
Kini Marcel dan Amanda sudah dalam perjalanan pulang. Tubuh Amanda masih bergetar, wanita itu masih syok dengan kejadian di makam tadi. Kejadian itu membawa Amanda dalam masa lalunya, di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat orang kejam itu menghabisi nyawa kedua orang tuanya.
Amanda mencoba menghilangkan bayangan kelam itu, ia memejamkan matanya sejenak. Berharap bayangkan itu hilang, tapi usahanya gagal. Bayangan itu terus menari-nari di benaknya, bahkan bayangan itu makin terasa jelas. Amanda menggelengkan kepalanya, cairan beningnya terus saja menetes.
Marcel yang melihat itu nampak khawatir, tangan kirinya meraih tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Ia juga mencium pucuk kepala Amanda, berharap wanitanya bisa merasa lebih tenang. Marcel tidak bisa melihat istrinya sedih dan menangis seperti itu. Pria itu terus menenangkan istrinya sembari tetap fokus menyetir.
"Jangan takut, Sayang, aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan orang itu menyakitimu," ujar Marcel, pria itu terus memberikan kenyamanan untuk sang istri.
Amanda lebih memilih untuk menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Sementara Marcel terus fokus untuk menyetir, pria itu ingin cepat sampai di rumah. Setelah itu ia akan menyuruh orang untuk mencari tau siapa orang yang sudah berani mencelakai istrinya. Sampai langit runtuh, Marcel tidak akan melepaskan orang itu.
Tidak butuh waktu lama kini mobil Marcel sudah terparkir di halaman rumahnya. Marcel
menoleh wanita yang ada dalam dekapannya, matanya yang sembab terpejam. Marcel menghapus sisa air mata Amanda, setelah itu ia memutuskan untuk membopong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Marcel membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Pria itu mengamati wajah istrinya dengan intens, ia benar-benar tidak tega dengan cobaan yang terus menguji hidup Amanda. Marcel mendesah, lalu mencium kening sang istri, tak lupa menyelimutinya. Setelah itu Marcel memutuskan untuk keluar dari kamar.
Kini Marcel sudah ada di ruang tamu, beberapa orang kepercayaannya juga sudah ada di sana. Pria itu masih diam, entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Tapi yang pasti, orang yang sudah berani mengusik hidup istrinya, dia akan mendapatkan balasan yang setimpal, tidak peduli dia siapa.
"Apa kalian sudah menemukan pelakunya." Mata elang Marcel menatap orang-orangnya secara bergantian.
"Belum bos, tapi kami mencurigai seseorang bos," jelas Boby salah satu orang kepercayaan Marcel.
"Siapa." Marcel menatap ke arah Boby.
"Ayah mertua bos, Pak Hilman." Seketika Marcel bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan ke arah Boby.
"Apa ucapan kamu bisa aku percaya." Mata elang Marcel kembali menatap ke arah Boby.
"Kami yakin bos ... kenapa bos tidak memeriksa kamera cctv yang ada di rumah ini," jelas Boby.
Marcel terdiam sejenak. Apa yang Boby katakan ada benarnya juga. Kenapa tidak kepikiran dari kemarin, Marcel bergegas naik ke lantai atas untuk menuju ke ruang kerjanya. Setelah itu Marcel membuka leptopnya yang sudah terhubung ke cctv di rumahnya. Perlahan Marcel membuka dan memeriksanya.
Mata Marcel terbelalak saat melihat orang yang sudah menaruh paket di depan pintu rumahnya. Meski wajahnya ditutupi, tapi dari postur tubuhnya Marcel dapat mengenalinya. Dan orang itu sama persis seperti yang ada di makam tadi. Itu tandanya nyawa Amanda dalam bahaya, seketika rahang Marcel mengeras, tangannya juga mengepal.
"Kurang dari 24 jam, aku pastikan kamu sudah ada di hadapanku." Marcel menutup leptopnya dan beranjak keluar.
Kini Marcel sudah berada di bawah, pria itu segera menyuruh Boby dan anak buahnya untuk mencari orang yang sudah berani mengusik Amanda. Setelah Marcel memberikan foto sasaran yang harus mereka tangkap, Boby dan anak buahnya bergegas keluar dari rumah Marcel. Setelah itu Marcel berniat ingin ke dapur, tapi niatnya terhenti saat mendengar teriakkan istrinya.
Dengan cepat Marcel berlari naik ke atas menuju ke kamar. Setibanya di kamar terlihat Amanda yang tengah berteriak histeris dengan mata yang masih terpejam. Pria itu panik melihat istrinya yang seperti itu, dengan cepat Marcel berjalan menghampiri sang istri untuk bisa menenangkannya.
__ADS_1
"Sayang, bangun." Marcel menepuk-nepuk pipi Amanda, tak lupa mengguncangkan tubuhnya agar cepat tersadar.
"Pergi, jangan ganggu aku ... pergi, kamu jahat, kamu kejam." Marcel tidak tahan melihat istrinya sendiri itu terus. Sejurus kemudian, Marcel mengangkat paksa tubuh Amanda dan memeluknya, berharap wanitanya bisa lebih tenang.
Dan benar saja, seketika mata Amanda terbuka. Detik itu juga Amanda menangis di pelukan suaminya. Marcel semakin mempererat pelukannya, sedih, itu sudah pasti. Ia juga kasihan melihat Amanda seperti itu. Marcel terus menenangkan sang istri, tak lupa kecupan yang mendarat di kening Amanda.
"Kamu tenang ya, Sayang. Tidak lama lagi orang itu akan mendapat balasan yang setimpal. Dia tidak akan mengganggumu lagi." Marcel mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Manda takut, Mas." Amanda masih terisak dalam tangisnya.
"Iya, Sayang. Aku akan selalu ada di samping kamu." Marcel semakin mempererat pelukannya. Berharap wanitanya bisa lebih tenang.
Setelah cukup tenang, Marcel melepas pelukannya. Pria itu menghapus sisa air mata Amanda yang masih menempel di kedua pipinya. Sudah cukup air mata yang selama ini Amanda keluarkan, Marcel tidak ingin wanitanya menangis lagi. Sudah cukup kesedihan yang Amanda rasakan, kini seharusnya hanya ada kebahagiaan untuknya.
***
Matahari sudah tinggi, bahkan mulai condong ke barat. Saat ini kondisi Amanda sudah mulai membaik. Wanita itu kini tengah berada di dapur, setelah mendapat nasehat dari sang suami. Amanda memilih untuk menyibukkan diri agar tidak terlalu mengingat kejadian yang telah menimpanya. Sekarang yang harus Amanda pikirkan adalah, kesehatannya dan juga kandungannya.
Setelah semua masakan siap, Amanda segera menyajikannya di atas meja makan. Selang beberapa menit Marcel turun, pria itu tersenyum melihat istrinya sudah kembali ceria seperti biasanya. Marcel berjalan mendekati sang istri, tiba-tiba Amanda tersentak saat kedua tangan kekar suaminya melingkar di perutnya.
Marcel memeluk tubuh istrinya dari belakang, menciumi aroma wangi tubuh Amanda, tak lupa tangannya mengelus perut Amanda yang mulai membuncit. Wanita itu merasa risih saat Marcel mencium leher jenjangnya. Tiba-tiba saja handphonenya berdering, hal itu membuat Marcel menghentikan aktivitasnya.
[ Halo, bagaimana, berhasil ]
[ Aku tunggu ]
Setelah itu, Marcel mematikan sambungan teleponnya. Pria itu berjalan menghampiri sang istri, lalu menarik kursi untuk duduk. Melihat suaminya sudah duduk, dengan sigap Amanda mengambilkan makanan untuk Marcel. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang sangat perhatian, kini keduanya tengah menikmati makan malam bersama.
"Enak nggak, Mas?" tanya Amanda. Pasalnya masakan yang ia masak adalah resep baru.
"Enak, kamu memang pintar masak," e sahuteryhi ro Marcel, sembari mengacungkan jempol. Amanda tersenyum, wanita itu merasa bahagia, karena suaminya suka dengan makanan yang ia masak.
Setelah ritual makan malam selesai, Amanda segera membereskan meja makan. Wanita itu membawa piring dan gelas yang kotor ke belakang. Sementara Marcel memilih untuk duduk di ruang tengah. Selang beberapa menit terdengar suara deru mobil di halaman depan. Sudah dapat ditebak, itu pasti Boby dan orang-orangnya.
Tanpa menunggu lama Marcel bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Dan detik itu juga, pintu utama terbuka lebar, Boby dan anak buahnya sudah berdiri di depan pintu. Tak lupa seorang pria paruh baya juga berdiri di tengah-tengah, dengan tangan yang terikat. Marcel tersenyum sinis menatap pria itu, yang tak lain adalah Hilman. Ayah mertuanya.
"Lepaskan ikatannya," pinta Marcel.
Dengan segera anak buah Boby melepas tali yang mengikat kedua tangan Hilman. Setelah terlepas, Boby mendorong tubuh Hilman, hingga jatuh tersungkur tepat di hadapan Marcel. Perlahan Hilman mendongak matanya menatap sinis ke arah Marcel. Sorot matanya menunjukkan kebencian, sementara Marcel memilih untuk diam, pria itu masih enggan untuk bersuara.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari dalam. Siapa lagi jika bukan Amanda, karena merasa penasaran, Amanda memutuskan untuk menyusul suaminya ke ruang tamu. Seketika mata Amanda membulat sempurna saat melihat ayah angkatnya sudah tersungkur di hadapan Marcel, suaminya. Wanita itu menatap suaminya sejenak, tapi Marcel menanggapinya dengan santai.
"Papa ... Mas." Amanda berucap dengan lirih, ia tidak tau dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Amanda, tolong papa," lirih Hilman. Pria paruh baya itu mencoba menghasut Amanda.
"Mas, apa yang Mas lakukan," ujar Amanda yang mulai tersulut emosi. Wanita itu tidak percaya jika suaminya bisa bertindak seperti itu kepada ayah mertuanya sendiri.
Marcel berjalan ke arah Amanda. "Aku melakukan ini ... karena dia pantas mendapatkannya."
Plak, satu tamparan mendarat di pipi Marcel. Iya, Amanda menampar Marcel, wanita itu tidak menyangka jika suaminya tega melakukan hal sekejih itu kepada ayah mertuanya. Hilman yang melihat itu tersenyum puas, sementara Marcel dan orang-orang kepercayaannya menatap tak percaya dengan apa yang Amanda lakukan.
"Amanda, aku melakukan ini untuk kamu. Dia yang sudah meneror kamu, dia juga yang sudah berusaha untuk membunuhmu saat di pemakaman, apa kamu tidak ingat," jelas Marcel. Pria itu mencoba untuk menahan emosinya.
Amanda menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin, Mas. Papa tidak mungkin melakukan itu, meski aku hanya anak angkatnya, tapi Papa menyayangiku. Walaupun ... Papa sudah mengambil alih semua milik almarhum ayah."
"Amanda, papa minta maaf. Papa janji akan .... "
"Diam kamu! Kamu tidak pantas di sebut papa. Lebih baik sekarang kamu mengaku ... atau aku kasih rekaman cctv itu kepada Amanda," potong Marcel dengan cepat.
"Mas, maksud Mas apa. Papa nggak mungkin ngelakuin itu," ujar Amanda yang sepenuhnya belum percaya.
"Boby, putar rekaman cctv itu," pinta Marcel. Pria itu akan membuktikan jika Hilman memang bersalah.
Boby segera memutar rekaman cctv tersebut menggunakan leptop. Suasana menjadi tegang, tapi Marcel tetap menanggapinya dengan santai. Perlahan rekaman itu berputar, menampakkan sedikit demi sedikit hasil vidio yang terekam. Tapi ada yang aneh, raut wajah Marcel pun berubah. Sementara Hilman tersenyum miring.
Marcel menatap layar leptopnya dan Hilman secara bergantian. Kenapa hasilnya berbeda, kenapa bagian di mana Hilman menaruh paket pada malam itu tidak ada. Baru saja Marcel mengeceknya, tapi kenapa sekarang hasilnya berbeda. Sungguh tidak masuk akal, siapa yang sudah berani menghilangkan bagian yang penting itu.
"Mas, bohong." Marcel terkejut mendengar ucapan Amanda.
"Amanda, aku bisa .... "
Plak, satu tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di pipi Marcel. Sorot mata Amanda menunjukkan kebencian. Wanita itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan. Sementara Marcel menatap Amanda tak percaya, ia tidak menyangka kalau bukti yang sudah jelas-jelas Hilman bersalah, tiba-tiba hilang entah kemana.
"Manda kecewa sama, Mas." Amanda berlalu dari hadapan Marcel. Wanita itu berjalan mendekati Hilman, dan membantunya untuk berdiri.
Sementara Marcel mencoba menahan emosinya. Mungkin sekarang ia belum bisa membuktikannya, tapi Marcel yakin, cepat atau lambat semua akan terbongkar. Hilman tersenyum licik ke arah Marcel saat berhasil memperdaya Amanda. Seketika Marcel terbawa emosi, dengan tiba-tiba pria itu melayangkan pukulannya, tapi sayangnya tidak tepat sasaran.
Amanda yang melihat itu mencoba menahannya, tapi tenaga Marcel terlalu kuat, sehingga pukulan itu mendarat di wajah istrinya. Seketika tubuh Amanda terhuyung ke lantai, sudut bibirnya juga mengeluarkan cairan merah. Marcel terkejut dengan apa yang terjadi, seharusnya pukulan itu mendarat di wajah pria brengsek itu, bukan pada wajah wanitanya.
__ADS_1