DEVANSZA

DEVANSZA
BAB 35 - ULANG TAHUN


__ADS_3

HAPPY READING!!


“SELAMAT ULANG TAHUN DEVANO FERNANDEZ ”


Devan bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ayahnya .. Lalu mencium kening ayahnya..


“Makasih Papah,, ”


"Sama sama sayang. " Balas Papahnya memeluk Devan dan mencium kening anak satu satunya itu.


Semua keluarga dan para sahabat sudah berkumpul di rumah Devan untuk merayakan hari ulang tahunnya. Hidangan lezat pun sudah tersusun rapi di atas meja makan yang besar itu. Tak lupa tentu saja sebuah kue tart sebagai tanda ulang tahun.


Suara tepuk tangan terdengar setelah devan meniup lilin di atas kue.


"Selamat ulang tahun, sayang," ujar Laras menggenggam tangan devan dengan senyum manis.


"Makasih, ya mahh. " Devan mencium kening laras dengan lembut penuh cinta. Doa-doa baik pun membanjiri Devan malam itu.


"Ayo kita makan. Ini masakan spesial dari mereka loh, devv," ujar Reta melirik Queensza, Kania, dan Jihan.


“yang bantu bantu mereka masak siapa aja nih" canda Haikal melirik Devan yang langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Zhia bantuin kok, Om!" ujar Zhia.


(zhia adalah adek ponakannya devan)


“kalau Abang sih cuma nonton tv aja. Nggak bantuin sama sekali," ujar Zhia polos membuat mereka seketika tertawa.


"Kita bertiga bantu doa. Doa yang terbaik untuk devan yang paling baik," ujar Gibran memperlihatkan jempolnya kemudian nyengir. Lagi-lagi mereka tertawa mendengar perkataan Gibran.


"devv, semoga devan suka masakan kami," ujar Jihan.


"Iya, tuh. Semoga makanannya pas di lidah kamu devv," sahut Queensza.


"Terima kasih, ya, kalian bertiga sudah mau repot-repot ke dapur buat masak," ujar Devan pada ketiga gadis gadis yang cantik-cantik.


“oiya makasih ya sayang ” bisik Devan ke queensza..


"Nah, ayo sekarang kita makan. Sudah laper nih rasanya," ujar Albert mengelus perutnya.


(Albert adalah anggota Dangerous di Jakarta Pusat)


Mereka pun makan dengan lahap sembari bercengkrama, karena momen seperti ini adalah momen jarang dan pastinya susah bila ingin berkumpul bersama.

__ADS_1


Selesai makan malam, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan di halaman belakang rumah yang sudah di hias cantik dengan lampu-lampu kerlap-kerlip. Musik romantis di putar. Satu persatu mereka mulai berdansa mengikuti alunan lagu yang indah dengan pasangan masing-masing.


Devan duduk di samping Queensza, dan ia melihat lampu kerlap kerlip, dengan Malam yang sangat indah dan juga dengan tambahan alunan musik itu membuat tambah indah..


Yang lain terlihat begitu mesra, berdansa di bawah langit malam bertabur bintang dan cahaya bulan.


Devan menoleh pada Queensza yang berdiri di dekatnya. Pria itu kemudian mendudukkan dirinya di samping Queensza.


"Mama sama Papa romantis banget ya, walaupun sudah bertahun-tahun mereka menikah, tapi kesannya kayak baru nikah aja."


"Kan gue udah ceritain sama lo. Papa tuh bucin banget sama Mama."


Queensza terkekeh dengan kepala mengangguk setuju.


"By the way, nggak mau ikutan juga nih?" tanya Devan menggaruk belakang lehernya sedikit malu untuk mengajak Queensza berdansa.


"Gue nggak bisa dansa. Ntar kaki lo malah gue injek."


"Bener juga, kaki gue yang lo injek waktu dansa di nikahan temen kita aja masih belum sembuh."


"Devan!!! Lo bisa gk sih bahas itu mulu ganti dong males tau ” Queensza mencubit pinggang dan lengan Devan kesal. Sedangkan pria itu sudah tertawa melihat kekesalan Queensza.


"Gue bercanda! Aww, sakit, Raa!"


Queensza berdecak, menghentikan cubitannya dengan tatapan melotot pada Devan. "Awas lo ingetin lagi!"


“DEVANNNNNNNNN!!! "


membuat orang melihat kearah devan dan queensza.. Lalu queensza malu dan menutupi wajahnya dengan kerudung nya itu..


“kamu kenapa raa? Teriak teriak gitu”


“gapapa tan, ini loh tan devan jahil banget sih tan"


“devv jangan gitu dong, kasihan queensza "


“iya mah”


Disaat semua acara selesai devan langsung berbaring di kamarnya sedangkan queensza menginap dirumah devan tetapi tidur nya dengan Jihan, Reta..


“Well, dulu sebenarnya gue nggak pernah kepikiran buat jadi Dokter. Dulu cita-cita gue pengen jadi seorang fashion designer." Ucap Jihan.


"Terus kenapa berubah?" tanya Reta ikut penasaran.

__ADS_1


"Dulu setelah keluarga gue pindah ke Austria, gue ketemu sama seorang cewek, seusia gue. Kita tetanggaan. Dia cantik, baik, dan ramah. Selalu ceria dan orangnya juga menyenangkan. Dia adalah sahabat pertama gue di sana. Dia yang selalu ada di saat gue di buli di sekolah bahkan sampai di jauhi oleh orang-orang."


"Kok gitu? Kok lo di jauhin sih?" Mata Reta mulai berkaca-kaca.


"Dulu, kan, gue jelek, Kak rett. Gemuk, item, pokoknya burik lah. Makanya di sana gue di buli karena penampilan fisik gue yang berbeda dari mereka yang kebanyakan berkulit putih."


Pandangan Jihan menerawang pada masa lalu saat dia masih tinggal di Austria.


"Dia adalah orang yang selalu membantu gue. Orang yang mau berteman sama gue saat gue di jauhi. Dia selalu menghibur gue saat gue sedih dan terpuruk karena sikap orang-orang di sana."


Jihan tipis. "Dia adalah orang yang paling keren buat gue. Di saat dia sibuk menghibur orang lain, tapi dia tidak tahu jika dirinya juga butuh di hibur."


"Terus, sekarang kalian masih kontakan?" tanya Reta.


"Ya, kontakan lewat doa."


Reta dan queensza menegang.


"Maksudnya..."


"Dia udah meninggal karena penyakit kanker yang di deritanya," jawab Jihan membuat Queensza dan Reta seketika bungkam.


"Saat dia sakit dia masih tetap bisa tersenyum, seolah dia kuat. Padahal... tubuhnya sudah mulai hancur."


Kepala Jihan menunduk, memejamkan mata untuk meredam air mata yang ingin keluar. "Alasan gue jadi Dokter itu karena dia. Karena gue nggak mau orang-orang merasakan apa yang gue rasakan. Kehilangan seseorang yang berharga di hidup kita itu sangat menyakitkan."


"Gue pengen jadi Dokter supaya gue bisa menolong orang-orang yang membutuhkan tenaga gue. Jujur, perasaan saat melihat mereka bisa sembuh dari penyakit mereka dan bisa tersenyum kembali adalah sesuatu yang sangat membahagiakan."


queensza memeluk Jihan dari samping.


"Lo adalah Dokter yang hebat, Jihan Alvaretta," ucap Queensza tersenyum.


Obrolan mereka terus berlanjut. Topik berganti ketika Reta mulai mengeluarkan kata-kata seperti ini, "Eh, kalian tau nggak?"


Awal dari mulainya sebuah pembicaraan sakral antar perempuan. Jika perempuan sudah mulai bergosip, tidak akan ada yang bisa menghentikan.


.


.


.


.

__ADS_1


KALIAN ADA PESAN UNTUK MEREKA SEMUA??


SPAM NEXT YAA!!


__ADS_2