
"Siapa? Devan sama temen-temennya itu? Halah! Mereka mah cuman modal tampang sama bac*t doang! Padahal mah gak bisa apa-apa!"
"Dangerous? Apaan! Geng samp*h!"
"Liat aja nih, nanti pas gue jadi ketos, gue bakal ngadain razia, gue yang pertama bakal gunting jambul mereka, hahahaha."
"Lo tau? Itu member-member ceweknya lont* semua. Pasti sering dipake tuh sama devan dan temen-temennya."
Devan dan yang lain terus memperhatikan 1 siswa yang asik merumpi dan menjelek-jelekkan Dangerous, devan, dan teman-temannya pada 2 orang siswa lain. Daffa. Siswa didik baru tahun ini yang seangkatan dengan Queensza. Mereka semua saling menatap dengan senyumnya. Liat saja, apa si bajingan ini masih akan tertawa ketika mendapati Dangerous tepat di belakang mereka?
Tadi apa? Dangerous geng sampah? lya, sampah yang sebentar lagi akan membuatnya malu.
"Pecundang," cibir Gibran, lalu meminum es tehnya.
"Gue sempet liat, dia adik kelas yang dicalonkan sama guru-guru buat jadi the next ketua OSIS," ucap Jihan.
"Siapa namanya?" tanya devan. Laki-laki itu terlihat geram. Devan itu paling tidak bisa kalau ada yang menjelek-jelekkan teman-temannya, apalagi Dangerous.
“Daffa”
"Cih! Belum punya jabatan aja udah macam anj*ng. Gaya-gayaan mau ngerazia rambut kita." Rio berbicara sambil menatap punggung 1 siswa bernama Daffa itu.
"Kalau adik kelas, berarti seangkatan sama Queensza?" tanya Devan.
"Hm," jawab Jihan sambil mengunyah makanan. "Queensza juga sempat cerita sama gue. Katanya dia ditawarin jadi anggota OSIS, tapi dia gak mau."
Raden menatap Jihan . "Tau dari mana, lo?"
"Dia cerita sama gue. Kita udah mulai deket gitu." Jihan mengunyah makanannya. "Dia suka curhat ke gue. Kadang, dia juga suka nanya-nanya tentang Jihan."
Devan yang sedang memperhatikan Daffa pun seketika menatap jihan. "Hah? Gue?"
"Acieeee devan! Itu si Queensza udah mulai gerak! Masa lo kaga!" Adam tersenyum menggoda devan.
"Kayaknya ada yang tadi benci jadi cinta nich," timpal gibran .
"Apaansih lo semua. Ya kali gue suka sama cewek nyusahin macam Queensza." Devan tertawa, berusaha mengelak, aslinya devan mengucapkan kata kata ini biar tidak ketahuan oleh teman teman nya..
"Nyusahin, yaaa." Gibran menatap devan selidik. "Ya udah, nanti gue bilang sama dia jangan deket-deket sama lo, katanya lo gak suka."
"Lah! Apa-apaan, lo! Jangan gitu lah, gib!" Devan menjawab dengan spontan.
"Ceilah, devan. Udah ketauan masih aja ngelak," cibir kian.
"Devv, sana ajak ribut. Panas kuping gue denger dia jelek-jelekin Dangerous terus." Kania terlihat kesal. Gadis itu benar-benar geram. Apa-apaan, masa perempuan Dangerous disebut lont*.
Mendengar perkataan kania, semuanya reflek menengok ke arah Daffa. Siswa itu masih asik menjelek-jelekkan Dangerous, khususnya Devan, pada 2 siswa lainnya.
"Makin didiemin, makin bacot." Devan pun bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Daffa. Tatapan sinis dan rahang yang menggertak, membuat siapapun akan takut.
Kedua teman Daffa terkejut melihat devan. Tapi devan menaruh jarinya di depan mulut, mengisyaratkan mereka untuk diam. Devan pun menunduk, lalu berbisik, "gue ada di samping, lo."
Mata Daffa langsung membelalak. Laki-laki itu menengok ke arah samping. Betapa terkejutnya dia ketika mendapatkan wajah Devan tepat berada di depan wajahnya. Hanya terisih berapa senti. Wajah Daffa pun seketika menjadi pucat.
__ADS_1
"Pecundang!"
Bruk!
Semua yang ada di Kantin menganga karena sangat terkejut. Devan dengan teganya membenturkan kepala Daffa ke meja kantin. Daffa pun tampak kesakitan.
"Lo bilang gue sama temen-temen gue cuman modal tampang doang? Modal bacot doang? Gue tunjukin kalau lo salah." Setelah perkataannya, Devan dengan kasar langsung menarik krah seragam Daffa, dan langsung melemparnya ke ubin kantin.
"Ngomong depan gue, bangs*t!" Devan benar-benar sudah dikuasai amarah. Semuanya hanya menonton, tanpa ada yang berani memisahkan.
"Lo bilang Dangerous geng sampah? Cih! Lo yang sampah!" Devan mencekram krah seragam Daffa lagi, lalu menariknya untuk berdiri. "Gak guna! Banci! Cowok banci!"
"Bang... ampun..."
Devan tertawa. Lihat, kan? Tadi menjelek-jelekkan, sekarang malah minta ampun. "Ampun? Setelah lo jelek-jelekin gue dan temen-temen gue?"
Bugh!
Daffa terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya yang dipukul devan begitu kencang. Daffa menatap semua orang, berharap ada yang memisahkan mereka berdua. Daffa sungguh takut. "Gue minta maaf, Bang...
"Calon ketos?" Devan tertawa lagi. "Sma ini gak butuh ketos macam lo!"
Daffa lagi-lagi mengerang kesakitan dikala Devan meninju rahangnya hingga membuatnya terjatuh ke ubin. Devan pun langsung menindih adik kelasnya itu yang terbaring lemah diubin kantin, lalu mencengkeram krahnya.
"Ini buat lo yang udah bilang Dangerous, geng sampah!"
Bugh!
"Ini buat lo yang bilang gue sama teman-teman gue cuman modal tampang sama bac*t doang!"
Bugh!
Bugh!
"GUE GAK TERIMA BANGS*T!"
"BERHENTI!!"
Suasana kantin makin menegang ketika seorang guru perempuan dengan perawakan cukup berisi dengan kacamata dan kerudung memasuki Kantin. Dengan membawa penggaris rotan berukuran besar, Bu Eni terlihat marah.
"Waduh! Bu Eni!" Gibran menepuk keningnya ketika melihat guru bimbingan konselingnya sudah berada di pintu masuk kantin dengan beberapa siswi. Bisa disimpulkan, mereka yang mengadukan semua ini pada Bu Eni.
"KALIAN BERDUA IKUT KE RUANG BK, SEKARANG!!"
.
.
.
"Devv tadi kenapa mukulin Daffa?"
Devan yang sedang berjalan keluar toilet berhenti sejenak ketika melihat Queensza. Devan menatap sinis, lalu kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Queensza. Moodnya hancur karena si Daffa itu. Devan mendapatkan surat peringatan akibat ulahnya, tapi Daffa tidak. Padahalkan Daffa yang mulai, kenapa hanya Devan yang mendapat surat peringatan? Guru-guru memang tidak adil.
__ADS_1
“jika kayak gini bisa gw bilang paman gw ” batin devan
Queensza yang merasa diabaikan pun, berdiri menghadang devan. "Ih, devv! Aku tanya kok gak dijawab? Satu sekolah heboh tau karena ulah kamu devv."
"Ngapain gue jawab, kalau ujung-ujungnya lo bakal belain si sampah itu," ucap devan.
"Maksudnya?"
"Iya, lo bakal ngomel-ngomel ke gue kan karena gue udah mukulin Daffa? Lo tuh gampang ditebak, raa." Darah ingin jalan, tapi lagi-lagi Queensza menghadangnya. "Minggir, raa."
"Iya! Aku mau ngomel sama kamu devv! " Queensza menatap Devan. "Devv lo ngapain sih kaya gitu? Sok jagoan tau, gak!"
"Lo gak tau mas..."
"Aku tau kok masalahnya. Karena Daffa ngata-ngatain kamu dan Dangerous, kan?" Queensza menghela napasnya. "Devv kamu tuh harusnya bisa sabar. Seorang pemimpin tuh harus bisa mengendalikan amarahnbisa
Hm, benar juga kata Queensza . Tapi bukan Devan namanya kalau tidak ingin menang sendiri. "Kalau dia ngatain gue doang, it's okay. Tapi di sini dia udah hina gue, Dangerous, dan temen-temen yang lain. Gue sebagai pemimpin gak bisa biarin itu."
"Minggir!" ucap devan sedikit keras.
"Gak!"
"Minggir atau gue pukul." Devan menatap Queensza dengan pandangan sengit. Tidak ada pandangan menghangatkan seperti waktu itu.
"Aku gak takut. Pukul aja." Queensza adalah gadis yang paling batu. Bukannya minggir, dia malah menunjuk-nunjuk pipinya agar Devan memukulnya.
"Lo gak takut gue pukul?"
Queensza menggeleng polos. "Enggak. Queensza gak takut sama sekali."
"Kenapa?"
"Devv kamu udah janji bakal jagain aku. Jadi, aku percaya kalau kamu juga gak bakal nyakitin aku."
Hati Devan tiba-tiba menghangat mendengar ucapan Queensza. Devan menghela napasnya, ia harus mengesampingkan egonya. "Raa, aku mau ke kelas. Boleh aku pergi?"
Queensza tersenyum mendengar nada lembut dari Devan. "Silahkan."
Devan tersenyum. Sekarang laki-laki itu tahu. Bukan tatapan sinis, nada ketus, dan bentakan, tapi berbicara dengan Queensza harus dengan nada lembut dan pelan agar gadis itu mengerti.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba Devan menghentikan langkahnya, lalu membalik tubuhnya dan menatap Queensza. Queensza yang melihat itu pun mengerutkan keningnya. "Kenapa, devv?"
"Apa Tomi nanti jemput, lo?"
Queensza tertawa. "Setelah kejadian kemarin, dia gak akan anter jemput aku lagi, mungkin."
Devan mengangguk. "Oke."
Queensza menekuk bibirnya ketika melihat Devan pergi begitu saja. Dia kira, Devan ingin mengajaknya pulang bersama. Setidaknya, tanyakan Queensza pulang dengan apa. Lah ini, main pergi begitu saja. Sialan! Kenapa Queensza sangat mengharapkan devan? Jangan bilang....
"Eh!" Queensza sedikit terkejut ketika ponselnya yang ia taruh di saku bajunya. Queensza pun membuka ponselnya.
Devvv:
__ADS_1
Nanti lo plng brng gue ya.