
Pukul 2 dini hari Marcel baru pulang ke rumah. Dengan berjalan sempoyongan, pria itu naik ke lantai atas. Setibanya di atas Marcel berniat ingin masuk ke kamarnya, tapi karena keadaan yang mabuk berat, akhirnya tubuhnya ambruk di depan pintu.
Amanda yang mendengarnya, dengan cepat keluar dari kamarnya. Wanita itu terkejut saat melihat suaminya sudah tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya.
"Astaghfirullah mas Marcel." Amanda langsung berlari menghampiri sang suami.
Amanda mencoba membangunkan Marcel, tapi nihil. Pria itu sama sekali tidak merespon. Hanya racauan yang keluar dari mulut pria itu. Setelah itu Amanda membantu Marcel untuk berdiri dan memapahnya masuk ke dalam kamar.
Dengan susah payah Amanda membaringkan tubuh Marcel di atas ranjang. Setelah itu Amanda juga melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki suaminya itu. Tak lupa Amanda menyelimutinya dan setelah itu ia keluar.
Amanda kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan perlakuan kasar Marcel masih mengisi memori Amanda. Wanita itu mencoba memejamkan matanya.
***
Pagi harinya, Amanda bangun lebih awal. Setelah selesai menunaikan shalat subuh. Amanda langsung mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, dan masih banyak lagi. Setelah semuanya selesai, Amanda segera menyiapkan sarapan pagi untuk Marcel.
Pukul 06.30 Amanda telah selesai menyiapkan sarapan. Kini dirinya tengah membereskan dapur, dan akan membuat kopi untuk Marcel. Tapi belum sempat membuat kopi terdengar teriakan Marcel dari dalam kamar.
"Amanda." Teriak Marcel.
Amanda terkejut mendengar teriakkan pria itu. Dengan segera wanita itu berlari menaiki anak tangga. Amanda bergegas masuk ke dalam kamar Marcel. Terlihat pria jakung itu masih duduk di atas ranjang dengan sorot mata yang tajam.
"A-ada apa mas memanggil Manda?" tanya Amanda dengan gugup.
"Cepat siapkan air untuk aku mandi, siapkan juga pakaian kerjaku," pinta Marcel.
"Baik Mas." Amanda segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air untuk Marcel.
Setelah siap, Amanda segera keluar dan memberitahukan pada Marcel. "Airnya sudah siap Mas."
Marcel segera turun dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu Amanda segera menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya itu. Setelah semuanya siap, Amanda memilih untuk keluar.
Selang 30 menit, Marcel keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu segera menuju ke meja makan untuk sarapan.
Melihat suaminya sudah duduk dengan sigap Amanda meladeninya.
"Ini Mas sarapannya," ucap Amanda seraya meletakkan piring yang berisi roti isi.
Amanda duduk dan hanya memperhatikan Marcel yang tengah lahap menyantap sarapannya. Marcel yang merasa diperhatikan, segera menoleh ke arah Amanda.
"Kamu tidak makan?" tanya Marcel.
"Em, nanti saja Mas," jawab Amanda.
"Cepat makan, aku tidak mau kamu mati kelaparan. Nanti orang lain mengira kalau aku tidak memberimu makan. Kalau kamu mati aku juga yang repot," ketus Marcel. Pria itu sama sekali tidak pernah menyaring setiap kata-katanya.
Amanda hanya beristighfar. "Iya Mas."
Dengan terpaksa akhirnya Amanda mengambil satu roti isi yang ia buat tadi. Perut yang masih sering mual, membuat Amanda kesulitan untuk makan. Hanya minum dan memakan buah yang sering wanita itu lakukan.
Marcel telah selesai sarapan, pria itu pun bergegas bangkit dari duduknya. Amanda yang melihat Marcel akan pergi. Dengan cepat wanita itu bangkit dan segera menghampirinya.
Amanda mengantarkan Marcel sampai di depan pintu. Tak lupa Amanda juga berniat ingin mencium punggung tangan pria itu. Tetapi Marcel terdiam saat Amanda meraih tangannya. Dengan cepat Amanda menciumnya.
"Jangan keluyuran, tetap di rumah," pesan Marcel.
"Iya Mas. Oya Mas, Manda boleh minta uang buat belanja, soalnya kebutuhan dapur sudah tidak ada," ujar Amanda.
Sebenarnya Marcel sangat malas jika harus mengeluarkan uang untuk perempuan yang sama sekali tidak ia cintai. Tapi mau bagaimana lagi, jika Marcel tidak memberinya uang, nanti ujung-ujungnya dia juga yang di marahin oleh orang tuanya.
Marcel mengambil dompetnya di saku celananya. Lalu mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak 10 lembar, dan ia berikan kepada Amanda.
"Apa ini cukup?" tanya Marcel.
Amanda menerimanya. "Cukup kok Mas."
"Ingat, kalau mau pergi minta di anterin sama mang Agus." Marcel memasukkan dompetnya kembali, lalu bergegas menuju ke mobilnya.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Amanda.
Setelah mobil yang Marcel hilang dari pandangan. Amanda segera masuk ke dalam. Wanita itu akan bersiap-siap untuk segera pergi berbelanja. Setelah selesai Amanda bergegas menghampiri mang Agus untuk mengantarkannya pergi ke supermarket.
***
Mobil sport hitam milik Marcel sudah berhenti di pelataran kantor. Pria itu bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung. Para karyawan yang melihat kedatangannya segera menyapa dan memberinya hormat. Sementara Marcel hanya tersenyum dan mengangguk.
Marcel sudah tiba di ruangannya. Pria itu segera menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. File-file yang menumpuk sudah menantinya. Tapi belum sempat Marcel menyentuh pekerjaannya. Kekasihnya datang, perempuan yang selalu berpakaian seksi itu langsung masuk ke dalam dan menghampiri Marcel.
"Selamat pagi Sayang," sapa Angelina.
"Pagi juga Sayang." Marcel segera bangkit dan memeluk kekasihnya itu.
Marcel melingkarkan tangannya di pinggang Angelina. "Kamu tau saja kalau aku lagi kangen."
Sementara Angelina mengalungkan tangannya di leher Marcel. "Ya tau lah, kamu pasti tersiksa 'kan tinggal serumah dengan perempuan tidak tau diri itu."
"Benar Sayang, rasanya aku ingin cepat-cepat menikahimu, agar aku tidak kesepian lagi." Tanpa aba-aba Marcel langsung ******* bibir seksi kekasihnya itu.
Angelina yang memang sudah menginginkannya begitu sangat menikmati permainan kekasihnya itu. Cukup lama Marcel dan Angelina berpagutan. Setelah puas Marcel melepas bibirnya. Setelah itu mereka duduk di sofa.
"Terus kapan kamu akan menikahiku?" tanya Angelina. Tangannya asyik memainkan dasi yang melilit leher Marcel.
"Secepatnya Sayang. Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan menikahimu," jawab Marcel.
"Bener ya, jangan bohong loh." Dengan manja, Angelina menyenderkan kepalanya di dada bidang Marcel.
"Benar Sayang." Tangan Marcel membelai lembut rambut Angelina.
Keduanya asyik bermesraan, sementara pekerjaan yang seharusnya Marcel selesaikan dengan entengnya ia biarkan begitu saja. Begitulah Marcel jika sudah berduaan dengan Angelina. Semuanya tidak ada yang penting selain bermesraan dan bercumbu dengan sang kekasih.
***
Amanda baru tiba di rumah. Ia baru saja selesai berbelanja. Amanda segera ke dapur untuk menata dan menyimpan bahan makanan tersebut. Setelah itu Amanda pergi ke kamar untuk menaruh sisa uang belanja.
Amanda menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Tangannya terangkat dan mengelus perutnya yang masih datar. Bayang-bayang buruk itu kembali terlintas di benaknya. Seketika air matanya menetes, Amanda merasa sedih saat mengingat kejadian itu.
Amanda bangkit dari duduknya saat mendengar suara handphonenya yang berdering. Dengan cepat Amanda mengangkatnya.
[ Halo ]
[ Baik Mas ]
[ Iya Manda mengerti ]
Sambungan telepon terputus. Marcel lah yang telah menelepon Amanda. Pria itu menyuruh Amanda untuk menyiapkan makan malam, karena Marcel akan mengajak kekasihnya makan malam di rumahnya. Hati Amanda terasa sakit, meski wanita itu tidak menaruh hati pada Marcel, tapi hatinya tetap saja merasa sakit.
Amanda meletakkan handphonenya dan wanita itu bergegas keluar dari kamarnya. Amanda segera turun ke bawah, tujuannya adalah dapur, wanita itu akan mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan ia masak.
Tangan Amanda berkutat dengan berbagai bahan makanan, dan juga alat-alat dapur lainnya. Sesekali Amanda mengusap keningnya yang basah terkena peluh. Rasa capek tak pernah ia pedulikan, yang Amanda ingin hanyalah membuat pria itu tidak memarahinya.
Pukul 6 sore Amanda baru saja selesai dengan pekerjaan dapurnya. Semua masakan sudah siap, tinggal menghidangkannya saja. Tapi sebelum itu Amanda akan mandi terlebih dahulu, badannya sudah terasa sangat lengket.
***
Pukul 7 malam suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah mewah itu. Amanda buru-buru turun ke bawah, belum sampai di bawah Amanda sudah di suguhkan dengan pemandangan yang sangat membuatnya jengah.
Marcel berjalan dengan merangkul pinggang kekasihnya itu. Sesekali Marcel mencium puncak kepala kekasihnya itu. Amanda hanya bisa terdiam melihat itu, meski hatinya terasa sakit. Tapi dirinya tidak berhak untuk melarangnya.
Amanda segera berjalan menuju ke meja makan. Dengan cepat Amanda menghidangkan makanan yang telah ia buat. Semua sudah tersaji di atas meja. Amanda berharap semoga kali ini Marcel tidak memarahinya.
Selang beberapa menit Marcel dan Angelina datang. Keduanya terlihat sangat mesra. Amanda hanya menunduk saat sepasang kekasih itu datang. Marcel duduk dan diikuti oleh Angelina. Amanda hendak duduk tapi Angelina mencegahnya.
"Mau ngapain kamu," ujar Angelina dengan tatapan yang tajam.
"Aku mau .... "
__ADS_1
"Pergi! Kamu enggak pantas duduk di sini. Kamu pantasnya berada di dapur." Angelina mendorong Amanda agar menjauh.
Sementara Marcel hanya diam. Pria itu sama sekali tidak memperdulikan apa yang Angelina lakukan terhadap Amanda. Merasa percuma, Amanda memilih untuk pergi. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, sungguh bukan pernikahan seperti itu yang dia harapkan.
Amanda memilih duduk di dapur, wanita itu tengah menumpahkan rasa sedihnya. Baru dua hari menikah, tapi rasanya Amanda tidak sanggup jika harus bertahan hidup dengan pria seperti Marcel.
Selang beberapa menit, teriakan Marcel terdengar. "Amanda."
Amanda segera menyeka air matanya. Wanita berjalan begitu cepat menuju ke meja makan. Nampak Marcel dan kekasihnya sudah selesai makan. Meja berantakan, serta piring, mangkuk dan gelas kotor berceceran. Amanda hanya menghela nafas melihat itu semua.
"Cepat bersihkan. Dan ingat, kalau masih ada yang kotor dan berantakan, aku tidak segan-segan untuk menghukum kamu, mengerti!" Bentak Marcel.
"Iya Mas." Amanda segera membereskan meja tersebut. Dengan cekatan wanita itu mulai menyingkirkan piring, serta gelas yang kotor.
Amanda tengah sibuk membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas yang kotor. Sementara Marcel dan Angelina kini tengah bermesraan di ruang tengah. Setelah puas makan, keduanya tinggal bercumbu mesra tanpa memikirkan perasaan Amanda.
"Sayang, udah malam aku pulang ya," ucap Angelina. Tangannya masih sibuk memainkan kancing kemeja Marcel.
"Aku anterin ya," pinta Marcel.
"Tidak usah. Kamu pasti kan capek, kamu istirahat saja. Lagi pula aku sudah telepon supir kok." Angelina mencium bibir Marcel dengan sangat lembut.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya," ujar Marcel dengan tersenyum.
"Iya Sayang." Angelina berjalan menuju ke pintu utama.
Setelah Angelina pulang. Marcel bergegas naik ke atas untuk menuju ke kamar. Setibanya di kamar Marcel segera melepas kemejanya dan meletakkannya di atas ranjang. Setelah itu Marcel kembali berteriak memanggil Amanda.
"Amanda." Teriaknya.
Amanda yang mendengarnya segera berlari menuju ke kamar. Setibanya di kamar Amanda melihat Marcel yang tengah duduk di sofa dengan bertelanjang dada. Wanita sedikit canggung dengan keadaan yang seperti itu.
"Ada apa Mas?" tanya Amanda.
"Tadi pagi kamu pergi kemana saja," ujar Marcel. Matanya tetap fokus pada layar leptopnya.
"Hanya belanja saja Mas, setelah itu Manda langsung pulang," jelas Amanda.
"Kamu tidak bohong," ucap Marcel. Kali ini pria itu bangkit dan berjalan mendekati Amanda yang tengah menundukkan kepalanya.
"Benar Mas, Manda tidak bohong," terang Amanda.
"Ya sudah, sekarang siapkan air, aku mau mandi," perintahnya.
"Baik Mas." Amanda segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah air siap, Amanda pun keluar dan memberitahu Marcel jika airnya sudah siap. "Sudah siap Mas."
Marcel hanya berdehem. Sementara Amanda berjalan ke arah ranjang mengambil kemeja Marcel yang ia kenakan tadi. Mata Amanda membulat saat melihat noda lipstik di kerah dan juga bagian depan kemeja Marcel.
"Kenapa," ucap Marcel dingin.
Amanda hanya menunjukkan noda merah itu. Marcel mendekati Amanda dan tanpa segan-segan pria itu mencengkeram rahang Amanda dengan sangat keras.
"Apa itu masalah buat kamu. Seharusnya kamu ingat, siapa diri kamu itu. Kalau bukan karena orang tuamu yang memohon, aku tidak sudi menikahi wanita kotor seperti kamu." Marcel mendorong tubuh Amanda hingga jatuh ke lantai.
Lagi-lagi air mata Amanda menetes. Wanita itu bangkit seraya menyeka air matanya. Sementara mata elang Marcel menatap penuh kebencian terhadap wanita yang berada di hadapannya itu.
"Aku seperti ini bukan keinginan aku Mas, ini kecelakaan. Aku juga tidak mau seperti ini." Amanda menatap mata elang suaminya, suara terdengar gemetar.
"Cuih. Dasar wanita murahan." Marcel berdecak pinggang.
"Aku bukan wanita murahan Mas, yang wanita murahan itu pacar kamu," teriak Amanda.
Amarah Marcel semakin memuncak. Pria itu tidak terima jika kekasihnya direndahkan seperti itu. Rahangnya kembali mengeras, dan tanpa aba-aba Marcel menampar pipi mulus Amanda hingga jatuh ke sisi ranjang.
Marcel kembali mencengkeram rahang Amanda. "Sekali lagi kamu bilang Angelina wanita murahan, aku tidak segan-segan untuk membuat hidup kamu lebih menderita dari ini, mengerti."
__ADS_1
Marcel melepas cengkeramannya dengan kasar. Pria itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Amanda masih menangis meratapi nasibnya. Bukan hidup seperti itu yang Amanda inginkan. Bukan pernikahan seperti itu pula yang Amanda harapkan.
Amanda juga tidak menginginkan suami kejam seperti Marcel. Tapi takdir yang telah menentukan. Amanda harus menerima takdir yang telah digariskan untuknya.