DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 37 - KEPERGIAN CACA


__ADS_3

Oiya kalian tau gak namanya Caca ini.. Caca itu anggota Dangerous dari Jakarta Pusat loh.. Ini Caca juga jarang banget keluar di bab bab ini kan?.. ya karena belum ada hubungannya dengannya..


HAPPY READING!!!!???


Kemarin Dangerous telah melakukan tawuran dengan Brigeus dan teman teman Brigeus lainnya.. Tetapi di saat itu Caca - anggota Dangerous Jakarta Pusat.. Ini juga ikutan dalam tawuran tersebut.. Dan disaat Si Hana memukul di dada Caca,, ia didorong oleh Caca dan menyebabkan hana terjatuh di pinggir jalan itu..


Dan kejadian itu dilihat oleh Galang - Pacar hana yang juga geng Brigeus itu langsung memukul keras kepala Caca hingga tertabrak mobil dengan kecepatan cepat itu..


Disaat kejadian itu membuat Rena trauma, karena sahabat nya sendiri celaka karena tawuran tersebut.. Kini Caca harus di rawat di UGD..


"CACA!!" Rena langsung masuk ke kamar rawat Caca dan mendekat ke brankar di mana Caca berbaring dengan banyak selang di tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Rena bertanya kepada Lembayung. Raut wajahnya terlihat begitu cemas.


“dia dipukul dari belakang, lalu dia tertabrak mobil dengan kecepatan cepat.. Lalu malamnya ia kejang kejang”Ujar Lembayung


"Dokter, lakukan yang terbaik untuk Caca, Dokter!" Ibu Caca memohon dengan tangis yang sudah pecah.


"Kami mohon, Dokter. Caca satu-satunya putri kami," ujar Ayah Caca ikut memohon.


"Pak, Bu, kami pasti akan melakukan yang terbaik. Bapak dan Ibu berdoa semoga tidak terjadi apa-apa sama Caca," ujar Rena”


Suster mempersilahkan kedua orang tua Caca keluar dari ruangan agar Dokter bisa memeriksanya.


Sedangkan di luar ruangan, Nino mengintip lewat kaca kecil di pintu, menatap lekat Rena yang begitu tanggap dalam keadaan darurat seperti sekarang. Lengkungan senyum pun terukir di wajah tampannya.


Bangga? Tentu saja Nino bangga memiliki istri seperti Rena. Walaupun galak dan kadang menyebalkan, tidak membuat perasaan Nino pada perempuan itu luntur sedikit pun. Malah semakin kuat setiap detiknya.


(Nino dengan Rena sudah menikah disaat usia nya masih 16 tahun)


Suasana di dalam sana begitu tegang. Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi semakin cepat.


"Caca! Caca denger Dokter?! Caca!"


Kedua mata Rena membulat melihat darah yang tiba-tiba keluar dari hidung Caca. Wajahnya juga semakin pucat dan tangannya bergetar hebat.


"Caca! Caca denger Dokter? Caca!"


"Detak jantungnya semakin cepat Dokter!"


"Siapkan Defribrilator!"


Suster dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan oleh sang Dokter.


Rena menempelkan Defribrilator ke dada Caca. Seketika tubuh gadis kecil itu tersentak ke atas. Rena melakukannya lagi. Berharap detak jantung Caca kembali normal.


'Caca kuat! Dokter tau Caca anak yang kuat! Bertahanlah! Disini ada Ibu dan Ayah, yang selalu ada untuk Caca. Dokter mohon Caca pasti bisa melawannya! Caca sudah janji Caca mau sembuh dan bisa bermain lagi, kan, sama teman-teman Caca!' batin Rena berucap.


"Sekali lagi!" ujar Rena kembali meletakkan Defribrilator ke dada Caca.


TIT! TIIT! TIIT! TIIT! TWITTTT!!


Rena membeku mendengar suara nyaring itu. Pandangan Rena lurus pada layar EKG yang sudah menampilkan garis lurus.


"Caca..." lirih Rena dengan setetes air mata yang jatuh.


"Dokter, bagaimana keadaan Caca?" tanya orang tua Caca sesaat Rena baru keluar dari kamar rawat Caca.

__ADS_1


"Sayang?" Nino menghampiri karena Rena hanya diam dengan pertanyaan orang tua Caca.


"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah berusaha. Tapi takdir sudah berkehendak lain," lirih Rena bergetar.


Orang tua Caca langsung masuk ke kamar rawat sang putri. Kedua mata Rena memejam mendengar isak tangis sepasang suami istri itu yang langsung pecah. Nino mengulurkan kepalanya dan melihat tubuh Caca sudah di tutup kain putih seluruhnya. Sekarang Nino paham dengan keadaannya.


"CACAAA! PUTRI IBU! SAYANG JANGAN TINGGALIN IBU, NAK!"


Rena memutuskan pergi dari sana. Hatinya benar-benar tidak kuat mendengar tangisan yang menyayat hatinya. Rena berjalan cepat di lorong menuju ruangannya.


Brak!


Dengan kasar Rena membuka pintu membuat Amanda yang berada di sana terkejut.


"Dokter, bagaimana keadaan Caca?" tanya Amanda mendekat. Dia juga khawatir dengan keadaan Caca dan berharap Caca baik-baik saja.


"Dokter?" panggil Amanda karena Rena hanya diam dengan kepala menunduk.


Perhatian Amanda teralihkan saat Nino datang. Pria itu memberikan kode pada Amanda untuk keluar dari ruangan. Amanda menurut dan keluar.


Nino mendekati Rena. Memegang kedua bahu sang istri dan membalikkan tubuhnya. Nino langsung memeluk istrinya itu dengan erat, mengusap kepalanya lembut dengan penuh kasih sayang.


"Menangislah, jangan di tahan," ucap Nino peka dengan apa yang dirasakan istrinya saat ini. Nino tahu kalau Rena sudah menganggap Caca seperti adiknya sendiri. Jadi sudah pasti Rena sangat terpukul dengan kepergian gadis kecil itu.


Rena membalas pelukan Nino dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan suaminya. Perlahan terdengar suara isak tangis dengan bahu bergetar.


"Aku gagal, sayang. Aku gagal nyelamatin Caca!"


"Padahal aku udah janji kalau aku akan buat Caca sembuh!"


"Aku udah gagal. Aku bohong sama Caca!"


Nino semakin mengeratkan pelukannya. "No Sweetie, kamu nggak gagal. Ini semua sudah takdir Yang Maha Kuasa. Sekuat apapun kita berusaha, jika takdir sudah berkehendak kita tidak bisa melakukan apapun."


"Kamu sudah berusaha untuk kesembuhan Caca. Jadi jangan menyalahkan diri kamu atas apa yang sudah takdir berikan pada Caca," lanjut Nino memejamkan mata saat tangis Rena semakin pecah. Perempuan itu terus menyalahkan dirinya yang tidak bisa menyelamatkan hidup seorang gadis kecil yang menginginkan kesembuhan.


"Kamu hebat, Renatha Kay Lawrence. Aku bangga sama kamu," bisik Nino mengecup puncak kepala Rena dengan perasaan yang begitu dalam.


.


.


.


Hari ini adalah hari pemakaman Caca. Rena menatap lekat pada batu nisan yang tertulis nama, tanggal lahir, dan tanggal berpulangnya gadis kecil itu.


Lagi dan lagi air mata Rena jatuh dengan sesak di dada. Sekelebat kenangannya bersama Caca berputar di kepalanya seperti kaset rusak.


"Caca mau cepat-cepat sembuh, Dokter cantik. Caca nggak mau buat Ibu dan Ayah sedih karena Caca sakit."


"Dokter cantik janji, ya, bantu Caca sembuh."


"Dokter cantik, lihat boneka barbie Caca cantik, kan? Cantik seperti Dokter cantik!"


"Caca sayang, Dokter cantik!"


(Dulu Caca mempunyai penyakit yang sampai kini belum sembuh ditambah ikut tawuran itu)

__ADS_1


Nino merangkul bahu Rena saat istrinya itu kembali terisak. Sebesar itu rasa sayang Rena pada mendiang Caca. Bukan seperti Dokter dan pasien, melainkan seperti... Ibu dan anak.


Rena lalu berjongkok di samping ibu Caca yang terus meraung menangisi kepergian putri satu-satunya. rena menaburkan bunga dalam keranjang. Di balik kacamata hitamnya rena berusaha menahan tangis. Namun tidak bisa. Ini begitu menyakitkan baginya yang tidak bisa menyelamatkan hidup gadis kecil yang dia rawat.


"Ca, maafin Dokter cantik, ya. Dokter cantik nggak bisa nepatin janji untuk buat Caca sembuh," lirih Rena terisak.


Nino ikut berjongkok di samping Rena. Merangkul sang istri dan menggenggam tangannya memberikan kekuatan.


"Kehilangan memang menyakitkan. Tapi kita tidak bisa terus menangis dan menyalahkan apa yang sudah jadi kehendak-Nya. Tuhan mengambil Caca karena Tuhan sayang. Sekarang Caca nggak akan merasa sakit lagi ditubuhnya."


Rena menyandarkan kepalanya di dada Nino.


"Ikhlasin Caca, jangan buat jalannya jadi terhalang di sana. Caca pasti tidak ingin melihat Dokter cantiknya sedih dan menyalahkan dirinya sendiri."


"Udah, ya, nangisnya." Nino mengusap lembut pipi Rena dengan ibu jarinya lalu mengecup pelipisnya.


"Kita pulang, ya." Perlahan Nino menarik Rena berdiri.


Berbalik hendak pergi, langkah keduanya terhenti saat orang tua Caca memanggil.


"Dokter, sebelum Dokter pergi, kami ingin mengucapkan terima kasih karena Dokter sudah mau merawat putri kami. Maaf kalau putri kami sudah banyak menyusahkan Dokter," ujar Ayah Caca meminta maaf atas nama putrinya.


Rena menggeleng. Menyangkal perkataan itu. "Saya yang harusnya minta maaf karena tidak bisa menepati janji pada Caca. Saya tidak bisa menyembuhkan Caca. Saya minta maaf, Pak. Saya minta maaf, Bu."


Ibu Caca langsung memeluk Rena. "Dokter tidak salah. Justru kami berterima kasih karena berkat bantuan Dokter, kami bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama putri kami."


Ibu Caca melepaskan pelukannya lalu memberikan sesuatu pada Rena. Sebuah amplop berwarna pink dengan stiker kupu-kupu. Di sudut surat itu tertulis UNTUK DOKTER CANTIK KESAYANGAN CACA:)


Rena menarik sudut bibirnya, tersenyum kecil melihat tulisan Caca yang sedikit lebih menghiburnya.


"Kami menemukan surat ini di boneka Caca," ujar ibu Caca.


"Kapan-kapan datanglah ke rumah, Dokter. Caca pasti senang Dokter cantik kesayangannya datang ke rumah."


Rena mengangguk dengan senyum kecil. "Nanti kapan-kapan saya mampir ke rumah."


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, Pak, Bu," ujar Nino.


"Hati-hati, Dokter Rena, Pak Nino."


"Iya, Terima kasih."


.


.


.


.


Heyyoooo semuanya!


Bagaimana menurut kalian part ini?


Yok Ramekan DEVANSZA Jangan lupa Vote, Comment dan Share yaa. Ajak teman-teman, sahabat, keluarga sampai tetangga kalian untuk baca DEVANSZA yaa!!!


Terus Support

__ADS_1


__ADS_2