
Tanpa berucap, Marcel berlari keluar dari kamar, dan bergegas turun ke bawah. Entah kenapa, perasaan Marcel tidak enak, dan merasa khawatir. Sementara Angelina sangat panik, perempuan itu takut, jika perbuatannya akan diketahui oleh Marcel.
Marcel sudah tiba di bawah, pria itu berjalan ke arah dapur, setibanya di dapur. Marcel terkejut saat melihat melihat pecahan gelas yang berantakan di lantai. Marcel mengedarkan pandangannya, tapi suasana dapur sepi, ia sama sekali tidak melihat orang, yang ada hanya seorang kucing yang tiba-tiba melintas.
"Ternyata cuma kucing, tapi kok bisa," desis Marcel. Pria itu masih merasa heran dengan apa yang terjadi.
Selang beberapa menit Angelina turun, perempuan itu segera menghampiri Marcel yang masih berdiri mematung. Sadar akan kedatangan sang istri, Marcel membalikkan badannya.
"Tuh kan, itu cuma kucing Mas," ujar Angelina. Perempuan itu bisa bernafas lega, lantaran perbuatannya tidak di ketahui oleh sang suami.
"Sekarang kita istirahat ya Sayang, sudah malam juga." Angelina menuntun Marcel naik ke atas.
Sementara itu, Amanda sudah berada di dalam kamar, wanita itu segera naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Tak lupa Amanda menutupi tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya masih terasa gemetar, kepalanya pun masih terasa pusing. Angelina memang sudah sangat keterlaluan. Tanpa rasa iba perempuan itu mendorong tubuh Amanda hingga tak sadarkan diri.
Andai saja Marcel tau, apa dia akan melindunginya, dan apakah pria kejam itu akan menghukum istri mudanya. Amanda merasa jika suaminya itu sangat mencintai Angelina.
Sangat mustahil jika Marcel akan menghukum perempuan yang dicintainya. Amanda mencoba untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.
Kini Marcel dan Angelina sudah berada di depan pintu kamar, tapi saat mereka akan masuk ke dalam, Marcel menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik dan melangkah menuju ke kamar Amanda. Seketika Angelina panik, perempuan itu takut jika sang suami tidak dapat menemukan istri tuanya. Angelina mencoba untuk menghalangi Marcel, tapi pria itu tetap kekeh untuk ke kamar Amanda.
Perlahan Marcel membuka pintu kamar Amanda, matanya tertuju pada ranjang. Terlihat Amanda yang tengah tertidur dengan pulas. Hati Marcel merasa tenang saat melihat Amanda dalam keadaan baik. Tetapi yang sebenarnya tidak, Marcel tidak tau apa yang sudah Angelina perbuat terhadap Amanda. Setelah itu Marcel kembali menutup pintunya dengan pelan, lalu pria itu beranjak menuju ke kamarnya.
Amanda bernafas lega saat ia tau jika Marcel mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Tapi saat ini wanita itu tengah berfikir, hari esok apa yang akan terjadi. Rasanya Amanda tidak kuat jika harus menerima perlakuan buruk dari istri muda suaminya itu. Tapi Amanda sudah bertekad, jika ia akan membuat Marcel jatuh cinta dan mau menerimanya sebagai istri.
***
Mentari pagi telah menyapa, sinarnya begitu terang, langit pun begitu cerah. Seperti biasanya hari-hari Amanda hanya mengerjakan tugas rumah, dan mengurus suami. Setelah shalat subuh, Amanda langsung memulai aktivitasnya, wanita itu memang tidak suka bermalas-malasan, lagi pula tidak ada alasan baginya juga, kan.
Pukul 7 pagi semua pekerjaan rumah hampir selesai, kini Amanda tengah menyiapkan sarapan pagi untuk Marcel dan pastinya buat si nenek lampir. Ups, maksudnya buat Angelina istri muda Marcel. Selang beberapa menit, Marcel dan istri mudanya turun dan bergegas menuju ke meja makan. Setelah pasangan suami istri itu duduk di kursi masing-masing, Amanda memilih untuk pergi ke dapur.
Bukan apa, tapi sebagai sesama wanita, Amanda tetap akan merasa sakit hatinya, mungkin lebih tepatnya cemburu. Bagaimanapun juga, Amanda juga istrinya, tapi sikap Marcel yang tidak jelas itu, membuat Amanda memilih untuk menjauh. Tapi tidak dengan Marcel, pria itu memang sengaja bersikap acuh. Bukan karena tidak berperasaan, tapi Marcel ingin tau, seberapa kuat Amanda bertahan. Karena baginya, wanita hebat dan tangguh adalah dia yang mampu bertahan dengan keadaan sesulit apapun.
Marcel yakin, jika Amanda itu mamapu. Karena selama ini pria itu sudah memperhatikan, bagaimana Amanda menerima perlakuan buruk darinya tanpa mengeluh. Marcel memang kejam, tapi dalam hati kecilnya, pria itu juga masih mempunyai rasa iba. Setelah Marcel mengetahui masa lalu Amanda seperti apa, pria itu merasa kasihan dengan kehidupan istri pertamanya itu. Marcel berjanji akan mengembalikan kebahagiaan Amanda tanpa sepengetahuan darinya.
Selesai sarapan, Marcel bergegas bangkit dari tempat. Pria itu berjalan ke arah dapur, dan itu membuat Angelina merasa penasaran.
Bergegas Angelina beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah suaminya itu.
Setibanya di dapur Marcel melihat Amanda yang tengah duduk dengan menopang dagunya. Terlihat wanita itu sedang memikirkan sesuatu, tapi entah itu apa.
"Amanda." Marcel berjalan mendekati wanita itu. Seketika Amanda terlonjak kaget.
__ADS_1
Amanda bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan sang suami. "Mas Marcel, apa mas Marcel perlu sesuatu."
"Tidak, saya hanya ... itu kening kamu kenapa?" Tangan Marcel menyentuh kening Amanda yang memar.
"Oh ini, ini enggak apa-apa kok Mas. Kemarin Amanda tidak sengaja kejedod pintu, gara-gara mau ngejar tukang sayur di depan." Amanda tersenyum, ia tidak mau jika suaminya tau, kalau itu semua adalah perbuatan istri mudanya.
"Apa masih sakit." Marcel kembali menyentuh kening Amanda. Wanita itu bisa merasakan jika pria di hadapannya itu merasa khawatir.
"Sudah enggak kok Mas. Manda 'kan sudah biasa disakiti. Ups." Seketika Amanda menutup mulutnya yang sudah kelepasan. Wanita itu juga menundukkan kepalanya, ia takut jika Marcel akan memarahinya.
Marcel hanya mendesah, memang yang dikatakan Amanda itu benar. Sudah sering Marcel menyakitinya, tapi Amanda tidak pernah mengeluh. Wanita itu benar-benar tangguh, baru kali ini Marcel bertemu wanita seperti Amanda.
"Maaf. Saya hanya mau tanya, apa kamu sudah pernah memeriksakan kandungan kamu. Jangan mentang-mentang itu anak yang tidak pernah kamu harapkan, jadi kamu mengabaikannya." Mata Marcel menatap netra coklat milik wanita yang berdiri di hadapannya.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya, tetapi dalam hatinya, Amanda merasa bahagia, ternyata Marcel masih memiliki perasaan. "Manda takut Mas."
"Takut kenapa." Kening Marcel berkerut.
"Manda takut, kalau nanti Dokter yang memeriksa Manda, menanyakan di mana suaminya. Karena kebanyakan ibu hamil jika ke Dokter kandungan selalu ditemani oleh suaminya." Amanda kembali menundukkan kepalanya.
Marcel terdiam sejenak. "Ya sudah, sekarang kamu siap-siap, nanti saya akan temani kamu."
"Iya. Sekarang kamu ganti baju, sebelum saya berubah pikiran," pungkas Marcel.
Amanda hanya tersenyum, dan segera berlalu dari hadapan Marcel. Tak terasa pria itu juga menyunggingkan senyumnya, entah kenapa Marcel merasa bahagia saat melihat Amanda tersenyum. Tetapi tidak dengan Angelina, perempuan itu susah payah menahan emosinya. Kali ini dia akan membiarkan Amanda pergi bersama dengan suaminya. Tapi setelah itu, Angelina akan membuat hidup Amanda semakin menderita.
***
Hari demi hari sudah berlalu, Minggu demi Minggu, bahkan bulan pun telah berganti. Tak terasa sudah dua bulan usia pernikahan Amanda dan Marcel. Sedangkan usia pernikahan Marcel dan Angelina belum genap dua bulan. Perut rata Amanda sudah mulai terlihat menonjol. Tapi seperti biasa wanita itu selalu mendapat perlakuan buruk dari Angelina.
Seperti sore ini, Amanda tidak sengaja membuat baju kesayangan Angelina gosong. Hal itu terjadi lantaran Angelina yang terus-menerus memanggilnya dan menyuruh pekerjaan yang lain. Sampai-sampai Amanda tidak sengaja membuat baju Angelina gosong. Perempuan itu tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Eh, kamu sengaja ya buat baju aku gosong, iya!" Bentak Angelina. Tanpa segan-segan Angelina mendorong tubuh Amanda hingga jatuh tersungkur.
Angelina menjambak rambut panjang Amanda. "Kamu tau nggak, baju ini mahal, dan kamu tidak akan mampu menggantinya."
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja." Susah payah Amanda menahan sakit dan air matanya. Amanda tidak ingin terlihat lemah di mata Angelina.
"Kamu pikir dengan maaf, baju aku bisa kembali seperti semula, iya." Angelina kembali menjambak rambut panjang Amanda, lalu menempelkan setrika panas itu ke tangan Amanda. "Ini hukuman yang setimpal buat kamu."
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil. Angelina tau jika itu suara mobil Marcel. Dengan cepat Angelina mendorong Amanda untuk pergi. Perempuan itu tidak ingin melihat apa yang terjadi pada Amanda.
__ADS_1
"Sekarang cepat pergi dari sini, dan ingat, kalau kamu berani mengadu sama mas Marcel, kamu akan tau sendiri akibatnya," ancam Angelina. Perempuan itu mendorong tubuh Amanda agar bergegas pergi.
"Kamu tenang saja Angelina, aku tidak akan pernah bicara apapun tentang perlakuanmu padaku. Aku ingin mas Marcel tau dengan sendirinya," batin Amanda. Ia pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Amanda memilih untuk keluar ke halaman belakang rumahnya.
Selang beberapa menit, Marcel sudah berada di dalam. Angelina yang menyadari itu dengan segera ia menghampiri sang suami. Angelina kini tengah memasang wajah melasnya, perempuan itu akan mulai bersandiwara untuk bisa membuat Marcel semakin mempercayainya. Dan tujuan Angelina adalah membuat sang suami membenci Amanda.
"Angelina, kamu kenapa?" tanya Marcel. Pria itu kini berdiri di depan sang istri.
"Sayang, kamu tau nggak, baju aku yang beli kemarin gosong. Dan itu gara-gara Amanda, wanita itu yang sudah membuat baju kesayangan aku jadi rusak." Angelina bergelayut manja di lengan kekar sang suami. Perempuan itu juga tengah merengek atas kesalahan yang Amanda perbuat.
"Kamu yakin kalau itu kesalahan Amanda," ujar Marcel. Pria itu menunjukkan wajah datarnya.
"Jadi Mas enggak percaya sama aku gitu." Raut wajah Angelina sudah cemberut, bibirnya yang merah pun sudah mengerucut.
"Aku capek, aku ke atas dulu ya." Marcel berjalan menaiki anak tangga, sementara Angelina masih berdiri, perempuan itu mendengus kesal. Bisa-bisanya Marcel mengabaikannya.
Tiba-tiba muncul ide dalam benak Angelina, perempuan itu pun tersenyum licik. "Aku tau, apa yang harus aku lakukan."
Angelina melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamar. Angelina sudah berada di depan pintu kamarnya, perlahan perempuan itu membuka pintu kamarnya. Angelina tersenyum saat melihat Marcel tengah berbaring di sofa. Dengan cepat Angelina masuk dan menghampiri sang suami.
"Aku pijitin ya Sayang, pasti kamu capek." Angelina duduk di samping suaminya itu.
Marcel hanya diam, entah kenapa setelah ia tau masa lalu Amanda, Marcel selalu kepikiran dengan istri pertamanya itu. Nasib malang yang menimpa Amanda, membuat Marcel berkeinginan kuat untuk membahagiakan dia. Amanda berhak mendapatkan kebahagiaan, setelah penderitaan yang berturut-turut dia alami.
"Angelina, sudah dulu ya." Marcel bangkit dari tidurnya. Pria itu berdiri dan melepas dasi yang masih melilit di lehernya.
"Mau kemana Mas?" tanya Angelina penuh selidik.
"Aku mau ambil minum dulu." Marcel berjalan keluar dari kamar. Sementara Angelina masih berdiri memandangi punggung sang suami yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Marcel sudah berada di dapur, pria jakung itu hendak mengambil gelas, tapi niatnya terhenti saat ia tidak sengaja mendengar suara rintihan Amanda. Karena penasaran Marcel melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara tersebut. Matanya tertuju pada wanita yang tengah duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumah.
"Amanda, kamu kenapa." Marcel melangkahkan kakinya mendekati wanitanya.
Seketika Amanda terlonjak kaget. "Mas Marcel."
"Amanda, tangan kamu kenapa?" Marcel menunjuk punggung tangan Amanda.
Seketika Amanda terdiam, kini ia tengah mencari alasan untuk bisa menutupi kejahatan Angelina. Amanda masih ingin hidup, jadi sekarang bukan waktunya untuk membongkar kejahatan istri mudanya itu.
Sementara Marcel menatap penuh selidik ke arah wanita yang berdiri di hadapannya. Pria itu merasa jika ada kebohongan yang tengah Amanda rahasiakan.
__ADS_1