Dewa Cinta

Dewa Cinta
Bab 12


__ADS_3

"Kalian sangat dekat?" tanya Sakti sembari fokus menyetir.


"Em ... iya, Mas. Mas Nunu yang selalu memberiku semangat dalam bentuk es krim di saat aku muak dengan pekerjaanku, tapi kamu tidak perlu khawatir, kita hanya sebatas rekan kerja dan dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Perasaanku hanya untukmu." jawab Cinta.


"Kamu yakin, dia menganggapmu sebagai sahabat saja, tidak lebih?"


"Iya, Mas. Mana mungkin Mas Nunu berbohong padaku. Dia satu-satunya mekanik yang aku percaya. Dia juga sempat bicara, kalau dia sedang menyukai seorang wanita. Kamu tidak perlu cemburu Mas Sakti sayang." ucap Cinta sembari mengusap punggung tangan kekasihnya.


"Hem. Kali ini aku percaya padamu tapi aku tidak mempercayai pria itu. Apa pria itu pernah menyebutkan nama wanita yang di sukainya padamu, Hem?" tanya Sakti membuat Cinta berpikir sejenak.


"Em ... tidak, Mas. Tapi aku yakin, selera Mas Nunu itu jauh dari perkiraanku. Memangnya kenapa, Mas? Kamu penasaran dengan wanita itu?" jawab Cinta.


Sakti membelokkan mobilnya dan memarkirkan di tempat parkir khusus mobil.


"Kita tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi." titah Sakti.


Cinta menggenggam tangan Sakti erat, "Mas, kamu belum jawab pertanyaanku?"


"Pertanyaan yang mana? Lebih baik, kita turun dari mobil. Apa kau mau, jam makan siang kita terpotong sia-sia, hem?" ujar Sakti yang mendapat gelengan dari kekasihnya.


"Ti-tidak, Mas. Tapi kamu belum jawab pertanyaanku. Bagaimana bisa aku turun dari mobil dengan perasaan bahagia. Sudah aku pastikan, di setiap suapanku, nanti. Aku akan terus mengingat ucapanku ini. Bisa saja, ucapanku menyinggung perasaanmu, kan?" keluh Cinta.


"Kemungkinan orang itu kamu, sayang. Sekarang, kita turun, ya! Kasihan cacing di perutmu." ajak Sakti sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Cinta.


Cinta mengulurkan tangannya. "Mau lepas seatbelt?" tanya Cinta yang mendapat anggukkan kecil dari kekasihnya.


"Hem."


"Aku bisa sendiri, Mas. Tadi pagi, aku terlalu gerogi, maka dari itu, tanganku tidak bisa menarik seatbelt nya, hehehe ..." jawab Cinta memperlihatkan tangannya melepas seatbelt yang menahan tubuhnya.


Sakti menganggukkan kepalanya dan keluar dari mobil di ikuti oleh Cinta di belakangnya.


'Apa yang dikatakan Mas sakti? Kemungkinan orang itu, kamu? Memangnya, orang siapa?' gumam Cinta dalam hati.


Ke dua pelayan telah menyambut kedatangan Sakti dan Cinta di depan pintu masuk restoran.


"Ruangan khusus yang sudah di pesan tadi," titah Sakti.

__ADS_1


"Oh, atas nama Pak Sakti? Bapak bisa ikuti saya." titah pegawai restoran tersebut yang berjalan menuju ruang VIP.


Cinta menautkan ke dua alisnya, kebingungan.


"Mas, kamu pesan ruangan khusus? Apa semua ini tidak berlebihan? Kita cuma makan sebentar, tidak perlu menyewa ruangan khusus segala. Lebih baik, uangmu kamu tabung untuk masa depanmu. Kita hanya kuli pabrik yang mempunyai gaji pas-pasan." bisik Cinta di samping Sakti.


"Silahkan, ini ruangannya dan sebentar lagi, pesanan makanan Bapak akan datang." titah pegawai tersebut yang mempersilahkan Sakti serta Cinta masuk ke dalam ruangan VIP.


Sakti berjalan masuk diikuti oleh Cinta di sampingnya. Hiasan bunga mawar yang bertaburan di atas meja memberi kesan mewah di acara makan siang tersebut.


Cinta menutup mulutnya saat melihat persiapan makan siang yang sangat istimewa.


"Mas, kamu melakukan semua ini?" tanya Cinta pada kekasihnya.


Sakti menggeser kursi untuk duduk Cinta. "Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Sakti sembari menampilkan senyum manisnya.


Cinta menjatuhkan pantatnya di kursi, "Aku suka, Mas. Makan siang ini sangat istimewa bagiku. Apalagi taburan mawar di atas meja yang menambah kesan mewah. Sekarang, aku sedang membayangkan jika hari ini, aku sedang menjadi Ratu." ucap Cinta bermain dengan imajinasinya.


'Wahai, permaisuriku. Aku persembahkan semua ini untukmu, wanita yang sangat aku sayang dan cintai.' ucap Sakti yang menjadi Raja.


Raja menekuk salah satu lututnya sembari mengulurkan tangannya. 'Apa permaisuri bersedia berdansa dengan Raja?'


'Dengan senang hati, Raja.' jawab permaisuri yang beranjak dari tempat duduknya.


Raja mulai memegang pinggang permaisuri. Permaisuri pun mulai melingkarkan tangannya ke leher dan pinggang Raja.


Alunan musik mulai terdengar dan Raja mulai menggerakkan kakinya.


Permaisuri pun tersenyum sembari mengikuti langkah kaki Raja, tapi anehnya, dansa Permaisuri tidak seirama dengan dansa Raja.


'Kenapa Raja tidak mengikuti gerakanku?' batin permaisuri.


"Cinta? Sayang? Kau tak apa-apakan?" titah Sakti seketika membuyarkan lamunan Cinta.


Cinta tersadar lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa tidak seirama?" tanya Cinta tiba-tiba.


"Seirama?" gumam Sakti kebingungan. "Seirama seperti apa? Apanya yang seirama, Cin?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Cinta menatap sekitar ruangan. 'Ya, Tuhan, aku baru saja menghayal?' batin Cinta.


"Cinta, kamu dengar aku, kan? Singkirkan tanganmu dulu, mereka mau meletakkan makanan kita." titah Sakti.


Dengan reflek Cinta menyembunyikan tangannya di bawah meja.


"Ma-maaf!" lirihnya.


"Tidak apa-apa, Mbak!" jawab pegawai restoran sembari meletakkan semua pesanan makanannya di atas meja. "Silahkan di nikmati." sambungnya lagi lalu pergi.


Sakti menatap lekat wajah kekasihnya. "Ada apa, Hem? Apanya yang seirama?" tanyanya lagi.


"Tidak, Mas. Lupakan saja!" jawab Cinta sembari mengambil dan menyeruput orange juice yang berada di hadapannya.


"Benar, kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Sakti memastikan.


"Iya, sayang, aku tidak apa-apa. Aku tadi sedang berpikir, cara menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Maafkan aku, Mas!" jawab Cinta masuk akal. 'Terpaksa deh, aku harus bohong ke Mas Sakti. Bukankah tidak lucu kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Mas Sakti menertawakanku atau bisa jadi, Mas Sakti langsung ilfill.' batin Cinta menggelengkan kepalanya.


"Kamu sakit kepala?" tanya Sakti lagi.


"Ha? Sakit kepala? Kepalaku baik-baik saja, Mas. Di sini panas sekali, Mas." ucap Cinta beralasan.


"Panas? Padahal suhu di ruangan ini sudah dingin. Apa perlu aku atur lagi?" ucap Sakti.


'Benar juga, suhu di sini sudah dingin. Aku bisa menggigil kalau Mas Sakti atur suhunya lagi.' batin Cinta.


"Aku cari remote untuk--"


"Tidak perlu, Mas. Sebaiknya kita santap makan siang ini. Cacing di perutku sudah kelaparan meminta bagian makanannya." potong Cinta.


"Makanlah. Kalau perlu, habiskan semua makanan ini. Kekasihku ini sangat membutuhkan banyak tenaga untuk berperang di lingkungan pabrik."


"Iya, kau benar, Mas. Aku memang butuh ekstra tenaga dalam menghadapi rekan kerjaku yang cerewet dan supervisorku yang hobinya marah-marah tidak jelas." jawab Cinta memasukkan sendok yang berisi makanannya ke dalam mulut.


Sakti tersenyum saat melihat cara makan kekasihnya yang begitu cepat.


"Pelan-pelan, tidak ada yang meminta makananmu, sayang." titah Sakti mengambil tissue, "Diamlah, ada makanan di dekat bibirmu," sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2