Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Dia_Hadir_Kembali_9


__ADS_3

Seketika Amanda terdiam, kini ia tengah mencari alasan untuk bisa menutupi kejahatan Angelina. Amanda masih ingin hidup, jadi sekarang bukan waktunya untuk membongkar kejahatan istri mudanya itu. Sementara itu Marcel menatap penuh selidik ke arah wanita yang berdiri di hadapannya. Pria itu merasa jika ada kebohongan yang tengah Amanda rahasiakan.


"Oh ini Mas, tadi nggak sengaja kena setrikaan," ujar Amanda.


"Sudah kamu obati?" tanya Marcel. Matanya tertuju pada kotak obat yang terletak di atas meja.


"Sini." Marcel menarik tangan Amanda, lalu menyuruhnya untuk duduk. Setelah itu Marcel mengambil kotak obat tersebut, dan mulai mengobati tangan Amanda.


Amanda hanya patuh dan memilih untuk diam, tanpa sadar, ia terus memandangi wajah tampan suaminya itu. Pantas saja banyak yang tertarik, meski sifatnya yang keras, tapi wajah tampak tidak bisa dipungkiri. Dengan telaten Marcel mengolbati punggung tangan Amanda.


"Aku yakin, lama-lama kamu pasti akan mengakuiku sebagai istrimu. Dan aku pastikan, cepat atau lambat kamu akan tau sifat asli dari istri mudamu," batin Amanda. Ia rela menderita, karena suatu saat nanti kebahagiaan pasti akan datang.


"Sudah, lain kali hati-hati ya," ucap Marcel. "Oya, besok bi Siti mulai bekerja lagi di sini, jadi kamu tidak perlu repot-repot mengerjakan tugas rumah.


Amanda tersenyum mendengar hal itu, sungguh hatinya merasa bahagia, meski hanya perhatian kecil yang Marcel berikan. Setidaknya, ada sedikit perubahan dalam diri suaminya itu. Amanda yakin, sedikit demi sedikit, ia akan merubah sikap acuh Marcel dengan kasih dan sayang.


"Beneran Mas," ucap Amanda, terlihat binar pada wajahnya.


"Iya, ya sudah saya ke dalam dulu ya." Marcel bangkit dari duduknya dan berlalu masuk ke dalam.


"Perlahan, aku akan mengubah penderitaan ini dengan kebahagiaan. Dan kamu sendiri yang akan memberikan kebahagiaan itu kepadaku Mas," batin Amanda, wanita itu tersenyum.


Marcel kembali ke kamar, setibanya di kamar terlihat Angelina tengah duduk di sofa dengan memegangi amplop berwarna coklat. Merasa penting, Marcel pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Perempuan itu sedikit tersentak saat menyadari jika Marcel sudah berada di sampingnya.


"Mas Marcel ngagetin aja," ujar Angelina, perempuan itu tersenyum melihat suaminya sudah berada di sampingnya.


"Apa itu." Marcel menunjuk ke arah amplop yang sedang Angelina pegang.


"Mas lihat aja sendiri." Angelina menyerahkan amplop tersebut. Dengan cepat Marcel menerimanya.


Perlahan Marcel membuka amplop tersebut, lalu membuka lipatan kertas putih yang berada di dalam. Marcel mulai membaca isi kertas itu, seketika pria itu tersenyum. Marcel mengalihkan pandangan pada perempuan yang kini duduk di sampingnya. Merasa kurang yakin, Marcel pun mempertanyakan langsung pada sang istri.


"Sayang, ini beneran?" tanya Marcel.


Angelina mengangguk dengan tersenyum. "Iya Sayang, sebentar lagi kamu akan jadi ayah."


Seketika Marcel memeluk tubuh sang istri, beberapa kali pria itu mencium kening Angelina. Bahagia yang Marcel rasakan, saat tau istrinya positif hamil. Tapi di lain sisi, ia juga kepikiran dengan kehamilan Amanda. Marcel tau, itu memang bukan darah dagingnya, tapi mengingat masa lalu dan nasib buruk yang menimpanya, membuat Marcel merasa kasihan.


Senja telah menghilang, dan malam telah datang. Malam ini Amanda telah menyiapkan makan malam, Marcel dan Angelina pun sudah duduk di kursi. Seperti biasa Amanda selalu meladeni sang suami. Malam ini pun juga, meski ia sering mendapat tatapan sinis dari Angelina, tapi Amanda selalu bersikap acuh. Tok dia juga tidak mau meladeni Marcel.


Sebagai istri, Angelina hanya memikirkan dirinya sendiri. Perempuan itu sama sekali belum pernah meladeni Marcel saat berada di meja makan. Sejujurnya Marcel sudah merasa jengah dengan sikap Angelina yang seperti itu. Perempuan itu seperti tidak pernah menganggap Marcel sebagai suaminya. Angelina selalu berbuat semaunya tanpa memperpedulikan orang lain.


Suasana makan cukup hening, Amanda pun lebih memilih menikmati makanan yang ada di hadapannya. Wanita itu tidak peduli dengan Marcel dan Angelina yang menurutnya terlihat aneh. Dan tiba-tiba saja hal tak terduga terjadi, Angelina memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke mulutnya. Dengan cepat Marcel menyodorkan air minum pada Angelina.


"Angelina, kamu kenapa." Marcel bangkit dan menghampiri sang istri. Tangannya pun memijit pelan tengkuk Angelina.

__ADS_1


Angelina segera meminum air yang Marcel sodorkan. "Amanda, kamu masak apa sih, kok rasanya nggak enak kayak gini."


Amanda terlihat bingung. "Aku masak seperti biasa."


"Biasa apanya, atau jangan-jangan kamu mau meracuni saya, iya!" Bentak Angelina, matanya menatap tajam ke arah Amanda.


"Untuk apa aku meracuni kamu, nggak ada untungnya juga, kan," sahut Amanda dengan santai.


"Angelina sudahlah, yang dibilang Amanda itu benar. Dari dulu sampai sekarang masakan Amanda tidak pernah berubah. Mungkin ini efek karena kamu sedang hamil." Marcel mencoba menenangkan Angelina. Entah kenapa saat Angelina membentak Amanda, ia merasa tidak suka.


"Apa Angelina hamil. Wah selamat ya." Amanda mengulurkan tangannya. Tapi Angelina sama sekali tidak membalasnya.


"Enggak usah pegang-pegang, aku nggak mau kena tangan kamu yang kotor itu." Angelina berlalu pergi dan memilih naik ke atas menuju ke kamarnya.


"Amanda, maafin Angelina ya. Dia memang seperti itu," ucap Marcel. Pria itu merasa tidak enak dengan sikap Angelina yang sudah kelewat batas itu.


"Enggak apa-apa kok Mas, Manda sudah biasa kok." Amanda tersenyum. Dan hal itu membuat pria yang berdiri di depannya ikut menyunggingkan senyumnya.


"Ya sudah sekarang mas Marcel lanjutin aja makannya. Manda ke dapur dulu ya Mas." Amanda tersenyum, lalu berjalan menuju ke dapur. Sementara itu, Marcel kembali melanjutkan makan malamnya.


Selang beberapa menit, Amanda kembali dengan semangkuk bubur. Amanda menruh nampan yang berisi bubur dan juga segelas susu, tentunya susu khusus untuk ibu hamil. Amanda sengaja menyiapkan semua itu, Amanda ingin menunjukkan jika dia peduli dengan Angelina. Selain itu, Amanda juga ingin merebut hati Marcel, bagaimanapun juga Amanda juga istrinya. Rasanya Amanda tidak rela jika Marcel hidup dengan wanita ular seperti Angelina.


"Nanti Mas bawa bubur sama susu ini ke kamar ya. Tapi jangan bilang kalau Manda yang buat, bilang aja Mas yang buat," ujar Amanda. Wanita itu tau, jika Angelina tau itu makanan ia yang menyiapkan, pasti Angelina tidak mau memakannya.


Kening Marcel berkerut. "Memangnya kenapa."


"Mas tenang saja, Manda enggak kasih racun kok," ujar Amanda kemudian.


Marcel hanya tersenyum. "Ya sudah, terima kasih ya."


Marcel bergegas bangkit dari duduknya, lalu membawa nampan tersebut naik ke atas menuju ke kamar. Sementara di bawah Amanda segera membereskan meja makan yang masih berantakan. Dengan perlahan Amanda akan merebut hati dan perhatian sang suami. Amanda tidak akan diam saja, mungkin selama ini ia memilih untuk mengalah, tapi bukan berarti kalah.


***


Keesokan harinya, Marcel berangkat ke kantor lebih awal. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dalam waktu dekat ini. Namun saat sosok seorang istri sangat diperlukan, justru Marcel harus menahan emosi. Lantaran Angelina sama sekali tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri, hal itu membuat Marcel sedikit tersulut emosi.


"Angelina, tolong kamu bereskan berkas-berkas yang ada di ruang kerjaku. Kamu bisa 'kan," ujar Marcel. Tangannya masih sibuk mengancingi kemejanya.


"Kamu beresin aja sendiri, aku lagi males. Lagi pula aku kan lagi hamil," sahut Angelina. Perempuan itu masih berada di atas ranjang sembari memainkan ponselnya.


Marcel menghela nafas, pria itu tidak menyangka kalau sekarang Angelina mulai menunjukkan sifat aslinya. Andai ia tau lebih awal, pasti Marcel akan berfikir dua kali untuk menikahinya. Tapi sayang, semenjak mereka bertemu dan menjalin hubungan, Angelina selalu menunjukkan sifat baiknya, dan itu membuat Marcel yakin jika Angelina adalah yang terbaik baginya.


Tanpa berucap lagi, Marcel segera ke ruang kerjanya untuk membereskan berkas-berkas yang akan dia bawa ke kantor. Tapi niatnya terhenti saat melihat Amanda tengah membereskannya. Marcel tertegun melihat Amanda yang begitu sangat perhatian, wanita itu selalu mengerti apa yang harus seorang istri lakukan. Marcel berjalan menghampiri Amanda. Wanita itu sedikit tersentak saat melihat Marcel sudah berdiri di belakangnya.


"Mas Marcel ngagetin aja." Amanda kembali melanjutkan merapikan berkas-berkas tersebut.

__ADS_1


Marcel hanya diam, setelah selesai Amanda meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja. Wanita itu berniat untuk keluar, tapi niatnya terhenti saat melihat penampilan suaminya masih berantakan. Amanda menghela nafas, lalu berjalan mendekati Marcel. Tangannya terangkat untuk membenarkan kancing kemeja yang Marcel kenakan. Sementara Marcel masih terdiam, dan pandangannya tidak lepas pada wanita yang kini sudah berdiri di depannya.


"Mas itu gimana sih, kok kemejanya masih belum rapi begini, kancingnya juga. Kalau mau ke kantor lebih awal, diusahakan bangun lebih awal juga Mas, jadi enggak gugup kayak gini." Amanda terus saja mengomel, sementara tangannya tengah berkutat mengancingi kemeja yang Marcel kenakan.


Tak lupa Amanda juga merapikannya, setelah itu Amanda mengambil dasi lalu dengan cekatan memasangkannya. Setelah dasi selesai, Amanda beralih mengambil jas lalu memakaikannya. Marcel benar-benar kagum dengan wanita yang selama ini tidak pernah ia anggap. Tapi justru wanita itu yang selalu ada saat Marcel membutuhkannya, wanita itu juga selalu mengerjakan tugas sebagai seorang istri dengan baik.


"Sudah selesai." Amanda tersenyum setelah selesai merapikan penampilan Marcel.


"Terima kasih ya." Marcel tersenyum. Pria itu mengambil berkas yang sudah Amanda simpan di atas meja.


Setelah itu Marcel bergegas untuk berangkat ke kantor. Tapi hal tak terduga terjadi, tiba-tiba Marcel berjalan ke arah Amanda, dan 'cup' satu kecupan mendarat sempurna di kening wanita itu. Seketika mata Amanda melotot, bagai seperti mimpi, tapi itu nyata. Tiba-tiba saja jantung Amanda berdetak lebih kencang dari biasanya, entah perasaan apa itu. Amanda sendiri tidak tau.


"Aku pergi dulu ya." Marcel berjalan keluar dari ruangan, sementara Amanda masih berdiri tak bergeming sedikitpun.


Setelah cukup lama, Amanda sadar jika ia sudah menyiapkan bekal untuk sang suami. Karena Amanda tau pagi ini Marcel berangkat ke kantor lebih awal, itu sebabnya wanita itu menyiapkan bekal, ia berharap Marcel mau membawanya. Amanda berlari keluar dari ruang kerja Marcel dan bergegas turun ke bawah.


"Tunggu Mas." Marcel menghentikan langkahnya, sementara Amanda berlari mengejar Marcel yang kini sudah berada di depan pintu utama.


"Mas 'kan tidak sempat sarapan, jadi Manda bawain bekal. Mas Marcel mau bawa 'kan." Amanda menyodorkan bekal tersebut dengan tersenyum.


"Tentu saja." Marcel tersenyum dan menerima bekal tersebut. Setelah itu tak lupa Amanda mencium punggung tangan Marcel. Lalu pria itu berjalan menuju ke mobilnya.


Setelah mobil Marcel meninggalkan halaman rumahnya, Amanda bergegas masuk ke dalam. Wanita terkejut saat melihat Angelina sudah berdiri di dekat tangga. Perempuan itu menatap penuh kebencian terhadap Amanda. Bahkan Angelina perlahan berjalan ke arahnya, Amanda masih berdiri, ia merasa bingung dengan Angelina.


"Jadi begini kelakuan kamu di belakang aku, iya." Angelina menarik pergelangan tangan Amanda. Sementara Amanda masih diam, dia ingin tau apa yang akan Angelina lakukan.


"Kamu sengaja merayu mas Marcel agar dia simpati sama kamu iya 'kan. Kamu pikir aku tidak melihat apa yang sudah kamu lakukan terhadap mas Marcel, aku melihatnya semua. Tapi perlu kamu tau, mas Marcel tidak akan pernah tertarik pada perempuan murahan seperti kamu." Angelina menatap Amanda dengan tajam.


Amanda menyunggingkan senyumnya. "Yang murahan itu aku atau kamu."


"Asal kamu tau, kamu itu sebagai seorang istri, sama sekali tidak becus menjalankan tugas sebagai istri. Seorang istri itu tidak hanya melayani suaminya di atas ranjang saja, tapi semua kebutuhannya. Seorang suami juga membutuhkan pelayanan lahir, bukan hanya batin, mungkin kamu memang jago dalam hal ranjang. Tapi kamu sama sekali tidak tau apa-apa dalam hal mengurus dan melayani seorang suami dengan benar. Apa mas Marcel akan bertahan dengan sikap kamu yang seperti ini, dia bisa melemparmu kapan saja kalau kelakuan kamu seperti ini terus." Amanda berjalan meninggalkan Angelina setelah mengatakan semua itu.


Sementara Angelina masih terdiam, darahnya sudah mendidih mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Amanda. Angelina tidak menyangka kalau Amanda bisa berkata seperti itu. Angelina menatap tajam ke arah wanita yang mulai menghilang dari pandangannya itu.


"Kamu lihat saja Amanda, aku tidak akan membiarkan kamu merebut mas Marcel dari tanganku. Aku akan menyingkirkan kamu." Angelina melempar vas bunga yang terletak di atas meja.


Angelina benar-benar tidak terima dengan apa yang sudah Amanda katakan. Perempuan itu tidak akan membiarkan Amanda merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Sementara itu Amanda tengah bersiap-siap untuk pergi ke supermarket untuk membeli keperluannya. Seperti yang sudah Marcel katakan jika bi Siti akan berkerja kembali.


Pagi itu juga bi Siti sudah kembali lagi ke rumah Marcel. Hal itu membuat Amanda merasa senang, setidaknya tugas rumahnya tidak terlalu berat. Walaupun Amanda sama sekali tidak merasa keberatan, tapi jika ia terus menerus mengerjakan tugas rumah sendirian. Lama-lama tubuh Amanda bisa ambruk, terlebih wanita itu tengah hamil muda.


Setelah selesai bersiap-siap, Amanda bergegas pergi, dan tentunya dengan diantar oleh mang Agus. Marcel sudah berpesan jika hendak keluar harus diantar oleh mang Agus.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, kini Amanda sudah tiba di supermarket. Wanita itu bergegas masuk ke dalam, sementara mang Agus menunggunya di parkiran.


Kini Amanda sudah berada di dalam, wanita itu kini tengah berbelanja untuk kebutuhannya. Tak lupa juga untuk membeli kebutuhan dapur, lantaran stok di dapur juga sudah menipis. Saat ini Amanda tengah mencari susu untuk ibu hamil, setelah menemukannya, wanita itu bergegas menghampiri rak yang berisi berbagai merek susu untuk ibu hamil.

__ADS_1


Amanda hendak mengambil dua bungkus susu, tapi tangannya tidak sampai, lantaran susu yang hendak Amanda ambil berada di atas. Amanda sudah berusaha dengan menjijitkan kakinya, tapi usahanya tidak juga berhasil. Sampai akhirnya ada sebuah tangan kekar yang mengambilkan susu tersebut. Seketika Amanda menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat melihat orang yang kini tengah berdiri di belakangnya.


__ADS_2