DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 27 - SERANGAN


__ADS_3

"Tomi, kok di sini? Kan, SMA internasional kan masih lumayan jauh."


Queensza mendengus kesal, bibirnya pun mengerucut. Bagaimana tidak? Tomi mengantarnya hanya sampai setengah jalan dari SMA internasional. Siapa yang tidak kesal? Berarti queensza harus berjalan jauh lagi. Jika tahu seperti ini, lebih baik ia naik angkot.


"Raa, kamu udah berani bantah aku? Berani ngelawan aku?" Tomi menatap queensza tegas, laki-laki itu tidak suka dengan bantahan. "Turun sekarang."


"Iya, maaf." Queensza langsung diam, bagaikan sapi yang dicocok hidungnya dengan tali.


"Ya udah sana, nanti kamu telat."


"Ya udah, aku pergi dulu."


Belum sempat queensza melangkah, matanya menangkap segerombolan siswa-siswi berseragam putih abu-abu yang terbalut jaket levis berlambang tengkorak dan bertulis Dangerous yang sebentar lagi akan melewati queensza dan Tomi dengan motor sportnya. Sementara Tomi langsung panik ketika mengetahui mereka adalah Dangerous. Laki-laki itu buru-buru menyalakan motornya, dan pergi dari sana.


Queensza memutar bola matanya malas ketika Dangerous berhenti di depannya. Ada Dangerous pasti ada devan, queensza malas jika ada devan. Ingat, jangan berinteraksi dengannya kalau tidak ingin dapat masalah.


"Kan, cowok lo banci," ucap devan sambil membuka helmnya. "Padahal kita gak mau ngapa-ngapain, tapi udah lari kocar-kacir."


Queensza hanya diam, ia terlalu malas berdebat dengan devan. Kakinya melangkah pergi dari sana, sebelum tangan devan menariknya. "Lo mau kemana? Gue lagi ngomong sama lo."


"Aku mau ke sekolah."


Devan menghela napasnya. "Bareng gue aja, motor gue kosong."


Perkataan devan membuat semuanya bersorak. Mereka baru pertama kali melihat dan mendengar devan, sang pemimpin mengajak secara langsung seorang perempuan untuk menaiki motornya. Memang terkadang ada perempuan yang naik motor devan, seperti Kania, Reta, atau Jane. Tapi kali ini berbeda, karena langsung devan yang meminta.


"Devan mulai nih modusnya." Vio tersenyum jahil sambil merangkul sang pacar, reta.


"Woy catet hari apa, tanggal berapa, bulan apa, dan tahun berapa untuk pertama kalinya devan ngajak cewek buat bonceng bareng." Caesar bercanda dengan tawanya.


"Siap! Udah gue catet." Jane ikut tertawa.


"Ih si, devan. Giliran gue minta nebeng aja sampai ngemis-ngemispun kadang gak dikasih," ucap kania. Gadis itu menatap queensza kesal.


"Sabilah sabi modusnya devan." Raden ikut menimpali.


Sementara devan mengabaikan semuanya. Mata laki-laki itu terus menatap queensza yang tampak risih dengan candaan-candaan teman-temannya itu. "Woy! Diem aja. Mau gak? Bentar lagi bel. Dihukum Bu Eni mampus lo, raa."


Queensza menghela napasnya. Benar kata devan, sekarang sudah mau masuk jam belajar. Jika queensza berjalan, akan sangat lama, dan pasti akan telat lalu di hukum Bu Eni. "Ya udah, boleh."


"ASIK!!" Semuanya bersorak sambil tertawa. Setidaknya tawaran devan tidak ditolak. Kan gak lucu, cogan macam devan ditolak.


"Yaudah, gas!"


Mendengar perintah sang pemimpin, mereka pun langsung bergegas menaiki motor mereka, dan memakai helmnya masing-masing. Kian dengan Jane, kania dengan Adam, Caesar dengan Kalle, dan devan dengan queensza, selebihnya sendiri.


"Devvv , bantuin..."

__ADS_1


Semuanya menatap queensza yang tampak kesulitan menaiki motor besar devan. Kania mendengus sebal melihatnya. "Gak usah sok iya lo, queensza! Gue tau lo cuman modus."


Adam menatap Kania yang sedang ia bonceng. "Bukan queensza yang modus, tapi devan. Tu anak malah kesenangan kali."


"Kania, lo gak usah bac*t!" Raden menatap Kania dengan pandangan kesal.


"Cieee Raden cemburu nih!" Rio tertawa sambil menatap Raden jahil.


"Dih, apaansi."


Devan memutar bola matanya malas, ia tahu queensza bukan seperti gadis pada umumnya yang kalau bertemu dengannya selalu modus. Devan pun mengulurkan tangannya. "Gue bantu."


"Makasih, ya devv."


.


.


.


.


Sher...


Suara air di kloset mengisi kesunyian toilet kala queensza memencet tombol flush. Queensza menghela napasnya, lalu keluar dari sana dan berjalan ke arah whestafle untuk mencuci tangan sekaligus merapihkan penampilannya. Queensza membasuh wajahnya, lalu mengelapnya dengan tissue.


"PAK BU! PULANGKAN ANAK-ANAK!!"


Ya, Tomi dan Brigeus sudah bergerak.


Jantung queensza berdetak kencang. Tanpa berpikir panjang, queensza pun langsung keluar dari toilet untuk menuju kelas. Dan benar saja, saat ia keluar dari toilet, murid-murid sudah berhamburan keluar dari kelasnya untuk pergi dari sekolah.


"CEPAT TINGGALKAN SEKOLAH INI!"


"PAK, BU, SEGERA HUBUNGI POLISI!"


"LEWAT PINTU BELAKANG, NAK!"


Queensza membeku beberapa saat, setelah itu berlari untuk mengambil barang-barangnya di Kelas. Queensza beberapa kali menabrak orang, guru, dan lainnya karena saking paniknya. Tomi benar-benar mengerahkan teman-temannya untuk menyerang.


"CEPAT AYO CEPAT!"


"WOY ITU ANAK-ANAK BRIGEUS KAN?!"


"KAKI GUE SAKIT KENA BATU!"


"LARI WOY LARI!"

__ADS_1


PRANG!


Queensza dan beberapa orang merunduk ketakutan kala kaca salah satu kelas pecah akibat timpukan batu. Queensza langsung bangun, dan masuk ke kelasnya. Queensza menutup pintu kelas dengan sedikit kencang. Gadis itu menghembuskan napasnya lega sambil bersandar di balik pintu.


"Tomi, dia bener-bener ngelakuin ini!"


Queensza mengacak rambutnya. Kenapa ia bisa lupa coba?! Kalau ia tidak lupa, ia bisa saja langsung memberikan semua rencana Tomi pada sekolah atau pada Dangerous. Tapi sekarang....ah, sudahlah! Queensza harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Queensza pun mengambil tasnya, lalu keluar.


Saat sudah keluar, queensza melihat sesuatu. Disaat yang lain panik, ada gerombolan murid SMA internasional yang berjalan santai tanpa beban. Kalian tahu jawabannya.


Ya, Dangerous. Mereka berjalan seolah tidak terjadi sesuatu.


Kalle asik memakan rotinya, vio reta yang asik dengan kebucinannya, Caesar gibran yang sedang berdebat, Rio asik tebar pesona, dan Raden Adam yang fokus dengan gamenya. Tapi... ada salah satu yang terus menatapnya sinis. Devan. Laki-laki itu berada paling depan sambil menatap queensza sinis.


Queensza mundur satu langkah ketika mereka semua berhenti di hadapannya. Queensza pun berniat pergi, tapi semuanya gagal ketika devan menahan tangannya dengan kuat. "Lo gak bisa pergi!"


"De-vv, lepasin...."


"Diem!" Devan membentak queensza. "Lo masih inget kan kata-kata gue? Gue gak lupa! Gue udah pernah bilang, kalau Brigeus macem-macem terkait SMA internasional, lo adalah orang pertama yang gue cari!"


Tubuh queensza benar-benar sudah gemetar. "Aku gak ada sangkut pautnya."


Devan mengabaikan perkataan queensza, laki-laki itu menatap Jane dan reta. "Jane, reta, bawa ni anak. Jangan sampe dia kabur."


Jane dan reta pun langsung berjalan ke arah Queensza dan memegangi queensza. Reya menatap queensza kasihan, dia pun membisikan sesuatu pada queensza. "Lo nurut aja, Dek. Dari pada devan makin marah."


"Dev, terus sekarang gimana?" Raden bertanya. "Kita kaga ada persiapan apapun."


"Kita ke markas."


"What?!" Adam berjalan ke arah devan. "Devv, Brigeus udah berani ngusik kita, dan kita diem aja? Lo gila, ya!"


"Lo yang gila!" Devan membalikkan perkataan Adam. "Kita gak ada persiapan apapun. Dari pada kita kalah dengan keadaan konyol, mending kita pergi dulu. Nanti malem baru kita serang balik mereka."


"Gue setuju!" Gibran berbicara sambil menatap Adam. "Kita gak ada senjata, tapi kita punya otak. Guanain otak kita."


"That's it!" Devan menjentikan jarinya. "Sekarang kita pergi. Ambil motor kalian! Kita pergi lewat pintu belakang!"


Devan beralih ke queensza. "Dan, lo! Jangan harap gue bakal ampunin lo!"


.


.


.


.

__ADS_1


AYO SPAM KOMEN TIAP PARAGRAF!


Note : “Devan bukan ingin balas dendam ke geng brigeus, tapi di SMA internasional ini yang kenal sama geng brigeus itu adalah queensza, queensza kenal ketua geng brigeus itu.. Ia adalah Tomi.. Laki laki itu ingin menghancurkan SMA internasional ini.. Tetapi terhalang oleh geng Dangerous.. Dangerous itu geng yang sngat kuat banyak geng lain yang takut dengan nya.. Apalagi ketuanya devan..


__ADS_2