DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 29 - TOMI SELINGKUH


__ADS_3

Devan menghembuskan asap rokoknya. Laki-laki itu terlihat tengah asik bersandar di tembok atap sekolah. Siang ini, ia sangat malas untuk mengikuti pelajaran. Alhasil, sekarang devan hanya sibuk menghisap rokok di atap sekolah. Devan hanya sendiri, ia sengaja tidak mengajak teman-temannya untuk bolos bersama, biarlah teman-temannya itu mengikuti pelajaran.


"Queensza....."


Tanpa sadar devan menyebut nama gadis itu. Orang yang sedang devan pikirkan sekarang. Devan menghela napasnya. la masih ingat betul perkataannya tadi malam pada queensza. Yang ia menyuruh queensza untuk duduk di sampingnya, dan bercerita tentang dia dan Tomi. Devan juga tidak tahu, kenapa ia mengucapkan itu.


Brak!


Devan menatap ke arah pintu atap. Laki-laki itu menggeram kesal saat melihat kalle, Caesar, dan gibran sudah berada di sana. Dasar! Tukang ngagetin! Lagi asik-asik mikirin queensza, mereka masuk yang bikin jantung devan jedak-keduk karena kaget.


"Sialan, lo! Bolos kaga ajak-ajak! Ketua macam apa, lo!" Gibran mencerocos sambil mengambil duduk di samping devan. "Bagi rokok!"


Belum sempat menjawab, tangan gibran sudah merogoh kantung devan. "Om ampun Om. Jangan apa-apain aku Om."


"Bajingan! Gue normal, ya!"


"Lo ngapa raba-raba ***** gue? Sakit lo, ya!" Devan tertawa sambil melempar rokok dan koreknya.


"Gue cuman mau rokok!"


"Kok lo gitu sih, Lan? Masa bolos sendirian aja." Kalle ikut menggerutu kesal. Laki-laki itu duduk lesehan di aspal atap sekolah itu


"Suka-suka gue."


"Lo tau gak sih, si Raden, Rio, sama Adam dihukum sama Bu Dwi." Caesar mengambil duduk di samping kalle. "Untung kita berhasil lolos dengan alasan pengen ke toilet."


"Kenapa? Kok bisa dihukum?"


"Belum ngerjain tugas. Mereka doang sama kita yang dihukum, yang lain enggak."


"Lah si vio kaga dihukum? Tumben. Tu anak kan paling males."


"Tugas dia udah dikerjain sama reta. Sialan, kan! Dia udah ngerjain tugas kaga bilang-bilang masa." Gibran terlihat kesal. "Awas aja tuh si vio! Gue tandain mukanya!"


Devan tertawa. "Lagian, lo pada emang kenapa belum ngerjain?"


"Tadi malem kan kita nyerang brigeus, bapak ketua," ucap kalle . "Ya mana bisa ngerjain."


"Terus kemaren-maren? Kan waktunya 5 hari."


Caesar menggaruk tengkuknya. "Kan prinsip kita, kalau ada hari esok kenapa harus sekarang?"


"Ya buktinya lo pada kaga ngerjain, kan!"


"Lah ngapa lo jadi kesel, devv?" Gibran menatap devan sambil menghembuskan asap rokoknya. "Gue tanya, lo udah?"


"Belum."


"Goblok!"


"Ya udah ampun bang jago."


"Oh iya, devv. Gimana keadaan si Nino?" tanya kalle. "Tu anak tadi malem pingsan gara-gara palanya bocor si pukul pake batu sama si Gara, anggota Brigeus."


"Tu anak mah santuy. Lagi pingsan aja masih sempet-sempetnya ngunyah permen karet." Gibran terkekeh.


“Serius”


"Serius gue! Kan gue yang mapah dia naik ke motor."


Devan menghisap rokok, lalu menghembuskan asapnya. "Si Nino baik-baik aja. Tadi pagi gue sempet mabar sama dia."


"Lagian si Nino, dia kan ketua Dangerous Jakpus, ngapa sering banget main ke Jaksel?" tanya Caesar.


"Lo tau cewek Nino bocahnya kayak apa. Tu anak kan gabutan orangnya," jawab Kalle.


"Devv, gue kepikiran sesuatu deh," ucap Caesar.


"Lo punya otak?"


Caesar menatap kalle marah. "Gak usah gitu, kall! Gue tau lo gak punya otak!


"Canda deh bang jago."


"Lo kepikiran apa, sarr?"


"Gini." Caesar membenarkan posisi duduknya. "Queensza itu kan sahabatnya Tomi. Gimana kalau kita ancem Tomi pakai queensza? Biar dia sama Brigeus gak macem-macem lagi sama kita."


"Queensza, tetep cewek yang gak ada sangkut pautnya. Jangan coba-coba libatin dia demi kepentingan kita semata." Devan menjawab tegas.


Gibran menatap devan bingung. "Lo kenapa? Bukannya kemarin-kemarin lo yang selalu gak suka sama queensza? Kok sekarang...."


"Ya, intinya gue gak suka kalau queensza dilibatkan dalam semua ini."


.

__ADS_1


.


.


.


"Ibu cinta sama Om Azka?"


Asih menghela napasnya. Wanita itu memoles bibirnya dengan lipstik. Sementara dirinya sudah rapih dengan pakaian formalnya. Seperti, jas, dan sepatu hak tingginya. Wanita itu berjalan ke arah queensza yang terduduk di ranjang. Asih tersenyum, lalu mengusap pipi queensza.


"Kok nannya gitu?"


Queensza menekuk bibirnya. "Gak papa. Kalau kalian emang saling cinta, gak papa, nikah aja."


"Queensza queensza." Asih tertawa. "Kamu tau dari mana? Kok bisa bicara seperti itu?"


"Queensza sempet denger pembicaraan kalian." Queensza menghela napasnya. "Om Azka ngajak ibu nikah udah ke sekian kalinya. Tapi jawaban ibu tetetp sama, ingin membahagiakan queensza dulu."


"Kamu tau itu."


"Queensza udah bahagia, Bu." Queensza mengambil tangan sang ibu. "Sekarang giliran ibu yang bahagia. Ibu terima ya, ajakan Om Azka buat menikah? Ibu perlu pasangan."


Mata asih berkaca, wanita itu berusaha menahan air matanya. "Jangan pikirin itu. Kamu fokus saja dengan Tomi. Ibu gak mau merusak hubungan kalian dengan pernikahan Ibu dengan Pak azka."


“queensza udah gak srek sama Tomi."


"Kok gitu?" Asih menatap queensza penasaran. "Apa karena laki-laki yang waktu itu anter kamu pulang?"


Queensza menghela napasnya. Ia tahu siapa yang sedang Asih bicarakan. "Bukan. queensza makin lama makin jengkel sama Tomi. Dia sering banget tawuran sama marah-marah gak jelas sama queensza...."


Asih mengusap wajahnya sang anak saat melihat matanya berkaca-kaca. "Ibu kan sudah bilang, kalau kamu gak kuat, lepaskan."


"Tapi----"


"Walau keluarga Tomi yang bantu kita, kamu juga berhak bahagia."


Queensza memeluk sang ibu. "Makasih, Ibu. Queensza sayang sama Ibu."


"Ibu juga sayang sama kamu." Asih melepaskan pelukannya, lalu menatap queensza. "Dah, ya? Ibu harus kerja."


"Ibu hati-hati."


"Pintu rumah jangan lupa dikunci nanti, ya? Udah jam tujuh, ibu harus berangkat."


"Nanti pagi juga ibu udah pulang."


"Ibu hati-hati, ya?"


"Iya, sayang."


Setelah itu, Asih keluar dari kamar menyisakan queensza. Gadis itu berniat untuk membaca novel, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Queensza pun langsung membukanya.


Dan betapa terkejutnya dia, ada nomor tidak dikenal yang mengirimkan sebuah gambar. Cukup lama queensza terdiam, sampai akhirnya gadis itu mengeluarkan air mata.


.


.


.


.


JDOR!


PRANG!


Suara tembakan menggema di perkarangan rumah keluarga Devan itu kala devan berhasil melesakan peluru dari pistolnya di tepat sasaran. Dan benar, sebuah botol beling pecah karena tembakan devan. Devan tersenyum sambil menatap Harto, sang Ayah.


"Bagus, devan. Kamu makin lancar dalam membidik dan menembak," ucap harto.


"Makasih, Pah."


harto menatap Adelia, Kakak kedua devan. "Adelia, sekarang giliran kamu. Tunjukan sama Papah kehebatan kamu dalam membidik dan menggunakan panah itu."


Adelia tersenyum, lalu mengambil satu anak panah, dan mengambil posisi. Adelia membidik sebuah apel hijau yang jaraknya sekitar 30 meter. Adelia melepaskan anak panahnya, dan tepat saat beberapa detik, anak panah itu berhasil menancap di apel hijau tersebut.


"Bagus! Anak-anak Papah memang hebat!"


Adelia dan Alan merunduk tanda hormat. "Terimakasih, Pah."


"Papah mendidik kalian tanpa membeda-bedakan gender dan usia," ucap harto. "Mau laki-laki, mau perempuan, semua harus bisa bela diri, semua harus bisa berstrategi, dan semua harus berdiri sama tinggi."


"Baik, Pah."


"Terus, Kak Aletha gimana, pah?" tanya devan.

__ADS_1


"aletha itu Dokter, dia pasti sibuk. Biarkan dia berlatih kala sudah menyelesaikan tugasnya."


"Kak Aletha gak latihan dia juga udah jago sih, Pah," ucap Adelia sambil tertawa.


"Papah tau. Menangnya siapa yang sudah buat preman-preman di gapura sana patah tulang? Aletha, Kakak kalian."


"Makanan dateng!"


Mereka semua menatap Diajeng yang membawa minuman dan cemilan-cemilan dengan beberapa pembantu.


"Devan aus banget!" Devan langsung berjalan ke arah Diajeng dan langsung menuangkan air ke gelas dan meminumnya. "Ahhhhh, mantap!"


"Gimana perkembangan anak-anak kita, Pah?" tanya Diajeng pada sang suami.


"Anak-anak kita itu anak hebat. Mereka sangat cepat dalam menangkap yang aku ajarin."


"Syukur, deh." Diajeng tersenyum sambil menatap devan dan Adelia. "Ingat, ya? Kemampuan kalian dalam bela diri, bukan untuk main-main. Gunakan itu untuk menolong sesama."


"Iya, Mah," ucap Adelia. "Devan tu mah, suka gunain buat yang gak bener. Bukannya buat nolong orang malah buat tawuran!"


"Sirik aja lo, Kak! Udah Lo gak usah ngurusin gue! Lo nari-nari aja sana! Lo kan penari!" Devan menjawab dengan ketus.


"Sudah-sudah!" Harto menegakan. "Adelia, biarkan adik kamu seperti itu, dia masih muda. Devan, kamu juga yang sopan sama kakak kamu."


"Iya, Pah."


Devan pun merogoh kantung nya saat merasa ada getaran dari ponselnya. Setelah mengambil ponselnya devan terkaget ketika melihat layar ponselnya sudah dihiasi dengan kontak Queensza. Ada apa queensza menelfonnya? Tapi baru saja devan ingin menjawabnya, panggilan malah dimatikan.


"Mah, Pah, Kak, devan masuk duluan, ya?"


Setelah itu devan berjalan ke arah kolam renang rumahnya. Laki-laki itu menelfon Queensza balik. Entah kenapa ia sangat penasaran kala Queensza menelfonnya, padahal kan bisa saja kepencet. Devan duduk di pinggir kolam renang, sementara kakinya masuk ke dalam air. Cukup lama Queensza menjawabnya, sampai akhirnya gadis itu menjawab.


"A-ada apa, devv?


"Kok malah nannya ke gue? Harusnya gue yang nannya ke lo. Lo kenapa nelfon gue?"


"Gak jadi..."


Devan mengerutkan keningnya ketika mendengar suara sembab Queensza. "Kok lo kayak abis nangis sih?"


"Enggak, kok."


Devan tahu. Ia tidak bisa dibohongi begitu saja. "Apa yang terjadi? Tomi?"


"Enggak."


"Jujur, lo."


"T-tomi selingkuh dia punya temen sendiri devv, ....."


Devan menghela napas panjang. "Gue udah tau semua ini bakal terjadi."


"Maaf kalau aku ganggu waktu kamu devv . Aku gak punya temen, jadi gak tau mau cerita ke siapa. Aku cuman inget kata-kata Kamu devv kemarin."


"Gak papa. Kan kemarin gue bilang, kalau lo mau cerita tentang Tomi, sama gue aja."


"Aku tutup ya, devv?"


"Gue ke rumah lo."


"M-mau ngapain?"


"Mau dengerin curhat lo tentang Tomi." Devan berdiri dari duduknya. "Gue siap-siap dulu."


"Jangan, devv. Aku di Rumah sendiri, gak enak sama tetangga kalau bawa cowok."


"Ya udah. Kita ketemuan gimana?"


"Boleh,"


"Gue tunggu di Kafe deket sekolah, ya."


"Oke."


.


.


.


.


KALIAN ADA PESAN UNTUK MEREKA SEMUA?


SPAM NEXT YA!! KALAU MAU LANJUTAN NYA!

__ADS_1


__ADS_2