DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 23 - RUMAH KELUARGA DEVAN


__ADS_3

HAPPY READING!!!


"Ibu berangkat dulu ya, Nak? Nanti, pintu jangan lupa dikunci."


Queensza menghela napasnya, sudah 1 jam yang lalu Asih izin untuk berangkat bekerja. Queensza menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 21.00. Queensza tidak tenang sekarang, ia masih memikirkan perkataan Tomi tadi sore. Memang, devan berjanji akan membantu queensza, tapi tetap saja queensza tidak tenang.


Brum... Brum...


Jantung queensza berdetak kencang ketika mendengar dentuman banyak motor. Celaka. Pasti itu Brigeus. Mana queensza sekarang sedang sendirian di rumah. Iya, queensza memang tidak mempunyai ART, jadinya ia selalu sendiri. Queensza langsung mengecek dari jendela kamarnya.


Dan benar, mereka datang.


Queensza terus memperhatikan mereka. Tomi dengan kurang ajar dan tidak sopannya menendang pagar rumah queensza, lalu langsung masuk, dan langsung memarkirkan motor mereka di pekarangan rumah queensza.


Queensza mengigit jarinya, lebih baik ia cepat-cepat turun menemui Tomi, dari pada dia dan teman-temannya merusak rumah queensza. Setelah turun, queensza buru-buru membuka pintu rumahnya. Saat itu juga, rasanya ia ingin mati.


"Tuan rumah udah keluar." Tomi tersenyum sambil menatap queensza. Laki-laki itu berjalan ke arah gadis itu. "Gimana kabar lo?"


Queensza tidak menjawab. Gadis itu menatap 10 orang teman Tomi. "Tomi langsung aja. Tomi sama temen-temen Tomi mau apa?"


Tomi tersenyum mesum, lalu memajukan wajahnya. "Boleh puasin kita malam ini? Sweety...."


Plak!


Queensza langsung menampar Tomi keras ketika mendengar perkataan laki-laki itu. "Jaga omongan kamu!"


Tomi memegang pipinya yang nyeri akibat tamparan queensza. Laki-laki itu tertawa seram. "Lo mau main-main sama gue?"


Queensza melangkah mundur ketika Tomi maju mendekatinya. Tomi langsung mencengkram lengan queensza kuat dengan kedua tangannya. "Dasar cewek sialan! Gak tau diri!"


Setelah itu, Tomi langsung mendorong tubuh queensza hingga membuatnya jatuh. "Mampus!"


Queensza meringis. "Tomi kamu kasar banget sih sama cewek...."


"Hajar, Bos!"


"Haha mampus!"


"Kasih pelajaran aja tuh cewek, Tom!"


Bukannya membantu atau kasihan, teman-teman Tomi malah tertawa melihat queensza yang jatuh dengan ekspresi ketakutan. Mereka benar-benar kejam. Bahkan queensza mulai mengeluarkan air matanya.


Tomi menatap semuanya. "Sekarang gue perintahin sama kalian, buat ancur ni rumah."


"Tomi, jangan!" Queensza langsung bangun dan mengenggam tangan Tomi, berharap laki-laki itu tidak melakukan apa yang dikatakannya barusan. "Aku mohon jangan hancurin rumah aku...."


"Rumah lo? Inget, ya! Rumah ini dibangun dengan uang bokap gue! Jadi ini juga rumah gue! Dan terserah gue mau apain."


"Tomi aku mohon...."


"Hancurin semua----" Perkataan Tomi terpotong kala ia menangkap segerombolan motor lewat dari samping rumah queensza sampai akhirnya berhenti di depan rumah queensza. Mereka datang. Bagai pangeran yang menaiki kudanya dan membawa pedang, devan dengan gagahnya memimpin Dangerous di posisi terdepan.


"Sialan!"


Sementara queensza tersenyum lega, masih dengan air matanya yang mengalir. "Alhamdulillah..."


Sementara itu, devan dan teman-temannya pun melepaskan helmnya. Orang-orang berjaket levis dengan tulisan Dangerous itu maju mendekat ke arah Brigeus yang diam menunggu perintah dari Tomi. Devan terlihat berbisik pada Jane, setelah itu Jane mengangguk dan berjalan ke arah Queensza . Gadis itu menarik queensza masuk ke dalam barisan Dangerous.


"Dasar cupu! Beraninya sama cewek! Keroyokan lagi!" ucap Rio dengan tatapan marah. Rio memang suka main-main dengan perempuan, tapi ia tidak suka ada laki-laki yang bermain fisik dengan perempuan, apalagi sampai keroyokan gini kayak Brigeus.


"Lo diem, ya!" Tomi menunjuk Rio.


"Heh Tomi! Emang itu kan kenyataannya? Lo tuh cupu! Banci!" ucap Adam. "Rayan, senior lo didik Brigeus buat jadi banci, ya?"


Perkataan Adam membuat anggota Dangerous tertawa meledek. Di saat seperti ini, ada 1 anggota Dangerous yang masih asik memakan sebungkus roti. Kalle. "Lo semua lebih lembek dari roti yang gue makan!"


"Bos, udahlah kita serang aja. Ngeselin mereka lama-lama," ucap Gara pada Tomi. "Gue dendam sama mereka."


"Sebentar lagi."


Devan mendengar itu. Merasa akan segera terjadi adu jotos, devan pun kembali berbisik pada Jane. "Bawa Queensza ke rumah gue, pakai motor gue. Suruh cewek-cewek pergi juga. Ini urusan gue sama yang lain."


"Oke, devv." Jane merangkul queensza . "Raa, ayo kita pergi."

__ADS_1


"Tapi, Kak. Aku takut rumah aku mereka acak-acak," ucap queensza.


"Raa, santai, ada devan. Rumah lo ancur sedikit, langsung dibeliin yang baru sama dia." Reta berbicara sambil menguncir rambutnya. "Udah ayo kita ke rumah devan aja."


"Iya, raa. Di rumah devan enak, kita berasa di surga," sambung Reta. "Dari pada di sini liatin mereka adu jotos."


Queensza menatap devan sejenak. Devan yang mengerti tatapan queensza pun mengangguk datar. "Semua bakal baik-baik aja. Gih, pergi."


Queensza mengangguk. Entah kenapa jika devan yang berbicara, ia sangat yakin dan tenang. Setelah yakin, queensza langsung di bawa pergi oleh Jane, dan diikuti Reta, dan lain lainya . Jane membonceng queensza dengan motor devan, dan Reta membonceng Teman lainnya dengan motor Vio.


"Gak usah basa-basi. Sekarang kita tunjukin siapa yang cuman modal bacot doang."


.


.


.


.


"Ini, kamu minum dulu."


Queensza menatap wanita paruh baya yang menyodorkan secangkir teh padanya. Kata Reta, dia adalah ibu dari Devan. Queensza tersenyum, lalu menerima teh itu. "Makasih, Tante,"


"Sama-sama."


Queensza meminum secangkir tehnya dengan gugup, sementara matanya terus menatap sekeliling rumah devan. Rumah Devan benar-benar besar dan mewah. Didalamnya dihiasi patung-patung besar, lukisan, dan arsitektur lainnya. Iya, mewah dan megah, tapi membuat siapapun takut jika masuk ke dalam rumah ini. Di dalam rumah ini juga terdapat balkon.


Bisa bayangkan, balkon yang biasanya ada di luar, di rumah Devan ada di dalam? Jelas, di luar juga ada.


Warna gold disetiap sudut dan sisi rumah ini membuat siapapun akan takjub. Berfasilitas kan kolam berenang, dan halaman kosong tepat untuk latihan memanah dan menembak membuat rumah ini sangat luas layaknya hotel bintang 5,


Jika biasanya para pembantu hanya disediakan kamar saja, tapi keluarga Devan menyediakan rumah-rumah kecil yang masih berada di pekarangan rumah keluarga mereka untuk para pekerja di Rumah ini. Bisa bayangkan, betapa megahnya rumah keluarga Devan?


Namanya juga Sultan.


Queensza sampai berpikir, berapa tagihan listrik di Rumah ini perbulannya? Ada yang bisa tebak? Kalau queensza ingin tahu berapa tagihan listriknya, queensza harus menjadi bagian dari keluarga ini dulu. Jadi istri devan mungkin. Eh!


Orang-orang di Rumah ini memiliki wajah datar yang terkesan cuek, dan rahang yang tegas, dan mata mereka tajam seperti mata elang. Tapi tidak heran, karena orang-orang yang berkaitan dengan keluarga Devan memang dididik untuk seperti itu, tegas, datar, dan jarang tersenyum. Semua itu agar musuh berpikir 2 kali untuk macam-macam dengan mereka.


"Jangan takut ya, Nak? Kami bukan orang jahat," ucap Diajeng , Ibu devan yang seolah tahu dengan pikiran queensza


"Hehe, iya Tante. Orang-orang di sini mukanya serem, bikin aku jadi takut," ucap queensza polos. "Eh, maaf Tante. Maksud aku tegas, bukan serem."


Jane menggigit bibirnya. "Tante, maafin queensza, ya? Dia emang polos-polos gitu anaknya."


"Gak papa, Tante suka anak polos kayak dia." Bukannya marah, Diajeng malah tertawa. "Walau kamu polos, tapi Tante yakin kamu akan menjadi orang besar, yang ditakuti dan disegani banyak orang."


"Maksudnya, Tante?"


"Kamu, queensza..." Diajeng tersenyum sambil mengusap kepala queensza. "Kamu akan menjadi harta yang berharga bagi anak saya, bagi Dangerous, dan bagi Keluarga devan ini. Kamu anak baik, kamu akan dijaga dan dilindungi banyak orang."


Jangankan queensza, Jane, Reta, dan teman lainnya saja melongo mendengar perkataan Diajeng.


"Hahahah, Tante udah terlalu banyak omong, ya?" Diajeng tertawa, lalu melangkah pergi. "Maaf, ya? Kalau begitu, Tante tinggal dulu. Jane, reta, dan lainnya jagain queensza.


"Siap, Tante."


"Kak Jane, maksudnya Tante itu apa, ya?"


Jane tersenyum. "Gak usah dipikirin, lo habisin aja ya tehnya. Kalau lo laper, bilang aja, biar gue ambilin nanti."


.


.


.


.


"Kapan mereka dateng? Ini udah malem."


Queensza terus bertanya pada 3 perempuan Jane, reta, dan satu temannya yang sedari tadi bersamanya. 3 perempuan itu juga tidak tahu harus menjawab apa, karena tidak ada kabar dari anak laki-laki itu 1 pun. "Rett, lo udah coba telfon vio?"

__ADS_1


Reta mengangguk mendengar perkataan Jane. "Udah, tapi gak aktif. Apa terjadi sesuatu sama mereka?"


Baru saja Jane ingin menjawab, tapi suara motor-motor terdengar oleh 4 gadis itu. Mereka semua tersenyum, pasti itu Dangerous. "Mereka dateng."


Ke 4 gadis itu pun buru-buru menuju luar. Dan benar, mereka datang. Wajah mereka penuh lebam, tapi tidak menghilangkan kesan cool dan tegas mereka.


"Devvv!" Queensza langsung menghampiri devan. Gadis itu menatap wajah devan yang lebam. "Devv kamu---"


"Gue gak papa," potong devan.


Kumpulan laki-laki berjaket levis dengan tulisan Dangerous di belakangnya pun masuk ke dalam rumah devan. Mereka langsung merebahkan dirinya di lantai. Mereka terlihat letih. Sementara queensza, gadis itu terus mengikuti devan.


"Lo kenapa ngintilin gue terus, sih?" tanya devan sambil menatap queensza kesal.


"Itu muka Kamu devv lebam."


Tak lama, para pekerja rumah keluarga devan itu pun membawakan obat, minuman, dan banyak cemilan. Cemilan dan minuman itu pun langsung diserbu oleh yang lain. Queensza hanya diam, ia fokus pada wajah tampan devan yang banyak sekali luka lebam. Queensza harus mengucapkan terimakasih pada devan.


"Devv," panggil queensza.


Devv yang sedang meminum jus jeruk itu pun menatap queensza. Devan tidak menjawab, ia hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Makasih, ya?"


"Makasih buat apa?"


"Makasih karena udah bantuin aku."


"Dedek queensza, kan yang bantuin lo bukan cuman devan." Rio memasang wajah sedihnya. "Bang Rio juga bantuin kamu tau, masa devan doang yang diucapin makasih."


"Tau nih, queensza! Gue kan juga bantuin lo, sampe ninggalin pacar tercinta gue," ucap vio masih dengan unsur kebucinannya.


"Dah lah males, gak mau lagi bantuin queensza. Gak dianggap." Caesar berbicara sambil meminum minumannya.


"Ihhhhh gak gitu." Queensza tertawa. "Habis bilang makasih sama devan , queensza juga mau bilang makasih sama Kakak-kakak semua. Beneran. Makasih, ya."


"Heleh! Ngeles aja lo, queensza," timpal kalle.


Devan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya itu. Laki-laki itu pun beranjak pergi dari sana. Queensza yang melihat itu, langsung beranjak mengikuti devan.


"Devvv mau kemana!"


Devan menggeram kesal. "Apasih?! Ngikutin gue mulu! Gue cape!"


"Maaf." Queensza mengerucutkan bibirnya. Tanganya menunjuk wajah devan. "Mukanya kamu tuh devv lebam, banyak luka."


"Ya terus? Gue udah biasa!" Devan berbalik, berniat meninggalkan queensza. "Udah deh, san---"


"Sini aku obatin."


Devan menghentikan langkahnya. Laki-laki itu terdiam sebelum akhirnya ia menatap queensza. "Serius?"


"Serius. Aku obatin, sini."


"Oke. Lo ambil obatnya, gue tunggu di dekat kolam berenang," ucap devan dan langsung melangkah pergi. Queensza pun terlihat senang tawarannya tidak ditolak.


“Siap Boss”


.


.


.


Uhuyyy makin uwu aja mereka!


Hallo guys! Gimana kabar kalian? Aku harap, kita semua dalam keadaan baik-baik saja.


Gimana? Udah vote? Udah komen? Aku harap udah. Aku percaya kalian itu terbaik, yang selalu memberikan suport dengan cara vote dan komen.


Bisa bantu aku menuhin paragraf dengan komentar kalian gak?


Makasih banyak-banyak buat kalian yang masih setia baca cerita aku yang satu ini. Love you banyak-banyak!

__ADS_1


__ADS_2