkar, di mana tubuh Amanda terbaring lemah. Marcel menarik kursi lalu menjatuhkan bobotnya.
Lagi-lagi air cairan bening itu menetes, mungkin sekarang orang akan menganggap Marcel itu lemah. Ya biarpun pria itu memiliki wajah yang tegas, dan sikapnya yang kasar, tapi dia juga manusia, bisa merasakan sakit. Perlahan Marcel meraih tangan Amanda, lalu menciumnya. Rasa bersalah selalu berputar di benaknya.
"Maafkan aku, Sayang. Semua ini memang salahku, andai saja aku tidak pergi, mungkin ini semua tidak akan terjadi," ucap Marcel penuh penyesalan. Marcel menempelkan punggung tangan Amanda di pipinya.
"Aku janji akan membuat perhitungan dengan dia, aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal." Marcel mencium punggung tangan Amanda dengan lembut.
Setelah hampir setengah jam, Marcel memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Pria itu akan menepati janjinya, Marcel akan mengurus orang yang sudah membuat Amanda celaka. Tapi sebelum itu, Marcel telah berpesan kepada ibunya untuk menjaga Amanda, selama ia pulang.
***
Marcel sudah tiba di rumah, pria itu berjalan masuk ke dalam, rumah nampak sepi, hanya ada bi Siti dan mang Agus. Marcel bergegas masuk ke dalam kamar, yang dia cari adalah perempuan ular itu, tapi hasilnya nihil. Angelina sudah kabur, tapi anehnya semua barang-barangnya masih ada. Setelah itu Marcel memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya.
Entah kenapa, sekarang Marcel baru teringat untuk mengecek rekaman cctv yang berada di rumahnya. Pria itu segera menarik kursi, lalu duduk, Marcel mulai membuka rekaman cctv tersebut, ia memeriksa semua yang telah terekam. Sampai akhirnya Marcel melihat apa yang telah ia cari, yaitu bukti perlakuan Angelina terhadap Amanda.
Setelah mendapat bukti itu, Marcel segera menyalinnya. Itu akan menjadi bukti agar Marcel bisa menjebloskan Angelina ke penjara. Marcel menundukkan kepalanya, dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ini semua karena kebodohannya, kenapa tidak dari dulu, Marcel mengecek rekaman cctv tersebut. Kalau saja Marcel tau lebih awal, mungkin semua tidak akan terjadi.
Marcel tidak akan tinggal diam, pria itu segera mengambil benda pipih miliknya, untuk menelfon seseorang.
[ Halo ]
[ Bereskan Angelina ]
Setelah itu Marcel menutup sambungan teleponnya. Pria itu segera bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Marcel masuk ke dalam kamar yang Amanda tempati, pria itu melihat isi kamar tersebut, di mana selama menikah, Amanda tidur di kamar tersebut. Sedangkan dirinya tidur dengan perempuan ular.
__ADS_1
Marcel berjalan mendekat ke arah ranjang, pria itu duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada buku yang terletak di atas nakas, karena penasaran, Marcel mengambil buku tersebut. Perlahan Marcel membukanya dan membaca isi buku itu.
'Genap dua bulan sudah aku ( Amanda ) dan mas Marcel menikah. Tapi sampai detik ini, tidak ada yang berubah darinya ( Marcel ), dia selalu menunjukkan sikap angkuh dan juga kejam. Mungkin memang tidak ada cinta di hatinya untukku. Meski mas Marcel sering menyiksaku, dan tidak menganggapku sebagai istrinya, tapi aku tidak akan membalas semua itu dengan rasa benci dan juga dendam.
Aku memang wanita kotor, tapi aku bukan wanita murahan. Aku juga ingin merasakan bahagia seperti yang lainnya, aku juga ingin di sayang oleh pria yang telah sah menjadi suami. Tapi mungkin itu hanya angan-angan saja, semua hanya mimpi semata.
Dinding yang kamu buat mungkin sangat kuat, tapi aku yakin, perlahan dinding itu akan luntur dan juga akan hancur. Aku akan menghancurkan dinding itu dengan kelembutan dan juga kasih sayang. Seiring berjalannya waktu, aku pasti akan mendapatkan hatimu, dan mungkin cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Saat ini aku hanya bisa berdo'a, semoga keajaiban akan berpihak kepadaku'
Hati Marcel serasa teriris setelah membaca tulisan itu, betapa sabarnya Amanda dalam menghadapi sikap Marcel yang kejam itu. Amanda memang wanita yang hebat, dia layak mendapatkan kebahagiaan, dan mungkin Marcel tidak pantas untuk mendapatkan cinta Amanda.
"Maafkan aku, Sayang. Aku memang pria bodoh, aku tidak bisa melihat ketulusan kamu. Aku janji, aku akan mengembalikan kebahagiaan kamu, aku akan membuat kamu menjadi wanita yang paling bahagia." Marcel mengambil bingkai foto pernikahannya, lalu menciumnya.
Setelah itu Marcel memutuskan untuk keluar dari kamar Amanda. Kini ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya sendiri, Marcel segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin dengan mandi, nanti pikirannya akan kembali fresh. Dan dia akan bersiap untuk mengubah hidupnya agar lebih baik.
***
Hari telah berganti, setelah kejadian itu, Marcel memutuskan untuk segera mengurus perempuan ular itu. Pria itu lega, setelah mendapat kabar jika polisi berhasil menangkapnya, dan kini Angelina sudah berada di balik jeruji besi. Bukan itu saja, Marcel juga sudah mengurus surat perceraiannya dengan perempuan itu.
Mungkin semua yang Marcel lakukan tidak dapat menebus kesalahannya. Marcel sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Amanda, penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi Marcel yakin, ia masih memiliki harapan untuk bisa hidup bersama dengan Amanda. Marcel berjanji akan membahagiakan istrinya itu.
Pagi ini Marcel sudah bersiap-siap untuk ke kantor polisi, pria akan menyerahkan surat perceraiannya dengan Angelina.
Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi, Marcel ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dengan perempuan ular itu. Setelah itu ia akan ke RS untuk menemui sang istri.
Mobil Marcel sudah berhenti di pelataran kantor polisi, dengan cepat pria itu keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Setelah di dalam Marcel bergegas menemui polisi yang berjaga, dan meminta izin untuk bertemu dengan Angelina. Setelah diizinkan, Marcel segera menunggunya di ruang tunggu.
"Sayang, kamu kok gitu sih. Kamu enggak kangen sama aku ya." Angelina langsung memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba Marcel menyodorkan sebuah kertas pada Angelina. "Dengan ini, kamu akan paham, untuk apa aku datang ke sini."
Angelina menerima kertas tersebut, dengan rasa penasaran yang tinggi. Angelina segera membukanya dan membacanya.
Seketika mata Angelina membulat sempurna, mulutnya pun menganga tak percaya dengan apa yang telah Marcel lakukan. Perempuan itu sangat kecewa dengan keputusan yang Marcel buat.
"Mas, ini apa maksudnya ... cerai, Mas nyerein aku." Angelina menatap wajah Marcel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, kita cerai," ujar Marcel tanpa menatap ke arah Angelina.
"Tapi Mas ... Mas nggak ingat, kalau aku lagi hamil," ujar Angelina dengan memasang wajah melasnya.
"Aku tidak akan lupa kalau kamu sedang hamil. Tapi sayangnya, anak itu bukan anak aku, tapi kamu tenang saja. Setelah kamu keluar dari penjara, ayah dari anak itu akan datang menjemput kalian. Kebohongan dan kejahatan yang sudah kamu perbuat, tidak akan merubah keputusanku," terang Marcel. Matanya menatap tajam ke arah Angelina.
Angelina terdiam, perempuan itu tidak menyangka kalau Marcel sudah tau tentang kebohongan yang telah dia perbuat. Sekarang pikiran Angelina benar-benar kacau, tidak ada harapan lagi untuk bisa menaklukkan hati Marcel, pria itu sudah membencinya. Usahanya sia-sia selama ini, belum sempat Angelina menguasai kekayaan milik Marcel, pria itu sudah terlebih dahulu melemparnya.
Setelah itu Marcel melangkahkan kakinya keluar, Angelina hanya bisa menatap punggung pria itu yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Percuma Angelina mencegahnya, Marcel pasti akan tetap pergi.
Sementara itu, Marcel segera melajukan mobilnya menuju ke RS, sudah hampir 3 hari Marcel belum ke RS. Pria itu sengaja karena sebelum urusannya selesai, Marcel tidak akan menemui Amanda, meski dalam hatinya merasa sangat rindu.
__ADS_1
***
Mobil Marcel sudah berhenti di pelataran RS, dengan cepat Marcel keluar dan melangkah masuk ke dalam. Pria itu berjalan tergesa-gesa, rasanya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita yang sangat ia rindukan. Rindu, sekarang Marcel bisa merasakan arti rindu yang sesungguhnya, tidak seperti saat bersamaan dengan Angelina.
Terkadang lisan berkata rindu, tapi hati berkata lain. Tapi sekarang berbeda lagi, selama hampir 3 hari tidak melihat wajah Amanda, rasanya seperti sudah ada sebulan tidak bertemu. Kini Marcel sudah berada di depan pintu ruang rawat Amanda, tanpa menunggu waktu lagi, Marcel membuka pintu tersebut dengan perlahan.
Mata Marcel tertuju pada brangkar di mana Amanda masih terbaring di sana. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik, Regina yang menyadari jika putranya sudah datang, dengan segera ia bangkit dan menghampirinya. Regina berjalan mendekati Marcel yang masih berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum." Marcel mencium punggung tangan Ibunya.
"Wa'alaikumsalam, akhirnya kamu datang juga. Dari kemarin Amanda nanyain kamu terus," ujar Regina. Marcel tersenyum mendengar pernyataan itu.
"Oya, apa semuanya sudah kamu selesaikan," sambung Regina, manik matanya menatap lekat ke arah putranya itu.
Marcel mengangguk. "Alhamdulillah, sudah ma."
"Syukurlah, ya sudah mama pulang dulu ya. Kamu jagain Amanda ya," kata Regina.
"Iya ma. Makasih ya ma, mama sudah mau jagain Amanda selama Marcel tidak ada," ujar Marcel.
Regina tersenyum, lalu mengusap lembut punggung putranya itu. "Sama-sama Sayang."
Regina pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Amanda. Setelah itu Marcel berjalan mendekati brangkar di mana Amanda terbaring, pria itu menarik kursi untuk duduk.
Saat ini Amanda tengah tertidur, perlahan Marcel meraih tangan wanitanya itu. Menggenggamnya dengan erat, lalu menciumnya.
Merasa ada yang menempel di punggung tangannya, perlahan Amanda mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu membukanya. Amanda tersenyum saat tau jika yang berada di sampingnya kini adalah sosok pria yang ia rindukan. Marcel tersenyum melihat wanitanya membuka mata dan tersenyum manis kepadanya.
"Selamat siang, Sayang." Marcel bangkit, lalu membungkukkan badannya dan mencium kening Amanda.
"Selamat siang, Mas." Amanda tersenyum.
Marcel terdiam, pria itu memandangi wajah cantik istrinya itu. Marcel bingung harus memulainya dari mana, ia takut jika Amanda membencinya. Begitu banyak kesalahan yang sudah Marcel perbuat, masih adakah maaf untuknya. Apakah Amanda mau memaafkan semua kesalahannya, kesalahan yang sudah tidak dapat dihitung.
Marcel menggenggam erat tangan Amanda. Pria itu menundukkan kepalanya lalu menempelkan genggaman tangannya pada keningnya. Amanda yang melihat itu merasa heran, apa lagi saat merasa tangannya basah, apa mungkin Marcel menangis. Wanita itu benar-benar merasa sangat bingung dengan perubahan suaminya itu.
"Mas Marcel kenapa?" tanya Amanda.
"Maaf, tolong maafkan aku Amanda. Aku memang suami yang tidak berguna, aku pria bodoh, yang tidak bisa melihat ketulusan seorang wanita. Tolong maafkan aku," ungkap Marcel. Pria itu masih menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Amanda sudah memaafkan semua kesalahan Mas, sebelum mas Marcel meminta maaf." Mata Amanda mulai berkaca-kaca.
Marcel mendongak dan menatap wajah istrinya yang tersenyum. Marcel bangkit, lalu menarik tangan Amanda, dan membawanya dalam dekapannya. Beribu rasa terima kasih Marcel ucapkan, Amanda tidak tau harus bicara apa lagi. Wanita itu hanya mengangguk, seraya menikmati dekapan hangat dari sang suami.
Dekapan yang selama ini Amanda dambakan, dekapan yang belum pernah Amanda rasakan. Kini wanita itu sudah mendapatkannya, dan merasakannya. Sungguh tidak bisa Amanda pungkiri, ia benar-benar merasa bahagia, meski hanya perlakuan sesederhana itu. Tidak ada yang lebih hangat dari apapun, selain dekapan dari sang suami.
Marcel semakin mempererat dekapannya, sementara Amanda semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Merasakan aroma tubuh pria yang sudah sah menjadi suaminya. Merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.
__ADS_1