
"Aww ... sakit, sayang!" ringis Sakti sembari menggenggam ke dua tangan kekasihnya yang sedang mencubit pipinya.
"Sakit, Mas? Padahal, aku tidak menggunakan tenaga." jawab Cinta yang perlahan mengubah cubitan itu menjadi usapan lembut. "Masih sakit, Mas? Kalau masih sakit, kamu bilang saja padaku. Atau, aku kompres saja menggunakan air dingin?" titah Cinta.
"Tidak perlu, cukup usap-usap saja nanti rasa sakit itu hilang sendiri." jawab Sakti modus.
Cinta terkekeh dan mengubah usapan itu menjadi cubitan lagi.
"Aww ... Cinta!" pekik Sakti menghentikan tangan kekasihnya. "Apa yang kamu lakukan, Hem? Pipiku bisa merah."
"Biar saja, habisnya kamu goda aku terus. Ya, sudah, aku mau kembali ke pabrik. Sebentar lagi jam makan siang dan pekerjaanku sangat banyak. Kasihan Mas Nunu, pasti dia sedang menungguku." ujar Cinta beranjak dari sofa.
Sakti meraih tangan Cinta dan memintanya untuk duduk di tempat semula.
"Kenapa, Mas?" tanya Cinta kebingungan.
"Aku tidak mau kamu berdekatan dengan pria yang bernama Nunu. Dari sudut pandangku, dia menyukaimu dan asal kamu tahu, aku lebih tampan dari pria itu. Hindari pria sepertinya." titah Sakti.
"Kamu cemburu, Mas? Ya, Tuhan, kamu menggemaskan sekali kalau lagi cemburu, Mas." gemas Cinta yang mencubit pipi kekasihnya lagi.
"Cinta, kamu mau semua orang mengira, aku telah dianiaya olehmu, hem?"
"Tidak, Mas. Justru, aku sedang bahagia. Aku tidak menyangka, kalau wajahmu bisa begitu menggemaskan saat cemburu. Em ... itu artinya, mulai saat ini, aku mau membuatmu cemburu terus. Aku akan dekati Mas Nunu." ucapnya antusias.
"Baiklah, aku tidak akan melarangmu atau memperlihatkan kecemburuanku, tapi cukup sampai di sini saja hubungan ini." ketus Sakti beranjak dari sofa, "Pergilah!" titahnya lagi
"Mas, aku bercanda, kamu tidak boleh marah padaku," ujar Cinta mengikuti kekasihnya dari belakang.
"Aku sangat membenci pengkhianat, Cin!" tegasnya.
Cinta menggelengkan kepalanya, dia memeluk Sakti dari belakang. "Tidak, Mas. Aku bercanda. Kamu percaya padaku, kan? Aku minta maaf, Mas!" lirihnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu dengan tulus, Cin. Tapi aku tidak akan pernah memaafkan yang namanya pengkhianatan. Aku sangat membencinya. Walaupun itu terjadi di hubungan ini," jawab Sakti dengan tegas.
Cinta mengangguk, "Aku tahu, Mas. Dan aku berjanji, aku tidak akan berkhianat. Aku dan Mas Nunu hanya sebatas rekan kerja. Kamu percaya padaku, kan?"
Sakti melepas tangan Cinta yang melingkar di perutnya.
"Jangan, Mas," lirih Cinta mengeratkan pelukannya. "Jangan pergi." sambungnya lagi.
Sakti tersenyum tipis, dia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan tubuh kekasihnya.
"Siapa yang pergi? Bukankah kamu yang akan pergi?" goda Sakti mengusap punggung Cinta lembut.
"Kamu memaafkanku, Mas?"
"Tatap mataku, Cin!" titah Sakti membuat Cinta perlahan menatap ke dua bola mata kekasihnya. "Ucapanku memang tidak main-main, tapi aku tahu ... kalau kamu sedang menggodaku. Aku hanya pura-pura marah, tapi jika kamu berani berkhianat padaku, aku akan mengabulkan semua ucapanku, tadi! Kamu paham ucapanku, kan?" tanyanya lagi sembari menciuum kening kekasihnya.
Cinta mengangguk, "Aku paham, Mas. Ya, sudah, aku harus pergi. Aku akan menghubungimu setelah urusanku selesai dengan Mas Nunu." titah Cinta.
Sakti tersenyum manis, jemarinya membelai lembut wajah kekasihnya.
"Sampai kapan apanya, Mas?" jawab Cinta gugup.
"Sampai kapan kita merahasiakan semua ini? Aku serius denganmu, sayang. Bahkan, aku berani menikahimu sekarang."
"Mas, aku belum siap memamerkan hubungan ini. Aku tidak mau dianggap memanfaatkanmu. Tolong hargai keputusanku. Beri aku waktu sampai aku siap." jawab Cinta membenamkan wajahnya di dadda bidang Sakti. "Aku tahu, kamu serius, tapi kita baru resmi pacaran kemarin dan kita belum mengenal satu sama lain."
"Iya, aku mengerti perasaanmu. Aku akan menunggu waktu itu tiba, tapi hargai aku sebagai kekasihmu. Aku tidak mau, kamu berdekatan dengan lawan jenis." jawab Sakti pasrah.
"Iya, aku janji. Aku akan menjaga jarak dengan lawan jenisku demi kamu, Mas." ucap Cinta menarik tubuhnya. "Ya, sudah, sedari tadi aku bilang, aku mau pergi, tapi aku masih terus di sini. Semangat, aku mencintaimu," titah Cinta sembari membentuk gambar hati dengan jemarinya lalu pergi dari ruangan Sakti.
Sakti terkekeh saat melihat sikap yang menggemaskan dari kekasihnya.
__ADS_1
"Cinta, Cinta, hidupku berwarna setelah mengenalmu. Semoga saja, pilihanku tidak salah. Semoga saja, kamu tidak seperti ibuku yang tega meninggalkanku dan ayahku." gumam Sakti lalu melihat suara pintu terbuka.
Delon menautkan ke dua alisnya saat melihat dua kaleng minuman yang berada di atas meja.
"Apa ada tamu?" tanya Delon.
"Tidak," jawab Sakti santai. "Kembalilah bekerja. Aku harus pergi."
"Hei, kau mau pergi kemana? Aku tidak mau, orang tuamu datang dan kau malah hilang entah kemana. Ayolah, Sak! Tidak enak di lihat orang-orang, jika kau terus menghilang. Okeh, aku tahu, kau anak dari perusahaan ini, tapi hanya aku dan orang tuamu yang tahu, orang-orang kantor dan pabrik tidak ada yang tahu. Kita kembali ke pabrik dan lihat cara kerja mereka." titah Delon.
"Sungguh membosankan. Seharusnya, aku sudah menjadi CEO di kantor ini, tapi pria itu, aku harus berpura-pura." keluh Sakti.
"Tapi apa yang di katakan ayahmu benar juga. Kau tidak bisa menguasai pabrik ini seorang diri. Kau harus membaginya dengan kakakmu."
"Ibuku saja sudah membuangku. Mana mungkin, aku rela membagi perusahaan ini dengannya?" ucap Sakti kemudian berjalan keluar ruangan. "Bereskan dua kaleng kosong itu." sambungnya lagi.
Delon mengambil kaleng tersebut. Tak sengaja, dia melihat bekas lipstik yang menempel di ujung kaleng.
"Sak, apa kau mempunyai kekasih?" tanya Delon yang tiba-tiba menghentikan langkah Sakti.
"Kekasih? Apa kekasihku itu kau?" tanya Sakti balik.
"Aku? Sejak kapan aku menerimamu. Lagi pula, aku masih normal. Aku bisa membedakan mana wanita dan mana pria." jawab Delon yang tak suka.
"Ya, sudah, keseharianku hanya bersamamu. Mana mungkin aku memiliki kekasih."
"Bisa saja, karena ayahmu semalam menelfonku. Dia mencarimu." jawab Delon, "Dan lihatlah, di kaleng ini terdapat bekas lipstik. Tidak mungkin, kamu menggunakan lipstik, kan?"
"Sudahlah. Tidak perlu membahas lipstik. Bisa saja yang menempel itu tinta merah. Sekarang, kita keliling pabrik sampai jam istirahat tiba." titah Sakti merebut dua kaleng dan membuangnya ke tempat sampah. "Hanya karena tinta ini, kau berpikir aku punya kekasih."
"Hem. Pria sepertimu memang tidak mungkin mempunyai kekasih. Sikapmu selalu dingin ke semua wanita." jawab Delon sembari mengikuti langkah Sakti.
__ADS_1
Di satu sisi, Dewa tersenyum puas saat membayangkan ekspresi wajah sahabatnya sewaktu di dalam mobil.
"Ini hukumanmu, Cinta!" gumamnya.