Derita Istri Di Madu

Derita Istri Di Madu
Ngidam_Atau_Menyiksa_17


__ADS_3

Hari telah berganti, minggu, bahkan bulan pun telah berlalu. Kini usia kandungan Amanda sudah memasuki bulan ke-empat, dan hamil yang sekarang Amanda benar-benar manja. Beruntung sekarang suaminya telah berubah, dan mungkin jika belum berubah, Amanda pasti tidak akan mempunyai keberanian seperti itu.


Semenjak hamil, sikap Amanda bertolak belakang dengan sikap aslinya. Dulunya yang selalu tegar, tangguh, berani, dan juga rajin, kini telah berubah. Amanda yang sekarang lebih cengeng, manja, penakut, dan mudah marah atau ngambek, ia juga mudah tersinggung. Jadi jika Marcel tengah berbicara dengannya, harus hati-hati.


Seperti pagi ini, saat Marcel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, tiba-tiba Amanda merengek meminta mangga muda. Dengan sangat hati-hati Marcel memberitahu istrinya, jika dirinya akan membelinya sepulang dari kantor. Tapi Amanda menolaknya mentah-mentah.


"Sayang, nanti saja aku beliin dari kantor ya," bujuk Marcel. Pria itu seperti sudah hilang akal, bagaimana caranya untuk membujuk istrinya agar mau mendengarkan ucapannya.


"Nggak mau, Manda maunya Mas manjat sendiri. Tadi Manda sudah minta izin sama Bu Rika. Jadi Mas tinggal manjat aja," tolak Amanda. Wanita itu bersikeras untuk meminta suaminya yang memetik buah mangga muda itu langsung dari pohonnya.


"Tapi .... "


"Udah ayo." Amanda menarik tangan Marcel dengan paksa.


Marcel hanya bisa pasrah dengan apa yang istrinya itu mau. Amanda terus menarik tangan suaminya itu hingga mereka tiba di halaman samping rumah Bu Rika. Tetangganya yang mempunyai pohon mangga, Marcel menatap pohon yang berdiri di depannya itu, tidak terlalu besar tapi buahnya cukup lebat.


"Ayo, Mas," pinta Amanda.


Marcel melirik ke arah istrinya itu, tidak ingin berdebat lagi. Dengan cepat Marcel melepaskan jasnya yang masih menempel di tubuhnya itu. Ia juga melonggarkan dasinya, lalu melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Kini Marcel tengah bersiap-siap untuk memanjat pohon mangga tersebut, tapi niatnya terhenti saat mendengar suara istrinya itu.


"Tunggu Mas," seru Amanda.


Marcel menoleh dengan malas. "Apa lagi Amanda."


"Mas yakin mau manjat pohon masih pakek sepatu." Amanda menunjuk ke arah kaki suaminya itu.


Marcel tersenyum. "Kamu sih yang ngajaknya buru-buru."


Dengan cepat Marcel melepas sepatunya, setelah itu ia segera memanjat pohon mangga tersebut dengan sangat cepat. Mungkin Marcel salah satu pemenang lomba memanjat di pohon pada waktu kanak-kanak, sehingga pria itu sangat lincah dalam menjejakkan kakinya di pohon mangga tersebut.


Setibanya di atas Marcel segera memetik mangga yang istrinya inginkan. Tak tanggung-tanggung Marcel menjatuhkan lebih dari 10 biji buah mangga tersebut. Amanda sedikit terkejut dengan apa yang suaminya lakukan itu, tapi ia juga merasa senang karena bisa menikmati buah yang sangat Amanda inginkan.


Tanpa memperdulikan Marcel yang masih di atas pohon. Amanda segera memunguti buah tersebut dan bergegas pulang ke rumah. Marcel melongo melihat tingkah istrinya itu, sungguh sikapnya bertolak belakang dengan sikap aslinya itu. Setelah itu Marcel segera turun, setibanya di bawah Marcel mengambil jas dan sepatunya lalu melangkahkan kakinya pulang ke rumah.


Baru saja Marcel melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar teriakan Amanda dari arah dapur. Marcel kembali menghela nafas, dengan perlahan pria itu berjalan menghampiri istrinya itu. Terlihat Amanda yang tengah sibuk membuat sambal, sementara mangga muda itu masih tergeletak di atas meja.


"Ada apa, hem?" tanya Marcel.


"Mas kupasin mangganya ya. Amanda lagi buat sambelnya," pinta Amanda. Wanita itu masih sibuk membuat sambal.


"Sayang, aku mau berangkat ke kantor. Aku udah tel .... "


Seketika Marcel terdiam saat ulekan yang Amanda pegang sudah berada di depan bibirnya. Matanya menatap tajam, entah kenapa Marcel sangat takut melihat Amanda marah. Pria itu memilih diam, jika bersuara mungkin ulekan itu akan masuk ke mulutnya, sementara Amanda masih menatap suaminya itu dengan tatapan yang tajam.


"Hari ini Mas nggak boleh pergi kemana-mana," ucap Amanda.


"Terus nanti kal .... " ucapan Marcel terhenti, saat Amanda menyerahkan pisau dan juga mangga muda itu.


"Buruan dikupas, Mas," pinta Amanda. Sementara Marcel hanya bisa pasrah.


Dengan wajah yang lesu Marcel melepas dasinya, lalu mengalungkannya di leher istrinya. Setelah itu Marcel membawa pisau dan mangga muda itu, lalu menarik kursi dan menjatuhkannya bobotnya. Marcel mulai mengupas mangga itu satu persatu, sementara Amanda tengah menyelesaikan sambalnya.


Setelah selesai Amanda membawa sambalnya ke meja makan, di mana suaminya berada. Amanda duduk bersebelahan dengan Marcel, wanita itu terus memperhatikan suaminya yang tengah mengupas mangga. Setelah selesai, kini Amanda mengambil alih mangga itu, ia mulai memotongnya, lalu dimasukkan ke dalam sambal yang ia buat.


Selesai memotong, Amanda mulai mengaduk-aduk potongan mangga itu agar bercampur darah bumbu rujaknya. Marcel merasa ngilu melihat potongan mangga muda yang sudah tercampur dengan bumbu rujak tersebut. Setelah tercampur rata, Amanda mulai memakannya, wanita itu begitu lahap memasukkan potongan mangga itu ke mulutnya.

__ADS_1


Sementara Marcel memilih mengalihkan pandangannya. Pria itu mengambil benda pipih miliknya, untuk memberitahu asistennya jika hari ini dia tidak bisa berangkat. Setelah itu Marcel juga akan mengecek email yang telah masuk sedari tadi pagi. Sementara Amanda masih sibuk dengan rujaknya, wanita itu sangat menikmatinya, tanpa merasa pedas ataupun asam.


"Enak rujaknya?" tanya Marcel, tetapi matanya tetap fokus pada layar handphonenya.


"Enak banget, Mas mau," sahut Amanda, tak lupa wanita itu juga menawari suaminya.


"Enggak usah buat kam .... " belum sempat Marcel melanjutkan ucapannya, potongan mangga itu sudah berhasil masuk ke dalam mulutnya.


Dengan sangat terpaksa Marcel mengunyahnya, rasa pedas, asam, dan manis bercampur menjadi satu. Dengan memejamkan matanya Marcel mulai menelannya, sementara Amanda tersenyum, bahkan tertawa saat melihat ekspresi wajah suaminya yang menurutnya sangat lucu. Marcel langsung menyorobot segelas air putih yang Amanda bawa.


Pria itu meneguknya sampai habis, itupun belum bisa mengurangi rasa asam dan pedasnya. Kalau bukan karena Amanda, mungkin Marcel memilih untuk memuntahkannya, tapi jika ia lakukan pasti wanitanya akan ngambek, dan itu akan lebih berbahaya. Amanda tidak henti-hentinya tertawa, sementara Marcel menggelengkan kepalanya.


"Lagi ya, Mas," bujuk Amanda. Sementara Marcel terus menggelengkan kepalanya.


"Ayolah, Mas," rengek Amanda.


"Am .... " lagi-lagi Amanda memasukkan potongan mangga itu. Dan itu sukses membuat raut wajah Marcel berubah, bahkan bibir, pipi, serta matanya memerah.


Marcel memalingkan wajahnya, lalu menutup matanya dan mengunyah potongan mangga itu dengan perlahan. Pria itu menggelengkan kepalanya saat mulai menelannya, benar-benar siksaan bagi Marcel. Jika disuruh memilih, Marcel lebih memilih mengepel lantai, dari pada harus makan rujak, yang rasanya nano-nano itu.


Amanda benar-benar puas melihat raut wajah suaminya yang seperti itu. Senyum dan tawa tidak pernah lepas dari Amanda, wanita itu merasa sangat bahagia. Sementara Marcel hanya pasrah dengan apa yang istrinya itu lakukan, pria itu juga merasa bahagia melihat wanitanya tertawa lepas seperti itu. Semoga senyum dan tawa itu selalu menghiasi hari-harinya.


***


Mentari sudah condong ke barat, bahkan senja mulai menampakkan diri. Cahaya kemerah-merahan menghiasi langit, burung-burung berkicau, dan berterbangan kembali ke sarangnya. Desiran angin sore menambah suasana semakin romantis, ah tapi tidak bagi Marcel dan Amanda.


Pasalnya, sore ini Amanda kembali membuat Marcel menahan kesabarannya. Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba Amanda memintanya untuk mencarikan bakso ikan, padahal setau Marcel, istrinya itu tidak pernah memakan bakso, mencium baunya saja Amanda tidak suka. Tapi sekarang malah merengek layaknya anak kecil yang tengah meminta balon.


"Mas, beliin bakso dong. Manda pengen makan bakso," rengek Amanda dengan menarik-narik lengan kekar suaminya itu.


"Ya udah, urusin aja tuh kerjaan nggak usah ngurusin Manda," potong Amanda dengan cepat. Wanita itu keluar dari ruang kerja suaminya dengan membanting pintu sangat keras.


Buset dah, Marcel terkejut dengan apa yang baru saja istrinya lakukan, pria itu terlihat mengelus dadanya dengan menggelengkan kepalanya. Marcel terdiam sejenak, lalu merapikan pekerjaan, setelah itu Marcel bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.


Marcel berjalan menuju ke kamarnya, setibanya di kamar terlihat Amanda tengah berbaring di atas ranjang. Perlahan Marcel mendekatinya dan duduk di sebelahnya, pria itu mengelus lembut rambut sang istri. Tapi Amanda sama sekali tidak meresponnya, justru wanita itu semakin merajuk.


"Nggak usah pegang-pegang deh, Mas. Peganging aja tuh kerjaan, bukannya itu lebih penting dari pada istri." Amanda menepis tangan suaminya. Hal itu membuat Marcel mendesah pelan, sabar. Tapi apakah stok kesabaran Marcel masih banyak? Mungkin saja.


"Sayang, jangan ngambek dong. Nanti cantiknya ilang loh," goda Marcel. Sementara Amanda hanya diam.


"Tadi katanya minta bakso, jadi beli nggak," ujar Marcel kemudian.


"Enggak jadi, Mas kelamaan." Amanda bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Wanita itu berjalan keluar dari kamar tanpa menghiraukan suaminya.


"Oh Tuhan, istriku kenapa lagi. Tadi maksa-maksa minta bakso, udah mau diturutin malah nggak jadi," gerutu Marcel. "Perasaan kepalanya nggak abis kejedod, otaknya juga nggak geser."


Marcel merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya tiba-tiba menerawang ke masa di mana pertama mereka menikah. Marcel akui dulu dia sangat membenci Amanda, bahkan untuk melihat wajahnya saja enggan. Tapi sekarang, semua terbalik. Marcel merasa jika tidak melihat istrinya sehari saja, rasanya seperti sudah berminggu-minggu.


Cinta memang tidak bisa ditebak, kapan akan datang, dan singgah dalam hati. Seperti yang Marcel alami, kebenciannya kini berubah menjadi cinta, kemarahannya kini berubah menjadi kelembutannya. Dan kekejamannya kini berubah menjadi kepeduliannya, Marcel berjanji tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah ia miliki. Terlebih saat mengingat masa lalu Amanda seperti apa, rasanya Marcel ingin menjadi orang pertama yang selalu ada untuknya.


***


Mentari pagi telah menyapa, terbit dari ufuk timur, cahaya yang terang masuk ke dalam rumah melalui celah-celah jendela, dan ventilasi. Langit tampak cerah, secerah hati dua insan yang kini tengah berkutat dengan aktivitasnya masing-masing. Amanda yang tengah sibuk di dapur, sementara Marcel sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Pukul 07.00 Amanda sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur, makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Saat ini wanita itu tengah sibuk mencuci peralatan dapurnya yang kotor. Setelah selesai Amanda segera merapikan dapur yang masih berantakan, meski ada pembantu tapi Amanda selalu melakukannya, karena itu adalah salah satu tugas seperti istri.

__ADS_1


Selang beberapa menit Marcel turun dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu berjalan menghampiri sang istri yang tengah berada di ruang makan. Marcel menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya, dengan cekatan Amanda segera meladeni sang suami. Marcel tersenyum, tak bosan-bosannya pria itu memandang wajah ayu istrinya itu, pipinya yang chubby membuat Marcel merasa gemas.


"Sarapan dulu, Mas." Amanda meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk di hadapan suaminya itu.


"Makasih ya, Sayang." Marcel tersenyum, lalu mulai menyantap makanan yang sudah sang istri hidangkan.


"Kok kamu nggak makan?" tanya Marcel, saat melihat istrinya hanya diam.


"Manda belum lapar, Mas," jawab Amanda.


Marcel hanya mengangguk, setelah itu ia melanjutkan ritual sarapan paginya. Sementara Amanda hanya memandangi wajah suaminya yang tengah menyantap sarapannya dengan begitu lahap. Hanya butuh 15 menit Marcel sudah selesai, pria itu segera bangkit dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Sementara Amanda segera membereskan meja makan, menyingkirkan piring dan gelas yang kotor. Setelah itu Amanda kembali ke depan terlihat sang suami yang tengah merapikan dasinya. Amanda berjalan menghampirinya, dan membantu sang suami. Marcel tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Kamu memang istri yang pengertian." Marcel menoel hidung bangir istrinya itu.


"Iya dong, Mas." Amanda tersenyum.


"Oya, Sayang. Tolong ambilin tas kerja aku di atas ya. Tadi aku lupa," pinta Marcel, dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.


Amanda melangkahkan kakinya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar teriakkan dari depan rumah, tanpa pikir panjang Amanda membalikkan badannya dan berlari menuju pintu utama. Marcel melongo melihat istrinya yang berlari tanpa menghiraukan dirinya dan  perintahnya.


Sementara Amanda kini sudah apa di teras depan rumah, tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil suaminya dengan suara 7 oktafnya. "Mas Marcel."


Seketika Marcel terlonjak kaget mendengar teriakkan istrinya dari depan rumah, merasa penasaran Marcel melangkahkan kakinya menuju pintu utama, terlihat Amanda yang tengah berdiri di teras depan dengan melambaikan tangannya pada seorang penjual seblak keliling. Melihat itu Marcel hanya menggelengkan kepalanya, heran.


Bagaimana tidak heran, cuma gara-gara ada penjual seblak harus teriak-teriak, bikin heboh rumah aja. Untung Marcel sudah cinta, coba kalau belum, udah dapat dipastikan pria itu tidak segan-segan untuk menjewer bibir Amanda. Eh, maksudnya menjewer telinga Amanda, biar diem, biar nggak bikin telinga sakit karena teriakkannya yang seperti radio rusak.


"Tadi aku nyuruh kamu buat ngapain." Marcel berjalan dengan santainya, sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Amanda terdiam sejenak. "Hehe, beli seblak dulu pokoknya."


"Ambilin tas kerjaku dulu, nanti baru aku beliin," tegas Marcel. Matanya menatap tajam ke arah Amanda.


Bukannya menurut, Amanda justru memanyunkan bibirnya. Melangkahkan kakinya mendekati sang suami, lalu mengapit lengan kekar itu dengan sangat erat, dan menyenderkan kepalanya. Hal ini yang membuat Marcel semakin gemas, rasanya ingin sekali mencubit pipi chubby istrinya itu. Badannya yang mulai berisi membuat Marcel ingin memeluknya setiap saat. Rasanya, empuk.


"Mas, beliin dulu ya." Amanda mengerlingkan matanya, membuat Marcel mati kutu.


"Duh, kalau sudah begini mana bisa nolak," batin Marcel.


"Ya sudah, aku beliin. Tapi sekarang kamu ambilin tas kerjaku dulu, nanti aku bisa terlambat," pinta Marcel.


"Ok." Amanda mencium pipi Marcel, lalu beranjak pergi masuk ke dalam rumah.


Marcel diam tak bergeming, tangannya mengelus pipi bekas ciuman istrinya itu. Rasanya seperti mimpi, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, rasanya seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Skarang wanitanya itu sudah mulai berani. Marcel tersenyum, dan menggelengkan kepalanya, mengingat kejadian tadi.


"Sayang, seblaknya berapa porsi," teriak Marcel dari luar.


"10 porsi, Mas." Seketika mata Marcel membulat sempurna, setelah mendengar jawaban dari istrinya itu.


"What, 10 porsi ... buat siapa saja, emang muat perutnya," ucap Marcel tak percaya.


Lagi-lagi Marcel menggelengkan kepalanya, heran. Sikap dan tingkah istrinya benar-benar membuat pria itu selalu berpikir keras, dan harus memiliki stok kesabaran yang banyak. Jika tidak, bisa-bisa Marcel gila karena memikirkan sikap dan tingkah Amanda.  Karena Amanda yang sekarang bertolak belakang dengan Amanda yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2