
“devv”
Devan sedang memainkan game didekat kolam renang, ia pun menghentikan aktivitas nya ketika mendengar suara Queensza. Devan menatapnya. Dari ekspresi, Queensza terlihat sangat khawatir pada ibunya. Devan tersenyum, tanpa sadar ia langsung menarik Queensza untuk duduk di sampingnya.
"Lo gak tidur? Reta, jihan, sama kania aja udah tidur."
Queensza menggeleng lemah. "Nggak bisa. Gak gak bisa tidur dalam situasi kayak gini."
"Lo harus tidur, istirahat. Jangan down gini dong, nanti lo sakit gimana?" Devan terlihat sangat mengkhawatirkan Queensza. "Tidur, gih."
"Gak bisa." Queensza meremas ujung bajunya. "Aku kangen sama Ibu, aku khawatir. Cuman Ibu yang aku sayangin."
"Sabar, ya? Nino pasti bisa jagain ibu lo. Brigeus gak akan bisa nyentuh ibu lo." Devan tersenyum. "Lo gak sendiri. Lo punya gue, gue kan udah janji bakal jagain lo."
Queensza tersenyum mendengar perkataan devan. "Makasih."
Tiba-tiba hening diantara mereka. Jarum jam yang menunjukkan pukul 23.00 membuat suasana rumah mewah itu hening. Hanya terdengar suara pancuran air dari kolam ikan dan jangkrik. Rasa canggung pun menguasai keduanya. Devan tidak paham dengan semua ini. Akhir-akhir ini queensza bagaikan magnet bagi devan. Setiap ada queensza , mata Devan selalu reflek untuk melihat ke arahnya.
"Raa," panggil devan.
"Apa?"
"Jalan-jalan, yuk! Dari pada gabut." Devan berbicara sedikit ragu, takut kalau Queensza akan menolak ajakanya.
"Kemana? Ini kan udah malem."
"Bukan jalan-jalan keluar. Tapi jalan-jalan di Rumah gue. Ada banyak hal yang gak lo tau," ucap devan.
queensza tersenyum. Rumah ini sangat besar, membuat Queensza tertarik untuk mengetahui isi-isinya lebih dalam.
"Yuk. Aku mau."
Devan tersenyum. Mereka pun langsung berdiri dan mulai berjalan-jalan menyusuri rumah keluarga nya itu. queensza bergidik ngeri ketika melihat poho-pohon yang sangat besar di dalam rumah tersebut. Devan tersenyum, tangannya menarik Queensza ke sebuah kandang besar yang merupakan kandang rusa milik keluarga Devan.
"Ini rusa-rusa yang tadi gue bilang," ucap Devan sambil tersenyum.
Queensza tidak menjawab, gadis itu menatap rusa-rusa Devan didalam kandang dengan mata berbinar. Sangat lucu, pikir Queensza. Tanduk dan bintik putih mereka sangat cantik dan unik. Tanpa Queensza sadari, sedari tadi Devan terus memperhatikannya. Senyum Queensza , tawa gadis itu seolah seperti magnet bagi mata devan.
"Keluarga gue bukan cuma punya Rusa."
Queensza menatap devan. "Devv lo punya banyak hewan lagi?"
Devan menggeleng. "Gak banyak. Keluarga gue juga punya peternakan kuda. Tapi bukan di sini, tapi di Bogor. Di sana sekaligus tempat latihan berkuda bagi keluarga gue, kalau ada yang mau nyoba juga boleh.”
"Biayanya berapa?"
Devan menatap queensza sambil tersenyum. "Keluarga gue gak mematokan harga dan biaya. Selagi niat, orang-orang di sana bakal ngajarin dengan maximal."
"Keluarga lo kaya banget, ya? Rumah Devan udah berasa Dufan."
Devan tertawa mendengar perkataan queensza. "Semua ini bukan milik keluarga gue, bukan milik Papah atau Mamah gue. Ini milik leluhur. Kita cuman nerusin untuk ngejaga ini semua."
“Maksudnya devv??"
"Kalau kata Kakek gue, keluarga kami itu, lebih tepatnya Papah, mengalir darah Bangsawan. Kalau kata orang dulu, keluarga kami mempunyai darah biru. Ya, meski kalau gue kebacok yang keluar darah merah juga."
"Dan semua ini peninggalan-peninggalan leluhur dari keluarga kami," lanjut Devan sambil merentangkan tangannya.
Queensza tertawa mendengar perkataan devan. "Tapi aku percaya kok, kalau kalian keturunan bangsawan. Orang rumahnya berasa istana."
"Lo percaya? Padahal gue aja gak percaya, hahaha."
"Lah, gimana sih!"
Devan tertawa, lalu menarik tangan queensza. "Gue mau kasih unjuk lo sesuatu. Sejarah adanya Dangerous."
__ADS_1
Mata Queensza langsung berbinar. Menarik, pikir gadis itu. Queensza pun mengikuti Devan dari belakang, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil. Devan menatap queensza. "Ayo raa, masuk."
queensza terperangah melihat isi di dalam rumah kecil itu. Banyak bingkai-bingkai foto yang terpajang di dinding. Queensza menatap foto-foto ttersebut Queensza idak mengenali orang-orang di dalam foto itu. Ada laki-laki yang memakai jaket persis seperti jaket devan. Hm, pasti itu Papah devan.
"Sini, raa." Devan menarik Queensza ke sebuah peti kaca besar yang ditutupi kain putih. Devan pun membuka kain itu. Mata Queensza membelalak ketika melihat isi peti kaca tersebut. Di peti itu itu terdapat celurit, pistol, linggis, parang, dan benda-benda tajam lainnya.
"Dev-vv, ini apa?"
"Ini benda-benda bersejarah bagi Dangerous. Dari generasi Papah gue dan teman-temannya, sampai generasi anak-anaknya. Kayak gue, Raden,Darel, Adam. Kita adalah anak dari pendiri Dangerous."
"Terus benda-benda tajam ini?"
"Dangerous selalu ada untuk orang-orang tertindas, Dangerous udah nolong banyak orang. Bahkan polisi kerap bekerja sama, sama Dangerous untuk memberantas kejahatan di Indonesia ini," ucap devan.
"Terus, hubungannya sama benda-benda ini apa?"
"Benda-benda ini yang digunakan penjahat untuk ngelakuin kejahatan mereka." Devan menunjuk sebuah linggis. "Contoh. Linggis itu digunain sama pelaku buat membobol sebuah rumah di daerah Kalimantan. Ya, mereka mau merampok Rumah itu. Dan Dangerous berhasil gagalin semua itu."
"Lebih tepatnya, barang-barang ini adalah barang bukti dari sebuah kejahatan yang Dangerous gagalkan," lanjut Devan.
Queensza menepuk tangannya. "Wah, hebat! Ternyata aku salah udah nilai Dangerous. Aku kira, Dangerous hanya perkumpulan anak-anak nakal."
Devan terkekeh. "Ya, wajar sih kalau orang-orang anggep gitu. Karena emang kebiasaan kita yang buruk. Di sekolah suka banget bolos sambil ngerokok, di jalan suka konvoi gak jelas. Wajar orang-orang mencap jelek kita semua."
"Tapi Dangerous keren, setelah aku dengar cerita devan."
Devan tertawa. Entah kenapa ada rasa senang tersendiri dikala queensza memujinya. "Dangerous kerap dijuluki, Taruna pelindung Bangsa, karena seringnya kita gagalin aksi kejahatan.
" Devv, kamu hebat! Yang lain juga hebat!"
"Dangerous berasal dari keluarga dan status yang berbeda-beda." Devan menghela napasnya. "Kita sering banget merekrut anak-anak muda yang depresi, broken home, putus sekolah, dan lain-lain. Kita mau nunjukin ke mereka kalau, kalian gak sendirian, kalian bisa, dan kalian hebat. Dangerous akan kasih tau arti keluarga dan kasih sayang yang mungkin gak pernah orang-orang itu rasain."
Mata queensza berkaca-kaca. "Aku minta maaf, ya?"
Devan mengerutkan keningnya. "Kenapa minta maaf? Kok, lo kayak mau nangis gitu?"
Devan mengusap air mata Queensza yang sudah turun entah kapan. Mata laki-laki itu menatap queensza sambil tersenyum. "Gak papa. Tapi, sekarang lo udah gak benci gue, kan?"
Queensza menggeleng. "Engga. Aku kagum sama devan."
Devan menunjuk sebuah foto Masjid, Gereja, Pura, Vihara, dan Klenteng. "Coba liat tempat-tempat ibadah itu”
Queensza mengamati foto-foto tempat ibadah yang devan tunjuk. "Kenapa sama foto itu dev?"
"Papah, sama pendiri-pendiri Dangerous lainnya yang bangun tempat-tempat ibadah itu," ucap devan. "Gue sama keluarga gue Muslim. Tapi Papah terlibat pembangunan Greja, Pura, Vihara, dan klenteng itu. Begitu pun pendiri Dangerous yang non muslim, mereka terlibat dalam pembangunan masjid itu."
"Terus?"
"Dangerous bukan cuman saling mengasihi, tapi Dangerous menjunjung tinggi toleransi."
Queensza tersenyum. "Queensza lagi-lagi kagum."
Devan menghela napasnya. "Dangerous selalu menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama dan ras. Buktinya kalle yang keturunan Chinese gak pernah ada masalah sama kita yang murni darah Indonesia." Queensza mengangguk. "Apa alasan pendiri Dangerous membangun tempat-tempat ibadah itu?"
"Tempat ibadah yang ada di foto itu, di bangun di kampung-kampung yang masih berada di pedalaman, jauh dari kota, dan jauh dari tempat ibadah," ucap devan. "Dengan pembangunan tempat ibadah ini, kami berharap gak ada lagi alasan mereka lupa sama pencipta."
"Hebat! Kalian hebat!"
"Raa, kalau ada yang bilang Indonesia minim toleransi, berarti dia mainnya kurang jauh." Devan menatap Queensza. "Cuman orang bodoh yang bilang Indonesia kurang toleransi."
"Boleh aku masuk Dangerous? Aku kagum banget sama kalian."
Devan terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Gak boleh."
"Kenapa?" Queensza menghela napasnya. "Oh iya, aku kan gak bisa berantem."
__ADS_1
"Bercanda!" Devan tertawa, lalu mengacak rambut Queensza tanpa sadar. "Lo lucu banget, sih! Dasar baperan!"
Queensza emang baperan!! Siapa yang gak baper rambutnya diacak-acak sama cogan?!
"Rambut aku acak-acakan, kan!"
Devan tersenyum. "Lo gak perlu jadi anggota Dangerous, karena lo itu mutiara Dangerous."
Queensza mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
Devan menggeleng. "Gak papa. Yang jelas, kalau lo ada masalah, lo tinggal hubungi gue. Gue dan temen-temen Dangerous yang lain bakal maju paling depan buat ngelindungin lo."
Kan! Devan tuh penuh kejutan. Alhasil, sekarang Queensza harus meremas bajunya sambil menahan senyum. "Makasih."
"Keluar, yuk. Gak baik berduaan kayak gini." Devan pun melangkah keluar diikuti Queensza di belakang. "Boleh gue tanya, raa?"
"Boleh."
"Kata nyokap lo, lo pernah mempelajari ilmu bela diri, ya?" Devan berjalan beriringan dengan Queensza. "Nyokap lo bilang, dulu lo sering menangin kejuaraan pencak silat."
"Oh, ibu udah cerita sama Kakak, ya?"
"Iya, udah." Devan mengangguk. "Ibu lo jelasin juga alasan kenapa lo berhenti dan keluar dari dunia pencak silat. Lo gak ada niatan mau belajar bela diri lagi?"
"Mau sih, sebenarnya. Cuman, kayaknya nanti dulu deh."
"Oke, deh. Kalau mau belajar bela diri lagi, lo bisa bilang gue. Karena gue punya kenalan yang cocok buat ngelatih lo," ujar devan.
"Iya devv, makasih banyak atas semuanya."
"Santai." Devan menatap queensza. "Ibu lo juga bilang sesuatu sama gue."
"Bilang apa?"
"Dia bilang... katanya gue spesial buat lo. Apa bener, gue orang yang spesial buat lo, raa?"
Mendadak queensza dan devan berhenti dari jalannya. Keduanya sama-sama terdiam. Jantung Queensza berdetak kencang akibat pertanyaan devan. Bukan hanya Queensza, jantung Devan juga berdetak kencang. Keduanya saling menatap dalam diam.
Drt... Drt...
"Itu di angkat dulu, devv. ”
Devan seketika sadar dari lamunanya ketika Queensza berbicara. Devan pun merogoh saku celananya ketika merasakan ponselnya bergetar. Nino Milky. Nama itu tertera dipanggilannya. Devan pun segera menjawab panggilan itu. "Halo, Nino? Gimana?"
Queensza hanya menatap Devan yang sedang berbicara pada orang bernama Nino itu. Ah, Queensza ingat Nino. Nino kan yang waktu itu ada di markas Dangerous.
"Alhamdulillah. Ya udah, gue minta kalian harus berjaga-jaga ketat, tapi dari jauh, jangan sampai mengganggu pergerakan Tante Asih."
Queensza menatap Devan ketika mendengar nama sang ibu.
"Ok thanks, Bro." Devan pun mematikan panggilannya.
“devv, gimana sama ibu? Ibu baik-baik aja, kan?" Queensza terlihat khawatir. Gadis itu bertanya pada Devan dengan napasnya yang gusar.
"Nyokap lo baik-baik aja. Nino sama temen-temennya udah nemuin kantor Tante Asih. Mereka jaga di sana." Devan tersenyum. "Lo tenang, mereka bakal jagain nyokap lo."
Queensza menggenggam tangan devan. "Devv, makasih, ya? Aku gak tau harus balas kebaikan Kamu sama temen-temen gimana."
Devan tersenyum sambil menatap tangannya yang digenggam oleh Queensza. Laki-laki itu pun menggenggam tangan Queensza balik. "Gue kan udah bilang, lo itu mutiara Dangerous. Kalau ada yang macem-macem sama lo, Dangerous gak akan diem."
Keduanya saling menatap untuk beberapa detik. Sampai akhirnya mereka sadar. Keduanya langsung melepaskan genggaman satu sama lain. Pipi Queensza sudah merona merah karena malu. Sementara devan terus menggaruk kepalanya karena salah tingkah. Jantung keduanya berpacu dengan cepat.
"Y-yaudah, sana lo tidur. Udah malem."
Keyra mengangguk, lalu keduanya kembali berjalan.
__ADS_1
Uhuyyy makin uwu aja mereka!
Gimana? Uday vote? Udah komen? Aku harap udah. Aku percaya kaliam itu terbaik, yang selalu memberikan suport dengan cara vote dan komen.