DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 30 - CURHAT


__ADS_3

HAPPY READYNG


"Makasih ya, Mba."


Queensza dan devan tersenyum ramah kala pelayanan Kafe mengantarkan pesanan mereka. Devan menghela napasnya sambil menatap Queensza yang sekarang tengah menghisap boba.


Malam ini, tepatnya pukul delapan malam, Devan dan Queensza memutuskan untuk bertemu di sebuah Kafe dekat SMA internasional, tepatnya di belakang sekolah. Kalian sudah tahu bukan, apa maksud dan tujuan Queensza dan devan bertemu? Ya, untuk membahas Tomi.


"Mata lo, sedikit sembab, ya."


Queensza tersentak, gadis itu hanya meresponnya dengan senyuman. Queensza menghela napasnya. "Makasih ya devv udah mau dengerin curhat Queensza."


"Gak papa. Lo bisa ceritain gimana Tomi bisa selingkuh?" Devan bertanya sambil mengaduk sedotan di kopi yang ia pesan. "Maksud gue... akhir-akhir ini lo sering cekcok, atau sejenisnya gitu?"


"Sering, sih. Prihal aku yang gak bisa rawat diri."


"Maksudnya?"


"Ya gitu.... aku gak suka skincare-ran apalagi make up-an," ucap Queensza. Gadis itu memutar-mutar sedotan. "Tomi bilang dia bosen liat muka aku yang ngebosenin bagi dia."


"Cuman karena itu?"


"Banyak sih, sebenernya." Queensza menunduk, lalu menghela napasnya. "Kita tuh udah sama-sama gak srek, kayaknya. Cuman... aku yang selalu pertahanin hubungan kita."


"Kenapa harus lo pertahanin? Kan, sekarang jadinya malah kayak gini." Devan bersandar pada kursi. "Waktu itu kan gue juga udah nyuruh lo mutusin dia."


"Keluarga Tomi yang bantu aku sama ibu aku, devv. Jadi aku berpikir, dengan aku bersahabat sama Tomi, itu merupakan sedikit timbal balik aku sama keluarganya." Queensza menunduk dengan bibir mengerucut.


"Keluarga Tomi bantu lo apa?"


"Keluarga Tomi, khususnya Papahnya, dia yang udah ngasih Ibu aku pekerjaan." Queensza berbicara, tapi matanya tidak menatap devan. Jantungnya berdetak kencang jika menatap laki-laki itu. "Keluarga Tomi juga yang bantu membangun rumah yang sekarang aku tinggalin sama Ibu."


Devan menghela napasnya sambil mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Perlahan tapi pasti, tangannya menyentuh tangan Queensza yang berada di atas meja. "Sabar, ya...."


Queensza diam tanpa berniat menarik tangannya. Reflek matanya menatap mata devan, dan sebaliknya. Keduanya saling menatap sekarang. "Iya, devv."


"Nangis aja, gak papa. Gak usah ditahan."


Queensza menggeleng. "Enggak. Aku gak mau nangis kok. Menurut sejarah, perempuan Aceh itu kuat. Pantang bagi kami menangisi laki-laki yang cuman bisa menyakiti."


Devan meminum kopinya, lalu menatap queensza. "Lo suka sejarah?"


"Ya... Aku suka sejarah."


"Kalo gitu kita sama." Devan tersenyum tipis. "Jodoh, mungkin?"


Queensza menelan ludahnya saat mendengar perkataan devan Apa-apaan ini hey! Jodoh katanya? Ya Tuhan! Jantung queensza berdetak kencang. "G-gak tau."

__ADS_1


"Lo harus kuat ya, raa. Kuat bagai Srikandi!" Devan tertawa.


"Aku sih pengen kuat, sekuat Srikandi. Tapi ya gimana, ya. Susah." Queensza merapihkan rambutnya. "Kalau aku dikasih kesempatan, aku pengen jadi kuat macam Srikandi. Hahaha."


"Boleh, kok. Boleh banget, apalagi jadi Srikandi di hati gue."


.


.


.


.


"Tomi, aku kan udah bilang, aku gak suka kalau dibawa kesini."


Laki-laki bertubuh jangkung dan bertubuh tegap itu hanya diam ketika mendengar ocehan queensza. Tomi melepaskan helm full facenya. Sebelum masuk ke dalam, sebuah tempat yang merupakan markas Brigeus, Tomi menyempatkan merapihkan jaket Brigeus dengan lambang cobra di belakangnya.


Queensza menahan tangan Tomi yang baru saja ingin masuk ke dalam. "Tomi, plis..."


"Apasih!" Tomi menatap sahabat nya malas. "Kamu tuh tinggal nurut aja susah!"


"Aku mau pulang, Tomi." Queensza mengerucutkan bibirnya. "Aku gak suka di sini. Aku gak suka sama temen-temennya Tomi."


Tomi menggertakan giginya, tanda laki-laki itu mulai marah. "Kenapa kamu gak suka sama teman-teman aku?"


"Aku paling gak suka, teman-teman aku dihina." Tomi menatap queensza marah. "Aku bisa lakuin yang sama sekali kamu gak pengen loh Raa, kalau kamu berani hina teman-teman aku."


"Aku udah capek ya, Tomi. Mending kita udahan aja, lah!"


Tomi tertawa. "Kenapa kamu minta udahan? Apa karena itu cowok?"


Queensza mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu?"


"Jangan kira gue gak tau kalau lo itu jalan kan sama devan tadi malem!" Tomi mencengkram bahu queensza kuat. "Gue bakal kasih lo pelajaran, cewek sialan!"


"Jangan kamu pikir aku juga gak tau, ya!" Queensza menyentak tangan Tomi. "Kamu selingkuh, akn?! Ngaku!"


"Sok tau lo! Mana buktinya?"


Queensza buru-buru mengeluarkan ponselnya, dan membuka sebuah foto, lalu menunjuk pada Tomi. "Dan parahnya kalian ciuman!"


Tomi terdiam beberapa saat. Sialan, siapa yang berani mengirim foto itu pada queensza? Bukannya merasa bersalah, Tomi malah menyeringai. "Terus lo mau apa? Suka-suka gue dong kalau mau selingkuh."


"Aku mau putus!"


"Gue gak bakal lepasin lo " Tomi tersenyum sinis. "Inget, lo sama ibu lo bisa bertahan di Jakarta karena siapa? Karena bokap gue! Karena keluarga gue! Kalau gu----"

__ADS_1


"Berhenti jadiin itu tameng, Tomi!" Queensza terlihat frustasi. Air matanya pun mulai mengalir. "Aku udah gak tahan! Pokonya aku mau putus!"


"Putus? Silahkan. Yang jelas, lo gak bakal lepas dari gue. ”


Queensza mengambil ponselnya dari Tomi, dengan cepat gadis itu langsung melangkah pergi dari sana dengan air matanya yang mengalir. Queensza berjalan untuk sampai di depan jalan raya, setelah itu ia mencari angkot, dan pulang. Sementara Tomi, laki-laki itu tampak tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun. Buktinya, dia hanya diam sambil tersenyum.


Setelah sampai di jalan raya, queensza tidak langsung mencari angkot. Gadis itu duduk dulu di pinggir, lalu menangis sejadi-jadinya dengan tangan yang menutupi wajah. Tomi benar-benar jahat. Padahal berkali-kali queensza berusaha untuk bertahan, tapi balasan laki-laki itu? Kesalahan terbesar dalam hidup queensza adalah, kenal dengan Tomi.


Tak lama, terdapat satu motor yang berhenti tepat di depannya. 2 orang yang naik di atas motor itu membuka helmnya, dan turun. "Queensza?!"


Queensza menatap ke atas. Di depannya sudah ada Vio dan Reta. "Kak Vio? Kak Reta?"


Reta langsung berjongkok menyamakan posisinya dengan queensza, lalu mengusap wajah queensza. "Lo kenapa? Kok lo nangis di pinggir jalan kayak gini?"


"Queensza, lo kenapa? Coba cerita," ucap Vio sambil ikut menyamakan posisinya dengan Queensza.


"Aku gak papa, kok." Queensza mengusap air matanya, lalu bangun dari duduknya.


"Eh, mau kemana?" Reta menarik tangan Queensza saat gadis itu ingin pergi.


"Mau pulang."


"Jangan pulang sendiri, biar dianter Vio aja." Bukannya apa, Reta bertemu Queensza dengan keadaan gadis itu yang menangis. Kalau Queensza pulang sendiri, terus gadis itu melakukan hal yang tidak-tidak bagaimana?


"Apaansi, Yang! Terus kamu pulang sama siapa?"


"Aku mah gampang. Kamu anter Queensza aja dulu."


Vio menggeleng. "Aku telfon devan ajalah. Biarin dia nyamperin ke sini."


"Ya udah terserah.


.


.


.


.


KALIAN ADA PESAN UNTUK MEREKA SEMUA?


SPAM NEXT, YA!


ADA PESAN UNTUK AUTHOR? SARAN, KRITIK, KWKW.


× 24 April 2023

__ADS_1


KOMEN YA DI SETIAP PARAGRAF YAA!!!


__ADS_2