
Setelah Marcel mengeluarkan semua kemarahannya, Angelina baru mau angkat bicara, perempuan itu mulai menjelaskannya. Angelina memang selalu hidup dengan kemewahan, oleh sebab itu, Angelina selalu berbelanja barang-barang mewah. Tak peduli dengan harga, asalkan dia suka, maka dia akan mengambilnya.
Angelina juga sosok perempuan yang selalu menjaga penampilannya, terlebih saat bertemu dengan teman-temannya.
Maka tak jarang jika setiap kali belanja, Angelina mampu menghabiskan puluhan juta, bahkan sampai lebih. Uang bulanan yang selalu Marcel berikan, tidak pernah cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya.
Jadi jangan heran jika sampai ada surat tagihan datang ke rumah. Dan hal ini sama saja akan menjadi masalah baru, Marcel pasti tidak akan terima dengan semua itu. Marcel memang seorang pengusaha muda yang sukses, tapi dia bukan mesin pencetak uang. Terlebih Marcel bukan tipe orang yang senang menghambur-hamburkan uang, untuk hal-hal yang tidak penting.
Dada Marcel semakin bergemuruh setelah mendengar penjelasan dari Angelina. Rahangnya pun mengeras, tangannya mengepal. Marcel tidak menyangka jika Angelina bisa berbuat seperti itu, rupanya itu alasannya, kenapa Angelina mau menikah dengan Marcel. Perempuan itu hanya ingin memanfaatkannya saja.
Marcel sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, pria itu sudah mengangkat tangannya, dan hendak melayangkan tamparannya pada pipi Angelina. Tapi dengan cepat Amanda menahannya, wanita itu memeluk tubuh Marcel dan mencoba untuk menenangkannya. Marcel sempat memberontak, tapi pria itu akhirnya luluh juga.
"Mas Marcel sabar, istighfar Mas." Amanda terus menahan suaminya itu, agar tidak sampai lepas kendali.
Mata Marcel menatap tajam ke arah Angelina. "Kalau bukan karena Amanda, kamu sudah habis di tangan aku."
Angelina hanya diam, matanya menatap tajam ke arah Amanda. Rasa bencinya semakin mendalam, andai tidak ada Marcel, pasti Angelina sudah memberi pelajaran pada Amanda. Mata Angelina beralih pada Marcel, perempuan itu tidak menyangka kalau semua akan berakhir seperti ini. Tapi seorang Angelina tidak akan menyerah begitu saja.
***
Marcel benar-benar frustasi memikirkan masalah yang dibuat oleh istri mudanya itu. Andai saja Marcel tau sifat asli Angelina sejak awal, mungkin dia tidak akan menikahinya. Pria itu tidak menyangka, jika Angelina mau menikah dengannya hanya karena harta, bukan cinta. Hal yang paling mengejutkan adalah, jika anak yang Angelina kandung bukan anak Marcel, melainkan kekasihnya.
Marcel merasa sangat bodoh, selama ini Angelina sudah membohonginya. Angelina menikah dengan Marcel, tetapi di luar sana perempuan itu tetap menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah lama menjadi kekasihnya, sebelum bertemu dengan Marcel. Kemarahan Marcel sudah tidak dapat dikendalikan lagi.
Tanpa sepengetahuan Amanda, Marcel pergi untuk menemui kekasih Angelina. Bukan untuk memberinya perhitungan, melainkan menyuruh pria itu untuk membawa Angelina pergi dari rumahnya, bahkan dari hidupnya. Marcel paling tidak suka dengan penghianat, terlebih penghianat cinta. Meski Angelina adalah perempuan yang sangat Marcel cintai, tapi penghianatannya sudah cukup membuat cinta Marcel menghilang.
Sementara itu, Angelina yang mengetahui jika Marcel pergi, niat buruknya untuk memberi Amanda perhitungan akan ia laksanakan. Saat-saat seperti ini yang telah Angelina tunggu-tunggu, dan mungkin dewi keberuntungan berpihak pada Angelina. Perempuan ular itu tidak akan membiarkan Amanda bahagia bersama dengan Marcel.
"Kali ini, aku pastikan kamu tidak akan selamat lagi." Angelina menatap penuh kebencian terhadap Amanda.
Rumah nampak sepi, hanya ada Amanda, Angelina, dan bi Siti. Mang Agus pergi bersama dengan Marcel, sedangkan satpam penjaga sudah beberapa hari tidak masuk, lantaran sedang sakit. Angelina tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Perempuan itu akan menjalankan niat buruknya untuk mencelakai Amanda.
__ADS_1
Angelina berjalan menghampiri Amanda yang tengah duduk di sofa sembari membaca majalah. Tanpa diduga Angelina menarik tangan Amanda dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Amanda mencoba untuk memberontak, tapi sayang tenaga perempuan ular itu lebih kuat, Angelina terus menarik Amanda.
Setibanya di kamar, Angelina kembali menarik Amanda masuk ke dalam kamar mandi. Dengan keras Angelina mendorong tubuh Amanda hingga jatuh tersungkur. Amanda mencoba untuk bangun, tapi saat itu juga Angelina menarik rambut Amanda dengan sangat kuat, hingga wanita itu meringis menahan sakit.
"Angelina, apa yang akan kamu lakukan." Amanda mencoba melepaskan diri, tapi entah kenapa tenaga Angelina begitu kuat.
"Aku akan membuat kamu menderita." Angelina menarik rambut Amanda lebih keras lagi.
Setelah itu, Angelina menenggelamkan kepalanya Amanda pada bathtub yang penuh dengan air. Entah setan apa yang merasukinya, sehingga Angelina nekad berbuat seperti itu. Sementara Amanda hanya bisa beristighfar dalam hati, wanita itu pasrah dengan apa yang akan Angelina lakukan. Tenaga Angelina lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Amanda.
Berkali-kali Angelina menenggelamkan kepalanya Amanda, lalu menarik ke permukaan, dan menenggelamkannya lagi. Nafas Amanda seakan hampir habis, dadanya terasa begitu sesak. Tapi perempuan ular itu sepertinya belum puas untuk menyiksa Amanda, bahkan Angelina semakin menggila.
Badan Amanda sudah lemas, wajahnya juga terlihat begitu pucat. Setelah itu Angelina mendorong tubuh Amanda sampai kepalanya terbentur dinding. Bukan itu saja, Angelina juga melayangkan tamparan hingga sudut bibir Amanda mengeluarkan cairan merah. Amanda pikir Angelina akan berhenti menyiksanya, tapi dugaannya salah.
Amarah Angelina semakin menjadi, matanya menatap tajam dan penuh kebencian. Perlahan Angelina mengeluarkan pisau kecil, dan juga tajam. Mata Amanda terbelalak saat perempuan ular itu menodongkan pisau tajam tersebut. Angelina benar-benar sudah gila, perempuan itu sudah tidak waras lagi, Angelina terus menodongkan pisau tersebut.
Amanda mencoba untuk berdiri, tapi badannya terasa sangat lemas, tenaganya sudah terkuras habis. Dengan sekuat tenaga, Amanda mendorong tubuh Angelina hingga perempuan itu jatuh terjerambah ke belakang. Setelah itu Amanda bangkit dan segera keluar dari kamar mandi. Wanita itu berjalan dengan tertatih-tatih hingga dapat keluar dari kamar.
Namun nasib buruk perpihak pada Amanda, wanita itu terpeleset saat mencoba untuk menuruni anak tangga. Tubuh Amanda jatuh menggelinding hingga sampai di bawah tangga. Cairan merah mengalir dari selangkangannya, keningnya meneteskan darah, serta siku tangannya lebam.
"Ya Allah, bagaimana ini." Bi Siti mondar-mandir tak karuan.
Selang beberapa terdengar deru mobil yang memasuki halaman, bi Siti bergegas keluar. Terlihat Marcel keluar dari mobil, dengan cepat perempuan paruh baya itu menghampiri majikannya itu. Marcel terlihat heran saat melihat asisten rumah tangga menghampirinya dengan terburu-buru seperti itu, raut wajahnya pun terlihat panik.
"Ada apa Bi," tanya Marcel. Pria itu tengah melepas jasnya.
"Anu Tuan, Nyonya Amanda Tuan." Bi Siti gugup harus bagaimana cara menjelaskannya.
Tanpa bertanya, Marcel berlari masuk ke dalam rumah. Matanya terbelalak saat melihat Amanda yang sudah terkapar tak berdaya dengan darah yang terus mengalir. Pria itu berlari mendekati tubuh sang istri, lalu mengangkat kepala Amanda, dan meletakkan dipangkuannya. Raut wajah Marcel terlihat sangat panik, dan juga khawatir.
"Amanda, kamu kenapa. Apa yang terjadi, Bi." Marcel berteriak memanggil asisten rumah tangganya.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu berlari tergopoh-gopoh mendekati majikannya. "Maaf Tuan, saya tidak tau apa yang terjadi. Saat saya keluar dari dapur, Nyonya Amanda sudah begini."
Mendengar penjelasan dari asisten rumah tangganya, Marcel segera mengangkat tubuh Amanda, pria itu bergegas keluar dan menuju ke mobil. Marcel mendudukkan tubuh Amanda di jok depan, setelah itu Marcel masuk dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa khawatir dan panik telah menguasai benaknya.
***
Marcel sudah tiba di RS, pria itu segera mengangkat tubuh Amanda dan membawanya masuk ke dalam. Amanda langsung di bawa ke ruang IGD, Marcel hanya bisa menunggu di luar, pria itu terlihat sangat frustasi. Berkali-kali Marcel menjambak rambutnya sendiri, penyesalan selalu datang terlambat, semua yang terjadi adalah atas kebodohan Marcel sendiri.
Marcel terus mondar-mandir di depan pintu kaca, sesekali Marcel melihat ke dalam, Dokter dan perawat tengah memberikan pertolongan kepada sang istri. Entah kenapa hati Marcel terasa sangat sakit, saat melihat Amanda terbaring lemah seperti itu. Ingin rasanya Marcel menggantikan posisi istrinya itu, tapi itu tidak mungkin.
Hampir satu jam Marcel menunggu, tapi Dokter belum juga keluar. Rasanya pria itu ingin sekali mendobrak masuk ke dalam, Marcel benar-benar khawatir akan keadaan Amanda. Rasa bersalah selalu menghantuinya, Marcel sudah tidak tau lagi, apa yang akan diperbuat. Duduk, berdiri, berjalan ke sana kemari tak jelas. Sesekali Marcel mengusap wajahnya dengan kasar.
Selang beberapa menit, Regina dan Gunawan datang, Marcel sedikit terkejut saat melihat kedua orang tuanya datang menghampirinya. Mungkin bi Siti yang sudah memberitahu mereka, nyali Marcel sedikit menciut saat melihat tatapan Regina dan Gunawan seperti singa kelaparan, yang hendak menerkam mangsanya.
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Marcel, dan satu lagi mendarat di pipi kirinya. Marcel hanya diam, dia memang pantas mendapatkan semua itu, bahakn rasa sakit yang Marcel rasakan tidak sebanding dengan apa yang sudah Amanda rasakan selama ini. Seketika Marcel berlutut di kaki ibunya, pria itu tiba-tiba menangis, Regina masih terdiam, kemudian perempuan itu duduk di kursi tunggu.
"Itu akibatnya jika kamu tidak mau mendengarkan apa kata orang tua. Sekarang kalau sudah begini, baru menyesal, kan." Gunawan berusaha untuk menahan emosinya.
"Marcel minta maaf ma, Marcel memang salah." Marcel masih bersimpuh di kaki ibunya. Marcel menenggelamkan wajahnya di pangkuan ibunya.
"Sabar ya, Nak. Semoga setelah ini kamu lebih bisa menghargai istrimu, wanita yang harus kamu jaga." Regina mengusap lembur kepala putranya itu. Meski Marcel sering membuatnya marah, tapi kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah pudar.
Baru kali ini Marcel menangis karena seorang wanita, selain ibunya. Kini wajah Marcel yang selalu tegas dan juga garang, nampak tak terlihat. Pria itu nampak seperti pria pada umumnya, yang bisa menangis dan bersedih. Meski Marcel terkenal kejam tapi di hati kecilnya masih memiliki rasa kasihan dan juga cinta.
Selang beberapa menit pintu terbuka, seorang Dokter keluar. Dengan cepat Marcel menyeka air matanya, lalu bangkit dan menghampiri Dokter tersebut. Rasanya Marcel sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui bagaimana keadaan sang istri. Regina dan Gunawan pun ikut mendekat.
"Maaf Pak, saya tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di rahim istri Bapak. Benturan keras pada perut istri Bapak membuatnya keguguran, istri Bapak juga mengalami pendarahan yang cukup hebat. Kami harus melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya," jelas Dokter tersebut.
Persendian Marcel terasa lemas seketika, dadanya terasa sangat sesak. Nyawa Amanda berada di ujung tanduk, dan itu terjadi karena kecerobohannya. Marcel tidak menyangka kalau ini akan terjadi, andai dia lebih berhati-hati, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok. Tolong selamatkan nyawa istri saya." Suara Marcel terdengar bergetar. Air matanya lolos seketika. Regina pun sama, perempuan itu merasa sedih dengan apa yang sudah menimpa menantunya itu.
__ADS_1
"Baik, kami akan segera mempersiapkannya." Dokter itu berlalu pergi.
Marcel berjalan mendekat ke arah pintu, pria itu dapat melihat istrinya yang terbaring lemah di dalam sana. Berbagai alat medis menempel di badannya, Marcel benar-benar tidak sanggup melihat Amanda seperti itu. Seketika tibuh Marcel luruh ke lantai, pria itu benar-benar merasa sangat bersalah.