
Kalau sudah jodoh memang tidak kemana, meski Allah sudah mengujinya dengan sejuta cobaan, tapi akhirnya dipersatukan juga. Cinta memang tidak harus memiliki, tapi alangkah bahagianya jika kita mencintai, dan memilikinya juga.
Kisah cinta memang tidak selalu berjalan dengan mulus, berbagai cobaan dan ujian adalah salah satu bumbu dalam membina hubungan. Terlebih membina bahtera rumah tangga, konflik selalu menjadi peran utamanya, karena itu adalah salah satu Allah menguji cinta kita.
Mungkin sekarang zona kebahagiaan tengah berpihak pada Amanda. Kesabarannya selama ini berbuah manis, usahanya untuk tetap bertahan kini sudah terbalaskan dengan kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan. Rasa sakit yang pernah Amanda rasakan, kini telah berubah dengan rasa bahagia.
Meski ada kesedihan dalam hatinya, tapi ia yakin. Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan di kemudian hari, setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya. Dan setiap cobaan, yang datang menguji, pasti akan ada kebahagiaan yang menantinya.
Sudah hampir satu minggu Amanda di rumah, kondisinya pun semakin membaik. Amanda benar-benar kaget melihat perubahan suaminya itu. Sungguh Marcel berubah 180° dari sikap dan sifat aslinya, Amanda bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan sekarang.
Sore ini Amanda tengah duduk di ranjang, dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Rasa bosan sudah Amanda rasakan sejak kemarin, tapi sang suami sama sekali belum mengizinkan istrinya untuk banyak bergerak. Makan dan minum selalu Marcel yang menyiapkan, bahkan mandi pun Marcel yang membantunya.
Meski Amanda merasa canggung, tapi wanita itu lebih memilih untuk menurut. Karena akan berdosa jika Amanda menolaknya. Selang beberapa menit, Marcel keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Pria itu tersenyum dan berjalan mendekati sang istri. Marcel duduk di sebelah Amanda.
"Kenapa senyum-senyum, aku memang tampan." Marcel mencubit gemas kedua pipi chubby Amanda.
"Ih, apaan sih. Geer banget jadi orang," ujar Amanda, dengan memanyunkan bibirnya.
"Sayang." Marcel meraih tangan Amanda, dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku minta maaf ya, gara-gara kebodohan aku. Kamu kehilangan anak kamu." Marcel menatap lekat wajah sang istri.
Amanda terdiam sejenak. "Sudahlah Mas. Insya Allah Amanda ikhlas."
"Jadi kamu mau maafin aku," ujar Marcel dengan penuh harap.
Amanda tersenyum, dan mengangguk. "Iya Mas."
Seketika Marcel meraih tubuh Amanda dan memeluknya. "Terima kasih ya Sayang. Aku janji, setelah kamu benar-benar sehat, aku akan menggantinya."
Amanda mengerutkan keningnya. "Menggantinya ... maksud Mas."
Marcel melepas pelukannya dan menangkup wajah Amanda dengan kedua telapak tangannya. "Maksud aku, kita akan ... kamu pasti tau lah maksud aku apa."
Amanda hanya terdiam, wanita itu sudah tau apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Sungguh bahagia yang kini Amanda rasakan, meski di sisi lain, Amanda merasa kasihan dengan nasib Angelina. Tapi mau bagaimana lagi, perempuan itu sudah mendapatkan balasan atas semua perbuatannya.
***
Hari telah berganti, setelah shalat subuh, Amanda dan Marcel memilih untuk tidur kembali. Sejujurnya Amanda ingin membantu pekerjaan rumah, tapi Marcel melarangnya. Pria itu sama sekali tidak mengizinkan istrinya untuk melakukan aktivitas seperti sebelumnya.
Pukul 7 pagi, Amanda mulai menggeliatkan tubuhnya, sinar matahari yang masuk ke dalam kamar membuat tidur lelap Amanda terganggu. Perlahan wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya, rasanya sulit sekali untuk membalikkan posisi tubuhnya lantaran tangan kekar suaminya masih setia memeluk pinggang ramping Amanda.
Amanda tersenyum, sungguh tidak pernah terbayangkan jika sekarang Marcel benar-benar berubah. Tiba-tiba mata Amanda terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seketika Amanda melepas pelukan suaminya itu, lalu mengguncangkan tubuh Marcel agar mau bangun.
"Mas, bangun sudah siang." Amanda mengguncangkan tubuh suaminya.
"Hmmm." Marcel menggeliatkan tubuhnya, lalu menarik selimut dan membenamkan wajahnya di bantal.
Amanda menghela nafas. "Bangun Mas udah siang. Nanti Mas bisa telat ke kantor."
"Sayang, aku masih ngantuk. 10 menit lagi ya," ucap Marcel dengan mata yang masih terpejam.
"Ya udah kalau Mas enggak mau bangun, Manda siram pakek air mau," ancamnya. Setelah itu Amanda berniat hendak bangkit, tapi dengan cepat Marcel menarik tangan Amanda, hingga jatuh ke dalam pelukan pria itu.
__ADS_1
"Mau kemana, hem?" tanya Marcel.
"Mas apaan sih, ini tuh udah siang." Amanda mencoba melepaskan pelukan suaminya itu. Tapi justru Marcel semakin mempererat pelukannya.
"Morning kiss dulu Sayang," ujar Marcel, dan hal itu membuat Amanda membulatkan matanya.
"Tap-tapi .... "
"Kalau enggak mau ya udah, aku juga enggak mau bangun," potong Marcel dengan cepat, bahkan pria itu menenggelamkan wajahnya di punggung sang istri, menghirup aroma tubuhnya.
"Tapi setelah ini Mas harus bangun," ujar Amanda. Dan dibalas dengan anggukan oleh sang suami.
Marcel segera melepas pelukannya, dengan perlahan Amanda membalikkan posisi tubuhnya. Netra mereka saling bertemu, pandangannya semakin dalam, dan lekat. Amanda terlihat ragu-ragu, dengan memejamkan matanya, wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Marcel. Dan satu kecupan singkat mendarat di bibir suaminya itu.
Marcel tersenyum, sementara pipi Amanda seketika bersemu merah lantaran Marcel membalas kecupan itu. Setelah itu Marcel bangkit dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tapi berbeda dengan Amanda, wanita itu masih tidak bergeming, membayangkan apa yang telah terjadi, sungguh semua di luar dugaan.
20 menit telah berlalu, Marcel keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Pria itu melihat istrinya tengah menyiapkan pakaian kerjanya. Dengan cepat Marcel menghampiri sang istri, tangannya hendak mencegah apa yang tengah Amanda lakukan, tapi dengan halus Amanda menepisnya.
"Sayang, aku kan ... " ucapan Marcel terpotong saat jari telunjuk Amanda menempel di bibir suaminya itu.
"Sstt, biarkan Amanda melakukan tugas Manda sebagai seorang istri. Sekarang Mas diam," potong Amanda dengan cepat.
Marcel hanya tersenyum, lalu pria itu mulai memakai pakaian yang telah sang istri siapkan. Setelah itu tak lupa Amanda memakan dasi di leher sang suami, lalu merapikan penampilannya.
Marcel tak henti-hentinya memandangi wajah ayu sang istri. Senyum pun tak pernah pudar dari keduanya.
"Sudah selesai, sekarang Manda siapin sarapan dulu ya." Amanda berjalan keluar, sementara itu Marcel akan segera menyusul sang istri ke bawah.
Kini Marcel dan Amanda sudah berada di meja makan, dengan sangat telaten Amanda meladeni sang suami. Marcel benar-benar merasa beruntung bisa mendapatkan istri seperti Amanda. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungannya, dan Marcel berharap mereka semoga tidak ada lagi pengganggu.
Setelah mobil Marcel melesat jauh, Amanda kembali ke dalam, dan membantu bi Siti untuk membereskan meja makan. Meski bi Siti sudah melarangnya, tapi Amanda kekeh untuk membantunya. Wanita itu sudah merasa bosan, karena hampir satu minggu tidak pernah melakukan aktivitas apapun, ia hanya berdiam diri di kamar.
***
Pukul 9 pagi Amanda sudah selesai dengan tugas rumahnya, wanita itu bergegas naik ke atas menuju ke kamar. Dengan sedikit terburu-buru Amanda masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini Amanda berniat untuk menengok Angelina, dan itu tanpa sepengetahuan Marcel.
Meski Amanda tau kejahatan yang telah Angelina lakukan padanya, tapi sebagai sesama wanita, Amanda bisa merasakan seperti apa yang kini Angelina rasakan. Terlebih Angelina sedang hamil, pasti akan terasa pahit, hidup di balik jeruji besi dalam keadaan tengah mengandung.
Setelah siap, Amanda akan segera pergi, dan sebelum jam makan siang Amanda harus sudah kembali ke rumah. Karena sekarang setiap jam makan siang Marcel selalu pulang ke rumah, agar bisa makan siang bersama dengan istrinya. Terkecuali jika ada meeting atau urusan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Dengan diantar oleh mang Agus, kini Amanda sudah tiba di kantor polisi. Mobil yang Amanda naiki sudah berhenti di pelataran kantor polisi. Ada rasa ragu dalam hatinya, tapi dengan sebisa mungkin Amanda membuang rasa ragu itu. Niatnya adalah untuk menengok Angelina, dan tidak ada niat yang lain, selain itu.
"Mang Agus tunggu di sini ya. Manda cuma sebentar kok," ujar Amanda, setelah itu ia pun turun dari mobil.
"Baik Nyonya," sahut mang Agus.
Perlahan Amanda berjalan masuk ke dalam, ia segera menemui polisi yang tengah bertugas, dan meminta izin untuk membesuk tahanan atas nama Angelina. Setelah mendapat izin, Amanda menunggu Angelina di ruang tunggu. Selang beberapa menit Angelina datang dengan didampingi oleh seorang polisi.
Mata Amanda tertuju pada Angelina, hatinya merasa miris melihat kondisi Angelina yang sekarang. Badannya terlihat kurus dan kering, sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Wajah sang biasa tampil cantik dengan make-up, kini terlihat pucat. Andai saja dulu Angelina tidak berbuat seperti itu, mungkin sekarang perempuan itu masih bisa menghirup udara bebas.
Amanda mencoba untuk tersenyum, tapi tidak dengan Angelina. Perempuan itu justru tersenyum miring melihat kehadiran Amanda. Entah apa yang ada dalam pikiran Angelina sekarang, tapi mungkin perasa benci masih melekat pada diri Angelina, terlebih dengan keadaan yang sekarang.
"Silahkan bicara, waktu kalian hanya 20 menit." Polisi itu berlalu pergi meninggalkan Amanda dan Angelina.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini ... mau menertawakan aku iya. Kamu senang melihat aku seperti ini 'kan, puas kamu sekarang. Kamu sudah merebut segala dariku, kamu sudah merebut mas Marcel dariku." Angelina mulai tersulut emosi. Raut wajahnya menunjukkan ia benar-benar benci terhadap Amanda.
"Angelina, kamu tenang dulu ya. Aku ke sini mau nengokin kamu, aku kasihan sama kamu, aku juga enggak tega melihat kamu seperti ini," ujar Amanda dengan lembut.
"Cih, kalau kamu kasihan, dan tidak tega. Kenapa kamu tidak membujuk mas Marcel untuk mencabut tuntutannya." Mata Angelina menatap tajam ke arah Amanda.
Amanda terdiam sejenak, apa iya Amanda harus membujuk Marcel agar mau mencabut tuntutannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, Marcel sudah terlanjur kecewa dengan Angelina. Tidak mudah bagi Marcel untuk memaafkan orang yang sudah berbuat salah padanya.
"Kenapa diam, kamu tidak mau kan!" Bentak Angelina.
"Ak-aku, Angelina kamu .... "
"Apa, sudah kuduga, kamu pasti tidak mau iya, kan. Kamu lebih memilih hidup bahagia, dan bersenang-senang dengan mas Marcel iya, kan." Angelina berjalan menghampiri Amanda, dan tiba-tiba perempuan itu mencekik leher Amanda dengan sangat kuat.
"Kamu itu wanita pembawa sial, wanita murahan, dasar pelakor. Kubunuh kamu, kamu harus mati di tangan aku." Angelina sudah terbawa emosi, matanya pun melotot seperti orang kesurupan. Angelina sudah tidak dapat mengontrol emosinya.
"An-ge-li-na, is-tigh-far." Suara Amanda tercekat. Tenaga Angelina sangat kuat.
"Mati kamu, hahahaha. Kamu harus mati di tangan aku." Angelina tertawa dengan terus memperkuat cekikannya.
Selang 10 menit polisi datang, dengan cepat kedua polisi itu melepas cekikan Angelina. Kedua polisi itu segera membawa Angelina masuk. Tapi perempuan itu terus memberontak, dan berbicara jika dirinya akan menghabisi Amanda, dia tidak akan membiarkan Amanda hidup tenang dan bahagia bersama dengan Marcel.
Amanda merasa lega setelah bisa lepas dari
cekikan Angelina. Tapi ia juga merasa kasihan melihat kondisi Angelina yang sekarang, sepertinya jiwanya sudah terganggu. Setelah itu Amanda memutuskan untuk pulang, ia tidak mau berlama-lama, jika Marcel sampai tau pria itu pasti akan marah.
***
Pukul 11 siang mobil yang Amanda naiki sudah berhenti di halaman depan. Dengan segera Amanda keluar dan berjalan masuk ke dalam. Tapi langkahnya terhenti saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman samping. Mendadak hati Amanda menjadi gelisah, ia harus mencari alasan agar suaminya tidak curiga.
Dengan perlahan Amanda masuk ke dalam, setelah di dalam wanita itu mengedarkan pandangannya, dan matanya tertuju pada sofa ruang tengah, di mana sang suami tengah duduk dengan memandang layar ponselnya. Dengan ragu Amanda melangkahkan kakinya menghampiri suaminya itu.
"Mas Marcel sudah pulang," ucap Amanda, seketika Marcel mendongak dan bangkit dari duduknya.
Marcel menunjukkan wajah datarnya, bahkan pria itu menatap tajam ke arah Amanda. "Dari mana kamu, kenapa aku hubungi handphone kamu tidak bisa."
"E-aku, em, aku itu Mas. Aku, em, itu .... "
Melihat leher Amanda memerah, dengan cepat Marcel memeriksanya. "Leher kamu kenapa, kenapa merah seperti ini."
"Itu Mas tadi, anu Mas." Amanda bingung harus berbicara apa. Harus jujur atau tidak.
"Jawab dengan jujur Amanda, aku tidak suka kebohongan. Aku juga tidak suka ada rahasia di antara kita," ujar Marcel dengan tegas. Seketika Amanda mendongakkan kepalanya.
Pandangan mereka saling bertemu, Amanda benar-benar merasa bersalah. Seketika Amanda menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan Marcel. Bahkan wanita itu tidak dapat menahan air matanya. Sementara Marcel merasa bingung dengan istrinya itu.
"Aku minta maaf, Mas. Aku memang salah, aku tidak jujur sama Mas. Mas boleh marah, Mas juga boleh menghukum aku jika itu perlu. Aku benar-benar minta maaf Mas." Amanda menangis dengan terus meminta maaf.
Dengan perlahan Marcel mengangkat tubuh Amanda untuk bangun. Kedua tangan Marcel memegang bahu istrinya itu yang bergetar karena menangis. "Sekarang bilang, kamu dari mana. Aku tidak akan marah kalau kamu mau jujur."
"A-aku tadi dari kantor polisi, Mas. Aku habis nengokin Angelina, aku kasihan sama dia. Dia begitu sangat tertekan dan juga frustasi," jelas Amanda. Air matanya terus saja mengalir.
Maecel terdiam, bahkan pria itu mengalihkan pandangan ke arah lain. Marcel benar-benar beruntung bisa mendapatkan istri seperti Amanda. Meski sudah tersakiti, tapi masih memiliki rasa kasihan terhadap orang yang sudah menyakitinya. Marcel bangga mempunyai istri seperti Amanda.
__ADS_1
Seketika Marcel memeluk tubuh Amanda dengan sangat erat. "Kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu tidak bersalah. Justru aku bangga mempunyai istri seperti kamu, hati kamu terbuat dari apa Sayang. Sampai kamu mau memaafkan, dan merasa kasihan dengan orang yang sudah menyakiti kamu."
Amanda semakin terisak mendengar penuturan suaminya itu. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Marcel, bahkan kemeja yang Marcel pakai basah, terkena air mata istrinya itu. Sementara Marcel semakin mempererat pelukannya, rasanya tidak ingin melepaskannya.