
Kini Amanda sudah berada di kamar, saat itu Marcel segera mengangkat tubuh Amanda, tanpa menghiraukan teman-temannya dan juga istri mudanya. Saat ini Marcel masih menemani Amanda di kamar, pria itu tengah duduk di samping Amanda.
"Kamu beneran enggak apa-apa," ujar Marcel. Raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir.
Amanda hanya mengangguk. "Iya Mas, Manda enggak apa-apa kok."
"Maaf Mas." Amanda menundukkan kepalanya.
Kedua alis Marcel berkerut. "Untuk."
"Gara-gara Manda, masa Marcel sama .... "
"Enggak apa-apa kok, lagi pula kita masih bisa ketemu di kantor," potong Marcel dengan cepat.
Amanda hanya tersenyum. "Terima kasih ya Mas."
"Sama-sama, ya sudah sekarang kamu istirahat saja ya," ujar Marcel, dan dibalas dengan anggukan oleh Amanda.
Setelah itu, Marcel pun bangkit dan bergegas keluar dari kamar Amanda.
Marcel turun ke bawah untuk menemui teman-temannya yang memang saat itu belum pulang. Sementara Angelina segera masuk ke dalam kamar Amanda, saat melihat Marcel keluar.
Angelina membuka pintu kamar Amanda lalu bergegas masuk ke dalam. Terlihat Amanda tengah berbaring menyamping, perlahan Angelina berjalan mendekati ranjang. Merasa ada yang mendekat, Amanda bangkit dari tidurnya dan terduduk. Wanita itu terkejut saat melihat Angelina sudah berada di kamarnya.
"Angelina, kamu," lirih Amanda. Tubuhnya bergetar saat melihat Angelina menodongkan pisau yang begitu tajam. Meski ukurannya kecil, tapi jangan ditanya tajamnya.
"Kenapa, apa kamu takut." Angelina terus mendekat dengan menodongkan pisau tersebut.
Tubuh Amanda semakin gemetar, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ingin rasanya Amanda berlari, tapi tubuhnya berada tidak dapat digerakkan. Amanda hanya bisa menggeser posisi tubuhnya saja. Sedangkan Angelina terus mendekatinya, dengan memainkan pisau tersebut.
"Angelina, a-aku mohon jangan." Suara Amanda bergetar, bayangan masa lalunya kembali berputar-putar dalam benaknya.
"Ck, kamu pantas mendapatkan ini. Karena kamu sudah berani membuat mas Marcel simpati padamu." Angelina mendorong pisau tersebut tepat di depan wajah Amanda.
Namun tiba-tiba Amanda menjerit histeris. Hal itu membuat Angelina merasa heran, padahal pisau itu tidak mengenai wajah Amanda, tapi wanita itu berteriak dan menjerit. Angelina terlihat sangat bingung dengan Amanda yang seperti itu. Entah apa yang terjadi pada wanita itu.
"Aaaa, pergi, jangan bunuh aku. Pergi, pergi," teriak Amanda histeris. Matanya terpejam, dengan menutupi telinganya dengan kedua tangannya.
Angelina terlihat bingung. "Kenapa dengan perempuan ini, kenapa dia berteriak histeris seperti ini."
"Pergi kamu, pergi. Jangan bunuh aku, pergi." Amanda terus berteriak.
Angelina semakin bingung. Sementara Marcel yang mendengarnya bergegas naik ke atas menuju ke kamar Amanda. Dengan cepat Marcel membuka pintu kamar Amanda, terlihat Angelina yang tengah berdiri di samping ranjang dengan memegang pisau. Sementara Amanda berada di atas dan terus berteriak histeris.
Marcel segera menghampiri kedua wanita itu. "Angelina, apa yang kamu lakukan."
Marcel menatap Angelina dengan tatapan yang cukup tajam. Perempuan itu terlihat sangat gugup, mata Marcel beralih pada wanita yang berada di atas ranjang. Amanda masih saja berteriak, bahkan tangisannya mulai terdengar. Entah kenapa hati Marcel merasa sakit saat melihat Amanda seperti itu.
"Mas, aku tadi .... " ucapnya terpotong. Angelina bingung sendiri, harus mengatakan apa pada Marcel.
Marcel menghiraukan ucapan Angelina, pria itu mendekati Amanda dan duduk di sampingnya. Marcel berusaha untuk menenangkan wanita itu. Hati dan mata Angelina seketika memanas saat melihat suaminya bersikap baik terhadap Amanda.
"Amanda, kamu baik-baik saja 'kan," ucap Marcel dengan lembut.
Seketika Amanda menghambur ke pelukan Marcel, saat mendengar suara pria itu. Tangisnya pecah, bayangan masa lalunya yang terus berputar-putar di benaknya membuat Amanda histeris seperti itu. Marcel merasa begitu sakit saat melihat Amanda seperti itu.
"Aku takut, dia kejam, dia jahat. Hiks, dia kembali lagi, aku takut." Tangisan Amanda kembali pecah.
Seketika Marcel memeluk tubuh Amanda dengan sangat erat. Pria itu merasa kasihan dengan keadaan Amanda yang seperti itu. Marcel semakin penasaran dengan masa lalu wanita itu, ingin sekali Marcel tau tentang apa yang terjadi pada Amanda yang sebenarnya.
Sementara Angelina semakin panas, saat melihat Marcel memeluk Amanda dengan begitu erat.
"Amanda, kamu tenang ya. Kamu aman sekarang, dia tidak akan mengganggu kamu." Marcel semakin mempererat pelukannya, bahkan pria itu sesekali mencium puncak kepala Amanda, berharap wanita itu bisa merasa tenang.
Amanda masih saja menangis, sementara Angelina memilih untuk pergi. Perempuan itu tidak tahan lagi melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Meski itu istri dari suaminya, tapi Angelina tetap tidak terima.
Bagi Angelina, sesuatu yang sudah menjadi miliknya, tidak suka jika harus berbagi dengan yang lain.
Selang beberapa menit, tangisan Amanda mulai reda. Bahkan matanya yang sembab mulai terpejam, Marcel pun dapat merasakan nafas Amanda yang mulai teratur. Perlahan Marcel merebahkan tubuh Amanda, terlihat matanya yang sembab akibat lama menangis. Pria itu pun menghapus sisa air mata Amanda.
Setelah itu, Marcel menarik selimut dan menutupi tubuh Amanda dengan selimut. Tapi
saat Marcel hendak bangkit, tiba-tiba tangan Amanda menahannya. Marcel sedikit terkejut saat melihat tangan Amanda memegangi tangannya. Padahal matanya masih terpejam.
"Jangan pergi ... takut," gumam Amanda, suaranya terdengar begitu parau.
__ADS_1
Merasa tidak tega, akhirnya Marcel berbaring di samping Amanda. Bahkan pria itu membawa Amanda tidur dalam dekapannya. Jantung Marcel berdetak lebih kencang, entah kenapa, ada rasa yang sulit sekali Marcel artikan. Perlahan, mata Marcel pun ikut terpejam.
***
Adzan subuh mulai berkumandang, perlahan Amanda mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah cukup lama, kelopak mata Amanda terbuka sempurna. Tak lupa wanita itu menggeliatkan tubuhnya, tapi ada yang berbeda. Amanda merasakan sebuah tangan kekar menempel di bahunya.
Amanda pun menoleh ke samping kiri, seketika wanita itu terlonjak kaget saat wajahnya begitu dekat dengan wajah sang suami. Amanda pun bergegas bangkit dari tidurnya, dan terduduk. Merasa terusik, Marcel pun membuka matanya. Pria itu sesekali menguap, matanya masih sangat mengantuk.
"Kamu sudah bangun," ucap Marcel dengan suara seraknya. Pria itu bangkit dan duduk, matanya menatap wajah Amanda yang terlihat gugup itu.
"Kok Mas bisa .... "
"Kamu lupa kejadian semalam," potong Marcel dengan cepat.
Amanda terdiam, raut wajahnya terlihat jelas, jika wanita itu nampak berfikir tentang kejadian semalam. Apa mungkin Amanda lupa begitu saja, dan bukankah dirinya juga yang merengek meminta ditemani tidur. Ah wanita memang begitu.
"Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan. Aku mau tidur lagi." Marcel merebahkan tubuhnya kembali. Pria itu bersiap untuk masuk ke dalam mimpinya kembali.
"Mas nggak shalat subuh dulu," ucap Amanda dengan suara pelan.
"Kamu duluan aja." Marcel menarik selimut dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
Amanda hanya menghela nafas, kemudian wanita itu turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dalam kamar mandi Amanda mencoba mengingat kejadian tadi malam, samar-samar ia mengingatnya. Ada rasa bahagia dalam lubuk hatinya, ia berharap ini awal yang baik untuk hubungannya dengan sang suami.
Matahari sudah bersinar terang, pagi ini Amanda sudah di sibukkan dengan tugas rumahnya. Ruang tamu yang semalam berantakan, kini sudah rapi, lantai yang kotor juga sudah mengkilap. Dapur pun sudah rapi, bahkan di meja makan sudah tersaji sarapan pagi yang telah Amanda buat.
Selang beberapa menit Marcel turun dengan penampilan yang sudah rapi. Kemeja putih dibalut dengan jas berwarna hitam, dan dasi yang melilit di lehernya. Memang tampan, tapi sayang, sikapnya yang kasar dan juga terkadang dingin. Marcel berjalan mendekat ke meja makan.
"Amanda, kamu lihat Angelina tidak?" tanya Marcel. Pria itu menarik kursi dan duduk.
"Angelina pergi dari pagi Mas," jawab Amanda. Tangannya masih berkutat menyeduh kopi.
"Ini kopinya Mas." Amanda menaruh secangkir kopi di depan sang suami.
"Kamu tau dia pergi kemana." Marcel menyeruput kopi yang Amanda seduh tadi.
Amanda menggelengkan kepalanya. "Manda tidak tau Mas."
"Ini sarapannya Mas." Amanda menaruh piring yang sudah terisi nasi dan lauk.
"Terima kasih. Kamu sudah sarapan?" tanya Marcel.
Marcel hanya mengangguk, setelah itu ia segera menyantap sarapan paginya. Sementara itu, Amanda memilih duduk sembari memakan buah-buahan yang segar.
***
Waktu berputar lebih cepat, kini gelap malam telah menyelimuti, hembusan angin menerpa dedaunan yang kering. Rembulan bersinar begitu terang. Suasana jalanan begitu ramai, mungkin karena malam ini adalah malam minggu.
Pukul 7 malam Marcel sudah keluar dari kantornya, malam ini pria itu berniat ingin berkunjung ke rumah orang tuanya. Marcel ingin menanyakan seperti apa masa lalu Amanda, pria itu merasa penasaran dengan kehidupan Amanda dulu.
Mobil Marcel sudah berhenti di halaman depan rumah. Dengan segera Marcel keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, terlihat ibunya tengah duduk di ruang tengah, sembari membaca majalah. Marcel berjalan menghampiri sang ibu.
"Malam ma." Marcel mencium punggung tangan ibunya.
"Malam Sayang, tumben udah malam ke sini. Apa Amanda ikut." Regina menggeser posisi duduknya.
Marcel menjatuhkan bobot tubuhnya di samping ibunya. "Amanda di rumah ma, Marcel dari kantor langsung ke sini."
"Amanda sehat 'kan?" tanya Regina.
"Sehat kok ma," sahut Marcel.
Regina menganggukkan kepalanya. "Lalu ada apa, apa ada masalah."
Marcel menghela nafas. "Ada yang mau Marcel tanyakan ma, Marcel ingin tau masa lalu Amanda."
Regina terdiam sejenak. "Apa kamu yakin, kamu akan percaya dengan apa yang mama ceritakan."
Marcel mengangguk mantap. " Iya ma."
Regina menarik nafas, dan membuangnya secara perlahan. Setelah itu perempuan paruh baya itu mulai bercerita tentang masa lalu Amanda. Tentang kehidupan Amanda yang sesungguhnya.
"Dua puluh tahun yang lalu, keluarga Amanda di sandra oleh sekelompok penjahat, saat itu usia Amanda baru 8 tahun. Bukan hanya di sandra, melainkan kedua orang tua Amanda disiksa secara kejih, setelah itu mereka dibunuh tepat di depan mata Amanda. Kedua jasad orang tua Amanda dibiarkan begitu saja, sedangkan Amanda dibawa oleh orang yang telah membunuh Maya dan Ilham, kedua orang tua Amanda." Regina menarik nafas sejenak.
"Beruntung Hilman bisa menemukan Amanda, tetapi orang itu berhasil kabur. Jadi sampai sekarang polisi tidak tau, apa sebab orang itu menyandra keluarga Amanda. Dan sejak itu Amanda dirawat dan dibesarkan oleh Hilman dan istrinya. Hilman adalah adik kandung Ilham, dan Hilman saat itu sudah memiliki putri yang seusia dengan Amanda. Mereka dibesarkan dengan penuh kasih sayang, Hilman dan Erika tidak pernah membedakan kedua anak itu. Tapi setelah dewasa, Alina menunjukkan rasa tidak suka terhadap Amanda." Regina kembali menarik nafas kembali.
__ADS_1
"Apa Om Hilman tidak mencari tau apa penyebab keluarga Amanda disandra ma?" tanya Marcel.
Regina hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak Nak, dan itu menjadi tanda tanya besar sampai saat ini, kenapa Hilman tidak menyelesaikan kasus itu."
Marcel mengangguk. "Lalu, soal kehamilan Amanda."
"Itu semua terjadi karena Alina, satu tahun yang lalu, Amanda dikabarkan menjalin hubungan dengan Reza, teman kampusnya. Bahkan Reza dan Amanda dikabarkan akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, karena mereka sudah bertunangan. Tapi karena rasa iri Alina, Amanda rela tunangannya menikah dengan Alina. Setelah satu tahun menikah, Reza sama sekali tidak dapat melupakan Amanda, bahkan lelaki itu sering menyebut nama Amanda dalam mimpinya. Hal itu membuat Alina marah, sampai akhirnya Alina menyuruh preman untuk menyelakai Amanda, dengan cara merenggut kehormatannya." Regina menghela nafas, bahkan perempuan itu sempat menyeka air matanya.
Marcel menundukkan kepalanya. "Bagaimana kalian tau kalau itu semua perbuatan Alina."
"Orang suruhan Alina yang sudah mengakuinya, tapi mereka begitu licik. Sebelum polisi menangkap mereka, terlebih dulu mereka melarikan diri entah kemana," jelas Regina.
"Apa Om Hilman tidak melaporkan Alina ke polisi," sahut Marcel.
"Hilman sempat mau melaporkan Alina ke polisi, tapi anak itu begitu licik. Alina mengancam akan bunuh diri jika papanya bersikeras untuk tetap melaporkannya ke polisi," jelas Regina.
Marcel menghela nafas. "Lalu kenapa mama sangat ingin sekali Marcel menikah dengan Amanda."
"Karena setelah mama tau, jika tunangan Amanda menikah dengan Alina. Mama berniat ingin menjodohkan kamu dengan dia. Tapi sebelum mama menyampaikan keinginan itu, nasib buruk lebih dulu menimpa Amanda." Regina menghela nafas.
"Amanda itu anak yang baik, itu sebabnya mama ingin dia menjadi istri kamu," sambung Regina.
Marcel menundukkan kepalanya, pria itu mengusap wajahnya dengan gusar. Begitu banyak penderitaan yang Amanda alami, rasa sesal tiba-tiba muncul dalam hatinya. Andai saja Marcel tau lebih awal, mungkin pria itu bisa bersikap lebih baik pada Amanda.
"Mama minta tolong jaga Amanda dengan baik. Sudah banyak penderitaan yang dia alami. Amanda sudah kehilangan kedua orang tuanya, dia juga rela melepas tunangannya untuk menikah dengan wanita lain. Bahkan Amanda telah kehilangan kehormatannya, mahkota kesuciannya telah direnggut secara paksa oleh orang yang tidak berhak untuk menikmatinya." Regina menatap penuh harap pada putranya itu.
Marcel menganggukkan kepalanya. "Iya ma, Marcel akan menjaga Amanda."
Seketika Regina memeluk putranya itu. "Terima kasih ya Nak, mama percaya sama kamu."
Setelah itu, Regina melepas pelukannya. Perempuan itu merasa sedikit lega, saat putranya bersedia untuk menjaga menantunya itu. Meski Regina belum yakin jika Marcel sudah mencintai Amanda, tapi setidaknya Amanda bisa mendapatkan kasih sayang.
"Papa mana ma, dari tadi Marcel tidak melihat papa?" tanya Marcel.
"Papa berangkat ke Amerika tadi pagi. Biasa, urusan bisnisnya," ujar Regina.
"Ya sudah, Marcel pulang sekarang ya ma, sudah malam." Marcel mencium punggung tangan ibunya itu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, titip salam buat Amanda," ujar Regina.
"Iya ma," sahut Marcel. Ia pun bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari rumah orang tuanya.
Regina mengantar Marcel sampai ke depan pintu. Setelah mobil yang Marcel tumpangi meninggalkan halaman rumahnya. Regina pun beranjak masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Marcel melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, pria itu ingin cepat sampai ke rumah.
"Maafkan aku Amanda, andai saja aku tau lebih awal, mungkin aku bisa bersikap lebih baik kepada kamu. Mungkin aku belum bisa mencintai kamu, tapi ... aku merasa cemburu saat pria lain menggodamu, apa lagi sampai menyentuh kamu," gumam Marcel.
***
Marcel sudah tiba di rumah, tapi pria itu tidak melihat sosok Amanda. Biasanya Amanda selalu menunggu dirinya di ruang tamu, sebelum Marcel pulang, Amanda selalu menunggunya. Tapi malam ini Marcel tidak melihatnya, justru Angelina yang tengah menunggu Marcel di ruang tengah.
"Sayang, kamu baru pulang ya. Pasti capek, iya kan." Angelina memeluk tubuh kekar suaminya itu, dan bergelayut manja.
"Angelina aku capek, kamu bisa nggak jangan seperti ini." Marcel melepas pelukan Angelina. Pria itu merasa risih dengan sikap manja istrinya itu.
Angelina terlihat kesal dengan sikap suaminya itu, tapi perempuan itu tidak akan menyerah begitu saja. "Ya sudah, kita ke kamar ya Sayang."
Keduanya pun naik ke atas dan menuju ke kamar. Di dalam kamar, Marcel segera melepas jas dan juga dasi, yang masih melillit lehernya. Sementara itu, Angelina bergegas mengganti pakaiannya dengan lingerie berwarna merah, pakaian itu sangat tipis, sehingga menampilkan lekuk tubuhnya yang begitu seksi.
"Sayang, sekarang kamu istirahat saja ya. Pasti kamu kan sangat capek." Angelina berdiri di depan sang suami. Jari lentiknya mulai menelusuri dada bidang suaminya itu. Bahkan Angelina sudah melepas beberapa kancing kemeja Marcel.
Jujur, sebagai seorang pria yang normal. Marcel sangat tergoda dengan permainan istrinya itu. Terlebih melihat tubuh seksi Angelina, begitu sangat menggoda. Tapi malam ini Marcel tidak berniat untuk memenuhi hasratnya, entah kenapa pria itu merasa khawatir pada Amanda.
"Jangan sekarang Sayang, aku sedang capek." Marcel melepas tangan Angelina, pria itu berjalan meninggalkan sang istri. Tapi dengan cepat Angelina memeluk Marcel dari belakang.
"Ya sudah, aku tidak akan memaksa. Kita istirahat saja ya Sayang." Angelina semakin mempererat pelukannya.
"Amanda mana, biasanya dia selalu menungguku," ujar Marcel.
"Mungkin dia sudah tidur, udah ya. Sekarang kamu juga istirahat." Angelina menuntun Marcel menuju ke ranjang.
"Aku mandi dulu." Marcel berjalan mengambil handuk, setelah itu ia berjalan menuju ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara gaduh dari arah dapur.
"Suara apa itu," ujar Marcel.
__ADS_1
Angelina terlihat panik. "Mungkin itu tikus Mas."
Tanpa berucap, Marcel berlari keluar dari kamar, dan bergegas turun ke bawah. Entah kenapa, perasaan Marcel tidak enak, dan merasa khawatir. Sementara Angelina sangat panik, perempuan itu takut, jika perbuatannya akan diketahui oleh Marcel.