
"Tolong lepasin aku. Aku beneran gak ada sangkut pautnya sama masalah ini..."
Seolah tuli, devan hanya mengabaikan queensza yang terus memohon untuk dilepaskan. Sementara yang lain menatap queensza kasihan. Queensza itu gadis polos dan pendiam, jadi tidak mungkin dia ada sangkut pautnya dengan serangan Brigeus tadi. Berkali-kali Reta mencoba membujuk devan untuk melepaskan Queensza tapi laki-laki itu masa bodo.
“devv, ini udah malem. Orang tuanya queensza juga pasti nyariin dia," ucap reta.
Queensza terus menangis. Ia benar-benar takut. Di sini banyak sekali orang-orang yang mengenakan jaket levis berlambang tengkorak. Queensza benar-benar asing dengan mereka semua. Queensza terus menangis karena takut. Devan benar-benar marah sepertinya.
Jane menatap queensza yang hanya duduk dengan air mata mengalir, lalu kembali menatap devan. "Lo gak ada belas kasihan sama sekali, ya? Devv, masalah kita tuh sama Tomi, bukan sama sahabatnya."
"Bener tuh, devv. Lepasin aja kali." Raden berbicara sambil memainkan game di ponselnya. "Lo nunggu Tomi dateng buat jemput ni anak? Kaga bakal! Udah malem gini."
"Lagian, kaga ada untungnya juga kita nahan ini bocah, devv," sambung Rio.
“devv, lepasin ajalah, devv. Gue juga udah cape, mau pulang terus tidur," ucap Kania sambil menguncir rambutnya.
Devan menghela napasnya, lalu berdiri dan berjalan ke arah queensza. Laki-laki itu langsung menarik tangan queensza untuk berdiri. "Gue anter lo pulang. ”
Queensza menatap devan dengan tatapan berbinar. "Beneran?"
"Gak."
"Yahhh..."
"Ya beneran, Lah!" Devan menatap queensza kesal. "Lo mau gak sih gue anter pulang?"
"Mau."
"Ya udah, ayo!"
"Terus kita gimana, dev?" tanya kalle yang membuat devan berhenti dari jalanannya.
"Lo pada pulang aja dulu, mandi, makan, biar seger. Habis itu dateng ke mari lagi, kita serang Brigeus balik," ucap devan. "Gue gak terima sekolah kita diacak-acak!"
"Yang cewek-cewek pulang aja, Bobo cantik, gak usah ikut kita tawuran," lanjut devan.
"Oke, devv!"
Devan kembali menatap queensza. "Ayo!"
Setelah itu, queensza hanya mengekori devan. Queensza menunduk takut. Tatapan orang-orang, khususnya laki-laki yang berada di sini benar-benar membuat queensza takut. Belum lagi asap rokok yang menusuk indra penciumannya.
"Nino, minjem motor lo!" Devan berbicara pada laki-laki bernama Nino yang sedang asik bermain gitar.
"Motor lo kenapa emangnya?"
"Kaga ada bensin," ucap devan. "Udah mana cepet kunci motor lo!"
Nino mendengus kesal, lalu melemparkan kuncinya pada devan. "Tuh! Lo tuh banyak duit, rumah gedongan, tapi ngisi bensin aja kaga mampu! Dasar devan!"
"Yang penting gue isiin bensin lo sampe full nanti."
"Iya-iya." Nino tersenyum menatap queensza. "Siapa itu, Lan? Cakep juga. Cewek lo?"
Mendengar itu, queensza menunduk malu.
"Bukan urusan lo."
Nino terkekeh. "Pantes lo minjem motor gue. Kan gak lucu kalau motor lo mogok gara-gara kaga ada bensin pas lagi boncengin tu cewek."
Devan mendengus kesal, lalu menatap queensza. "Udah, ayo."
Nino hanya terkekeh melihat tingkah sahabat seperjuangannya itu.
Triano Gustira, biasa dipanggil Nino. Laki-laki yang tak kalah tampannya dengan devan. Kalau devan yang memimpin Dangerous Jakarta Selatan, kalau Nino yang memimpin Jakarta pusat. Laki-laki itu berumur 18 tahun, selisih satu tahun lebih tua dari devan. sama-sama pemimpin, tapi Nino sangat menghormati devan, mengingat laki-laki itu adalah pemimpin tertinggi Dangerous se-Indonesia.
__ADS_1
Kalau devan ketus-ketus dingin, kalau Nino tengil-tengil ngeselin. Sama halnya dengan devan, Nino cukup disegani oleh orang-orang. Kalau devan pemarah, kalau Nino suka bikin orang marah. Makanya, devan kadang suka malas bertemu dengan Nino. Pasti laki-laki itu selalu menguji kesabarannya.
"Devv kok jaketnya gak dipake?" tanya queensza ketika melihat jaket Dangerous milik devan malah dimasukan ke dalam spakbor motor.
"Kenapa? Lo mau pake?"
Queensza berpikir sejenak. "Emang boleh?"
"Ya boleh aja. Kali aja lo kedinginan." Devan mengurungkan niatnya. Laki-laki itu kembali mengambil jaketnya di spakbor, lalu menyerahkan pada queensza. "Nih."
Queensza hanya menatap tangan devan yang menyodorkan jaketnya.
"Lama!" Devan mendengus kesal. Dengan cepat, laki-laki itu langsung memakaikan jaketnya pada queensza.
Queensza menunduk malu. Ia tetaplah perempuan biasa yang lemah jika diperlukan seperti itu. "Makasih ya, devv."
"Maaf ya kalo jaketnya bau. Udah gak dicuci seminggu."
"Hah? Enggak, kok. Ini bau parfum. Parfumnya kamu ya devv, kan?"
"Iya, mungkin. Walau jarang dicuci tapi gue sering semprotin parfum ke itu jaket," ucap devan. "Itu jaket nyaman banget kalo dipake, makanya jarang gue cuci."
"Makasih."
.
.
.
"Soal yang tadi... gue minta maaf."
Queensza tersenyum mendengar perkataan devan. Gadis itu mengangguk. "Gak papa."
"Makasih ya devv , udah anterin aku pulang." Queensza tersenyum. "Queensza harus cepet-cepet masuk, pasti Ibu khawatir."
"Ya udah."
Setelah itu queensza berjalan masuk. Saat ingin membuka pagar, queensza malah memanggilnya. "Queensza!"
Queensza menghentikan pergerakannya, lalu menatap Alan.
"Kenapa, kamu devv?"
"Jaket gue."
Seketika queensza tersadar. Gadis itu menatap jaket levis devan yang masih melekat di tubuhnya. Queensza tersenyum polos, lalu berjalan ke arah devan sambil melepaskan jaket itu. "Maaf ya, devv? Aku lupa."
"Nyaman kan, jaket gue?"
"Iya, nyaman walau gede banget di badan aku."
Devan pun menerima jaketnya, dan langsung mengenakannya. "Sekali lagi, gue minta maaf."
"Gak papa."
"Oh iya, satu lagi," ucap devan.
"Kenapa, devv?"
"Rencana gue yang mau nyerang Brigeus, lo bisa kan gak kasih tau Tomi?" tanya devan. "Gue sih percaya, lo gak bakal ngomong ke Tomi."
"Iya devv, aku gak bakal bilang."
Devan dan queensza terdiam beberapa saat. Devan menatap queensza lekat. "Gak tau ini perasaan gue doang atau gimana. Tapi dari tingkah lo... gue ngerasa lo bodo amatan sama Tomi."
__ADS_1
Queensza hanya tersenyum.
"Kan, gue paham sekarang!" Devan terkekeh. "Lo kesiksa kan jalin hubungan persahabatan sama Tomi? Keliatan dari respon lo."
"Engga juga."
"Dah, lah!" Devan memakai helmnya. "Kapan-kapan, duduk di samping gue, dan ceritain semuanya, ya? Gue siap dengerin."
Queensza tersenyum. "Devv kamu pulang sana. Istirahat."
"Iya ini mau pulang. Mau mandi, makan, terus balik lagi ke markas." Devan menyalakan motornya. "Pergi dulu ya, raa!"
"Hati-hati, ya devv!"
Setelah devan menghilang di balik gang, queensza bernapas lega, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Kadang devan itu bikin takut, tapi kadang devan juga bikin hati tenang. Queensza menutup pintu sambil tersenyum mengingat perilakuan devan tadi. Hm, pantas sih banyak yang suka dengan devan.
"Kamu kok baru pulang?"
Queensza menggigit bibirnya saat Asih muncul sambil menanyakannya dengan tatapan marah dan suara datar. "M-maaf, Ibu..."
"Ibu gak minta kamu minta maaf. Ibu cuman tanya kenapa baru pulang."
Queensza menunduk takut. Kan tidak mungkin kalau dirinya habis diculik devan.
"Jawab!" Asih mulai meninggikan suaranya. "Pulang telat! Ponsel gak aktif! Bikin khawatir tau, gak?! Pulang bareng cowok lagi!"
"Maaf, Bu..."
"Siapa anak cowok tadi?"
Queensza meremas rok seragamnya. "Itu devan , Bu. Dia temen sekelasnya sama queensza bu, ."
"Kenapa bisa pulang malem sama dia? Kemana Tomi? Apa dia gak jemput kamu?"
"T-tomi... dia tadi nyerang sekolah queensza sama temen-temennya." Queensza berbicara jujur. "Makanya queensza bisa sama devan bu, . Pulang malem, karena diajak jalan-jalan dulu sama dia."
Asih menghela napasnya ketika mendengar tentang Tomi. Anak itu selalu saja berulah. "Ya udah, sana kamu masuk, mandi, terus makan."
"Iya, Bu."
"Raa," panggil Asih.
Queensza memberhentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Asih. "Kenapa, Bu?"
"Temen sekelas kamu yang tadi, kayaknya baik, ya?"
"Engga! Dia sama aja kayak Tomi, suka tawuran." Queensza membantah. "Udah ya, Bu? Queensza mau mandi."
Setelah kepergian queensza, asih terlihat berpikir. "Devan... kayaknya dia baik, cocok buat anakku."
Tanpa sepengetahuan ibunya devan dan queensza sudah menjalin hubungan kekasih.. Hanya aja ini hubungan di privat hanya aja Darel, - teman devan yang orangnya sangat cuek itu mengetahui hubungan mereka berdua.. Meski jarang berdua tapi mereka seperti sepasang kekasih.. Hanya orang yang ga tau mereka dikira temen sekelasnya.. Padahal di balik itu ada banyak rahasia yang belum di bongkar oleh seseorang..
.
.
.
.
KALIAN ADA PESAN UNTUK MEREKA SEMUA?
SPAM NEXT, YA!
SEMOGA KALIAN TAU DENGAN ISI CERITA INI YA!! TUNGGU SAMPAI TAMAT INI BAKAL SAD ENDING ATAU HAPPY ENDING NIH?
__ADS_1