
Mendengar teriakkan itu, seketika Marcel dan Amanda menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sontak Marcel terkejut saat melihat Angelina tiba-tiba berada di belakangnya. Mata Angelina menatap penuh kebencian terhadap Amanda, sementara Amanda hanya bisa pasrah dengan apa yang akan perempuan itu lakukan.
"Angelina." Desis Marcel. Pria itu segera bangkit dari duduknya.
Namun hal tak terduga terjadi, Angelina berjalan ke arah Marcel, tapi mata tajamnya mengarah pada Amanda. Tiba-tiba saja perempuan itu melayangkan tangannya dan hendak menampar pipi Amanda. Marcel yang melihat itu, dengan cepat mencekal pergelangan tangan Angelina.
"Angelina, kamu apa-apaan sih," ujar Marcel. Pria itu berusaha untuk menenangkan hati istri mudanya itu.
"Kamu yang apa-apaan Mas, kenapa kamu belain dia sih. Aku itu istri kamu," seru Angelina. Perempuan itu mulai tersulut emosi.
"Iya aku tau, kamu memang istri aku. Tapi kamu lihat keadaan Amanda sekarang dong. Kalau terjadi apa-apa sama dia, aku juga yang dimarahin," jelas Marcel. Pria itu mencoba memberi pengertian pada Angelina.
Angelina terdiam sejenak, lalu memeluk tubuh kekar suaminya itu. "Ya udah, sekarang pulang ya Mas, semalam kamu kan enggak pulang."
Amanda memilih memiringkan tubuhnya, wanita itu tidak ingin melihat dua insan itu mengumbar kemesraannya. Meski Amanda tau, jika Angelina juga istri dari suaminya. Tapi istri mana yang kuat dan tahan melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain, meski itu adalah istrinya sendiri.
"Tapi kalau aku pulang, nanti yang jagain Amanda siapa," tukas marcel.
Angelina melepas pelukannya. "Kan di sini ada perawat, kenapa kamu harus repot-repot jagain tuh perempuan sih."
"Tap .... " ucapan Marcel terpotong saat mendengar pintu ruangan terbuka.
Angelina dan Marcel sama-sama menoleh ke arah pintu tersebut. Ternyata Regina yang datang, seketika senyum di bibir merah Angelina memudar. Regina melangkahkan kakinya masuk ke dalam, matanya menatap sinis ke arah Angelina.
"Ternyata ada tamu toh." Regina melirik sekilas, lalu berjalan menghampiri Amanda. Wanita itu menaruh beberapa buah-buahan segar di atas nakas.
Amanda yang mendengar ibu mertuanya datang, dengan segera membalikkan posisi tidurnya. Amanda tersenyum melihat ibu mertuanya datang. Setidaknya hatinya merasa sedikit tenang.
"Gimana Sayang keadaan kamu, udah baikan kan." Regina menarik kursi lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi tersebut.
"Alhamdulillah, sudah mendingan kok ma," ucap Amanda dengan tersenyum.
Regina melirik mangkuk yang terletak di atas nakas. " Kok buburnya nggak di makan, nanti enggak sembuh-sembuh loh."
"Itu ma .... " ucapan Amanda terpotong. Wanita itu tidak tau bagaimana menjelaskannya.
Regina menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya. Ia mengambil mangkuk yang berisi bubur tersebut, lalu menyerahkannya pada Marcel. Pria itu sedikit terkejut dengan apa yang ibunya lakukan. Tapi berbeda dengan Angelina, perempuan itu terlihat sangat kesal.
"Kamu itu gimana sih jadi suami, istri lagi sakit malah sibuk sendiri," ujar Regina. Lalu mendorong putranya itu untuk duduk di kursi.
Marcel hanya membuang nafas, percuma ia menjelaskan, ibunya pasti tidak akan percaya. Justru keadaan akan semakin runyam. Regina tersenyum saat melihat wajah Angelina yang sudah seperti memerah menahan amarahnya.
Marcel pun duduk dan mulai menyuapi Amanda. Amanda melihat jika suaminya terpaksa melakukan itu. Terlihat jelas raut wajahnya yang menunjukkan rasa kesalnya.
Wanita itu merasa tidak enak, meski dalam hatinya merasa sedikit bahagia. Tapi jika karena terpaksa, itu percuma.
"Manda bisa sendiri kok Mas," tolak Amanda. Tangannya hendak mengambil alih mangkuk yang Marcel pegang, tapi Regina mencegahnya.
"Sayang jangan gitu dong, udah biar Marcel aja yang nyuapin kamu," ujar Regina.
Amanda hanya tersenyum, wanita itu sangat beruntung memiliki ibu mertua sebaik dia. Sementara Marcel hanya diam, lalu kembali menyuapi Amanda. Angelina melangkah menuju sofa, dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sana.
Selang beberapa menit, Marcel telah selesai menyuapi Amanda. Angelina yang melihat itu, bergegas bangkit dan mendekati Marcel. Angelina berdiri di samping Marcel, sementara pria itu hanya diam, entah apa yang ada dalam pikiran Marcel.
"Udah selesai 'kan makannya, kita pulang ya Sayang," ujar Angelina yang mulai bergelayut manja kepada suaminya itu.
"Enggak bisa, kalau kamu mau pulang, ya pulang saja sana. Nggak ada yang nyuruh kamu untuk ke sini kok. Di luar ada mang Agus, dia bisa nganterin kamu pulang. Marcel akan tetap di sini sampai Amanda diizinkan untuk pulang," potong Regina dengan cepat.
Wanita paruh baya itu benar-benar sudah membuat Angelina naik darah.
Angelina mendengus kesal, mertuanya benar-benar sudah membuat dirinya menahan emosi. Kalau bukan mertuanya sendiri ingin rasanya Angelina mencabik-cabik mulut perempuan itu.
"Kalau mas Marcel mau pulang juga enggak apa-apa kok ma. Semalam 'kan mas Marcel sudah nemenin Manda. Pasti mas Marcel capek," tukas Amanda. Wanita itu sadar, Angelina juga istri dari Marcel. Ia tidak ingin menjadi wanita yang egois.
"Amanda sudahlah, seorang suami juga berkewajiban untuk mengurus istrinya, terlebih saat sedang sakit," terang Regina.
"Kalau kamu mau pulang, ya pulang saja sana. Lagi pula aku sudah membawa baju ganti buat Marcel. Jadi tidak perlu repot-repot untuk pulang," sambung Regina.
Hatinya tersenyum puas, bisa membuat perempuan itu kembali menahan emosinya.
Angelina benar-benar kesal. Perempuan itu bangkit dari duduknya, Angelina menatap sinis ke arah Amanda, setelah ia keluar dari ruang rawat Amanda dengan menghentakkan kakinya. Marcel hanya diam, tapi raut wajahnya terlihat begitu kesal.
***
Angelina tiba di rumah, perempuan itu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Setibanya di kamar, Angelina meluapkan kemarahannya, perempuan itu melempar buku dan majalah yang terletak di atas meja. Bukan itu saja, Angelina juga mengobrak-abrik meja riasnya.
"Aaarrgght, sialan kamu Amanda. Kamu lihat saja nanti, aku akan bikin hidup kamu seperti di neraka," Angelina mengerang frustasi. Perempuan itu benar-benar sudah kehabisan kesabaran.
__ADS_1
Setelah itu Angelina memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam, berharap setelah itu pikirannya kembali fresh.
Namun belum sempat Angelina masuk ke kamar mandi, tiba-tiba handphonenya berdering, satu pesan telah masuk.
Angelina segera mengambil benda pipih itu, lalu membuka isi pesan tersebut. Mata Angelina melotot saat melihat foto yang di kirim ke handphonenya. Terlihat Marcel yang tengah memapah Amanda menuju ke kamar mandi. Seketika handphone yang Angelina genggam ia lemparkan ke lantai.
"Aaarrgght, dasar pembohong, kamu bilang kamu tidak mencintainya Mas, tapi apa yang kamu lakukan dengan perempuan itu. Dan kamu Amanda, kamu akan segera merasakan pembalasan dariku." Angelina mengerang frustasi. Perempuan itu juga melempar vas bunga yang terletak di atas meja.
Angelina tidak terima jika Marcel berbuat baik kepada Amanda. Perempuan itu tidak rela berbagi dengan orang lain, terutama untuk berbagi cinta. Angelina akan melakukan apapun untuk bisa membuat Marcel membenci Amanda.
***
Sementara itu, di RS Marcel nampak tengah di di sofa, dengan menyenderkan kepalanya di punggung sofa. Tiba-tiba saja handphonenya berdering, tertera nama Angelina di layar handphonenya. Dengan segera Marcel menggeser tombol hijau untuk menjawab.
[ Halo Sayang, ada apa ]
[ Tapi Sayang, Amanda belum boleh pulang, tidak mungkin aku ninggalin dia sendirian kan ]
[ Sayang, jangan begitu dong, ya udah nanti aku usahakan ya ]
[ Iya Sayang, i love you ]
Setelah itu, Marcel mengakhiri sambungan teleponnya. Pria itu meletakkan handphonenya di sofa. Marcel terlihat bimbang, ia menundukkan kepalanya dan sesekali memijat pelipisnya. Amanda yang melihatnya merasa kasihan. Ia juga sempat mendengar percakapan Marcel dengan Angelina.
"Kamu pasti bingung Mas, Angelina menyuruhmu untuk pulang, sedangkan mama menyuruhmu untuk tetap di sini. Kasihan Angelina, dia baru saja menikah," gumam Amanda dalam hati.
Amanda melirik Marcel yang masih terduduk dengan raut wajah yang sangat lesu. "Mas."
Marcel mendongak lalu bangkit dan berjalan menghampiri Amanda. "Ada apa."
"Kalau Mas mau pulang, pulang saja. Manda enggak apa-apa kok di sini sendirian," ujar Amanda.
"Kamu memang bisa bilang tidak apa-apa. Tapi mama, kalau mama tau aku juga yang dimarahin," seru Marcel. Pria itu mulai tersulut emosi.
Mata Amanda mulai berkaca-kaca, perlakuan Marcel terhadapnya selalu membuat luka dan sakit hati. Entah itu perkataannya ataupun perbuatannya. Marcel tidak pernah menyaring kata-kata yang akan diucapkannya.
"Kalau begitu Mas minta izin sama Dokter, kalau Manda mau pulang sekarang," ucap Amanda.
Marcel terdiam sejenak, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah kata pria itu berlalu dari hadapan Amanda. Entah apa yang akan Marcel lakukan, Amanda tidak tau. Amanda hanya bisa berdo'a dan pasrah, dengan apa yang akan terjadi nanti.
Selang beberapa menit, Marcel kembali. "Sekarang kita pulang, aku sudah minta izin."
***
Tidak butuh waktu lama, kini Amanda dan Marcel sudah tiba di rumah, keduanya bergegas keluar dari mobil, dan segera masuk ke dalam rumah. Angelina yang mendengar jika Marcel pulang, dengan segera turun ke bawah untuk menemui suaminya itu.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," ucap Angelina. Perempuan itu segera menghambur ke pelukan Marcel, tanpa memperdulikan Amanda yang tengah berdiri di samping Marcel.
"Iya dong Sayang, kalau aku bilang pulang. Pasti aku pulang." Marcel membalas pelukan Angelina dengan begitu erat.
Sementara itu, Amanda hanya diam, meski hatinya sakit, tapi wanita itu tidak mempedulikannya. Amanda memilih untuk naik ke atas menuju ke kamarnya. Tapi saat hendak menaiki anak tangga, tubuhnya terasa lemas, pandangannya pun mulai kabur.
Tubuh Amanda hampir saja merosot ke lantai, tapi sebisa mungkin wanita itu menahannya. "Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat."
Marcel yang melihatnya, berniat ingin membantu Amanda, tapi niatnya terhenti, lantaran Angelina mencegahnya. Angelina segera mengajak Marcel masuk ke kamarnya.
Hati Amanda semakin sakit saat melihat Marcel dan Angelina berjalan bermesraan tanpa menghiraukan keberadaannya.
Di lain sisi, Regina baru tiba di RS,wanita itu berniat ingin menjenguk menantunya itu. Tapi setibanya di sana, Regina tidak menemukan Amanda di ruang rawatnya. Ruangan itu telah kosong. Dengan segera Regina menemui Dokter yang menangani Amanda.
Regina mendesah, bisa-bisanya Marcel tidak memberitahu dirinya jika Amanda telah pulang. Tanpa membuang waktu lagi, Regina segera meluncur ke rumah putranya itu.
Hanya butuh 40 menit mobil Regina sudah sampai di halaman rumah mewah itu.
***
Regina bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Regina nampak celingukan, suasana rumah sangat sepi. Ia pun memutuskan untuk naik ke atas, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara gelas yang jatuh.
"Suara apa itu," gumam Regina dalam hati. Dengan segera perempuan itu berjalan ke arah dapur.
Regina terkejut saat melihat tubuh Amanda sudah tergeletak di lantai. "Astaga, Amanda."
Regina berlari menghampiri menantunya itu, dan mencoba membangunkannya. "Amanda kamu kenapa Sayang."
"Marcel, Marcel," teriak Regina. Wanita itu sangat panik dengan keadaan menantunya itu. Wajah Amanda terlihat sangat pucat.
Marcel terlonjak kaget saat mendengar teriakkan ibunya. Pria itu panik sendiri, bagaimana bisa, ibunya sudah ada di rumahnya, tanpa sepengetahuan dirinya. Dengan cepat Marcel meraih kemeja yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau kemana." Angelina berusaha menarik tangan kekar suaminya itu, tapi dengan cepat Marcel menepisnya.
"Sebentar ya Sayang, kita lanjut nanti aja." Marcel berlari keluar dari kamar, dan segera menuju ke sumber suara tersebut. Angelina benar-benar kesal, baru saja dirinya akan memulainya, tapi semuanya kacau.
"Arrrggtt, kacau. Ini semua gara-gara perempuan sialan itu." Angelina melempar batal ke lantai. Perempuan itu mengerang frustasi.
Marcel tiba di bawah, pria itu bergegas melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan ibunya. Langkahnya terhenti saat Marcel tiba di pintu arah menuju dapur. Pria itu segera menghampiri ibunya.
"Ma, Amanda kenapa?" tanya Marcel dengan panik.
"Harusnya mama yang tanya sama kamu. Suami macam apa, istrinya pingsan tidak tau." Regina menjitak kepala Marcel.
"Tadi Marcel sedang .... "
"Sedang apa, sedang berduaan dengan perempuan itu, iya." Seru Regina. "Bawa Amanda ke kamar sekarang."
Marcel segera membopong tubuh Amanda dan bergegas naik menuju ke kamarnya. Regina bergegas membuat teh manis, lalu membawanya ke kamar Amanda. Marcel telah membaringkan tubuh Amanda di atas ranjang.
Selang beberapa menit, Amanda mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan wanita itu membuka kelopak matanya. Pandangannya masih buram. Amanda pun mengedarkan pandangannya, terlihat Marcel tengah duduk di sampingnya, sementara Regina berdiri di samping ranjang.
"Kamu sudah sadar Sayang." Regina membantu Amanda untuk bangkit. Amanda menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Minum dulu ya Sayang, mama udah buatin teh manis untuk kamu." Regina menyodorkan segelas teh hangat yang baru ia buat.
Amanda hanya meneguknya beberapa teguk saja. " Makasih ya ma."
"Iya Sayang, kamu istirahat saja ya." Regina meletakkan gelas itu di atas nakas.
"Marcel, mama mau bicara sebentar sama kamu." Regina menarik tangan putranya, dan membawanya keluar dari kamar.
Regina dan Marcel pun keluar dari kamar. Keduanya berjalan menuju ke ruang tengah, yang berada di lantai atas.
"Mau bicara apa ma," ujar Marcel. Pria itu kini berdiri di dekat jendela di ruang tengah.
"Mama tau, kamu memang tidak mencintai Amanda. Tapi mama mohon sama kamu, tolong jaga dia. Kamu masih belum tau, masa lalu gadis itu seperti apa. Amanda itu gadis yang baik, dia seperti itu karena ada sebabnya," jelas Regina. Perempuan itu berdiri di samping putranya.
"Jauh sebelum ini, mama sama papa memang sudah berniat ingin menjodohkan kalian. Tapi nasib buruk telah menimpa Amanda terlebih dahulu. Jadi mama harap sama kamu, tolong hargai Amanda sebagai istri kamu, jangan sia-sia dia, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," lanjut Regina. Perempuan itu merasa sedikit lega, setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan sedari kemarin.
Marcel hanya terdiam, pria itu sedikit terkejut saat tau, jika orang tuanya sudah berniat ingin menjodohkan dirinya dengan Amanda. Marcel menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, entah apa yang kini ada dalam pikirannya.
"Nanti akan mama ceritakan, sekarang mama mau pulang dulu. Temani Amanda, jangan pentingkan ego kamu." Regina menepuk pelan pundak putranya itu.
Sebelum Regina pulang, terlebih dahulu perempuan itu masuk ke kamar dan berpamitan dengan menantunya itu. Setelah berpamitan, Regina bergegas keluar dari rumah putranya.
Sementara itu, Marcel masih terdiam dalam lamunannya. Ada rasa penasaran dengan masa lalu Amanda, yang dia sendiri memang tidak tau, seperti apa kehidupan Amanda yang sebenarnya.
***
Selang beberapa menit, Angelina keluar, perempuan itu mencari keberadaan suaminya itu. Angelina menghentikan langkahnya saat melihat Marcel tengah duduk di sofa dengan menundukkan kepalanya. Angelina segera menghampiri Marcel, dan duduk di sebelahnya.
"Sayang, kamu kenapa." Angelina menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
Marcel tersentak. "Eh, enggak kok Sayang, kamu belum tidur."
"Gimana aku mau tidur, kamu aja di luar terus. Masuk yuk." Angelina menarik tangan Marcel, dan menuntutnya masuk ke kamar.
Setibanya di kamar, Angelina mendudukkan Marcel di tepi ranjang. Sementara itu, Angelina bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Angelina keluar dan berjalan menghampiri sang suami.
Marcel terkejut saat melihat Angelina yang sudah berdiri di hadapannya. Perempuan itu berdiri tepat di hadapan Marcel, dengan mengenakan lingerie berwarna hitam yang begitu transparan. Lekuk tubuhnya sangat terlihat. Marcel menelan salivanya sendiri, seketika hasratnya meronta meminta untuk dipenuhi.
Angelina yang sudah tau gelagat suaminya itu, dengan cepat mendorong tubuh Marcel hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Angelina pun naik ke atas dan duduk di sebelah Marcel, perlahan tangannya membuka kancing kemeja Marcel satu persatu. Setelah itu, Angelina menelusuri dada bidang Marcel dengan jari-jarinya.
Marcel benar-benar sudah dikuasai oleh hasratnya. Dengan cepat pria itu membalikkan posisi tubuhnya. Marcel kini berada di atas, sementara Angelina berada di bawah. Perlahan Marcel menulusuri leher jenjang Angelina, tapi aksinya terhenti saat teriakkan dari kamar Amanda terdengar sangat jelas.
Marcel segera bangkit dari tempat tidur, tanpa sepatah kata pria itu berlari keluar dari kamarnya, dan menuju ke kamar Amanda yang bersebelahan. Sementara itu, Angelina berteriak tidak terima atas apa yang Marcel lakukan. Lagi-lagi Angelina gagal untuk menyalurkan hasratnya.
"Arrrggtt, kenapa kamu melakukan ini Mas, kenapa kamu lebih peduli dengan dia," teriak Angelina. Perempuan itu mengerang frustasi, karena ini adalah kesekian kalinya Marcel mengabaikannya.
Marcel bergegas masuk ke dalam kamar Amanda, terlihat wanita itu tengah berteriak dengan keadaan mata yang masih terpejam. Marcel segera menghampiri Amanda dan mencoba untuk menenangkannya.
"Amanda, kamu baik-baik saja 'kan." Marcel memegang bahu Amanda dan menggoyangkannya.
Seketika Amanda terbangun dan tanpa sadar Amanda memeluk tubuh kekar suaminya itu. Wanita itu menangis sesenggukan, entah apa yang membuat Amanda sampai seperti itu. Mimpi buruk atau apa, Marcel tidak tau. Marcel terdiam, ada desiran aneh dalam hatinya, saat berada dekat dengan Amanda.
"Aku takut, dia jahat, dia kejam," ucap Amanda. Wanita itu terus saja berucap seperti itu.
Marcel tidak tau apa yang Amanda maksud. Merasa kasihan, Marcel membalas pelukannya, pria itu merengkuh tubuh mungil Amanda. Marcel mencoba menenangkan istrinya itu. Trauma yang Amanda alami membuat wanita itu sering bermimpi buruk, dengan kejadian yang pernah Amanda alami.
__ADS_1
"Kamu tenang ya, dia tidak akan mengganggu kamu lagi." Marcel mengelus lembut rambut Amanda. Pria itu terus memberikan ketenangan pada istrinya itu.
Sementara di balik pintu, Angelina melihat semua yang terjadi di kamar Amanda, perempuan itu meneteskan air matanya. Angelina tidak terima Marcel memperlakukan Amanda seperti itu.