Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Curiga-11


__ADS_3

Marcel menoleh ke arah pintu, matanya menatap tajam ke arah perempuan yang kini tengah berdiri di sana, yang tak lain adalah Angelina. Sementara Amanda bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Malu, ya itu yang Amanda rasakan, meski Marcel adalah suaminya sendiri, tapi selama mereka menikah, pria itu belum pernah melakukan apa-apa dengan Amanda.


Sementara itu, Angelina menatap penuh kekesalan kepada Amanda. Darahnya sudah mendidih, otaknya terasa penuh, emosinya juga sudah memuncak. Sebelum Angelina menghampiri Amanda, dengan cepat Marcel berjalan mendekati sang istri. Pria itu melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang begitu kesal. Karena Marcel adalah tipikal orang yang sangat tidak suka diganggu.


"Ada apa," ketus Marcel, sorot matanya begitu tajam.


"Mas ngapain di sini dengan wanita itu. Apa Mas lupa siapa dia." Angelina menunjuk ke arah Amanda.


"Dia istriku, memangnya salah kalau aku di sini," ujar Marcel. Pria itu mencoba menahan amarahnya.


"Tapi Mas ... dia wanita murahan, Mas lupa dengan foto yang aku kirim ke Mas tadi siang." Angelina menatap Marcel dengan wajah kebingungan.


Memang benar yang dikatakan oleh Angelina, jika dia yang sudah mengirim foto tersebut pada Marcel. Tapi sayangnya, Marcel lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Amanda. Karena Marcel juga tau, siapa itu Reza, dan bagaimana Reza dan Amanda dulu. Selama masih bisa berfikir positif, masalah serumit apapun pasti akan terselesaikan dengan cepat, tanpa menimbulkan pertengkaran.


"Iya. Tapi sayangnya aku lebih paham, dan tau siapa Reza, dan siapa Amanda. Lebih baik kamu kembali ke kamar dan tidur, malam ini aku tidur di sini." Marcel menutup pintu kamarnya, setelah mengatakan semua itu. Tak lupa Marcel juga menguncinya.


Angelina benar-benar tidak terima dengan apa yang Marcel lakukan. Perempuan sangat tidak rela jika Marcel berhubungan dengan wanita lain, selain dirinya. Angelina masuk ke kamar dan membanting keras pintu kamarnya. Bukan itu saja, perempuan itu melempar semua barang-barang yang ada di kamar. Perempuan itu terlihat sangat frustasi.


Sementara itu, Marcel berjalan menghampiri Amanda seraya melepaskan kemeja yang ia kenakan. Marcel melempar kemeja tersebut ke sofa, lalu kembali mendekati sang istri. Amanda kembali menegang, badannya tidak bisa digerakkan, sementara mata Marcel menatapnya dengan tatapan yang membuat wanita itu bergidik ngeri.


"Mas mau ngapain?" tanya Amanda, perlahan wanita itu memundurkan langkahnya.


"Lakukan tugasmu sebagai seorang istri," titah Marcel. Pria itu terus menatap wajah sang istri yang terlihat begitu panik.


"Tap-tapi Mas .... " ucapan Amanda terpotong saat jari telunjuk Marcel menempel di bibir Amanda yang merah itu.


"Aku tidak suka penolakan, lakukan apa yang sudah seharusnya kamu lakukan." Tanpa diduga, Marcel mengangkat tubuh Amanda, lalu dibaringkan di atas ranjang.


Amanda masih terdiam, entah apa yang ada dalam otaknya sekarang. Tapi seharusnya Amanda bahagia, jika Marcel mau mengakuinya sebagai istrinya. Dan pastinya usahanya selama ini tidak sia-sia, meski harus menderita, tapi akhirnya Amanda bisa memenangkan hati Marcel. Wanita itu sangat yakin, jika Marcel akan menjadi miliknya.


Ini mungkin baru permulaan, tapi Amanda yakin, perlahan ia akan memiliki Marcel seutuhnya. Amanda memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya dan mengangguk dengan senyum manisnya. Marcel menyunggingkan senyumnya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


Setelah membaca do'a, Marcel akan memulai ibadah halalnya.


***


Adzan subuh telah berkumandang, Amanda yang mendengarnya dengan segera membuka matanya. Entah kenapa malam ini Amanda tidur sangat nyenyak, rasanya juga nyaman, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Wanita itu membuka matanya, dan pertama kali yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya. Amanda tersenyum melihat wajah damai Marcel yang sedang terlelap.


Amanda baru sadar jika dirinya tidur berbantalkan lengan kekar suaminya. Ia juga baru ingat, jika semalam Amanda telah melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Mengingat itu Amanda tersenyum, tapi tiba-tiba Marcel bergerak, dengan cepat Amanda menarik selimutnya dan mengeratkannya. Jantungnya kembali berpacu, sungguh baru pertama kali Amanda merasakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun." Suara Marcel masih terdengar begitu serak. Matanya pun belum terbuka sempurna.


"Em, eh, iya Mas," sahut Amanda gugup. Wanita itu semakin mempererat selimutnya, saat merasa Marcel melingkarkan tangannya di perutnya. Bahkan pria itu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Amanda.


"Aku masih ngantuk, tolong jangan ganggu aku ya." Marcel kembali memejamkan matanya. Hembusan nafasnya menyapu leher mulus Amanda.


"Tapi Manda mau mandi Mas, udah adzan ... kita shalat dulu yuk Mas." Amanda langsung menggigit bibir bawahnya, takut yang diajak marah.


Marcel terdiam, ia akui memang sudah lama Marcel telah meninggalkan kewajibannya. Entah kenapa Marcel merasa jika Amanda adalah sosok istri yang patut ia banggakan. Amanda bisa menjadi contoh yang baik, Marcel yakin jika istrinya itu bisa membawanya dalam kebahagiaan yang sempurna.


"Ya sudah, ayo." Marcel bangkit dan terduduk. Pria itu segera meraih handuk yang Amanda pakai semalam.


"Kok diem, ayo." Marcel sudah berdiri dan melilitkan handuk tersebut di pinggangnya.


Amanda tersentak, Marcel merasa tidak sabar lagi, dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Amanda yang masih terbalut selimut. Wanita itu tidak dapat menolaknya lagi, ini adalah pertama kali baginya untuk mandi bersama dengan seorang pria. Dia adalah suaminya sendiri, sungguh apa yang terjadi semua di luar dugaannya.


Pukul 6 pagi, seperti biasa Amanda tengah menyiapkan sarapan pagi. Tapi sekarang tugasnya sedikit ringan, lantaran bi Siti sudah kembali bekerja. Sementara itu, Marcel kembali ke kamarnya di mana Angelina tidur. Pria itu segera membuka pintu kamarnya, dan detik itu juga pria itu terkejut saat melihat kamarnya yang berantakan. Hampir semua barang-barangnya berserakan di lantai.


Mata Marcel tertuju pada pintu yang menuju balkon terbuka, pria itu juga mendengar suara Angelina yang tengah menerima telepon. Merasa penasaran, Marcel melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Samar-samar Marcel mendengar suara seorang lelaki dari ujung telepon sana. Entah kenapa dada Marcel terasa bergemuruh, darahnya pun terasa mendidih.


Saat Marcel akan menghampiri Angelina, tiba sambungan telepon diakhiri, lalu perempuan itu melangkah masuk ke dalam. Angelina sedikit terkejut saat melihat Marcel sudah berada di dalam kamar. Wajahnya terlihat tegang, seperti ada sesuatu yang tengah Angelina sembunyikan. Rasa penasaran semakin dalam, Marcel curiga jika istrinya itu punya hubungan lain dengan lelaki di luar sana.


"Em, cuma temen memangnya kenapa?" tanya Angelina, perempuan itu berusaha untuk bersikap tenang.


"Oh." Marcel melenggang menuju almari untuk mengambil pakaian kerjanya.


Sementara itu, Angelina masih terdiam tak bergeming. Perempuan itu merasa was-was jika suatu saat nanti, rahasianya terbongkar. Angelina harus lebih waspada, ia juga akan mencari cara agar tujuannya menikah dengan Marcel cepat tercapai. Angelina tidak akan melepaskan Marcel sebelum sampai pada tujuannya.


Selesai memakai pakaian kerjanya, Marcel berjalan keluar dari kamar tanpa memperpedulikan Angelina. Perempuan itu merasa heran dengan suaminya itu, kenapa Marcel berubah seperti itu, padahal sebelumnya tidak begitu, bahkan biasanya Marcel bersikap romantis kala bersama, tapi sekarang justru sebaliknya.


Mata Angelina menatap lurus, hingga Marcel menghilang di balik pintu. Setelah itu Angelina bergegas keluar dan turun ke bawah, setibanya di bawah, Angelina segera menuju ke meja makan. Di sana terlihat Amanda yang tengah meladeni Marcel untuk sarapan pagi. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya, tapi kali ini, Angelina merasa ada yang aneh antara mereka berdua.


Terlihat Marcel dan Amanda tengah berbahagia, senyum tak pernah lepas dari keduanya, sesekali mereka juga tertawa kecil. Mata Angelina memanas, dadanya pun naik-turun menahan amarahnya, darahnya seakan mendidih. Tangannya mengepal, dengan perasaan yang bergemuruh Angelina berjalan mendekati mereka, dan tanpa diduga Angelina mengambil segelas susu lalu ia siramkan dengan kasar ke arah wajah Amanda.


"Astaghfirullah." Amanda sangat terkejut dengan apa yang telah Angelina lakukan.


Begitu juga dengan Marcel, pria itu bergegas bangkit dan menghampiri Amanda. Emosi Angelina semakin memuncak saat melihat Marcel begitu khawatir dengan istri pertamanya itu. Angelina sangat tidak rela, jika Marcel bersikap baik pada Amanda, Marcel benar-benar sudah berubah, entah apa yang sudah Amanda lakukan, sehingga mampu merubah sikap kasar Marcel menjadi lembut.


"Angelina, apa yang kamu lakukan." Mata Marcel menatap tajam ke arah Angelina.

__ADS_1


"Ini belum seberapa Mas, kalau wanita murahan ini berani .... "


"Diam. Jangan pernah kamu menyebut Amanda wanita murahan, karena dia tidak seperti itu. Amanda wanita yang baik." Marcel menekan setiap ucapannya. Dadanya terasa bergemuruh saat Angelina menyebut Amanda wanita murahan.


Angelina menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marcel lebih membela Amanda dari pada dirinya, perempuan itu tidak akan pernah terima dengan apa yang Marcel lakukan. Tiba-tiba saja Angelina mengangkat tangannya dan hendak melempar tamparannya di pipi kanan Amanda. Tapi dengan cepat Marcel mencekal pergelangan tangan Angelina.


"Berani kamu menampar Amanda, kamu akan tau akibatnya." Marcel mengibaskan tangan Angelina dengan kasar. Setelah itu Marcel membawa Amanda naik ke atas menuju ke kamarnya.


Angelina kembali mengamuk, perempuan itu mengobrak-abrik meja makan, semuanya hancur berantakan. Bi Siti ya melihatnya hanya bisa mengelus dada, perempuan paruh baya itu tidak menyangka, kalau Angelina adalah sosok wanita yang kasar, sangat berbeda dengan Amanda. Pantas saja Marcel berubah, seorang suami pasti tidak akan suka dengan sikap istri yang seperti itu.


***


Waktu terus berjalan, pagi telah berganti siang, dan siang telah berganti sore. Hari ini Marcel memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor, sejak kejadian tadi pagi pria merasa tidak tenang jika harus meninggalkan Amanda. Semakin ke depan Angelina juga semakin menunjukkan sikap buruknya, sudah hampir satu bulan Marcel mencurigai Angelina. Tapi sampai detik ini, Marcel belum bisa membongkar rahasia perempuan itu, tapi cepat atau lambat, pasti akan terbongkar.


Sore ini Marcel tengah sibuk di ruang kerjanya, sementara Amanda lebih memilih menonton televisi. Lalu Angelina, perempuan itu pergi sejak pagi, setelah membuat berantakan meja makan, Angelina pergi entah kemana. Selang beberapa menit suara bel rumah berbunyi, dengan segera Amanda bangkit dan berjalan menuju pintu depan.


Amanda membuka pintu rumahnya, seorang pria berdiri di depan pintu.


"Permisi Bu, apa benar ini rumah Pak Marcel Arkanza Adiwinata?" tanya pria itu.


"Benar, ada perlu apa ya," jawab Amanda. Wanita itu merasa heran dengan pria tersebut. Penampilannya rapi, sepertinya dia seorang pegawai.


"Saya hanya mau mengantarkan surat tagihan ini, atas nama Ibu Angelina." Pria itu menyodorkan sebuah kertas putih. Amanda menerimanya.


Setelah itu, pria tersebut segera berpamitan dan pergi. Amanda menutup pintu rumahnya dan berjalan masuk ke dalam. Amanda penasaran dengan surat tagihan itu, tapi ia akan menyerahkan langsung pada Marcel. Belum sempat Amanda menaiki anak tangga, ia dikagetkan dengan suara Marcel dari arah dapur. Amanda pun menoleh, pria itu berjalan mendekat.


"Amanda, ada apa?" tanya Marcel.


"Ini Mas." Amanda menyerahkan surat tagihan tersebut.


Marcel menerima surat tersebut. Pria itu segera membukanya dan membacanya. Mata Marcel terbelalak setelah membaca isi surat tagihan tersebut. Marcel mengepalkan tangannya, dadanya terasa sesak setelah membaca surat tersebut, Angelina benar-benar sudah keterlaluan. Perempuan itu sudah kelewat batas, sorot matanya menunjukkan kemarahan yang sudah memuncak.


Selang beberapa menit, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Dengan cepat Marcel bangkit dan berjalan menuju pintu utama. Amanda yang merasa khawatir, dengan segera menyusul suaminya itu. Saat Marcel akan membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar, Angelina berdiri di depan pintu. Tanpa basa-basi Marcel menarik tangan Angelina dan menyeretnya masuk ke dalam.


Marcel mendorong tubuh Angelina ke sofa, lalu pria itu melempar surat tersebut tepat ke arah Angelina. Matanya sudah memanas, ingin rasanya Marcel menelan hidup-hidup perempuan itu, kalau saja ia tidak ingat jika Angelina tengah hamil. Sementara Amanda hanya bisa diam, sesekali wanita itu memegang bahu Marcel, agar tidak lepas kendali. Amanda takut jika emosi suaminya itu tidak terkontrol.


"Sekarang kamu jelaskan tentang surat tagihan itu." Suara Marcel terdengar begitu keras dan menggelegar.


Matanya sudah memerah, dadanya naik-turun menahan amarahnya, nafasnya pun terasa tersegal. Giginya gemelutuk karena menahan emosi yang sudah memuncak. Andai yang ada di hadapannya bukan seorang perempuan, pasti Marcel sudah menghajar habis-habisan. Sementara Angelina masih terdiam, perempuan itu terlihat gemetar melihat emosi Marcel.

__ADS_1


__ADS_2