Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Cemburu_10


__ADS_3

Amanda hendak mengambil dua bungkus susu, tapi tangannya tidak sampai, lantaran susu yang hendak Amanda ambil berada di atas. Amanda sudah berusaha dengan menjijitkan kakinya, tapi usahanya tidak juga berhasil. Sampai akhirnya ada sebuah tangan kekar yang mengambilkan susu tersebut.


Seketika Amanda menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat melihat orang yang kini tengah berdiri di belakangnya.


Amanda begitu terkejut melihat seorang lelaki yang pernah mengisi hidupnya. Dia adalah Reza, calon tunangannya yang kini telah menikah dengan saudaranya sendiri.


Seketika Amanda menarik tangannya dan memundurkan langkahnya. Amanda sadar jika dirinya sudah bersuami, dan Reza telah beristri. Sangat tidak baik jika dilihat pasangan mereka masing-masing, dan pastinya akan menimbulkan fitnah. Reza sedikit heran melihat Amanda yang seperti tidak suka atas kehadirannya.


"Reza." Desis Amanda. Wanita itu seketika memalingkan wajahnya.


"Amanda, bagaimana kabar kamu?" tanya Reza dengan lembut.


"Aku baik, maaf aku permisi dulu." Amanda melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba Reza mencekal pergelangan tangan Amanda. Seketika wanita itu menghentikan langkahnya, dan segera menepis tangan Reza.


"Lepas Za. Ingat, kita sama-sama sudah memiliki pendamping hidup." Amanda melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih berdiri mematung.


Reza terus memandangi punggung Amanda yang mulai menghilang. Jujur, Reza sangat merindukan Amanda, wanita yang sangat ia cintai. Andai saja Reza bisa memutar waktu, pasti Reza akan tetap memilih menikah dengan Amanda, meski harus menyakiti Alina. Cinta memang tidak harus memiliki, tetapi cinta juga tidak bisa dipaksakan.


Sementara itu, Amanda bergegas menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaannya. Setelah selesai wanita itu segera keluar dari supermarket tersebut, dan bergegas menuju ke parkiran. Setibanya di parkiran, Amanda segera masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil yang Amanda naiki perlahan berjalan meninggalkannya parkiran.


Dalam hati Amanda, ia memang senang bisa bertemu dengan lelaki yang pernah mengisi hari-harinya. Tapi Amanda sadar, kini status mereka sudah berbeda, Amanda sudah bersuami. Ia tidak mau terjadi fitnah nantinya.  Lamunan Amanda buyar saat sadar jika mobil yang ia naiki sudah tiba di halaman rumah.


Dengan cepat Amanda turun dan melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Tapi langkahnya terhenti saat Angelina sudah berdiri di hadapannya. Tidak ingin berdebat, Amanda terus melangkah masuk ke dalam. Tapi lagi-lagi Amanda menghentikan langkahnya kembali, saat mendengar suara Angelina.


"Angelina, ada apa?" tanya Amanda. Wanita itu menatap wajah Angelina. Heran.


Angelina berjalan menghampiri Amanda, kemudian perempuan itu menyodorkan handphonenya, menampilkan sebuah foto yang sangat begitu jelas. Seketika mata Amanda membulat sempurna saat melihat foto tersebut. Foto dirinya dan Reza saat berada di supermarket tadi.


Pertanyaannya, dari mana Angelina mendapatkan foto itu. Mungkinkah Angelina menyuruh seseorang untuk mengikuti Amanda pergi, tapi untuk apa Angelina melakukan itu. Oh Tuhan, apa mungkin Angelina akan menggunakan foto itu untuk membuat Marcel membenci dirinya.


Amanda tenang, orang yang tidak bersalah tidak perlu takut, tenang dan berfikir positif. Sebisa mungkin Amanda memasang wajah biasa saja, meski ia akui ada sedikit rasa takut dalam hatinya. Tapi Amanda yakin jika semua akan baik-baik saja. Toh Amanda juga sudah sering kena marah, wanita itu seperti sudah kebal dengan amarah.


"Kenapa dengan foto itu. Mau kamu sebar, mau kamu perlihatkan kepada mas Marcel. Itu terserah kamu, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu, dan kita tadi tidak sengaja bertemu." Amanda melenggang pergi meninggalkan Angelina yang masih terdiam.

__ADS_1


Lagi-lagi Angelina dibuat kesal oleh sikap Amanda, perempuan itu heran dengan Amanda yang sekarang. Dulu Amanda selalu diam dan mengalah, tapi sekarang wanita itu lebih berani. Angelina harus berfikir keras agar bisa menyingkirkan Amanda, foto itu saja tidak cukup untuk membuat Marcel membenci Amanda.


Memang Angelina  yang sudah menyuruh orang untuk mengikuti Amanda. Perempuan itu ingin tau apa saja yang Amanda lakukan saat di luar. Awalnya Angelina begitu senang saat mendapat foto itu, tapi setelah mendengar ucapan Amanda, Angelina harus lebih hati-hati bin waspada. Ternyata Amanda tidak bisa ia anggap remeh, Amanda memang lemah, tapi sesungguhnya wanita itu punya seribu cara untuk melawan.


***


Hari telah berganti, terangnya mentari kini sudah tergantikan oleh terangnya rembulan, dan kerlipan bintang di atas sana.


Malam ini Marcel pulang lebih awal, pria itu pulang dengan wajah yang begitu lesu. Mungkin itu efek capek, atau mungkin ada masalah di kantor.


Marcel berjalan masuk ke dalam rumah, kemeja sudah tidak rapi, jas pun sudah terselampir di bahunya. Pria itu melangkahkan kakinya dengan sorot mata yang tajam.


Angelina yang menyadari sang suami sudah pulang, dengan cepat perempuan itu turun dan menghampirinya. Tapi ada yang aneh dengan Marcel, pria itu terus berjalan melewati Angelina yang sudah berdiri di ujung anak tangga. Marcel mempercepat langkahnya menuju ke kamar Amanda. Pria itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sementara Amanda menjerit lantaran wanita itu baru saja selesai mandi, dan hanya handuk yang melilit tubuhnya.


"Mas kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong," ucap Amanda. "Apa mas Marcel perlu sesuatu."


Marcel hanya diam, perlahan pria itu berjalan mendekati Amanda yang kini tengah berdiri di samping ranjang. Mata elangnya menatap tajam, sorot matanya menunjukkan rasa kebencian yang sangat dalam. Entah apa yang terjadi pada pria itu, sampai-sampai Marcel seperti itu. Amanda merasa ngeri, meski ia sudah terbiasa dengan sikap Marcel yang seperti itu, tapi kali ini Amanda benar-benar merasa ngeri.


"Tadi siang kamu pergi kemana, dan bertemu dengan siapa." Pertanyaan Marcel membuat Amanda sedikit tersentak. Tapi sebisa mungkin wanita itu tetap bersikap tenang.


Amanda terdiam sejenak, ia tau kenapa tiba-tiba Marcel bertanya seperti itu. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Angelina, perempuan ular itu pasti sudah menunjukkan foto Amanda dan Reza saat di supermarket.


"Tadi siang aku ke supermarket Mas, untuk membeli keperluan aku dan kebutuhan dapur," jawab Amanda.


Kemudian Marcel merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih miliknya, sepersekian menit Marcel menunjukkan foto di mana Amanda dan seorang pria, yang tak lain adalah Reza sedang berada di supermarket. Seketika mata Amanda membulat, tapi wanita itu tetap bersikap tenang, karena ia merasa tidak bersalah. Mereka hanya tidak sengaja bertemu, dan di antara mereka juga sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


"Kita memang bertemu di supermarket Mas, tapi Mas 'kan sudah tau kalau Reza sudah menikah dengan Alina. Aku sama Reza sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Atau jangan-jangan Mas .... " Amanda tidak berani melanjutkan ucapannya, wanita itu takut jika nanti Marcel tersinggung dan bertambah marah.


"Jangan-jangan apa." Mata Marcel semakin tajam.


Amanda terdiam sejenak. "Em, itu Mas."


"Apa. Amanda, seharusnya kamu sadar, kamu itu wanita yang sudah bersuami. Tidak pantas berduaan dengan pria lain, apa kamu tidak mengerti." Marcel kembali menatap Amanda dengan tajam.

__ADS_1


Amanda masih saja diam, wanita itu mencoba mencerna setiap ucapan Marcel. Amanda dapat melihat jika suaminya itu 'cemburu' tidak lucu juga 'kan seorang suami cemburu jika melihat istrinya berduaan dengan pria lain. Tapi yang menjadi masalah, apa benar pria kejam itu cemburu jika Amanda berduaan dengan pria lain, sedangkan selama menikah tidak ada kata 'cinta' yang terucap di antara mereka.


"Mas memang benar, tapi selama ini Mas itu acuh. Meski Mas pernah menunjukkan rasa peduli dan simpati, tapi aku merasa itu karena rasa kasihan Mas saja. Kalau Mas mau di anggap sebagai suami, Mas juga harus menganggap Amanda sebagai istri. "Mata Amanda mulai berkaca-kaca.


Marcel terdiam mendengar kata-kata Amanda, pria itu seperti merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini. Pria itu memundurkan langkahnya dan terduduk di tepi ranjang, sementara Amanda masih berdiri bersandar di dinding. Marcel akui, Amanda memang wanita yang baik, dan dia juga yakin jika Amanda tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu. Tapi entah kenapa saat melihat Amanda bersama dengan pria lain, Marcel merasa tidak suka.


Keduanya sama-sama terdiam, dan berada dalam pemikiran masing-masing.


Setelah cukup lama terdiam, Marcel bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Amanda. Wanita itu tersentak saat tau Marcel sudah berdiri di hadapannya. Sorot matanya tidak pernah berubah, mata elangnya selalu menatap tajam. Amanda tetap diam, ia ingin tau apa yang akan Marcel lakukan.


Lagi-lagi Amanda terpentok dinding, wanita itu pasrah. Marcel menyenderkan kedua tangannya ke dinding, dan tepat di atas kepala Amanda.


"Apa kamu mau aku anggap sebagai istri." Marcel menatap wajah Amanda dengan intens. Bahkan wajah keduanya sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi saja.


Jantung Amanda berdetak lebih cepat. Amanda hanya mengangguk, tanpa berucap sepatah katapun.


Marcel menyunggingkan senyumnya, saat melihat wajah Amanda yang sudah memerah. Wanita itu semakin mempererat handuknya, saat menyadari jika mata Marcel mulai memandangi dirinya, dari atas kepala sampai ke ujung kaki.


"Kalau begitu, kamu harus melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan," ujar Marcel.


"Mak-maksud mas Marcel apa," sahut Amanda gugup.


"Apa perlu aku menjelaskannya lagi." Marcel memegang dagu Amanda agar wanita itu mau menatap wajahnya.


"Tap-tapi Mas, aku kan sedang .... "


"Aku tidak menerima alasan apapun," potong Marcel dengan cepat.


Marcel kembali menatap Amanda dengan tajam, perlahan Marcel mengangkat dagu Amanda. Setelah itu, Marcel lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Amanda. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Amanda, wanita itu merasa begitu tegang dengan apa yang Marcel tengah lakukan padanya. Baru kali ini Marcel bersikap seperti itu, Amanda hanya bisa diam dan memejamkan matanya saat hidung Marcel menyentuh keningnya.


Perlahan Marcel menundukkan kepalanya dan memiringkan wajahnya. Kini keduanya sudah tidak ada jarak lagi. Jantung Amanda berdetak lebih kencang, dan semakin kencang. Begitu juga dengan Marcel, entah kenapa saat berada di dekat Amanda, pria itu selalu merasa seperti itu. Marcel sudah tidak dapat menahan hasratnya lagi, ia juga laki-laki normal, memang Marcel belum bisa menerima Amanda sepenuhnya sebagai istrinya.


Tapi apa salahnya jika Marcel meminta haknya, toh mereka sudah sah menikah. Hasratnya semakin menuntut untuk dipenuhi, Marcel tidak dapat menahannya lagi. Tiba-tiba saja benda kenyal itu bersentuhan, Amanda tetap diam tanpa membalasnya. Marcel semakin memaksa untuk dibalas, tapi suara teriakan dari depan pintu membuat Marcel tersentak dan segera melepas bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2