
HAPPY READING!!!!
Nino meletakkan buket bunga mawar putih di atas makam dengan pelan itu. Dia tersenyum kecil sembari mengelus batu nisan yang bertuliskan nama perempuan yang pernah menjadi cintanya semasa SMA. Keyra Amanda.
Ingatan masa-masa yang menyesakkan itu seketika berkelebat di kepala Nino. Sampai helaan napas berat dia keluarkan untuk mengurangi sedikit rasa bersalahnya karena tidak bisa datang tepat waktu menyelamatkan Keyra, sampai perempuan itu harus pergi dengan cara yang sangat-sangat menyakitkan. Keyra bahkan belum merasakan bahagia yang Nino janjikan padanya tapi dia sudah pulang lebih dulu.
Key, maaf gue nggak bisa nepatin janji buat bahagiain lo. Dan maaf, gue udah membagi cinta gue dari lo, batin Nino berucap.
Kepalanya lalu mendongak pada Rena yang berdiri di sampingnya sembari menengadahkan tangan dan berdoa. Kedua matanya terpejam dan bibirnya bergerak membacakan doa-doa untuk Almarhumah keyra.
Pandangan Nino tidak lepas dari paras cantik Rena. Dia pun mengukir senyum tipis.
Namanya Rena, dia istri gue yang paling gue cintai, key. Dia adalah hidup gue, seseorang yang sangat spesial di hati gue sekarang. Gue cinta banget sama Rena, key, batin Nino kembali berucap.
Rena mengusapkan telapak tangannya ke wajah selesai memanjatkan doa. Dia kemudian tersenyum melihat Nino yang menatapnya.
"Udah berdoa untuk Keyra?" tanya Rena mengusap pundak Nino yang berjongkok di sampingnya.
Nino kemudian berdiri dan menggenggam tangan rena. "Udah," jawabnya tanpa melepaskan tatapannya dari sang istri.
Keduanya kembali melihat ke makam Keyra. Rena tidak bisa berjongkok karena perutnya yang sudah membesar.
"Keyra, aku Rena. Maaf aku baru kesini ketemu kamu.keyra, bahagia ya di sana. Jangan sedih lagi. Sekarang kamu sudah bebas dari rasa sakit yang kamu rasain dulu."
Rena lalu menoleh pada Nino.
"Kita pulang?" tanya nino diangguki oleh rena. Keduanya lalu berbalik pergi meninggalkan makam keyra.
Nino dengan sabar mengikuti jalan Rena yang pelan. Dia menggenggam tangan rena dan memperhatikan setiap langkah sang istri. Ada batu kecil pun Nino langsung menyingkirkannya supaya tidak menghalangi jalan Rena dan membuatnya terpleset. Hal itu pun membuat rena terkekeh.
"Ayang," panggil Rena.
Dengan lembut Nino menjawab seraya menatap sang istri. "Iya, Sweetie?"
"Terima kasih udah ngabulin keinginan aku untuk ziarah ke makam keyra."
__ADS_1
Nino tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, Sayang. Aku akan ngabulin apapun keinginan kamu dan juga anak kita." Nino mengusap perut Rena.
"Kamu nggak salah, Nin," ujar Rena membuat kening Nino berkerut bingung. Namun dia tetap diam, menunggu Rena kembali menjelaskan kata-katanya.
"Di saat kepergian keyra, itu sudah menjadi takdir. Jadi kamu nggak usah merasa bersalah kalau kepergian keyra karena salah kamu yang terlambat menyelamatkannya."
Nino sontak terdiam
"Dari tatapan kamu di makam tadi, aku tahu kamu sedang menyalahkan diri kamu sendiri." Rena berhenti berjalan begitupun Nino . Dengan senyum manisnya, rena menangkup wajah tampan suaminya itu. "Dari takdir itu juga kita dipertemukan dan menjadi suami istri seperti sekarang."
Nino ikut tersenyum kemudian mengangguk. “iya,aku gak akan nyalahin diri aku lagi karna kepergian keyra. ” Nino kemudian mencium kening rena lembut lalu memeluknya, tidak terlalu erat. Takut jika nanti anak mereka terjepit.
Rena memejamkan mata dalam pelukan Nino yang hangat
“kenapa kita harus bahagia? ” rena bertanya ke Nino
“kita harus bahagia biar keyra bahagia disana ” Nino melihat jam tangan nya. “yuk pulang, udah sore, kamu ga boleh kelelahan di luar. ”
“siaap,suami menyebalkan ku! ”
"Sayang banget!"
"Cinta, kan?"
"Cintaaaaaa banget!"
Dan Nino pun tergelak kemudian memeluk Rena lagi.
Nino berjalan pelan dengan senyum jahil pada Rena yang sedang membuat susu coklat di dapur. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Rena dari belakang membuat perempuan itu terkejut kemudian menoleh.
"nino ! Kamu ngagetin aja!" Rena memukul dan mencubit tangan nino yang memeluknya.
"Aw! Sayang, jangan di cubit dong, sakit." nino menarik tangannya, mengelus bekas cubitan istri galaknya itu.
"Kalau nggak mau di cubit makanya jangan banyak tingkah. Untung aja aku nggak kena air panas." Rena kembali pada aktivitasnya yang beberapa detik lalu tertunda karena ulah Nino yang lagi-lagi mengganggunya.
__ADS_1
Nino malah tersenyum melihat wajah jengkel istrinya itu. Kemudian dia memeluknya lagi dan menumpukan dagunya di bahu Rena. "Kenapa nggak minta Bibi aja yang buatin? Nanti kamu capek loh."
"Buat susu doang capek apaan sih? Sekalian aku gerak. Kata Dokter sebelum melahirkan aku disaranin jalan-jalan supaya pas persalinan nanti lancar."
"Tapi aku yang was-was kamu nanti kenapa-kenapa."
Rena terkekeh pelan. "Kamu khawatirnya berlebihan ih."
"Wajar dong. Namanya juga khawatir seorang suami dan calon Ayah."
"Iyaa deh, terserah kamu. Debat sama kamu nggak akan pernah bisa menang."
PRANGG!!
Nino tersentak ketika suara sesuatu yang pecah terdengar begitu keras. Karena perasaannya yang sudah tidak menentu, Nino kemudian beranjak dari ruang kerjanya. Berjalan cepat menuju ruang tengah, di mana suara pecahan itu terdengar.
"RENA!!" nino mendekati Rena yang sudah terduduk di lantai sembari meringis kesakitan.
"Sayang? Kenapa? Apa yang sakit?" tanya nino dengan raut wajah tegang dan khawatir.
"Perut aku... sakit, Nin," lirih Rena
"Astaghfirullah! Ibu kenapa?" Seorang wanita paruh baya menghampiri dengan raut wajah tak kalah cemasnya dari Nino saat melihat rena terduduk di lantai dan meringis kesakitan.
"Ya Allah, Pak, ketuban Ibu sudah pecah, Pak!"
nino melihat cairan di lantai yang berasal dari rena. Kedua matanya sontak membulat.
"Ibu mau melahirkan, Pak!"
Nino langsung sigap menggendong Rena. "Sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Bi, jaga rumah dan bilang sama Papa dan Mama kalau Bu rena mau melahirkan."
"Baik, Pak."
Nino langsung membawa Rena ke mobilnya dan melaju ke rumah sakit secepat mungkin.
__ADS_1