
Sejak hari itu, Amanda merasa jika kebahagiaannya akan bertambah. Meski dalam hatinya merasa sedih dengan peristiwa yang menimpa orang tuanya dulu. Tapi wanita itu yakin, semuanya akan ada hikmah, Amanda juga yakin, kalau suatu saat nanti, orang yang sudah menghancurkan keluarganya pasti akan mendapatkan balasannya.
Sejenak Amanda melupakan Angelina. Meski ia akui, jika Amanda merasa iba dengan nasib yang menimpa perempuan itu. Bagaimanapun juga, Angelina pernah menjadi bagian dari keluarganya. Kini Amanda memilih fokus untuk mengurus suaminya, sekaligus mencari cara agar bisa merebut apa yang seharusnya menjadi haknya.
Hari demi hari telah berganti, Amanda mulai merasakan hal-hal yang aneh. Seperti sering mual setiap pagi hari, tidak senang dengan bau-bau yang menyengat. Seperti parfum, dan yang lain. Hal itu membuat Marcel jarus menahan kesabarannya, karena setiap kali pria itu memakai parfum, Amanda selalu protes. Bahkan sampai-sampai dibuang, padahal baru saja dibelinya.
Seperti pagi ini, Marcel ketahuan memakai parfum, saat hendak berangkat ke kantor. Dengan paksa Amanda mengambil perfume tersebut, lalu membuangnya begitu saja. Marcel hanya membuang nafas, pasrah. Bukan begitu saja, Amanda juga melepas pakaian yang Marcel pakai, dan menggantinya dengan yang lain.
Seperti pagi ini. Marcel ketahuan memakai parfum, Amanda yang mengetahuinya dengan cepat menghampiri suaminya. Menutup hidung, lalu menarik lengan kekar Marcel, agar pria itu mau mengganti pakaiannya. Awas Marcel menolak, tapi Amanda begitu hebat, sampai-sampai Marcel mau menurutinya.
"Ganti bajunya, Mas." Amanda terus menarik-narik lengan suaminya itu.
"Bau banget tau," imbuhnya, yang langsung memanyunkan bibirnya.
"Sayang, cuma sedikit doang kok," kekeh Marcel.
"Bau, Mas." Amanda menjewer telinga Marcel, hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Aduh, sakit Sayang." Marcel memegangi telinganya, yang masih terasa panas bin sakit.
"Makanya, buruan ganti," ujar Amanda, dengan nada sedikit tinggi.
Marcel hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai Marcel pun keluar, Amanda tersenyum lalu berjalan menghampiri sang suami untuk merapatkan pakaiannya. Setelah selesai keduanya bergegas turun untuk sarapan.
Setelah di meja makan, Amanda segera meladeni suaminya itu. Marcel tak henti-hentinya memandangi wajah cantik istrinya itu. Walaupun sejak hamil sering membuatnya kesal, tapi jujur Marcel tidak bisa melihat wanitanya sedih. Sebab itu, sebisa mungkin Marcel akan menuruti setiap keinginannya.
Selesai sarapan, Marcel bersiap-siap untuk segera berangkat ke kantor. Setelah berpamitan dengan sang istri, Marcel bergegas keluar menuju ke depan. Tak lupa Amanda mengantar suaminya sampai di depan pintu. Perlahan mobil yang Marcel naiki berjalan meninggalkan halaman rumah, setelah mobil tak terlihat lagi, Amanda segera masuk ke dalam.
***
Mobil Marcel sudah berhenti di pelataran kantor, pria itu segera turun dan berjalan masuk ke dalam gedung. Banyak karyawan yang menyapanya, tapi hanya senyuman kecil, dan anggukan yang Marcel berikan. Pria itu bergegas masuk ke ruangan-ruangan, karena ada banyak berkas yang sudah menantikan.
Setelah tiba di ruangannya, Marcel segera duduk di kursi kebesarannya. Pria itu langsung membuka berkas yang sudah menumpuk di hadapannya. Tapi baru saja hendak membukanya, tiba-tiba handphone-nya berdering, dengan segera Marcel mengamati benda pipih tersebut.
Satu pesan diterima, dengan segera Marcel membacanya. Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, setelah membaca pesan dari istrinya itu. Amanda menyuruh Marcel untuk membelikannya tahu gejrot saat pulang dari kantor nanti, tapi yang membuat Marcel heran adalah, tepat pukul 5 sore Marcel sudah harus sampai di rumah.
Setelah itu Marcel kembali meletakkan handphonenya, dan akan memulai pekerjaannya. Marcel mulai membuka berkas tersebut satu persatu, mengeceknya dengan sangat teliti, karena Marcel tidak mau ada kesalahan sekecil apapun dalam pekerjaan yang karyawan berikan.
Selang beberapa menit, terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan segera Marcel menyuruhku untuk masuk, pintu ruangan terbuka, seorang wanita masuk salah satu karyawati di perusahaan Marcel. Wanita itu berjalan menghampiri meja bosnya itu dengan membawa map berwarna biru.
"Siang Pak, maaf mengganggu," ucap wanita itu dengan sopan.
Marcel mendongak. "Laras, ada apa."
"Saya mau memberitahukan soal ini Pak." Laras menyodorkan map tersebut, agar bosnya membacanya secara langsung.
Marcel meraih map tersebut, lalu membukanya dan mulai membacanya. Mata Marcel melotot setelah membaca isi map tersebut. Sebuah perusahaan tengah Dianna kebangkrutan, dan meminta bantuan dana pada perusahaan Marcel. Dan yang membuat Marcel kaget adalah, nama perusahaan itu sangat tidak asing baginya.
"Laras, siapa nama pemimpin perusahaan ini. Kenapa di sini tidak tertera namanya?" tanya Marcel.
"Kalau tidak salah Bapak Hilman Natawijaya Pak," jawab Laras.
Marcel terdiam, itu adalah nama Ayah mertuanya, orang yang sudah mengambil semua yang istrinya miliki. Termasuk perusahaan yang kini Hilman kelola, dan perusahaan itu tengah diambang kebangkrutan. Marcel tidak menyangka kalau Hilman akan meminta bantuan kepadanya, tapi hal itu, akan membuat Marcel dengan mudah untuk merebut kembali hak istrinya itu.
__ADS_1
"Nanti siang saya akan menemuinya di cafe depan, setelah jam makan siang." Marcel menyerahkan map itu kembali pada Laras.
"Baik Pak, saya permisi." Laras pun bergegas keluar dari ruangan bosnya itu.
"Sayang, aku berjanji secepatnya apa yang menjadi hak kamu, akan segera kembali ke tangan kamu," gumam Marcel dalam hati.
Setelah itu Marcel kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Marcel sudah berada di cafe yang terletak di depan kantornya. Pria itu tengah menunggu orang yang sudah lama ia cari, orang yang sudah tega menghancurkan keluarganya sendiri. Selang beberapa menit seorang pria paruh baya datang menghampirinya.
"Maaf Tuan, saya terlambat," ucap pria itu.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk." Marcel menoleh dan menyuruhnya untuk duduk.
Seketika mata pria itu membulat, pria itu tidak menyangka kalau orang yang ia temui adalah Marcel. Pemuda yang telah ia paksa untuk menikahi putri angkatnya, demi untuk menutupi aibnya. Pria itu adalah Hilman, Ayah angkat Amanda, yang tak lain adalah adik kandung almarhum Ayah Amanda.
"Maaf, saya tidak tau kalau .... "
"Silahkan duduk," potong Marcel dengan cepat.
Dengan sedikit ragu, Hilman pun menarik kursi dan duduk. Pria itu terus membuang pandangannya, ia sungguh sangat takut melihat tatapan tajam dari Marcel.
Sementara Marcel masih diam, ia akan mencari cara untuk bisa merebut hak istrinya itu, kehancuran Hilman ada di tangannya kini.
"To the points saja, saya tau maksud dan tujuan anda. Saya akan membantu perusahaan anda, tapi dengan satu syarat," ujar Marcel tanpa basa-basi. Tapi hal itu membuat Hilman terkejut.
"Syarat ... maksudnya, syarat apa?" tanya Hilman, penasaran.
Hilman terdiam, pria itu benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Hilman tidak tau jika Marcel sudah mengetahui hal itu, dan sekarang dirinya dalam bahaya. Marcel tidak bisa dianggap remeh, apa yang sudah menjadi keinginannya, maka harus dia dapatkan, dengan cara apapun.
"Dari mana .... "
"Cukup. Saya hanya butuh jawaban, menyerahkannya, atau mempertahankannya." Lagi-lagi Marcel memotong ucapan Hilman.
Keringat dingin mulai membanjiri pelipis Hilman, pria itu tidak tau harus berbuat apa lagi. Takut, jujur Hilman memang takut, tapi keegoisan dan keangkuhannya berhasil membuat pria itu tetap kekeh untuk mempertahankannya. Dan Hilman akan mencari orang lain untuk membantunya.
"Kamu pikir hanya kamu saja orang terhebat, dan terkaya di dunia ini. Cih, masih banyak orang hebat, yang lainnya, permisi." Hilman berlalu dari hadapan Marcel.
Sementara Marcel tersenyum miring, mengingat jika kehancuran Hilman ada di tangannya. "Lihat saja nanti, siapa yang akan menang, dan siapa yang akan hancur."
***
Waktu terasa cepat berlalu, pukul 4 sore Marcel baru saja selesai dengan pekerjaannya. Pria itu kini tengah menyenderkan kepalanya di punggung kursi. Memejamkan matanya sejenak, rasa capek dan letih telah menggerogoti tubuhnya. Ingin sekali rasanya Marcel merebahkan tubuhnya, agar bisa menghilangkan rasa capek itu.
Namun, tiba-tiba Marcel teringat akan pesanan istrinya. Bisa gawat kalau sampai telat pulang, bisa-bisa Marcel tidak diizinkan masuk ke rumah. Bahkan bukan itu saja, Marcel juga akan tidur di luar jika sampai tidak pulang tepat waktu. Dengan cepat Marcel merapikan meja kerjanya, setelah itu Marcel menyambar jas dan kunci mobilnya.
Marcel berjalan lebih cepat agar ia cepat sampai di parkiran. Setelah itu Marcel masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Tujuan pertamanya adalah mencari penjual tahu gejrot, pesanan sang istri. Hampir setengah jam Marcel baru bisa menemukan tukang penjual tahu gejrot. Tapi yang membuat Marcel geleng-geleng kepala adalah.
Antriannya seperti kereta. Tau 'kan, kereta panjangnya seperti apa, bisa-bisa Marcel kena hukuman lagi, kalau sampai telat pulang.
Marcel berfikir sejenak, mencari cara agar bisa dapat makanan yang istrinya pesan itu, tanpa harus menunggu lama. Setelah cukup lama berfikir, Marcel mendapat ide, dengan cepat pria itu keluar dari mobil.
Marcel berjalan mendekati tukang penjual tahu gejrot tersebut, entah apa yang akan Marcel lakukan. "Maaf Bang, bisa bungkusin dulu nggak, satu porsi."
__ADS_1
"Sebentar ya Pak, yang antri masih banyak," ucap penjual tersebut.
"Tolonglah Bang, istri saya lagi ngidam." Marcel memohon agar penjual tersebut, agar mau membungkuskannya terlebih dahulu.
Penjual itu hanya diam, sementara Marcel tidak henti-hentinya memohon. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya tukang penjual itu memberikan pesanan Marcel, dengan senyum yang mengembang, Marcel menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan. Tanpa menunggu kembalian, Marcel bergegas pergi, tak lupa mengucapkan terima kasih.
Marcel segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali Marcel membunyikan klakson agar mobil di depannya mau memberikan jalan. Handphone yang sedari tadi bunyi, terpaksa Marcel abaikan. Pria itu terus fokus untuk menyetir, setelah cukup lama dalam perjalanan, kini mobil Marcel sudah berhenti di halaman rumah.
Marcel buru-buru keluar dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sesekali Marcel melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore.
Marcel berteriak memanggil sang istri, tapi tak ada sahutan darinya. Setelah itu Marcel memutuskan untuk menuju ke kamar.
"Sayang, aku pulang. Ini pesanan kamu." Marcel membuka pintu kamarnya. Matanya tertuju ke arah wanita yang tengah berdiri dengan berdecak pinggang.
"Sayang, ini pesanan kamu." Marcel berjalan mendekati sang istri, dan menyodorkan kantong kresek yang ia bawa.
"Mas telat satu detik. Manda sudah nggak pengen makan tahu itu." Amanda melenggang pergi meninggalkannya Marcel, yang masih berdiri mematung.
Marcel menghembuskan nafasnya, pria itu berjalan lalu meletakkan jasnya di atas sofa. Setelah itu Marcel keluar dari kamar untuk menemui sang istri. Bisa bahaya kalau Amanda ngambek, dengan cepat Marcel berjalan menuruni anak tangga. Marcel mengedarkan pandangannya, untuk mencari sosok wanita yang ia cari.
Marcel berjalan mendekati sang istri yang tengah berada di dapur. Wanita itu tengah berkutat dengan peralatan dapur. Meski tengah marah, tapi Amanda tidak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri. Amanda tengah memasak untuk makan malam nanti. Wanita itu tersentak saat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
"Sayang, jangan ngambek ya," bisik Marcel tepat di telinga sang istri.
Diam, Amanda hanya diam, wanita itu terus fokus pada aktivitasnya. Sementara Marcel semakin mempererat pelukannya, bahkan pria itu meletakkan dagunya di bahu sang istri. Marcel terus memperhatikan istrinya yang tengah memasak, sementara Amanda sama sekali tidak menghiraukan tingkah suaminya itu.
Setelah selesai memasak, Amanda segera menyiapkan makanan tersebut di atas meja. "Bisa lepas enggak, Mas."
"Enggak, kalau kamu masih ngambek," kekeh Marcel. Pria itu justru sibuk memeluk dan menciumi pipi istrinya itu.
"Mas, mau makan apa enggak," tawar Amanda. Wanita itu mengangkat piring yang berisi makanan kesukaan suaminya itu.
Marcel melirik makanan tersebut, seketika perutnya berbunyi untuk segera diisi dengan makanan buatan istrinya itu. Marcel melepaskan pelukannya, tapi sebelum itu Marcel mencium kedua pipi Amanda secara bergantian. Setelah itu Marcel berjalan menuju meja makan.
Dengan cepat Amanda meladeni sang suami, sementara Marcel begitu menikmati masakan yang sang istri buat. Keduanya menyantap makan malam dalam keheningan, tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Setelah selesai, Amanda bergegas untuk membereskan meja makan.
***
Malam semakin larut, Marcel dan Amanda kini sudah larut dalam alam mimpi. Awalnya Amanda melarang Marcel untuk tidur di kamar, itu karena pria itu telat dalam membawa pesanannya. Tapi Amanda tidak tega jika membiarkan suaminya tidur di luar, itu sebabnya Amanda memperbolehkan Marcel untuk tidur di kamar.
Pukul 01.00 dini hari Amanda terbangun, wanita itu melirik pria yang tengah berbaring di sampingnya. Wajah Marcel terlihat begitu damai, saat tidur seperti itu. Tapi tiba-tiba saja Amanda ingin sekali memakan sesuatu, dengan cepat Amanda mengguncang tubuh suaminya agar terbangun.
"Mas, bangun." Amanda mengguncang tubuh Marcel.
"Sayang, ada apa," ucap Marcel dengan mata yang masih terpejam.
"Aku pengen makan seblak, Mas." Amanda terus menarik-narik lengan suaminya itu.
Seketika mata Marcel terbuka, pria itu melirik jam yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari, setelah itu Marcel kembali melirik wanita yang berada di sampingnya. Sementara Amanda terus merengek meminta seblak, ujian lagi bagi Marcel.
"Besok ya, Sayang. Ini masih malam, nggak ada yang jualan," ucap Marcel dengan lembut.
"Aku enggak nyuruh Mas buat beli. Mas 'kan bisa buat sendiri, di dapur ada bahannya, tadi siang Amanda sudah beli ... ayo buruan Mas, Mas mau nanti anaknya .... "
Belum sempat Amanda melanjutkan ucapannya, Marcel mencium bibirnya. Seketika Amanda terdiam, sementara Marcel bergegas turun dari tempat tidur, dan berlari turun ke bawah. Setelah beberapa detik, Amanda baru sadar jika suaminya telah mencium bibirnya, dengan kencang Amanda berteriak memanggil sang suami.
__ADS_1