DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 19 - Sama sama telat


__ADS_3

[Budayakan baca tanpa skip]


"Udah, gak usah dipikirin. Lo masuk aja."


Devan dan Queensza sekarang sudah sampai di rumah queensza. Devan yang sedang asik-asiknya dangdutan sama yang lain di markas terkejut kala gibran menghubunginya dan memberitahu keadaan Queensza. Dengan cepat, devan langsung melesat pergi untuk menghampiri mereka. Dan, queensza baru mau bercerita saat devan sudah datang.


"Takut..." Queensza berbicara dengan air mata yang mengalir.


"Takut kenapa?"


Queensza mengusap air matanya. "Ada ibu di dalem. Aku takut ibu khawatir."


"Perlu gue yang ngomong?"


Queensza terdiam sesaat. Sampai akhirnya devan melepaskan helmnya dan turun dari motor. "Devv kamu apa?"


"Lo masuk aja, tenangin diri lo. Biar gue yang ngomong sama nyokap lo, biar dia gak khawatir."


Queensza menunduk, lalu mendongak menatap devan yang lebih tinggi. "Makasih."


"Sama-sama."


“raa? Itu temennya gak diajak masuk?"


Queensza dan devan saling terdiam ketika suara itu masuk ke indra pendengarannya. Queensza tidak berani membalik tubuhnya, karena kalau ia membalik tubuhnya, pasti Asih akan melihat dirinya yang menangis, dan pasti dia akan khawatir. Devan dan queensza pun saling bertatapan.


“raa, temennya gak diajak masuk?" tanya Asih lagi, hanya saja, kali ini perempuan itu mulai berjalan ke arah queensza dan devan.


"I-ibu." Queensza pun membalikkan tubuhnya mau tidak mau. Dan benar, Asih terkejut saat melihat mata merah dan sembabnya.


"Kamu kenapa?" Asih berbicara khawatir, sambil menangkup wajah queensza.


"Perkenalkan, saya devan, Tante." Mendengar itu, membuat Asih menatap devan.


"Kamu apakan anak saya?!" Asih berbicara pada devan keras dengan wajah yang penuh amarah. Ini menunjukkan, Asih benar-benar menyayangi queensza. Asih ingat, laki-laki ini kan yang kemarin juga mengantar queensza pulang.


"Ibu, jangan gitu sama devan, jadi ga enak aku ..."


"Terus kamu kenapa nangis gini? Dia kan yang bikin kamu nangis?" Mata asih menatap queensza, sementara tangannya menunjuk wajah devan.


"Maaf, Tante. Sebaiknya queensza masuk dulu, biar bisa istirahat," ucap Devan sopan. "Biar saya yang menceritakan kenapa dia bisa seperti ini."


Asih pun mengangguk, tanda setuju. "Kamu masuk ya, Nak?"


Queensza hanya mengangguk. Gadis itu sempat menatap devan. Laki-laki itu benar-benar gentel, tidak seperti Tomi. Sebelum masuk, queensza sempat tersenyum dan mengucapkan terimakasih tanpa suara. Devan pun membalas dengan anggukan, tanpa tersenyum.


"Mari masuk, kamu jelaskan di dalam," ucap Asih. Devan pun mengekori perempuan itu.


Setelah masuk, Asih mempersilahkan devan untuk duduk. "Silahkan. Kamu mau minum apa?"


"Ah, gak usah, Tante."


Asih mengangguk, lalu mengambil duduk di depan devan. "Bisa kamu ceritakan, kenapa anak saya bisa menangis?"


Devan menghela napasnya, lalu ia mulai menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Dari mulai ia ditelfon gibran, lalu Queensza menceritakan semuanya saat devan datang, dan sampai akhirnya devan mengantar queensza pulang devan menceritakan dengan jelas pada Asih, dan menceritakan pelaku utama kenapa queensza bisa menangis.


Asih menghela napasnya. "Terimakasih ya Nak, sudah mengantar anak saya pulang. Maaf, tadi saya sempat membentak kamu."


"Gak papa, Tante."


"Berkali-kali saya menyuruh queensza untuk mengakhiri pertemannya dengan Tomi. Tapi, anak saya itu kekeh ingin mempertahankan hubungan Pertemanan sama Tomi," ucap Asih. "Dia bilang, dengan pertemanan sama Tomi, itu bentuk balas budi."


"Iya, saya tahu itu, Tante. Queensza sudah cerita sama saya."


Asih tertegun sejenak. "Yakin, queensza cerita sama kamu?"


"Iya, waktu itu di Kafe, saat Tante bekerja. Bahkan queensza menceritakan prihal perceraian Tante dan ayahnya."


"Queensza itu gak pernah loh cerita sama siapapun, dari kecil dia gak punya temen. Masa dia dengan mudahnya menceritakannya sama kamu," ucap Asih, masih tidak percaya.


"Saya juga gak tau, Tante."


"Kamu tau? Berarti, kamu itu orang yang spesial buat anak saya. Anak saya sudah percaya penuh sama kamu tandanya."


Devan menggaruk tengkuknya ketika mendengar kata 'spesial' karena malu. "I-iya, Tante."


“apa si, queensza ga kasih tau ya ke ibunya kalau aku dan dia punya hubungan ” batinnya


Asih menatap sebuah lemari kaca yang berisikan banyak piala dan mendali, lalu menatap devan lagi. "Lihat lemari itu."

__ADS_1


Devan mengerutkan keningnya ketika melihat banyaknya mendali dan piala. Dari perunggu, perak, hingga emas ada di sana. "Kenapa, Tante?"


"Itu mendali dan piala kejuaraan Pencak Silat, punya queensza."


“berarti si queensza dulu pernah ikut pencak Silat baru tau gw ” batinnya lagi


Devan membelalak. Ia terkejut. Milik queensza? Berarti queensza menguasai ilmu beladiri dong? "Jadi, maksud Tante, queensza itu bisa bela diri?"


"Iyaa. Piala dan mendali itu menjadi saksi bisu kehebatan queensza di gelanggang saat menghadapi lawan."


"queensza hebat juga." Devan tersenyum sambil menatap piala dan mendali itu.


"Tapi itu dulu." Perkataan Asih membuat devan kembali menatapnya. "Dulu, sebelum dia bertemu istri muda dari Ayahnya."


"Kenapa memangnya, Tante?"


"Istri muda ayahnya itu seorang pengusaha sukses, sama seperti mantan suami saya. Sejak itu, queensza keluar dari dunia persilatan," ucap Asih. "Dia ingin fokus belajar, belajar, dan belajar, untuk jadi orang sukses seperti mantan suami saya dan istri barunya, supaya bisa mengangkat drajat saya agar tidak diinjak-injak lagi oleh mereka."


Devan tersenyum. "Cita-cita yang mulia."


"Ya. Makanya saya sayang banget sama dia."


Devan menghela napasnya. "Tante, izinin saya buat jagain queensza."


.


.


.


.


"JALAN JONGKOK! CEPAT!"


Jam menunjukan pukul 07.30, terlihat di lapangan sma internasional, kini 7 siswanya tengah berjalan jongkok dengan kedua tangan di atas kepala. Siapa lagi kalau bukan cowok-cowok Dangerous. Devan, Raden, Rio, Gibran, Adam, Caesar, dan kalle kini harus menerima hukuman karena datang terlambat.


Belakang sekolah yang biasanya mereka lewati ketika sedang terlambat kini tidak aman lagi, karena Bu Eni selaku guru BK berjaga di sana. Sementara kian yang tidak datang terlambat hanya menertawakan mereka dari balkon.


"Sialan si kian, dia lolos lagi! Udah kemarin gak dihukum sama guru sejarah, sekarang gak dihukum lagi!" cibir Gibran.


"Anj*ng emang nih si Kian, liatin aja nanti." Raden menatap kian yang sedang cekikikan sinis.


"Ya kalo gak mau dihukum, ya jangan datang terlambat, nak!" Bu Eni berbicara tegas ketika mendengar bisik-bisik dari gibran dan Raden.


"Nah tuh Bu, bener!" Devan menimpali. "Lagian ibu emang gak capek apa nungguin kita jalan jongkok?"


"Ibu gak akan capek untuk mendidik murid-murid ibu menjadi orang yang sukses."


"Orang sukses gak di suruh jalan jongkok juga kali Bu."


Bu Eni langsung menggeplak kepala Rio yang baru saja melontarkan perkataan. "Justru orang sukses itu berasal dari orang yang disiplin."


"Ya udah ampun Bu jago," cibir Rio pelan.


"Bu, saya denger-denger kan Bu, Pak Doni suka tau sama Ibu." Caesar si biang gosip mulai berbicara.


"Jangan sembarangan kamu Caesar kalau ngomong! Gak sopan!" Bu Eni pun menendang bokong Caesar.


"Duh, Bu! Kok ditendang, sih!" Caesar mengusap-usap bokongnya sambil terus berjalan jongkok bersama yang lain, sementara Bu Eni terus mengikuti mereka. "Beneran deh, Bu! Saya bakal kasih tau, tapi ibu lepasin kita."


"Nah tu, Bu!" Raden berbicara, tidak lupa terus berjalan jongkok. "Ibu emang gak mau tau tentang Pak Doni? Pak Doni kan ganteng, Bu."


"Sudah-sudah! Cepat lanjutin hukuman kalian! Jangan nyogok Ibu!"


"Yahh si Ibu gak percaya sama saya? Pak Doni beneran suka sana Ibu, loh. Pak Doni kan guru paling ganteng di sini," ucap Caesar.


"Bu, Caesar udah seratus persen pasti bener, Bu! Dia kan sarangnya gosip!" Kalle yang sedari tadi diam pun berbicara.


"Buu udah napa Bu, bolehin kita masuk," ucap Adam. "Ibu kan cantik, masa gak mau sih lepasin cogan-cogan kayak kita."


"Ya sudah ya sudah! Cepat kalian ambil tas kalian di depan gerbang, lalu langsung masuk ke kelas!"


"Oke Bu, Makasih!" Dengan girang, 7 laki-laki itu pun langsung mengambil tas mereka dan pergi untuk menuju kelas. Sementara seragam mereka sudah penuh dengan keringat. Hm, masih pagi udah keringetan.


"Bagi parfum dong!" Tanpa izin, devan pun langsung membuka tas kalle .


"Jangan gak ada ahlak lo, ya!" Kalle mendorong tangan devan. "Cukup roti gue aja yang lo ambil tanpa izin, parfum jangan!"


"Yaelah kalle, kaku banget kayak baru temenan seminggu," ucap dvean, lalu kembali mengambil parfum kalle. "Bagi ya kalle, sayang."

__ADS_1


"Jijik anjir!"


“kalle, gue bagi juga, ya! Kan gak lucu kalau cogan bau ketek," ucap Rio.


"Ya ya ya lo pake aja semua! Gue gak usah!" Kalle pun meninggalkan mereka semua yang sedang berebutan parfum malas.


"Wayolo kalle ngambek!" Adam tertawa sambil menunjuk mereka.


"Gak ikutan, gak ikutan!" Raden angkat tangan. "Badan gue wangi surga, jadi walau keringetan tetep wangi."


"Pede, lo!"


Caesar yang tadinya berniat memakai parfum kalle pun mengurungkan niatnya. "Gue gak jadi deh. Tar kalle marah sama gue."


"Santuy, nanti kalle gue beliin parfum baru, kok," ucap devan.


Mereka pun kembali berjalan untuk ke kelas. Tapi di tikungan koridor, devan dan yang lain dipertemukan dengan queensza.


"Raa?"


"Devv ?"


Devan menatap queensza yang masih membawa tas. "Lo gak masuk ke kelas?"


"Ini mau masuk."


"Kok lo baru masuk, raa?" tanya Adam sambil bersandar di tembok.


Raden terkekeh. "Jangan bilang lo telat?"


Queensza menggeleng. "A-apaansih denn..! Aku gak telat."


"Ngaku aja."


Rio menatap queensza penasaran. "Itu buktinya lo masih bawa tas. Lo cantik, jangan kotori kecantikan lo dengan kebohongan lo ya, Dedek queensza!"


"Apaansi, Rio! Lo gak nyambung banget!" Caesar menatap Rio geli. "Menjijikan!"


"Lo telat, raa?"


Queensza menatap devan yang baru saja berkata. "I-iya, aku terlambat. Aku masuk lewat pintu belakang," ucap queensza jujur. Entah kenapa kalau devan yang bertanya, ia tidak berani untuk berbohong.


"Kayaknya seru nih, kita seret queensza ke Bu Eni." Otak jahil gibran mulai berfungsi, lalu menyenggol Raden. "Gas gak, nih?"


"Lah, gas!" Setelah itu, Raden dan gibran mengambil tangan Queensza, berniat membawa queensza ke Bu Eni.


"Ihhhh kamu apaansi!" Queensza berusaha melepaskan diri.


"Kaga ada! Lo harus dihukum kayak kita dihukum!" ucap Raden.


"Lepasin."


Semuanya menatap devan yang baru saja berbicara. Tatapannya benar-benar tajam kali ini ketika menatap tangan Raden dan gibran yang memegang tangan queensza. Butuh respon beberapa detik, sampai akhirnya mereka melepaskan queensza.


Devan maju mendekat ke arah, membuat gadis itu mendongak menatap devan yang jauh lebih tinggi. "Dengerin gue. Gue gak suka kalau lo bohong kayak gitu."


"I-iya, devv maaf."


"Jangan diulangin. Kalau telat, masuk lewat pintu depan juga, jangan pintu belakang. Pintu belakang cuman buat anak nakal," ucap devan. "Jangan pernah lo belajar nakal. Cukup gue yang nakal, lo jangan."


"Maaf, ya devv."


"Ini terakhir kalinya gue liat lo terlambat dan lewat pintu belakang." Devan mundur, menjauhkan posisinya dengan queensza.


"Iya devv. Maaf lain kali ga ulangin lagi kok."


Devan menghela napasnya. "Cepet lo ke kelas."


Queensza mengangguk. Dengan cepat, gadis itu langsung melangkah pergi dari sana. Sementara yang lain hanya menatap devan bingung. Tunggu... apa ini benar devan ?


.


.


.


KALIAN ADA PESAN UNTUK MEREKA SEMUA?


ADA PESAN UNTUK AUTHOR? SARAN, KRITIK, KWKW.

__ADS_1


SPAM NEXT, YA!!


SPAM KOMENTAR JUGA GAPAPA!!


__ADS_2