
"Dah, selesai!"
Queensza tersenyum bangga ketika ia berhasil mengobati luka lebam devan. Kalau kebanyakan orang akan merintih kesakitan ketika lukanya diobati, lain hal dengan devan. Devan malah menatap datar ke arah depan, dan sama sekali tidak terlihat kesakitan. Hm, mungkin devan sudah biasa disakiti.
"Devv, kok diem aja dari tadi. ngeliatin ke arah depan mulu. Devv, gak kesambet, kan?"
Devan memutar bola matanya malas mendengar perkataan queensza. "Menurut, lo?"
"Hehe, bercanda, kok." Queensza menghela napasnya sambil menutup kotak obat. “devan, rumah aku aman, kan? Ada kerusakan, gak?"
"Aman," ucap Devan . "Gue sama Tomi negosiasi buat nyelesain semuanya di tempat lain. Alhasil, kita semua adu jotos di depan kuburan."
"Jadi, rumah aku gak papa?"
Devan mendengus kesal. "Rumah rumah rumah terus! Lo harusnya khawatirnya sama gue!"
"Kan kamu udah aku obatin. Ngapain aku khawatir lagi."
"Lo kaga khawatir gue ketempelan setan, gitu?" Devan menatap queensza malas. "Gue sama yang lain tuh berantem di depan kuburan. KUBURAN, RAAA!"
Queensza menutup telinganya. "Ya lagian di kuburan, emang gak ada tempat lain?"
"Tanya si gibran, noh! Emang sialan tuh anak, nyaranin di depan kuburan!"
Queensza tertawa melihat Devan. "Aku baru tau, ketua takut sama setan, ya?"
"K-kaga, anjir!" Devan terlihat gugup. Setelah itu, devan bangun dari duduknya. "Dah, ah! Gue mau kasih makan rusa-rusa gue dulu."
"Rusa? Devv lo punya rusa? ”
Devan mengangguk. "Punya. Ada banyak. Kurang lebih 11 ekor," ucap devan. Setelahnya, pemuda itu beranjak meninggalkan Queensza.
Kringgg!!!
Ponsel Queensza berdering begitu kencang. Devan dengar dering ponsel itu, tapi dia mengabaikannya, dan melangkah pergi. Queensza menutup mulutnya ketika melihat nama kontak yang tertera dipanggilan tersebut.
“Devvv”
Devan baru saja akan menghilang dibalik tembok, tapi laki-laki itu menghentikan langkahnya. "Apalagi, sih! Lo tuh----"
"Tomi telfon. Aku harus apa?"
Devan terdiam beberapa saat. Laki-laki itu langsung berjalan ke arah queensza dan merebut ponsel gadis itu dengan tanpa izin. "Mau apa lagi nih anak."
Dengan cepat devan langsung mengangkat panggilan itu dengan perasaan kesal. "MAU APA LAGI SIH, LO?!"
“Devan"
"Kenapa? Kaget?" Devan tersenyum sinis. "Apa lo masih gak puas, kawanan lo gue buat bonyok?"
"Noo. Tolong bilang sama queensza kalau dia udah mengibarkan bendera perang dengan keluarga gue."
__ADS_1
"Dia selalu berada pantauan Dangerous. Lo, keluarga lo, dan cecenguk lo gak akan bisa nyakitin dia," ucap Devan tegas.
"Oh, ya? Tapi sayang, ibunya gak berada dipantauan kalian."
"Brengsek! Jangan macem-macem sama Tante Asih! Kalau lo kesel sama gue, hadapi gue dengan jantan! Jangan cuman jadiin orang umpan! Pengecut!"
"Sudah bicaranya Bapak devan? Sekarang lo kasihin ponsel ini ke queensza. Gue ada urusan sama dia."
"Gak! Urusan Queensza, urusan gue juga." Napas devan mulai memburu karena amarah. "Mulai sekarang... dia bagian dari Dangerous. Lo gak akan bisa macem-macem sama dia!"
Queensza sempat tertegun beberapa saat. Apa katanya? Queensza bagian dari Dangerous? Serius?
"Cih! Bullshit. Bagian dari Dangerous, atau bagian dari hidup lo? Lo, suka kan sama cewek gue?"
Devan mencengkram ponsel Queensza kuat. Laki-laki itu langsung mematikanponsel queensza. Tanganya langsung melempar ponsel itu ke pemiliknya dengan kasar. Devan yang tadinya ingin memberikan makan pada rusa-rusanya, kini berbalik arah berniat menuju ruang tamu yang diisi teman-temannya.
Queensza mengikuti devan, tapi gadis itu memberhentikan langkahnya ketika membaca pesan masuk dari Tomi.
Tomi
Raa, aku tunggu kamu di jalan melati samping rumah sakit Kencana. Datang sendiri, kalau kamu masih sayang sama Asih.
Gadis itu menunduk. Tak lama terdengar isakan. Tidak, queensza tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada ibunya. Tomi memang keterlaluan! Bisa-bisanya dia mengancam dengan melibatkan sang ibu.
Tidak ada pilihan lain, Queensza harus datang ke sana sendiri dan membicarakannya baik-baik dengan laki-laki itu. Yang Tomi inginkan hanya queensza, bukan yang lain.
🦁🦁🦁
"MAH!!"
"Ada apa, Nak?" Diajeng bertanya sambil menggendong kucing mankun milik keluarga Diningrat.
"Mah, suruh Papah cepet pulang dari Kalimantan. Devan butuh bantuan Papah buat nyelesain ini semua."
Raden mengerutkan keningnya. "Kenapa emangnya, devv? Apa Tomi macem-macem lagi?"
Devan mengangguk sambil menatap satu persatu temannya. "Ini semua udah gak bisa dibiarin. Tomi udah ngancem dengan bawa-bawa nyokapnya Queensza.
"Anj*ng!" Adam terlihat kesal, begitupun yang lain. "Tu orang maunya apasih!"
"Mah! Ini udah gak bisa dibiarin, ini menyangkut keselamatan orang," ucap devan.
Diajeng terlihat berpikir sejenak. "Gak perlu melibatkan Papah," ucapnya, lalu menatap queensza. "Queensza, Mamah kamu sedang ada dimana saat ini?"
"Di kantor ayahnya Tomi, Tante. Jam kerja mamah emang malam hari," ucap queensza.
"Ada di daerah mana itu, Nak?"
"Jakarta Pusat, Tante."
Diajeng mengangguk, lalu menatap Devan. "Gampang. Devan, kamu hubungi Nino, ketua Dangerous di Jakarta Pusat. Suruh dia dan teman-temannya cari keberadaan ibunya Queensza Dan queensza, kirim alamat kantor ayahnya Tomi."
__ADS_1
"Baik, Tante. Terimakasih."
"Sama-sama, cantik." Diajeng pun beranjak pergi sambil menggendong kuncingnya tanpa beban.
"Tante Diajeng tenang banget ya, padahal kita udah panik disini," bisik Lisa pada kania.
“devv”
Semuanya menatap queensza yang memanggil devan. Devan pun menatap queensza tanpa menjawab.
"Aku mau pulang."
Kania mendekati queensza. "Lo gak usah gila! Keadaan kayak gini lo jangan pulang dulu! Bisa aja nanti Tomi balik lagi buat ngapa-ngapain lo!"
"Iya Raaa, gue setuju sama kania," timpal Adam.
"Aku gak papa kok, aku bisa jaga diri." Queensza masih setia memohon.
"Disaat kaya gini, lo harus ditemenin. Lo gak boleh sendiri." Devan menatap queensza lekat. "Mending lo nginep aja di sini. Yang lain juga nginep, kok."
"Gak mau." Queensza menggeleng cepat "Aku cuman mau pulang. Itu aja."
"Queensza lama-lama ngeselin, ya." Kalle berbicara. "Nurut raa kalo dibilangin sama devan! Devan calon imam lo, loh."
"Iya bener----" Devan menghentikan ucapannya ketika sadar, lalu menatap Kalle . "Sialan ya lo, kalle."
Setelah itu, devan menjadi salah tingkah. Melihat devan yang salah tingkah akibat perkataan kalle membuat yang lainnya tertawa. Mereka tuh sudah dapat melihat, ada ketertarikan antara Devan dan queensza. Devannya munafik, queenszanya juga gak asik.
"Aku mohon, devv...."mengenggam tangan devan. "Boleh, ya?"
"Oke, boleh." Devan menghela napasnya. "Gue anterin lo."
"Gak usah!" Queensza menggeleng cepat. Rencananya, ia langsung ingin menemui Tomi. "Aku bisa sendiri. Aku gak mau repotin kamu terus."
"Tapi ini udah malem!" Devan yang mulai kesal pun tanpa sadar membentak Queensza. "Jangan bego jadi orang! Ini udah malem, kalau lo lolos dari Tomi tapi malah ketemu yang lain gimana? Ngotak!"
Queensza menunduk takut. Sementara air matanya mengalir. Queensza itu paling tidak suka dibentak oleh laki-laki. Ia tahu ia hanya gadis merepotkan. "Maaf..."
Sementara devan yang melihat queensza menangis mulai kelabakan. Laki-laki itu merasa tidak tega dengan gadis di depannya ini. Devan menghela napasnya, ia harus sedikit menurunkan ego. "Kenapa nangis?"
Queensza menggeleng. "Gak papa. Maaf ya, kalau aku nyusahin."
Tanpa sadar, devan menggerakkan tangannya untuk menyapu air mata queensza dengan lembut. "Gue udah janji sama ibu lo, buat jagain lo."
"Devan sama yang lain gak perlu kayak gini ke aku. Maaf aku ngerepotin."
“raa, jangan ngomong gitu." Raden berbicara. "Kita gak ngerasa direpotin, kok. Santai."
"Raa jangan nangis, dong. Gak tega." Lisa yang dasarnya keibu-ibuan pun berjalan ke arah queensza, lalu memeluknya. Jihan dan kania pun mengikuti. Akhirnya 4 perempuan itu berpelukan dan saling menguatkan.
"Devv, minta maaf lo!" sarkas kania. "Gak boleh bentak-bentak cewek kayak gitu!"
__ADS_1
"Maaf," cicit Devan pelan.
"Gak papa."