Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Getaran_Rasa_6


__ADS_3

Jika memang engkau jodohku, aku yakin, sejauh apapun jarak yang terbentang di antara kita, dan sebanyak apapun rintangan yang akan datang menanti kita. Kita pasti akan dipertemukan kembali oleh-Nya. Karena Allah punya banyak cara untuk menyatukan dua insan yang memang berjodoh.


Namun sebaliknya, jika kita tidak berjodoh. Sedekat apapun hubungan yang kita bangun, dan sekuat apapun upaya kita untuk mempertahankannya. Allah juga punya banyak cara untuk memisahkan kita. Itulah yang kini ada dalam otak Amanda.


Amanda yakin, jika Marcel berjodoh dengannya, suatu saat nanti, mereka pasti akan dipersatukan. Tapi jika mereka tidak berjodoh, cepat atau lambat. Mereka pasti akan berpisah, entah bagaimana caranya. Karena Allah lebih tau.


Hari-hari telah berlalu, kini Amanda sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Pekerjaan rumah selalu ia selesaikan tepat waktu. Meski Amanda sadari, semua yang dia lakukan tidak pernah membuat Marcel menghargai keberadaannya. Marcel selalu menganggap Amanda sebagai angin lalu.


Seperti pagi ini, meski sudah ada Angelina, tapi semua keperluan Marcel, Amanda yang menyiapkannya. Mulai dari air untuk mandi, pakaian kerja, hingga membuat kopi, Amanda yang mengerjakannya. Meski begitu, wanita itu dengan senang hati melakukannya.


Justru Amanda merasa bahagia, walaupun Marcel belum mau menganggapnya sebagai istri. Tapi setidaknya Amanda sudah bisa melakukan tugas sebagai seorang istri. Seperti sekarang, setelah selesai menyeduh kopi, dengan cepat Amanda naik ke atas menuju ke kamar Marcel.


Setibanya di depan kamar, Amanda mengetuk pintu terlebih dahulu. "Mas ini kopinya."


"Masuk saja," ucap Marcel dari dalam kamar.


Perlahan Amanda membuka pintu kamar tersebut. Terlihat Angelina tengah bergelayut manja di lengan kekar Marcel. Pasti sakit, melihat suaminya sendiri bermesraan dengan perempuan lain, meski itu istrinya juga. Tapi sebisa mungkin Amanda tidak menunjukkan sikap lemahnya.


Amanda segera meletakkan kopi itu di atas meja, setelah itu ia bergegas keluar dari kamar, tapi hendak keluar, tiba-tiba Marcel memanggilnya.


"Amanda tunggu." Marcel berjalan ke arah Amanda.


Amanda pun menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya. "Ada apa Mas, apa mas Marcel perlu sesuatu."


"Nanti malam teman kerjaku akan datang ke sini, jadi aku minta tolong kamu siapkan makanan, kueh, dan juga cemilan lainnya. Apa kamu bisa." Mata Marcel menatap tajam ke arah Amanda.


"Insya Allah bisa Mas," jawab Amanda.


Kemudian Marcel memberikan uang 100 ribuan sebanyak lima lembar. Belum sempat Amanda menerima uang tersebut. Tiba-tiba Angelina merebutnya.


"Sayang, itu kebanyakan." Angelina mengambil 3 lembar uang tersebut.


"Segitu cukup 'kan," sambung Angelina.


"Cukup kok. Kalau begitu Manda keluar dulu ya." Amanda keluar dari kamar Marcel, tanpa menunggu pria itu bersuara.


Amanda bergegas turun ke bawah, setibanya di bawah, Amanda segera menuju ke dapur. Sementara di kamar, Marcel bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Pria itu segera memakai jasanya, setelah itu Marcel dan Angelina turun ke bawah untuk sarapan.


Angelina dan Marcel sudah berada di meja makan, semester Amanda memilih tetap berada di dapur. Sebagai seorang suami, Marcel tengah menunggu bagaimana Angelina melayani suaminya. Tapi yang terjadi tidak sesuai yang Marcel harapkan.


Perempuan itu justru sibuk sendiri dengan benda pipih yang ia pegang. Bahkan Angelina memilih untuk pergi saat ada yang menelponnya. Marcel membuang nafas kasar, tangannya mulai mengepal. Amanda yang melihatnya merasa kasihan.


"Itu istri yang kamu banggakan Mas, dia lebih mementingkan diri sendiri." Amanda berjalan menghampiri Marcel yang tengah menahan emosinya.


"Biar Manda saja yang ambilin ya Mas." Dengan sigap Amanda mengambil piring yang terletak di hadapan suaminya itu.


Marcel tertegun dengan apa yang Amanda lakukan. Tanpa bertanya, wanita itu tau, makanan kesukaan Marcel. Setelah itu Amanda meletakkan piring tersebut di hadapan Marcel. Marcel masih saja terdiam, pria itu merasa kagum dengan Amanda.


"Silahkan Mas sarapannya. Nanti keburu dingin," ucap Amanda dengan tersenyum.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Marcel.


"Belum Mas, Mas duluan aja yang sarapan. Manda bisa sarapan nanti." Amanda melangkahkan kakinya, tapi niatnya terhenti saat Marcel mencegahnya.


"Duduk di sini, temani aku sarapan," pinta Marcel. Pria itu menatap wajah Amanda yang terlihat gugup itu.


Amanda hanya tersenyum. "Iya Mas."


Amanda pun menarik kursi, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya. Amanda terus memperhatikan Marcel yang tengah menyantap sarapannya. Setelah selesai dengan ritual sarapan paginya. Marcel bergegas bangkit dari duduknya. Tapi tiba-tiba Amanda mencegahnya.


"Tunggu Mas," cegah Amanda. Marcel pun kembali duduk.


"Maaf." Amanda mengelap sudut bibir Marcel yang ternoda dengan tisu.

__ADS_1


"Terima kasih." Marcel tersenyum, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak dari meja makan.


Setelah itu, Amanda segera membereskan meja makan. Karena setelah itu Amanda harus berbelanja untuk membeli bahan kue.


Meski uang yang Marcel kasih hanya 200 ribu, tapi Amanda bisa memakai uang yang selalu Marcel kasih setiap sebulan sekali.


***


Marcel sudah tiba di kantor. Pria tinggi dan putih itu bergegas masuk ke ruangannya. Setibanya di ruangan, Marcel segera menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. Tumpukan pekerjaan telah menantinya.


Saat Marcel tengah sibuk menanda tangani berkas-berkas tersebut. Tiba-tiba saja ia teringat dengan cerita yang pernah ibunya ceritakan. Marcel juga teringat kata-kata yang selalu Amanda ucapkan saat wanita itu bermimpi. Aku takut, dia jahat, dia kejam. Kata-kata itu selalu mengganggu pikiran Marcel.


Rasa penasaran dengan kehidupan Amanda, masa lalunya, dan siapa Amanda sebenarnya. Ingin sekali Marcel menanyakan hal itu terhadap Amanda langsung, tapi egonya selalu mengalahkannya. Tiba-tiba saja handphonenya berdering, hal itu membuat lamunan Marcel buyar.


Marcel pun meraih benda pipih itu, yang terletak di sampingnya. Digeser tombol yang berwarna hijau.


[ Halo Sayang, ada apa ]


[ Sayang, bukannya baru seminggu aku kasih, masa kamu sudah minta lagi ]


[ Ya sudah, nanti aku transfer lagi ]


Setelah itu, Marcel memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu membuang nafas kasar, Marcel tidak percaya, jika penilaiannya terhadap Angelina salah. Belum ada 2 bulan menikah, tapi sisi buruknya sudah dapat Marcel rasakan.


Setelah itu Marcel kembali pada pekerjaannya, tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ia pun bersuara dan menyuruhnya untuk masuk. Marcel mendongak saat pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita berjalan mendekatinya, yang tak lain adalah sekretarisnya.


"Ada apa?" tanya Marcel.


"Saya mau ambil berkas yang sudah Bapak tanda tangani," jawab Lina, sekretaris Marcel.


Marcel pun menyerahkan berkas tersebut. "Ini."


"Iya Pak. Oya Pak, nanti jam 1 siang Bapak ada meeting," jelas Lina.


"Seharusnya iya Pak. Tapi besok Bapak ada kunjungan kerja ke Batam. Jadi meeting digeser hari ini," terang Lina.


Marcel menganggukkan kepalanya. "Ok, kamu atur saja, dan siapkan semuanya."


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Lina beranjak dari ruangan Marcel.


Marcel menyenderkan kepalanya di senderan kursi. Matanya menatap langit-langit kantornya. Tangan kanannya terangkat untuk mengendurkan dasinya. Entah kenapa hari ini Marcel merasakan hal berbeda, dan lagi-lagi rasa penasaran terhadap Amanda selalu muncul.


***


Di rumah Amanda nampak tengah sibuk di dapur, tangannya tengah berkutat dengan berbagai alat-alat dapur. Tenaganya seakan terkuras habis, tapi meski begitu, Amanda tidak mau membuka Marcel kecewa. Tidak masalah dengan sikapnya yang terkadang berubah-ubah, tapi sebagai istri Amanda melakukan yang terbaik.


Pukul 3 sore Amanda baru selesai, semua makanan dan kue sudah tersusun rapi di atas meja. Setelah itu Amanda bergegas mencuci peralatan dapur yang kotor, dan juga keadaan dapur yang berantakan. Karena ia tau jika Marcel melihatnya, pria itu akan marah, lantaran Marcel tidak suka dengan hal-hal yang kotor dan berantakan.


Selang beberapa menit, mobil Marcel berhenti di halaman rumahnya. Pria itu bergegas turun dari mobil, dan beranjak masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, Marcel mengedarkan pandangannya, rumah nampak begitu sepi. Ia pun memutuskan untuk naik ke atas, tapi langkahnya terhenti saat mendengar keributan dari arah dapur.


Karena penasaran, Marcel melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Terlihat Amanda yang tengah sibuk mencuci peralatan dapur, dan juga membereskan meja dapur yang berantakan. Tangannya begitu lihai, dapur yang semula berantakan seperti kapal pecah, kini mulai terlihat rapi dan juga bersih.


"Huft, sebentar lagi selesai," ujar Amanda.


Wanita itu tidak sadar, jika sedari tadi ada yang memperhatikannya. Marcel berdiri dengan bersedekap dada, dan menyenderkan tubuhnya di dinding. Pria itu nampak begitu serius melihat Amanda yang tengah sibuk membereskan dapur. Sampai akhirnya Amanda membalikkan badannya dan melihat Marcel.


"Mas Marcel sudah pulang," ujar Amanda. Wanita itu segera menaruh piring yang sudah bersih ke tempatnya.


Marcel hanya mengangguk, lalu pria itu berjalan menuju ruang tengah. Marcel meletakkan jasnya yang sudah terselampir di lengannya. Setelah itu Marcel menjatuhkan bobot tubuhnya, dan menyenderkan kepalanya di senderan sofa. Sesekali Marcel memijit pelipisnya. Selang beberapa menit Amanda datang dengan secangkir kopi kesukaan sang suami.


"Ini kopinya Mas." Amanda menaruh kopi tersebut di atas meja.


Marcel pun bangkit dan mengambil kopi tersebut, lalu menyeruputnya. "Terima kasih."

__ADS_1


Marcel meletakkan kembali kopi tersebut di atas meja. Pria itu nampak memijit-mijit tengkuknya yang mungkin terasa begitu pegal. Amanda tau, jika suaminya pasti sangat capek dan juga lelah. Hari ini termasuk pulang lebih awal, karena biasanya Marcel pulang sampai larut malam.


"Manda pijitin boleh Mas," tawar Amanda.


"Memangnya kamu bisa," sahut Marcel. Tangannya masih sibuk memijit tengkuknya.


"Insya Allah bisa Mas," balas Amanda.


"Ya sudah, ayo." Marcel berdiri dan menarik tangan Amanda.


Amanda terlihat bingung. "Kemana Mas."


"Di kamar aja ya, soalnya badan aku pegal-pegal semua," ujar Marcel. Ia pun kembali menarik tangan Amanda.


Sementara itu, Amanda hanya menurut. Wanita itu tidak mungkin menolaknya, Marcel pasti akan marah. Toh mereka sudah sah, jadi tidak mungkin akan berdosa. Meski Amanda tau, Marcel sampai detik ini belum mengakuinya sebagai istri. Tapi itu semua tidak menjadi masalah.


"Apa Angelina belum pulang?" tanya Marcel.


"Belum Mas," jawab Amanda.  Dan dibalas dengan anggukan oleh Marcel.


Kini Marcel dan Amanda sudah berada di dalam kamar, jujur Amanda merasa sedikit gugup, tapi segera mungkin wanita itu menormalkan segalanya. Terlihat Marcel yang tengah melepas dasinya, setelah itu Marcel juga membuka kancing kemeja. Setelah terlepas Marcel melemparnya, dan menjatuhkan bobot tubuhnya, dengan posisi tengkurap.


"Amanda ayo," pinta Marcel.


Dengan perlahan Amanda berjalan menuju ke ranjang, dan duduk di tepi ranjang. Sebelum memulai, terlebih dahulu Amanda menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan. Setelah itu tangan Amanda mulai memijit punggung Marcel. Pria itu sangat menikmati pijitan yang Amanda berikan.


***


Waktu terasa begitu cepat, malam pun telah datang. Malam ini Amanda nampak tengah membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah itu. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan Angelina dari bawah. Dengan tergesa-gesa Amanda beranjak dari tempat tidurnya dan segera turun ke bawah.


Amanda berjalan cepat menuju ke dapur. "Angelina, ada apa."


"Kamu itu tuli, apa budek sih." Angelina menarik tangan Amanda dengan kasar.


"Sekarang kamu bawa makanan ini, sama minuman ini ke ruang tamu. Mas Marcel sama temannya sudah menunggu." Angelina menyodorkan nampan yang berisi beberapa makanan dan juga minuman.


"I-iya." Amanda mengambil alih nampan tersebut.


Angelina berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu. Setibanya di ruang tamu, perempuan itu bergegas duduk di samping sang suami. Selang beberapa menit Amanda datang dengan membawa nampan yang berisi kue dan makanan ringan lainnya.


Dengan cepat Amanda menaruh isi nampan tersebut di atas meja. Setelah itu Amanda bergegas untuk kembali ke dapur. Tapi tiba-tiba saja sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan Amanda. Wanita itu mendongak dan dengan cepat Amanda melepas cekalan itu. Tanpa berucap Amanda bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.


"Eh bro, siapa dia. Cantik banget," puji salah satu teman Marcel.


"Dia cuma pembantu kok," jawab Angelina dengan cepat.


Sementara Marcel hanya diam, entah kenapa, saat melihat tangan Amanda di pegang oleh temannya itu. Marcel merasa tidak suka, mungkin lebih tepatnya Marcel cemburu. Setelah itu mereka pun kembali berbincang, serta bercerita.


"Kok lo nggak bilang sih, punya pembantu cantik kayak dia. Kalau gue jadi lo, bakal gue nikahin, nggak bakal gue jadiin pembantu," ujar Beni, teman Marcel yang sudah terkenal playboy itu.


Dada Marcel semakin bergemuruh, jantungnya berpacu lebih cepat. Matanya menatap tajam ke arah teman-temannya itu. Tangannya pun mulai mengepal, tapi tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur. Dengan cepat Marcel berlari menuju ke dapur.


Angelina dan teman-teman Marcel merasa heran dengan sikap Marcel. Karena penasaran, mereka pun bergegas menyusul Marcel. Setibanya di dapur, mereka semua tercengang saat melihat Marcel yang tengah membantu Amanda untuk duduk di kursi.


Hati Angelina memanas, saat melihat suaminya bersikap baik pada Amanda. Tidak tahan lagi, Angelina menarik tangan Marcel. Tapi dengan kasar Marcel mengibaskan tangan Angelina. Sementara Amanda terus memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Mas, kamu apa-apaan sih." Mata Angelina menatap tajam ke arah sang suami.


"Kamu yang apa-apaan, kamu enggak lihat kondisi Amanda!" Bentak Marcel. Mata elangnya pun tak kalah tajam menatap perempuan yang berdiri di hadapannya itu.


"Mas, dia itu hanya pembantu. Peduli apa kamu sama dia!" Seru Angelina. Hatinya benar-benar sakit, saat mendengar ucapan suaminya itu.


"Siapa bilang dia pembantu! Jelas aku peduli, karena dia juga istri aku!" Seru Marcel. Matanya menatap tajam ke arah Angelina.

__ADS_1


Teman-temannya Marcel terkejut saat mendengar pengakuannya. Begitu juga dengan Angelina, perempuan itu tidak percaya, jika Marcel bisa melakukan itu. Padahal yang ia tau, selama ini Marcel membenci Amanda.


__ADS_2