
Hari pernikahan Marcel dan Angelina telah tiba. Akad akan dilaksanakan di gedung yang sudah Marcel sewa. Suasana gedung begitu ramai, tamu undangan yang jumlahnya tidak sedikit sudah memenuhi gedung.
Penghulu pun sudah tiba, hanya menunggu pengantin wanita siap.
Marcel sudah siap dengan setelan jas berwarna putih. Pria itu terlihat sangat tampan dan juga gagah. Senyum tak pernah pudar dari bibir tipisnya. Andai saja dulu seperti itu saat pernikahannya dengan Amanda, pasti wanita itu akan merasa sangat bahagia.
Namun semua itu hanya angan-angan saja. Angelina sudah siap dengan baju pengantinnya. Perempuan itu berjalan dengan di dampingi oleh kedua orang tuanya. Perempuan itu terlihat sangat cantik dan juga anggun.
Sementara Amanda hanya bisa melihat dari kejauhan. Wanita itu ingin sekali berada di dekat suaminya, tapi hatinya tidak kuat jika harus menyaksikan Marcel mengucapkan ijab yang kedua kalinya. Istri mana yang rela bila suaminya menikah lagi.
Regina mendekati menantunya. "Yang sabar ya Nak, kuatkan hatimu."
Amanda tersenyum getir. "Makasih ya ma."
Amanda memeluk ibu mertuanya itu. Andai orang tuanya berada di rumah, pasti Amanda memilih pergi ke rumah orang tuanya. Sayangnya orang tuanya kini sedang berada di luar negeri. Mau tidak mau Amanda harus menyaksikan suaminya menikah lagi.
"Mama ke sana dulu ya," ucap Regina, dan dibalas dengan anggukan oleh Amanda.
Angelina dan Marcel sudah duduk menghadap ke penghulu. Acara ijab qobul pun akan segera dilaksanakan. Pak penghulu menjabat tangan Marcel, dan ijab qobul akan segera dilaksanakan. Ijab qobul telah terucap, dan hanya satu tarikan nafas saja, Marcel berhasil mengucapkannya dengan jelas dan juga lantang.
Air mata Amanda menetes saat mendengar kata 'SAH' hatinya terasa sakit. Sekarang dirinya telah memiliki madu, dan Amanda tidak tau akan seperti apa rumah tangganya setelah hadirnya perempuan yang begitu Marcel cintai.
Acara ijab qobul telah selesai, kini Marcel dan Angelina berdiri di pelaminan. Senyum tak pernah pudar dari keduanya. Amanda dapat melihat jika Marcel sangat bahagia bersanding dengan Angelina. Perempuan yang sangat Marcel cintai.
"Aku bahagia, bila melihat kamu bahagia Mas," lirih Amanda. Dadanya terasa sesak.
Kini Marcel dan Angelina tengah sibuk menerima ucapan selamat dari teman, serta tamu undangan yang datang. Sementara Regina memilih menghampiri Amanda yang tengah berdiri tak jauh dari pelaminan.
"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Regina. Tangannya mengelus lembut bahu menantunya itu.
"Iya ma, Manda baik-baik saja kok," sahut Amanda berbohong.
Nyatanya sejak tadi Amanda sering memegangi kepalanya yang terasa pusing. Badannya terasa begitu lemas. Bahkan kini pandangannya mulai kabur. Regina yang menyadari itu terlihat begitu khawatir.
"Sayang, kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Regina. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
Amanda menggelengkan kepalanya. "Enggak apa-apa kok ma, hanya sedikit pusing."
"Sebentar ya, mama ambilin minum dulu." Regina berjalan menuju meja untuk mengambil air minum.
Namun saat Regina kembali, tiba-tiba ia melihat tubuh Amanda ambruk ke lantai. Dengan cepat Regina melempar gelas itu dan berlari menghampiri menantunya itu yang sudah tidak sadarkan diri.
"Amanda, kamu kenapa Sayang." Regina menepuk-nepuk pipi Amanda.
Regina terlihat begitu panik. Begitu juga dengan tamu undangan yang hadir. Amanda dan Regina menjadi pusat perhatian mereka. Gunawan pun segera berlari menghampiri istri dan menantunya itu. Lelaki itu juga sama terlihat panik.
"Ma, Amanda kenapa?" tanya Gunawan.
"Mama enggak tau pa." Regina berusaha menyadarkan menantunya itu.
"Marcel." Teriak Regina.
Marcel yang awalnya acuh, tiba-tiba ikut panik saat mendengar ibunya berteriak. Detik itu juga Marcel berlari menerobos kerumunan para tamu undangan yang tengah mengerumuni Amanda. Entah kenapa saat melihat Amanda tergeletak tak sadarkan diri pria itu ikut merasa khawatir.
"Ma, Amanda kenapa?" tanya Marcel. Raut wajah Marcel terlihat jelas, jika pria itu merasa khawatir dengan keadaan Amanda.
__ADS_1
"Cepat bawa Amanda ke RS," titah Regina.
"Tapi ma .... "
"Kamu tidak lihat keadaan Amanda sekarang. Bagaimanapun juga, Amanda juga istri kamu," seru Regina.
"Tapi ma ... Marcel .... "
"Marcel, cepat bawa Amanda ke RS," potong Gunawan dengan cepat.
Tidak ingin berdebat lagi. Akhirnya Marcel membopong tubuh lemah Amanda untuk segera di bawa ke RS. Angelina terlihat begitu kesal, lantaran Marcel lebih mementingkan Amanda, dari pada acaranya sendiri.
***
Setibanya di RS Amanda segera di bawa ke ruang IGD. Marcel, Gunawan, dan Regina menunggunya di luar. Marcel nampak gelisah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Amanda kah, atau Angelina yang baru saja ia sah 'kan menjadi istrinya.
Selang beberapa menit, Dokter keluar dari ruang tersebut. "Maaf, suami dari pasien mana ya, ada yang harus saya bicarakan."
Regina segera menarik tangan putranya itu. "Dia suaminya Dok."
"Mari ikut saya sebentar Pak." Dokter itu berjalan menuju ke ruangannya, dan diikuti oleh Marcel.
Setibanya di ruangan, Dokter itu segera duduk di kursinya, begitu juga dengan Marcel. Pria itu duduk berhadapan dengan sang Dokter. Marcel berusaha bersikap tenang, meski dalam hatinya ia merasa khawatir.
"Begini Pak, setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ibu Amanda mengalami tekanan yang begitu berat dalam hidupnya, hal ini sangat berpengaruh pada kesehatannya, dan juga janin yang dikandungnya. Jadi saya harap, Bapak lebih memperhatikan lagi kesehatan istri Bapak," jelas sang Dokter.
"Ini adalah hasil pemeriksaan kesehatan istri Bapak." Dokter itu menyerahkan selembar kertas.
"Terima kasih Dok. Kalau begitu saya permisi dulu." Marcel bangkit dari duduk dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.
"Marcel, bagaimana keadaan Amanda. Dia tidak apa-apa, kan?" tanya Regina.
"Ini hasil pemeriksaan kesehatan Amanda ma." Marcel menyerahkan kertas tersebut.
Regina langsung menerimanya dan segera membacanya, begitu juga dengan Gunawan.
Raut wajah sedih terlihat jelas dari Regina dan juga Gunawan.
"Dokter bilang apa saja selain ini?" tanya Regina.
Marcel terdiam sejenak, setelah itu Marcel menceritakan apa yang telah Dokter itu katakan. Regina terlihat kecewa setelah mendengar apa yang sudah Marcel ceritakan.
"Mama tau, kamu memang tidak mencintai Amanda. Tapi setidaknya kamu bersikap baik dengan dia, apa kamu tidak bisa. Bagaimanapun juga Amanda itu istri kamu," tukas Regina. Raut wajahnya terlihat sangat kecewa.
Sementara Gunawan memilih untuk diam. Begitu juga Marcel, pria itu diam saat mendengar setiap yang ibunya ucapkan.
Entah apa yang ada pada otak Marcel.
"Sekarang mama sama papa mau pulang, kamu temani Amanda sampai dia sembuh," putus Regina.
"Tapi ma, bagaimana dengan .... "
"Mama bilang temani Amanda sampai dia sembuh. Kalau kamu berani meninggalkan Amanda, kamu siap-siap melihat kuburan mama, mengerti," ancam Regina. Setelah itu Regina dan Gunawan berjalan meninggalkan Marcel yang masih tak bergeming.
Setelah orang tuanya pulang, Marcel bergegas masuk ke ruang rawat Amanda, yang sudah dipindahkan ke ruang VIP. Marcel berjalan mendekati ranjang Amanda, pria itu duduk di samping sang istri.
__ADS_1
Marcel terlihat begitu gusar, jujur saja Marcel juga khawatir dengan kondisi kesehatan Amanda. Tapi ia juga memikirkan bagaimana dengan Angelina, pria itu sama sekali tidak bisa memberi kabar terhadap istrinya itu. Pergi yang sangat mendadak, sehingga Marcel tidak sempat membawa ponselnya.
"Mungkin yang mama katakan memang benar, aku terlalu egois. Selama ini aku selalu menyiksa kamu, bahkan aku tidak segan-segan untuk memukulmu," gumam Marcel.
Marcel bangkit dari duduknya, dan menuju ke sofa. Pria itu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Marcel merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Tengah malam, Marcel mendengar rintihan Amanda.
Merasa terusik, Marcel membuka matanya dan mendekati ranjang Amanda. Terlihat wanita itu yang terus merintih. Marcel terlihat khawatir, pria itu memegang tangan Amanda, untuk mencoba menenangkannya. Pria itu dapat merasakan jika suhu tubuh Amanda sangat dingin.
"Amanda, kamu baik-baik saja kan," lirih Marcel.
"Dingin." Hanya itu yang terucap dari bibir pucat Amanda.
Marcel mencoba menggosok-gosok telapak tangan Amanda, berharap wanita itu bisa merasa hangat. Tapi usahanya sia-sia, Amanda terus merintih kedinginan. Marcel melirik jam yang bertengger di dinding, jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Marcel bisa saja memanggil Dokter, tapi pria itu enggan melakukannya. Alhasil Marcel terpaksa naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Amanda. Perlahan wanita itu diam, rintihannya berkurang. Entah kenapa, Marcel merasa ada debaran aneh saat berada sedekat itu dengan Amanda.
***
Sementara itu, Angelina merasa begitu kesal dengan Marcel. Setelah Regina dan Gunawan pulang, mereka memberi kabar jika Marcel tidak akan pulang. Dengan hati yang kecewa, Angelina pulang ke rumah Marcel hanya bersama kedua orang tuanya saja.
Perempuan itu berniat ingin menyusul Marcel ke RS. Tapi dengan cepat Regina melarangnya, kalau Angelina berani melanggarnya, maka Regina tidak akan tinggal diam. Dengan terpaksa Angelina tetap tinggal di rumah.
"Kamu lihat saja Amanda, mungkin kali ini kamu menang. Tapi setelah ini, kamu akan merasakan hal buruk yang belum pernah kamu rasakan," gumam Angelina dalam hati. Senyum sinis terukir di bibir merahnya.
Setelah itu Angelina merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan mencoba untuk memejamkan matanya.
***
Pagi telah menyapa, Marcel merasa terganggu dengan sinar mentari yang masuk ke dalam. Perlahan pria itu membuka kelopak matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah pucat Amanda. Dengan sangat hati-hati Marcel melepas pelukannya, dan turun dari ranjang.
Marcel menyunggingkan senyum saat mengingat apa yang ia lakukan untuk Amanda. Wanita yang sangat ia benci, wanita yang selalu membuatnya marah. Tapi entah kenapa saat melihat Amanda seperti itu hatinya merasa tidak tega. Setelah itu Marcel masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Pukul 7 pagi, Amanda sudah sadar, Dokter pun sudah memeriksanya. Saat MarcelĀ masuk ke dalam, terlihat Amanda hendak mengambil makanan di samping ranjang, tapi tenaganya yang masih lemas membuat gelas yang berada di samping mangkuk itu jatuh. Melihat itu dengan cepat Marcel berlari menghampirinya.
"Amanda kamu enggak apa-apa kan?" tanya Marcel. Pria itu membantu Amanda untuk berbaring kembali.
"Maaf Mas, tadi aku mau ambil makanan itu." Amanda menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa takut jika harus menatap mata elang suaminya itu.
Marcel hanya menghela nafas. Pria itu mengambil mangkuk yang berada di atas nakas, lalu menarik kursi dan duduk.
"Sekarang kamu makan buburnya dulu ya." Marcel menyodorkan sesendok bubur ke mulut Amanda.
Amanda diam, wanita itu menatap Marcel tak percaya. Pria yang selama ini berbuat kasar, tiba-tiba bisa selembut itu. Ada perasaan aneh yang Amanda rasakan.
"Manda bisa sendiri kok Mas." Amanda berniat mengambil alih sendok itu, tapi Marcel mencegahnya.
"Kondisi kamu masih lemah, sekarang kamu makan dulu," ujar Marcel. Dengan terpaksa Amanda menerima suapan itu.
Entah bahagia atau apa yang tengah Amanda rasakan. Tapi jika boleh jujur, Amanda merasa bahagia jika Marcel bisa seperti itu untuk seterusnya. Marcel menyunggingkan senyum saat melihat ada sisa bubur di sudut bibir Amanda.
Perlahan Marcel mengusap sudut bibir Amanda dengan ibu jarinya. Tapi saat itu juga pintu ruangan terbuka. Seorang wanita masuk ke dalam yang tidak lain adalah Angelina. Perempuan itu seketika berteriak saat melihat Marcel berbuat baik kepada Amanda.
"Mas Marcel." Teriak Angelina. Matanya menatap tajam ke arah Amanda.
__ADS_1
Mendengar teriakkan itu, seketika Marcel dan Amanda menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sontak Marcel terkejut saat melihat Angelina tiba-tiba berada di belakangnya. Mata Angelina menatap penuh kebencian terhadap Amanda, sementara Amanda hanya bisa pasrah dengan apa yang akan perempuan itu lakukan.