
Queensza berjalan memasuki Sma Internasional dengan diam. Tapi baru saja masuk, pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Mereka menatap ponsel, lalu menatap queensza, begitu seterusnya. Queensza melihat penampilannya dari atas hingga bawah, perasaan tidak ada yang salah. Bukan cuman menatap, mereka terus berbisik.
"Itu yang namanya Queensza?"
"Hooh, yang kemarin dianter pulang sama devan dengan keadaan nangis."
"Kenapa emangnya?"
"Katanya ditampar Kania."
Queensza mengerti sekarang. Mereka semua membicarakan soal kemarin. Bodoh. Seharusnya Queensza tidak perlu heran mereka menatap dan berbisik kepada queensza, kan devan itu adalah sosok siswa yang dikagumi mereka semua. Ibarat kata, devan itu idola di sma Internasional, jadi segala tentangnya akan selalu tersebar.
“raa"
Queensza memberhentikan langkahnya, sambil menatap gadis di depannya. Kania. "Kenapa, Kan?"
Kania mengulurkan tangannya. "Gue minta maaf soal kemarin."
Queensza tersenyum, dengan cepat membalas uluran tangan Kania. Queensza sangat rispek dengan orang yang ingin minta maaf duluan. "Iya, Kan. Gak papa, kok."
"Maaf ya, pasti lo gak nyaman diliatin sama yang lain."
"Gak papa."
Kania menatap sekelilingnya. Semua sedang menatap queensza dan Kania penasaran. "APA LIAT-LIAT?! JANGAN SAMPE MATA LO SEMUA GUE PUKUL!"
Queensza memejamkan matanya ketika mendengar suara Kania yang sangat keras. Dan benar saja, setelah Kania menegur mereka semua yang memperhatikan Kania dan queensza, mereka semua mendadak bubar. Queensza menatap kania, mereka semua tampak takut dengan perempuan ini.
"Kan, aku boleh tanya?" Queensza menghela napasnya. "Kok pada bisa tau kejadian kemarin, ya?"
"Sekolah kita punya lambe turah. Foto lo, sama Devan, ada di Instagram lambe turahnya sma ini."
"Hah?" Queensza terlihat kaget. "Siapa yang megang?"
"Belum ada orang yang tau dibalik akun lambe turahnya sma itu," ucap Kania. "Tapi rumornya sih, si Caesar yang pegang."
“Caesar, yang dari anggota geng Dangerous itu”
“iya, Caesar aldrige Dia temen gue yang juga anggota Dangerous ," ucap Kania. "Caesar tuh cogan bobrok. Udah bobrok, demen rumpi lagi. Mulutnya rese kayak cewek."
Queensza tertawa. "Aneh banget sih."
Kania melipat tangannya di dada. "Gue cuman minta maaf, karena gue salah. Gue tetep gak suka sama lo. Lo temennya geng brigeus, dan gue benci mereka."
Sementara di sisi lain...
Brugh!
Devan mendorong Caesar ke arah tembok kelas sedikit kencang. "Ngaku gak lo?! Lo kan orang di balik lambe turah sekolah?! Tega ya lo gosipin temen sendiri?!"
Wajah Caesar sudah ketakutan. Sementara Raden, Gibran,Raksa,Kian, Rio, dan Adam terus tertawa melihat Caesar yang sedang dimarahi oleh Devan. Dari banyaknya anak-anak di kelas 11 - IPS , hanya 6 laki-laki itu yang berani menertawakan Caesar. Lucu sekali melihat wajah Caesar yang ketakutan.
"B-bukan gue, devv."
__ADS_1
"Ga usah bohong! Dari data Instagram, yang megang itu laki-laki!" Devan masih memojokan Caesar. "Laki mana lagi yang suka gosip, rumpi, selain lo! Ngaku, anj*ng!"
"Devv, beneran...." wajah Caesar sudah sangat melas dan ketakutan. Yang lain bukannya membantu, malah menertawakan.
"Ngaku dulu baru gue lepas!"
"Bukan gue sialan!" Caesar berusaha mendorong devan agar melepaskan dirinya, tapi nyatanya tenaga devan lebih kuat darinya. "Ngeselin lo, anj*ng!"
Alan menghela napasnya, lalu melepaskan Caesar. "Ngaku anj*ng!"
"Bukan gue, Bab*!"
"Udah-udah!" Darel berucap. "Bentar lagi guru dateng."
Devan menghela napasnya. Laki-laki itu duduk di tempatnya. Sementara Caesar menatap Devan kesal. Laki-laki itu merapihkan sedikit seragamnya yang acak-acakan, lalu duduk di belakang Devan.
Devan mengeluarkan uang lima puluh ribuan, lalu menyerahkannya pada Caesar. "Nih buat lo beli rokok. Tapi lo jangan marah sama gue! Gue tadi cuman bercanda, serius."
Dani mengabaikan perkataan Alan.
"Ceilah! Pake acara ngambek-ngambekan!" Rio tertawa melihat ekspresi Caesar. Beginilah nasib orang lucu, walau sedang marah tetap dijadikan lelucon.
"Ah Caesar kayak anak perawan nih!" Raksa ikut menimpali sambil mengigit sedotan.
Devan tertawa, lalu merangkul caesar. "Gue bercanda doang. Gue gak marah. Beneran. Nih gua kasih uang buat beli rokok."
"Bodo amat!" Caesar menepis tangan Devan. "Kesel gue sama lo, devv!"
"Roti mulu hidup, lo!"
“Kalle Prangkasa namanya, si laki-laki 17 tahun yang sangat terobsesi dengan makanan dari tepung itu. lya, kalle itu sangat suka dengan roti. Roti jenis apapun kalle suka. Laki-laki keturunan Chinese dan berkulit putih itu akan bahagia hanya dengan diberikan roti. Kalle selalu membawa dan membeli roti jika kemana-mana. Ke sekolah, kumpul, jalan, dan lain-lain.
"Ya dari pada Caesar gak mau! Mending buat gue uangnya!" Kalle mengunyah rotinya. "Devan sama keluarganya kan suka buang-buang duit. Dari pada membazir mending buat gue."
"Yeeee itu maunya, lo!"
"Sarr, jangan marah napa." Devan tersenyum dan terus mendorong-dorong pelan Caesar yang sedang merajuk.
"Kaga gue kaga marah."
"Beneran?"
"Hm." Caesar menatap devan. "Mana uangnya sini. Katanya mau kasih gue."
"Oke-oke." Devan menepati janjinya. Laki-laki 17 tahun itu memberikan uang lima puluh ribu rupiah.
"Sarr, boleh lah mie ayam!" Raden berbicara dengan senyum manisnya.
"Duh, lagi pengen bakso nih, tapi gak punya uang." Rio pun ikut menimpali dengan kode-kodenya.
"Sarr, gue roti aja deh. Paling cuman sepuluh rebuan paling mahal," ucap Kalle.
"Bajing*n kalian! Giliran gue megang duit aja pada ke gue! Tadi pas gue di pojokin ke tembok sama Devan lo pada cengengesan!"
__ADS_1
🦁🦁🦁
Ting
Ting
Ada pesan dari Devan
Devv
P
Devv
maap y. Lo jdi di gosipin grgr plng brng w.
Queensza mengurutkan keningnya ketika membaca pesan dari devan. Sekarang queensza sedang duduk di perpustakaan sambil membaca buku, tapi dirinya malah salah fokus dengan pesan devan di layar kuncinya. Queensza menghela napasnya, lalu mulai mengetikan balasannya.
Queensza
Gak papa devv,, santai aja kok aku gapapa gaada yang bully aku lagian..
Devv
Lo dimana sekarang raa?
Queensza
Gw lagi di perpustakaan
Tapi tiba tiba ada cewek yang menatap queensza sinis,, dan ia duduk di samping queensza.. Ia adalah jesica, desy, andin..
"Jadi lo yang namanya queensza?"
Queensza mengangguk ketika mendengar pertanyaan Jesica. "Iya,”
Jesica mendekatkan wajahnya ke wajah queensza. "Maksud lo apa kemarin pulang bareng devan? Gak usah genit,"
"Devan anterin aku, karena dia yang mau."
"Jangan sok kecakepan jadi cewek." Desy, teman Jesica pun ikut-ikutan.
"Tau! Lagi pula, devan mana mau sama cewek kayak lo!" sambung Andin. "Jesica udah ngincer devan dari awal di sma Internasional ini, dan lo enak banget maen pulang bareng sama Devan
"Aku gak tau." Queensza menghela napasnya. "Sekarang kalian maunya gimana?"
"Jauh-jauh dari devan. ”
"Okay." Queensza mengangguk. "queensza sama devan cuman sebatas tau kok, kita gak deket."
"Bagus! Awas aja lo sampe gue liat berinteraksi sama devan lagi!" ucap Jesica. "Gue habisin lo!"
Setelah bicara seperti itu, mereka pergi dari hadapan queensza. Queensza menghela napasnya. Padahal dirinya dan devan itu tidak apa-apa, tapi satu sekolah menyangkal kalau queensza dekat dengan Devam . Susah memang, devan kan idola sekolah.
__ADS_1