
Apa kabar
Semoga kita semua dalam keadaan baik-baik aja, ya!
Ayo spam komentar di setiap paragraf!
HAPPY READING!!!!!
[BUDAYAKAN BACA NOTE AUTHOR!]
Bugh!
"Tambah terus tenaganya!"
Reta berteriak ketika melihat pukulan Queensza pada samsak yang kurang bertenaga. "Ditambah tenaganya! Kalau gak ada tenaga, lo gak akan pernah bisa!"
Queensza menghela napasnya, lalu mulai menambah tenaga pada pukulannya.
Sesuai perkataan devan, sore ini ia langsung latihan bela diri pada Reta. Lebih tepatnya, bela diri Pencak Silat. Devan membawanya ke sebuah padepokan Pencak Silat yang berada di suatu perkampungan. Kata devan, padepokan Pencak Silat ini milik keluarga reta. Bukan hanya queensza, di sini juga banyak orang-orang yang berlatih pencak silat, mau laki-laki perempuan. Mereka semua mengenakan seragam hitam-hitam khas pesilat.
Nama padepokan ini, Barong Kencana.
"Cukup!"
Queensza pun menghentikan pukulan pada samsak di depannya saat reta menyuruhnya untuk berhenti. Queensza terengah-engah, sementara tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat. Gadis itu mengusap dahinya sambil menatap reta.
reta berjalan ke sebuah kerdus, lalu mengambil sebotol air mineral, dan memberikannya pada queensza. "Diminum dulu.
"Makasih, Kak." Queensza menerimanya, lalu menegak air mineral itu dengan lahap.
Reta menghela napasnya. "Untuk hari pertama, lumayan. Lo cepat nangkep yang gue ajarin."
Queensza tersenyum masih dengan napas terengah-engah.
"Makasih, Kak."
Reta bersandar pada tembok, lalu menepuk pundak reta. "Kalau nanti lo udah bisa bela diri, gunain dengan benar, ya?"
"Pasti, Kak."
"Walau lo udah bisa bela diri, dan lo dalam bahaya. Kalau masih punya kesempatan buat lari, ya lari."
"Kenapa gitu?"
"Itu nasihat keluarga gue turun temurun." Reta tersenyum. "Keluarga hampir sama kayak keluarga Devan, semuanya bisa bela diri."
"Aku bakal selalu ingat nasihat Kakak."
"Bagus." Reta tersenyum sambil mengusap kepala gadis yang sekarang menjadi muridnya itu. "Kelak, lo bakal jadi orang besar. Lo bakal dihormati, dan disegani oleh semua kaum."
"Kenapa banyak yang ngomong gitu?"
"Oh, ya?"
Queensza menggaruk kepalanya. "Enggak, sih. Cuman Tante Diajeng, sama Kakak."
"Lupain. Lo pulang sama siapa?"
"Kata devan , dia yang bakal anterin aku pulang."
__ADS_1
Reta terkekeh. "Devan. Tu anak bakal ngejar apa yang dia mau."
"Maksudnya, Kak?"
"Gak papa.
.
.
.
.
"Total harganya jadi Rp 100.000,00 Kak."
Queensza dengan cepat mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya pada kasir. "Ini, Mba."
"Baik, Kak. Uangnya pas, ya? Selamat datang kembali."
Queensza tersenyum membalas ucapan penjaga kasir tersebut, lalu melangkah kakinya pergi dari Gramedia. Malam ini queensza sangat bosan, sehingga membuatnya ingin berjalan-jalan. Tapi queensza berpikir, stok buku bacaan di rumahnya kan ingin habis, jadi kenapa tidak queensza beli saja? Dan yap, sekarang queensza sudah menenteng plastik yang berisikan 2 buku.
Queensza membeli 2 buku sejarah. Kalian pasti tahu lah, queensza itu sangat menyukai hal-hal yang bau sejarah. Queensza lebih suka membaca buku sejarah, ketimbang membaca novel. Tapi, queensza mengakui ia sesekali membaca dan membeli novel jika ia ingin. Selain itu, queensza tidak suka membaca novel, karena novel itu cukup mahal.
Kalau novel 100.000 dapat satu, tapi kalau buku sejarah 100.000 bisa dapat dua jenis, seperti queensza sekarang. Novel mahal, karena daya minatnya tinggi, sedangkan buku sejarah murah karena daya minatnya rendah. Lagi pula, orang jaman sekarang tidak begitu menyukai sejarah.
"Raa..."
Queensza tersentak kaget ketika seseorang menghadangnya. Gadis itu terlihat takut ketika melihat siapa orang di depannya ini. "Tomi? Kamu mau apa lagi, sih?"
Tomi menatap queensza sendu. "Raa, aku minta maaf sama kamu. Aku mau kita kayak dulu lagi..."
"Aku mau kita balikan lagi."
“aku mau kita lanjutin persahabatan kita lagi, ” lanjut nya lagi
Queensza mengigit bibirnya sejenak bentuk respon dari perkataan Tomi. Gadis itu langsung menggeleng. "Gak bisa, Tomi."
"Kenapa, raa? Apa karena devan?" Tomi memijat . "Secepat itu kamu lupain aku?"
"Bukan masalah aku yang terlalu cepat lupain kamu. Tapi, kamu sendiri yang membuat aku cepat lupain kamu dengan cara buat aku nangis dan menderita." Mata queensza berkaca-kaca. Gadis itu kembali mengingat perlakuan Tomi selama ini. "Aku gak bisa buat jalin hubungan sama kamu lagi."
"Tolong beri aku kesempatan." Tomi berlutut sambil memegangi tangan queensza.
"Tomi, apaansih. Malu, tau gak? Aku gak bisa kasih kesempatan lagi buat kamu." Queensza terlihat sangat malu dan risih. Lagian, apa-apaan Tomi ini? Mengapa laki-laki itu secara tiba-tiba begini? Tidak pernah mengirimkan pesan lagi, tapi tiba-tiba datang dengan keadaan mengemis untuk menjalin hubungan lagi. "Bangun, aku mohon."
Dengan wajah kecewa, Tomi bangun. "Seharusnya, dari awal aku harus cegah kamu sekolah di sma internasional, supaya kamu gak ketemu sama devan. Tapi aku terlambat."
"Tuhan udah ngatur semuanya, kamu gak bisa cegah. Tuhan mempertemukan aku dengan sosok pelindung, yaitu devan (semua orang tidak tau jika devan adalah pacar si queensza) ."
"Queensza!"
Queensza dan Tomi menengok ke arah parkiran. Di sana sudah ada 3 perempuan yang menatap keduanya. Bukan, bukan reta, Jane, lainnya. Dari 3 perempuan itu, salah satunya adalah Vender. Mereka memakai jaket Dangerous dan mereka berjalan ke arah queensza dan Tomi dengan pandangan marah.
"Ngapain lo gangguin queensza?!" Vender mendorong Tomi kencang hingga membuatnya hampir terjatuh. "Masih gak puas lo dihabisin sama temen-temen gue?!"
"Kalau lo bukan cewek, udah gue hab----"
Bugh!
__ADS_1
"Emang kenapa kalo gue cewek? Lo kira gue gak berani mukul, lo? Sini lawan gue anj*ng!"
Tomi memegangi pipinya yang baru saja dipukul oleh Vender. Sangat nyeri. Vender itu bukan perempuan biasa, dari pada Tomi membuang-buang tenaga, lebih baik Tomi pergi mempersiapkan untuk besok. "Bilangin sama ketua lo, dan temen-temen lo, Brigeus bakal collab sama Cengkara Jaya buat nyerang kalian."
"Lo nantangin?"
"Iya! Sehabis pulang sekolah, di pabrik bekas deket lapangan futsal." Tomi tersenyum. "Gue minta, anak-anak sma internasional turun juga, ya? Gue mau liat, apa mereka bisa berantem atau enggak. Atau Dangerous cuman dekingan mereka doang?
Setelah itu, Tomi berjalan ke arah parkiran untuk pergi, menyisakan queensza, Vender, dan 2 temannya.
"Taa, lo gak papa?" Vender memegang bahu queensza dengan tatapan khawatir. Sementara queensza, gadis itu tampak bingung. Ini Vender? Kok tidak seperti biasanya. Bukan tatapan sinis dan bacotannya, tapi sekarang hanya ada tatapan khawatir.
"A-aku gak papa, kok."
"Tadi Tomi ngapain, lo?"
"Dia ngajak balikan aku, Kak."
"Jangan mau!" Vender menjawab dengan tegas. "Lo udah punya devan, raa. Jangan sekali-kali ngehianatin dia."
Queensza lagi-lagi dibuat bingung dengan perkataan Vender. "Kak----"
"Gue udah restuin kalian berdua," ucap Vender. "Setelah gue mukulin Reta, Jane sama lainnya tadi, gue sadar kalau seharusnya gue gak kayak gini. Gue... udah melampaui batas dari seorang sahabat."
Queensza tersenyum. "Kak Vender? Jadi, Kakak gak marah kalau aku deket sama devan?"
Vender tersenyum, lalu menggeleng. "Selagi Devan bahagia, gue bahagia."
"Makasih, Kak."
"Sekarang kita sahabatan, ya? Kalau lo mau tanya-tanya tentang devan, lo bisa banget hubungin gue. Karena gue tau devan lebih dari siapapun," ucapnya.
Queensza yang mendengar itu sedikit terharu. "Makasih, Kak. Aku ternyata salah nilai Kakak."
Vender lagi-lagi tersenyum, lalu menatap kedua temannya, dan menatap Keyra lagi. "Key, kenali ini temen gue. Dia Xabella, dia Xaraya. Mereka kembar."
"Queensza, Kak. Salam kenal, ya?"
"Salam kenal juga, cantik."
Vender menatap queensza. "Lo bareng gue aja pulangnya. Biar gue anterin."
Queensza tersenyum. Hitung-hitung pendekatan dengan sahabat pacarnya. Eh! Emang Devan sudah jadi pacar Queensza? Dia kan belum memberikan penjelasan. "Boleh, Kak."
.
.
.
.
Jangan lupa juga untuk selalu vote dan spam komentar di cerita ini.
Tolong share cerita ini sebanyak-banyaknya, ya. SS dan masukin status, feeds Instagram, dll. Rekomendasiin cerita ini ke teman-teman kalian juga, ya!
Kuy spam komentar di setiap paragraf!
Spam next kuy!
__ADS_1