Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Kebenaran_Yang_Terungkap_15


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, kini hubungan Marcel dan Amanda semakin dekat, dan pastinya semakin romantis. Marcel kini lebih meluangkan waktu untuk sang istri, begitu juga dengan Amanda yang selalu melayani sang suami dengan penuh kasih sayang.


Seperti malam tadi, Marcel dan Amanda kembali melakukan ibadah halalnya untuk yang kesekian kalinya, setelah Amanda benar-benar sehat. Keduanya begitu sangat menikmatinya, hingga mereka terlelap dalam alam mimpi yang indah.


Suara adzan yang berkumandang telah membangunkan Amanda dari tidur nyenyaknya. Wanita itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, tapi saat Amanda hendak menggeliatkan tubuhnya, ia sama sekali tidak dapat bergerak.


Tangan kekar suaminya telah mengunci pergerakan Amanda, perlahan ia melepaskan tangan Marcel yang melingkar di perutnya, tapi justru pria itu semakin mempererat pelukannya. Seolah-olah tidak ingin melepaskannya.


"Tolong jangan bergerak dulu, posisi ini sangat nyaman," ujar Marcel dengan mata yang masih terpejam.


"Udah adzan, Mas. Sebaiknya kita mandi dulu, setelah itu kita shalat." Amanda berusaha untuk mengingatkan.


"Mandi bareng ya," pinta Marcel. Lalu mencium punggung mulus istrinya itu.


"Tap-tapi .... "


"Kalau enggak mau ya udah, aku mau tidur lagi," potong Marcel dengan cepat.


Amanda terdiam sejenak, wanita itu mulai berfikir, lalu melirik jam yang ada di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Kalau tidak segera dituruti, nanti bisa kesiangan, dengan sedikit terpaksa Amanda mengiyakan ajakan suaminya itu.


"Ya sudah, ayo Mas," putus Amanda. Seketika Marcel tersenyum mendengar keputusan istrinya itu.


Tanpa menunggu lama, Marcel langsung membopong tubuh istrinya yang masih terbungkus selimut. Amanda tidak dapat menolak keinginan suaminya itu. Ia hanya berpesan, untuk sekedar mandi saja. Tidak ada kata macam-macam, selain mandi. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar mandi.


***


Hari ini adalah hari minggu, dan hari ini Marcel akan menghabiskan waktu bersama dengan istri tercintanya. Kini Marcel dan Amanda tengah duduk santai di taman samping rumahnya, dengan ditemani oleh secangkir teh manis dan beberapa kue hasil bikinan sang istri.


Dunia serasa milik berdua, bercerita, tersenyum, dan tertawa bersama. Amanda benar-benar merasa sangat bahagia, begitu juga dengan Marcel. Selama menikah, baru kali ini melihat Marcel sebahagia itu, sebelumnya meskipun katanya sangat mencintai Angelina, tapi Amanda tidak pernah melihat Marcel sebahagia sekarang.


"Mas, tiba-tiba Manda kangen sama mama Erika, dan papa Hilman. Kabar mereka sekarang gimana ya, berkali-kali Manda mencoba menghubunginya tapi enggak bisa," ungkap Amanda, sementara Marcel menatap wajah istrinya dengan gelisah.


"Kamu beneran kangen sama mereka?" tanya Marcel untuk memastikan. Dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.


"Kita ke sana saja ya, Mas. Sekarang  Mas 'kan libur," ujar Amanda dengan antusias.


Sementara Marcel hanya diam, raut wajahnya menunjukkan kegelisahan. Pria itu sempat berfikir, kalau mungkin sekarang adalah saatnya Amanda tau, siapa Erika dan Hilman itu. Mungkin kasih sayang yang mereka berikan kepada Amanda tulus, tapi semua itu karena ada maksud tertentu.


"Kok Mas diem sih, apa Mas enggak mau ya." Amanda menatap lekat wajah sang suami.


"Enggak begitu Sayang, tapi itu .... " Marcel bingung sendiri harus berkata apa. Sementara Amanda merasa curiga, terlebih melihat sikap suaminya yang terlihat gelisah.


Marcel terdiam cukup lama. "Apa kamu mendengar apa yang akan aku ceritakan."


"Iya Mas. Memangnya Mas mau cerita apa." Amanda mengangguk, dan menatap lekat wajah sang suami.

__ADS_1


"Kamu tidak akan marah," ujar Marcel kemudian. Dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.


Setelah itu, Marcel memulai bercerita siapa itu Erika dan Hilman yang sebenarnya. Ternyata kasih sayang yang mereka curahkan kepada Amanda hanya semu belaka. Mereka terpaksa melakukan itu agar tidak ada yang menaruh rasa curiga terhadap pasangan suami istri itu.


Sebenarnya dalang dibalik tragedi yang menimpa keluarga Amanda adalah Erika dan Hilman. Dan kematian orang tua Amanda juga karena ulah mereka, demi harta dan tahta Erika dan Hilman menjadi gelap mata. Menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkannya, meski harus menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.


Hilman iri dengan kesuksesan yang diperoleh oleh Ilham, itu sebabnya Hilman menjadi gelap mata, dan menyusun rencana untuk menghabisi Ilham, dan merenggut kebahagiaan Amanda. Hilman sengaja melakukan itu agar bisa mengambil alih apa yang telah Ilham dapatkan.


Dan benar saja, setelah Ilham dan istrinya meninggal, seluruh harta kekayaan dan perusahaan yang Ilham miliki. Jatuh atas nama Hilman, tidak ada yang tau akan hal itu. Kasih sayang yang Amanda dapatkan hanya untuk menutupi kedoknya saja, karena sesungguhnya mereka juga menginginkan Amanda hancur.


Amanda sangat syok mendengar cerita yang Marcel ceritakan. Ia tidak menyangka kalau orang yang selama ini sudah Amanda anggap sebagai orang tuanya sendiri. Ternyata tidak lebih dari seorang penghianat, mereka tega menghancurkan keluarganya, demi kebahagiaannya sendiri.


Marcel yang melihat punggung istrinya bergetar, dengan segera membawanya dalam pelukannya. Marcel membiarkan wanitanya itu menangis, meluapkan segala emosi dan kesedihannya. Rasa kecewa tidak dapat Amanda pungkiri, ia tidak menyangka kalau Om dan Tantenya tega melakukan itu.


"Menangislah jika kamu ingin menangis, keluarkan semua rasa emosi, kecewa, dan kesedihan kamu." Marcel mengelus lembut rambut sang istri.


Sementara Amanda semakin terisak dalam tangisnya. Amanda membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, Amanda tidak tau harus berucap apa lagi. Hanya kecewa yang kini ia rasakan, andai tidak ada Marcel mungkin wanita itu bisa nekat. Sesekali Marcel mencium pucuk kepala Amanda, untuk memberinya kekuatan.


Cukup lama Amanda menangis, setelah merasa sedikit tenang Amanda mendongak dan menatap wajah sang suami. Marcel menangkup wajah Amanda dengan kedua telapak tangannya. Lalu dengan perlahan Marcel mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Kamu harus mengambil alih apa yang seharusnya menjadi milikmu, itu semua adalah hak kamu," ucap Marcel, matanya menatap lekat wajah sang istri.


"Tap-tapi, Mas .... "


"Sstt, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan selalu ada untukmu," potong Marcel dengan cepat, telunjuknya pun menempel di bibir sang istri.


Amanda tersenyum, meski hatinya masih menangis. Marcel adalah kekuatannya saat ini, tanpa ada Marcel mungkin Amanda tidak akan bisa bertahan. Setelah itu Marcel kembali memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat.


***


Di lain sisi, Angelina semakin menjadi. Perempuan itu kerap berteriak-teriak tidak jelas, dan terkadang memanggil-manggil nama Amanda. Bahkan kadang tertawa, seperti orang yang terkena gangguan jiwa, bukan itu saja, hampir setiap kali mengamuk, Angelina selalu melukai orang yang berada dalam satu ruangan dengannya.


Hingga suatu hari Angelina terpaksa dipisahkan dalam satu ruangan khusus. Tapi tetap saja perempuan itu sering mengamuk, dan akhirnya Angelina di periksa oleh Dokter. Hasil pemeriksaan Angelina mengalami gangguan jiwa, pikiran yang selalu kacau, yang membuat Angelina seperti itu.


Orang tuanya yang baru mengetahui hal itu merasa sangat sedih dan terpukul. Mereka tidak menyangka kalau nasib putrinya akan seperti itu. Sudah diceraikan, masuk penjara, dan kini mengalami gangguan jiwa, dan harus menjadi penghuni RS jiwa. Orang tua mana yang tidak sedih, tapi semua itu kembali pada Angelina.


Angelina sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatannya. Apa yang ia tanam, maka itu yang ia tuai. Setiap perbuatan pasti ada balasannya tersendiri, baik itu perbuatan yang baik, ataupun perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik, akan mendapatkan balasan yang baik, begitu pula sebaliknya. Perbuatan yang buruk, akan mendapatkan balasan yang buruk.


***


Hari telah berganti, seperti biasa setelah shalat subuh Marcel dan Amanda memilih untuk tidur kembali. Meski terkadang Amanda sedikit tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi, pria itu sudah melarang Amanda untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena baginya, untuk apa ada pembantu, jika dirinya masih sibuk dengan pekerjaan rumah.


Marcel hanya menyuruh Amanda untuk melayani, dan mengurus suaminya saja. Seperti sekarang, setelah menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya. Amanda turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan, setelah itu tak lupa ia menyeduh kopi dan di bawa ke atas.


Perlahan Amanda memutar kenop pintu, setelah terbuka wanita itu berjalan masuk ke dalam. Terlihat Marcel yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Amanda menaruh kopi tersebut di atas meja, sementara itu Marcel tengah sibuk memakan pakaian kerjanya.

__ADS_1


"Kopinya Mas." Amanda berjalan menghampiri sang suami.


"Iya, terima kasih ya." Marcel tersenyum, sementara tangannya masih sibuk memakai kemejanya.


Amanda membantu Marcel untuk mengancingi kemejanya, setelah itu tak lupa memasangkan dasi di leher suaminya itu. Marcel tak henti-hentinya memandangi wajah cantik sang istri, senyum tak pernah pudar dari keduanya, tapi tiba-tiba ada yang aneh dari istrinya. Amanda menutup mulutnya, dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Marcel merasa heran dengan istrinya itu, tapi ia juga khawatir setelah mendengar Amanda seperti memuntahkan sesuatu dari perutnya itu. Dengan segera Marcel menyusul sang istri ke kamar mandi, dan benar saja Amanda tengah memuntahkan semua isi perutnya. Tapi hanya cairan bening yang keluar.


Marcel berjalan mendekati sang istri, lalu memijit tengkuk istrinya, sementara Amanda segera membasuh mulutnya dengan air. Setelah itu ia mengelapnya dengan tisu, Amanda mendongak, wajahnya terlihat pucat. Kepalanya juga sedikit pusing, tidak biasanya Amanda seperti ini.


"Kamu kenapa, hem? Apa kamu sakit?, tanya Marcel. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir, bahkan pria itu mengecek suhu tubuh Amanda, tapi tidak panas hanya wajahnya yang pucat.


"Manda enggak tau, Mas. Sudah 3 hari ini, Amanda sering muntah, dan .... " ucapannya tergantung, lantai Amanda kembali memuntahkan isi perutnya lagi.


"Aku anterin kamu ke Dokter, ya." Marcel kembali memijit tengkuk istrinya itu.


Amanda menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Mas. Sekarang 'kan Mas harus kerja, Amanda enggak apa-apa kok."


"Urusan pekerjaan itu mudah, aku tidak mau terjadi apa denganmu." Marcel memapah Amanda untuk keluar dari kamar mandi.


Amanda hanya menurut, karena tidak ada alasan untuk menolaknya. Marcel segera bersiap-siap, begitu juga dengan Amanda. Wanita itu bergegas mengganti pakaiannya, setelah siap keduanya pun turun ke bawah, dan langsung menuju ke luar, di mana mobil yang akan Marcel pakai, sudah terparkir di halaman depan.


Marcel memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali pria itu menoleh ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Jalanan yang belum begitu ramai, membuat Marcel lebih mudah untuk mencapai ke tujuannya, yaitu RS. kini mobil Marcel sudah terparkir di halaman depan RS tersebut.


Marcel membantu Amanda untuk turun dari mobil, setelah itu ia juga membantu Amanda berjalan masuk ke dalam. Setibanya di dalam, Marcel segera mendaftar sementara Amanda memilih duduk di ruang tunggu. Tidak butuh waktu lama Marcel kembali dan segera mengajak istrinya ke ruang pemeriksaan.


Marcel kini tengah menunggu di luar, sementara Amanda sudah berada di dalam untuk diperiksa. Marcel mondar-mandir tak jelas, ada rasa takut dan juga khawatir. Pria itu takut terjadi apa-apa dengan istrinya, tapi ia berharap istrinya baik-baik saja. Selang beberapa menit seorang Dokter keluar, dengan segera Marcel menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Marcel.


Dokter itu terus, lalu menjabat tangan Marcel. "Selamat ya Pak, istri Bapak positif hamil."


Marcel tersenyum mendengar pernyataan itu, sungguh semua itu tidak pernah terpikirkan oleh mereka, jika akan secepat itu Amanda hamil. Rasa bahagia tidak dapat Marcel sembunyikan lagi, ingin rasanya ia memeluk tubuh istrinya itu, untuk mengungkapkan perasaan bahagianya itu.


"Berapa usia kandungan istri saya Dok?" tanya Marcel.


"Baru 2 minggu, jadi masih rentan untuk keguguran. Jadi saya minta, tolong Bapak jaga istri Bapak, dan juga kesehatannya. Saya permisi dulu." Dokter itu melenggang pergi setelah menjelaskan semuanya.


"Iya Dok." Marcel tersenyum, setelah itu ia memutuskan untuk segera masuk dan memeluk tubuh istrinya itu.


Marcel berjalan mendekati istrinya yang masih duduk di atas brangkar. Pria itu langsung memeluk tubuhku wanitanya dengan sangat erat. Bahkan Marcel menghujani Amanda dengan kecupan, sungguh bahagia tiada tara. Amanda pun membalas pelukan suaminya itu, tidak bisa dipungkiri, Amanda merasa beruntung bisa dicintai oleh sang suami.


"Terima kasih ya Sayang, kamu sudah memujudkan impian kita." Marcel mencium kening Amanda dengan sangat lembut.


"Seharusnya Manda yang berterima kasih, karena Mas sudah .... "

__ADS_1


"Sstt, jangan ungkit masalah itu lagi. Sekarang hanya ada kebahagiaan, kita mulai lagi dari awal. Kita buka lembaran baru, kita bangun masa depan kita bersama-sama. I love you," potong Marcel dengan cepat, lalu mencium kening Amanda. Setelah itu Marcel juga mencium bibir Amanda sekilas.


Amanda tidak bisa berkata apa-apa lagi, wanita itu kembali menghambur ke pelukan suaminya itu. Bahkan air matanya menetes, Amanda menangis karena bahagia. Wanita itu semakin erat memeluk tubuh suaminya itu, begitu juga dengan Marcel, ia juga semakin mempererat pelukannya.


__ADS_2